Home »
fisika pasar modal 2
» fisika pasar modal 2
fisika pasar modal 2
pada waktu pelaksanaan’. Padahal, makna sebenarnya adalah ’harga
pelaksanaan sesuai yang dijanjikan dalam kontrak’, nominalnya bisa
beda atau sama dengan ’harga pada waktu pelaksanaan’. Karena itu,
penulis cenderung untuk memakai terjemah ’harga laksana’, agar
nuansa yang dibangun bisa terasa berbeda
7.1 Jenis Opsi 111
jika acuan yang mendasari opsi adalah saham, maka opsi itu
disebut opsi atas saham, dan dalam pembahasan selanjutnya
penyebutan opsi dimaksudkan sebagai opsi atas saham ini
atau opsi saham. Seperti surat berharga yang lain, opsi juga
diperdagangkan di bursa saham resmi maupun bursa saham
tidak resmi. Di AS, perdagangan resmi opsi dilakukan di
CBOE, NYSE, AMEX, dan Philadelphia Stock Exchange
(Fabozzi, 2000, hlm. 445).
7.1 Jenis Opsi
Opsi dapat dibedakan berdasarkan jenis haknya dan waktu
pelaksanaan hak ini . Berdasarkan waktu pelaksanaan
haknya, opsi dibedakan menjadi opsi Eropa (European option)
dan opsi Amerika (America option). Opsi Eropa hanya mengi-
jinkan pemegang opsi untuk melaksanakan haknya hanya pada
saat jatuh tempo. Sedangkan opsi yang mengijinkan peme-
gangnya untuk melaksanakan haknya sejak penandatanganan
kontrak sampai jatuh tempo ialah opsi Amerika. Jadi, nama
Eropa atau Amerika tidak mengacu pada wilayah dimana
opsi diperdagangkan atau dilaksanakan, tetapi semata-mata
mengacu terhadap waktu pelaksanaan opsi, apakah hanya
bisa dilaksanakan pada saat jatuh tempo saja (opsi Eropa)
atau bisa dilaksanakan dalam masa selama opsi masih berla-
ku (opsi Amerika). Hull (1989, hlm. 9) menyebutkan bahwa
beberapa opsi yang diperdagangkan di Amerika Utara justru
merupakan opsi Eropa.
Berdasarkan hak yang dimiliki oleh pemegangnya, opsi
dapat dibedakan menjadi opsi beli (call option) dan opsi jual
(put option). Opsi beli memberikan hak kepada pemegang
112 Opsi Saham
opsi untuk membeli surat berharga acuan pada saat jatuh
tempo dengan harga laksana yang telah disepakati. Sedangkan
pemegang opsi jual mempunyai hak untuk menjual surat
berharga acuan pada saat jatuh tempo dengan harga laksana
yang sebelumnya disepakati.
Dengan demikian ada 3 pihak yang secara umum terlibat
dalam perdagangan opsi, yaitu:
1. Penjual opsi, menerima harga opsi (premi) untuk men-
jamin pembeli opsi melaksanakan haknya.
(a) Penjual opsi beli, menerima premi dan berjanji
akan menjual surat berharga acuan dengan harga
laksana pada saat jatuh tempo sesuai kesepakat-
an jika pemegang opsi beli ingin melaksanakan
haknya.
(b) Penjual opsi jual, menerima premi dan berjanji
untuk membeli surat berharga acuan dengan har-
ga pada saat jatuh tempo sesuai kesepakatan jika
pemegang opsi jual ingin melaksanakan haknya.
2. Pembeli opsi, membayar harga opsi kepada penjual agar
penjual menulis opsi.
(a) Pembeli opsi beli, memiliki hak untuk membeli
surat berharga acuan dengan harga laksana pada
saat jatuh tempo sesuai kesepakatan.
(b) Pembeli opsi jual, memiliki hak untuk menjual
surat berharga acuan dengan harga laksana pada
saat jatuh tempo sesuai kesepakatan.
3. Pialang (broker), bertindak sebagai agen transaksi dan
mendapatkan komisi. Komisi yang diberikan kepada
pialang ini lebih dikenal sebagai biaya transaksi.
7.2 Sifat Opsi Beli 113
7.2 Sifat Opsi Beli
Untuk mengetahui bagaimana sifat opsi beli, misalkan harga
saham Telkom di bursa saat ini adalah Rp 5.000 per saham.
Jika seorang pemodal membeli opsi beli gaya Eropa untuk
saham Telkom dengan harga laksana Rp 5.100 dengan jatuh
tempo 3 bulan dari sekarang, maka 3 bulan lagi pemodal
ini punya hak (bukan kewajiban) untuk membeli saham
Telkom dari penjual opsinya seharga Rp 5.100 per saham.
Misalkan harga beli opsi ini sebesar Rp 300 per lembar
saham.
Seandainya 3 bulan berikutnya harga saham Telkom di
bursa menjadi Rp 5.800 per saham, maka pemodal ini
boleh memakai haknya (istilahnya melaksanakan opsinya,
to exercise his option) untuk membeli saham Telkom hanya
dengan harga Rp 5.100 per saham dari penjual opsi. Kemu-
dian, kalau mau, pemodal bisa segera menjualnya di bursa
dengan harga Rp 5.800 per saham, sehingga ia untung Rp 400
per lembar saham. Namun, jika ternyata harga saham Telkom
setelah 3 bulan turun menjadi Rp 4.800, pemodal tidak perlu
melaksanakan opsinya sebab ia bisa membeli saham dengan
harga yang lebih murah di bursa.
Dalam kasus terakhir, ketika harga saham di bursa lebih
murah daripada harga laksananya, pemodal boleh membiark-
an saja kontrak opsi berakhir sampai jatuh tempo. Dalam
kejadian seperti ini, kerugian pemodal hanya sebesar harga
yang ia bayar untuk membeli kontrak itu, yakni premi opsi
sebesar Rp 300 per saham yang kemudian menjadi keuntung-
an penerbit opsi beli. Jadi, keputusan untuk melaksanakan
atau tidak atas opsi beli akan ditentukan oleh harga saham
114 Opsi Saham
acuan di bursa dan harga laksananya. Tabel 7.1 berikut akan
memperjelas hal ini.
Tabel 7.1: Penghitungan laba/rugi opsi beli
Harga Harga Nilai Premi Nilai
bursa laksana opsi beli opsi Laba/rugi
(1) (2) (3) (4) (5)=(3) - (4)
4.600 5.100 0 300 -300
4.700 5.100 0 300 -300
4.800 5.100 0 300 -300
4.900 5.100 0 300 -300
5.000 5.100 0 300 -300
5.100 5.100 0 300 -300
5.200 5.100 100 300 -200
5.300 5.100 200 300 -100
5.400 5.100 300 300 0
5.500 5.100 400 300 100
5.600 5.100 500 300 200
5.700 5.100 600 300 300
5.800 5.100 700 300 400
Dengan demikian, kerugian pemodal pada saat harga sa-
ham Telkom di bursa lebih murah dibanding harga laksananya
hanyalah sebesar premi opsi. Sedangkan potensi keuntungan
yang akan diperolehnya bila harga saham Telkom di bursa
lebih mahal adalah tak terbatas, bergantung pada jumlah
lembar saham yang tertera dalam kontrak.
Uraian di atas dapat disajikan dalam Gambar 7.1. Dalam
gambar ini tampak bahwa, apabila harga saham lebih
kecil dari Rp 5.100 per lembar, maka pemegang opsi beli akan
menderita kerugian sebesar premi opsi yaitu Rp 300. Ketika
harga saham berada dalam selang Rp 5.100 sampai Rp 5.400,
7.2 Sifat Opsi Beli 115
Gambar 7.1: Laba/Rugi dari Opsi Beli Pada Saat Jatuh
Tempo
kerugian pemegang opsi beli dibawah Rp 300. Pemegang opsi
beli akan mulai menangguk keuntungan ketika harga saham
melebihi Rp 5.400. Misalnya pada saat harga saham Rp 5.700
per lembar, maka pemegang opsi beli akan mendapatkan
keuntungan Rp 300 per lembar.
Di lain pihak, keuntungan maksimal dari penerbit opsi beli
adalah sebesar premi opsi. Keuntungan ini diperoleh apabila
pemegang opsi beli tidak memakai haknya. Sementara
itu, kerugian penerbit opsi beli akan semakin besar seiring
dengan meningkatnya harga saham di bursa.
Yang perlu diperhatikan dalam sebuah opsi beli adalah
jika harga dari saham acuan di bursa lebih rendah dari harga
laksananya, maka akan lebih menguntungkan bagi pemegang
opsi beli untuk membeli saham acuan di bursa daripada me-
116 Opsi Saham
laksanakan opsi beli ini . Untuk kejadian seperti ini nilai
dari opsi ini atau nilai intrinsiknya sama dengan nol
dan disebut dengan opsi yang tidak menghasilkan (out of the
money). Sebaliknya, pada saat harga saham acuan di bursa
lebih tinggi dari harga laksananya, nilai dari opsi beli ini
akan positif sehingga opsi beli ini lebih menguntungkan
untuk dilaksanakan. Opsi yang memiliki nilai intrinsik seperti
ini disebut dengan opsi yang menghasilkan (in the money).
Sedangkan ketika harga laksana saham acuan sama dengan
harga di bursa, nilai intrinsik opsi juga nol sebab harga akan
tetap sama baik memakai opsi atau tidak. Opsi yang
demikian disebut opsi yang netral (at the money).
7.3 Sifat Opsi Jual
Sekarang, andaikan seorang pemodal melakukan pembelian
opsi jual gaya Eropa untuk saham Barito. Misalkan harga
laksana (exercise price) yang disepakati adalah Rp 4.800 dan
saat ini harga saham Barito di bursa adalah Rp 5.000. Pemo-
dal ini membeli opsi jual dengan premi sebesar Rp 300
per saham dengan jatuh tempo dua bulan mendatang.
Pada saat jatuh tempo, yakni dua bulan setelah kontrak
ditandatangani, misalkan harga saham Barito di bursa men-
jadi Rp 4.600. Jika pemegang opsi jual melakukan penjualan
saham Barito di bursa, berarti sahamnya akan dihargai Rp
4.600 per lembar. Tentu akan lebih menguntungkan jika ia
melaksanakan opsi jualnya sehingga sahamnya akan dihargai
sebesar Rp 4.800 per lembar. Pada saat demikian, penerbit
opsi jual mempunyai kewajiban untuk membeli saham pemo-
dal ini dengan harga Rp 4.800, lebih tinggi dua ratus
7.3 Sifat Opsi Jual 117
rupiah daripada harga di bursa.
Sebaliknya, apabila pada saat jatuh tempo harga saham
Barito di bursa adalah Rp 5.200, maka pemodal tidak perlu
melaksanakan opsi jualnya sebab sahamnya hanya akan di-
hargai Rp 4.800 per lembar, akan lebih menguntungkan jika
ia langsung menjual sahamnya di bursa dan membiarkan opsi
jualnya kadaluarsa. Dalam keadaan yang demikian, pener-
bit opsi jual mempunyai keuntungan dari premi opsi yang
dibayarkan oleh pemegang opsi jual pada saat membeli dua
bulan yang lalu. Ini akan tampak lebih jelas dalam tabel 7.2
berikut.
Tabel 7.2: Penghitungan laba/rugi opsi jual
Harga Harga Nilai Premi Nilai
bursa laksana opsi jual opsi Laba/rugi
(1) (2) (3) (4) (5)=(3) - (4)
4.200 4.800 600 300 300
4.300 4.800 500 300 200
4.400 4.800 400 300 100
4.500 4.800 300 300 0
4.600 4.800 200 300 -100
4.700 4.800 100 300 -200
4.800 4.800 0 300 -300
4.900 4.800 0 300 -300
5.000 4.800 0 300 -300
5.100 4.800 0 300 -300
5.200 4.800 0 300 -300
5.300 4.800 0 300 -300
5.400 4.800 0 300 -300
Dengan demikian, jika harga saham acuan di bursa lebih
tinggi dari harga laksananya, akan lebih menguntungkan ba-
118 Opsi Saham
gi pemegang opsi jual untuk menjual sahamnya langsung di
bursa daripada melaksanakan opsi jualnya. Dalam keadaan
seperti ini, nilai opsi ini sama dengan nol (out of the
money). Sebaliknya, jika harga saham acuan di bursa lebih
rendah dari harga laksananya, nilai opsi ini akan positif,
sehingga opsi jual ini lebih menguntungkan jika dilak-
sanakan. Ini berarti nilai intrinsik opsi adalah menghasilkan
(in the money). Seandainya opsi jual mempunyai harga lak-
sana yang sama dengan harga saham acuan di bursa, maka
opsi dikatakan memiliki nilai intrinsik yang netral atau at the
money.
Tabel 7.2 memberikan informasi dengan jelas bahwa keru-
gian maksimum pemodal yang mempunyai opsi jual hanyalah
sebesar harga premi opsi, sementara potensi keuntungan yang
bisa didapat adalah tak terbatas. Sifat ini seperti sifat pada
opsi beli yang sudah disinggung sebelumnya. Informasi ini
dapat juga dibaca dalam gambar 7.2.
Dari kedua bentuk opsi beli dan opsi jual di atas, premi
opsi menjadi hak penjual/penerbit opsi dan tidak tergantung
terhadap keputusan apa yang diambil oleh pemegang opsi.
Kemudian, jika pemegang opsi beli ingin melaksanakan hak-
nya, maka ia hanya membayar sebesar harga laksana yang
telah disepakati dan akan menerima sejumlah saham acuan.
Begitu juga dengan opsi jual, jika pemegang opsi jual akan
melaksanakan haknya, maka ia harus menyerahkan sejumlah
saham acuan dan menerima pembayaran dengan harga lak-
sana yang telah disepakati. Apabila pemegang opsi memilih
untuk tidak melaksanakan haknya hingga lewat jatuh tempo,
terlepas dari berapapun harga saham acuan di bursa saat itu,
maka opsi ini kadaluarsa dengan sendirinya.
7.4 Pentingnya Perdagangan Opsi 119
Gambar 7.2: Laba/Rugi dari Opsi Jual Pada Saat jatuh
Tempo
7.4 Pentingnya Perdagangan Opsi
Pertama, beberapa pemodal melakukan perdagangan opsi
untuk tujuan spekulasi terhadap perubahan harga saham
atau surat berharga acuan. Pada umumnya harga opsi beli
maupun opsi jual adalah lebih rendah daripada harga saham
itu sendiri, dengan demikian hanya diperlukan sejumlah uang
yang lebih sedikit untuk melakukan perdagangan opsi beli dan
opsi jual. Selain itu, harga opsi relatif lebih berfluktuatif jika
dibandingkan dengan harga saham itu sendiri, dengan demi-
kian memungkinkan pemodal untuk memperoleh keuntungan
lebih besar melalui investasi pada opsi.
Kedua, lembaga-lembaga investasi seperti reksa dana da-
120 Opsi Saham
pat memakai opsi sebagai alat untuk mempertahankan
portofolio investasi mereka. Dengan perdagangan opsi me-
mungkinkan untuk disesuaikannya risiko dan tingkat keun-
tungan untuk keseluruhan investasi. Apalagi komisi pialang
untuk perdagangan opsi relatif jauh lebih rendah dibanding
komisi untuk transaksi saham.
Ketiga, dalam pembelian opsi, besarnya kerugian maksi-
mal adalah sebesar harga opsi sehingga secara tidak langsung
pemodal telah membatasi risiko investasi. Pembatasan risiko
ini tidak diikuti dengan penurunan tingkat keuntungan
secara proporsional. Pemodal tetap memiliki kesempatan
untuk memperoleh tingkat keuntungan yang tak terbatas. De-
ngan demikian, munculnya opsi sebagai salah satu kesempatan
investasi telah memungkinkan pemodal untuk mengubah pola
distribusi keuntungan portofolionya.
7.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Har-
ga Opsi
Sebagaimana telah disinggung dalam penakrifan tentang opsi,
di dalam kontrak opsi terdapat kesepakatan tentang saham
acuan, harga laksana dan tanggal jatuh tempo. Dalam tran-
saksi opsi, ketiga hal ini mempunyai andil besar baik bagi
pembeli atau penjual opsi untuk menentukan besarnya harga
opsi yang akan diperdagangkan.
Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi harga
opsi dapat diringkas menjadi 3 kelompok besar. Kelompok
pertama terdiri dari peubah yang berhubungan dengan harga
saham acuan, yakni harga saat ini, kemeruapan (volatilitas,
volatility) dan dividen kasnya. Kelompok kedua terdiri dari pe-
7.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Opsi 121
ubah yang berhubungan dengan kontrak opsi itu sendiri yaitu
harga laksana dan jangka waktu jatuh temponya. Kelom-
pok ketiga adalah peubah suku bunga bebas risiko (risk-free
interest rate).
Harga saham acuan merupakan penentu harga opsi yang
paling penting. Hal ini disebabkan jika harga saham adalah
jauh di atas atau jauh di bawah harga laksananya, maka
faktor yang lain menjadi tidak begitu penting. Pengaruh ini
akan tampak semakin jelas pada saat tanggal jatuh temponya.
Pada saat itu pemegang opsi berhak untuk melaksanakan atau
mengabaikan opsinya. Pada saat jatuh tempo ini keputusan
pemegang opsi hanya bergantung pada harga saham acuan
dan harga laksana saja, sebab nilai opsi pada saat itu hanya
ditentukan oleh dua faktor ini , sedangkan faktor lainnya
tidak berarti sama sekali.
Harga opsi akan berubah seiring dengan perubahan harga
saham acuan. Untuk opsi beli, peningkatan harga saham
acuan akan menyebabkan peningkatan harga opsi karena nilai
intrinsik juga meningkat. Hal yang berlawanan berlaku bagi
opsi jual, peningkatan harga saham acuan akan menyebabkan
penurunan harga opsi jual.
Faktor kedua adalah harga laksana yang bersifat tetap
sepanjang usia opsi dan mempengaruhi antisipasi pembayaran
pada saat opsi jatuh tempo. Pada opsi beli, pemegang opsi
berharap harga saham acuan akan turun pada saat jatuh
tempo sehingga jika harga laksana yang disepakati adalah
lebih rendah daripada harga saham acuan saat ini, maka harga
opsi beli semakin tinggi. Sedangkan pada opsi jual dimana
pemegangnya berharap harga laksana pada saat jatuh tempo
nanti masih lebih tinggi dibanding harga saham acuan saat
122 Opsi Saham
itu, maka semakin tinggi harga laksana, semakin tinggi harga
opsi.
Faktor berikutnya adalah kemeruapan yang menunjukkan
fluktuasi pergerakan harga saham acuan. Semakin tinggi ke-
meruapan saham acuan, maka semakin besar kemungkinan
harga saham bergerak ke arah yang diinginkan oleh pemegang
opsi sehingga peluang untuk memperoleh harga yang lebih
tinggi atau lebih rendah pada saat opsi jatuh tempo juga akan
meningkat. Jadi, kemeruapan yang tinggi dengan sendirinya
meningkatkan harga opsi karena semakin besar risiko bagi
penjual opsi. Sebaliknya, jika harga saham relatif stabil (ke-
meruapan rendah), maka harga opsi cenderung rendah. Hal
ini berlaku baik untuk opsi jual maupun opsi beli. Penjelas-
an terhadap hal ini sangat sederhana. Misalnya, pemegang
opsi beli mengharapkan harga laksana saham acuan pada
saat jatuh tempo kelak bisa lebih rendah dari harga bursa.
Jika kemeruapan saham acuan sangat tinggi, maka harapan
pemegang opsi beli mempunyai peluang besar untuk terjadi.
Faktor keempat, jangka waktu jatuh tempo menunjukkan
bahwa semakin lama waktu yang tersisa, semakin besar tinggi
harga opsi, baik opsi jual maupun opsi beli. Karena, bagi
pemegang opsi beli mempunyai waktu tunggu yang cukup
untuk melaksanakan opsinya dan berharap harga saham akan
meningkat terus melebihi harga laksana. Begitu pula dengan
pemegang opsi jual, semakin lama waktu yang tersisa hingga
tanggal jatuh tempo, berarti memberikan keleluasaan yang
cukup untuk melaksanakan opsinya dan berharap harga saham
terus menurun. Sebaliknya, semakin pendek waktu yang
tersisa hingga jatuh tempo, maka semakin rendah harga opsi
ini .
7.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Opsi 123
Faktor kelima yaitu suku bunga bebas risiko. Faktor ini
mudah dijelaskan dengan cara mengaitkannya dengan harga
laksana dan jatuh tempo opsi. Jika jatuh tempo opsi adalah
6 bulan dari sekarang, maka harga laksana baru akan diteri-
ma oleh penerbit opsi beli 6 bulan lagi, padahal jumlah itu
disepakati sekarang. Dalam konsep nilai waktu dari uang,
untuk jumlah uang yang sama maka menerima uang sekarang
jauh lebih disukai karena nilainya lebih tinggi daripada besok.
Kenaikan suku bunga bebas risiko pada gilirannya akan me-
nurunkan nilai tunai atau nilai sekarang (present value) dari
harga laksana. Bagi pemegang opsi beli, ini berarti penurunan
nilai jumlah yang harus dibayar jika opsi dilaksanakan atau
bagi penerbit opsi beli, ini berarti nilai jumlah uang yang akan
diterima saat opsi dilaksanakan menjadi berkurang. Jadi ada
kecenderungan bahwa meningkatnya suku bunga bebas risiko
akan meningkatkan harga opsi beli. Demikian pula pada opsi
jual. Bagi pemegang opsi jual, kenaikan suku bunga bebas
risiko berarti penurunan jumlah yang akan diterima jika opsi
dilaksanakan. Sehingga ada kecenderungan bahwa naiknya
suku bunga bebas risiko akan menurunkan harga opsi jual.
Faktor terakhir adalah dividen kas dari saham acuan. Divi-
den hanya akan mempengaruhi harga opsi bila selama berlaku-
nya opsi saham acuan memberikan dividen kepada pemegang
saham sehingga jika saham yang bersangkutan tidak membe-
rikan dividen maka harga opsi hanya ditentukan oleh kelima
faktor di atas. Dividen kas bisa dipandang sebagai likuidasi
sebagian dari perusahaan pada tanggal pasca pembayaran di-
viden. Jadi dividen kas akan mengurangi harga saham sebesar
jumlah dividen kas yang dibagikan sehingga akan menurunkan
harga opsi beli dan meningkatkan harga opsi jual.
124 Opsi Saham
Sebagai contoh harga saham Telkom diandaikan relatif sta-
bil yaitu sebesar Rp 5.000 per lembar saham dengan dividen
per lembar saham adalah sebesar Rp 800 per tahun dan diba-
yarkan dua kali dalam satu tahun. Untuk saham seperti ini,
calon pembeli opsi beli akan memperhitungkan bahwa enam
bulan yang akan datang saham ini akan membayarkan
dividen sebesar Rp 400. Jika opsi beli ditawarkan pada harga
saham Rp 5.000 tujuh bulan lagi, maka bagi calon pembeli
opsi beli harga ini seharusnya berkurang Rp 400, karena
harga saham relatif stabil sehingga besar kemungkinan harga
saham tidak akan naik setelah pembayaran dividen, pada-
hal jika ia jadi memegang opsi beli ia tidak akan menerima
pembayaran dividen.
8 — Hipotesis Pasar Efisien
Dalam bagian yang lalu telah sedikit disinggung bahwa kata
efisien dalam hipotesis pasar efisien (HPE) mengacu pada
efisien secara informasi. Sehingga dalam pengertian ini pasar
yang efisien adalah suatu pasar dimana harga mencerminkan
semua informasi yang diketahui (known information). Dengan
kata lain, sebuah pasar yang efisien adalah pasar dimana har-
ga surat berharga saat ini memberikan perkiraan (estimasi)
terbaik tentang nilainya yang sebenarnya. Oleh karenanya,
dalam pasar yang efisien tidak ada istilah free lunch (makan
siang gratis ) atau expensive dinner (makan malam yang ma-
hal). Suatu pasar dapat efisien karena peserta pasar berusaha
secara terus-menerus untuk memperoleh keuntungan abnor-
mal (abnormal return) atau excess return, yaitu keuntungan
yang melebihi harapan yang semestinya (sesuai dengan ting-
126 Hipotesis Pasar Efisien
kat risiko suatu aset), sehingga persaingan ini pada akhirnya
mengantarkan pada sebuah situasi dimana harga surat ber-
harga telah mencerminkan baik informasi yang berdasarkan
peristiwa yang sudah terjadi maupun harapan pasar tentang
harga dimasa datang.
Dalam pasar modal yang efisien semua analis menerima
dan mengevaluasi informasi baru yang berkaitan dengan setiap
saham pada waktu yang hampir sama. Dengan demikian maka
harga saham akan menyesuaikan dengan segera sebagai reaksi
adanya informasi baru ini . Oleh karena itu secara umum
hampir tidak mungkin untuk mendapatkan saham perusahaan
besar yang menawarkan keuntungan abnormal.
Ada beberapa syarat kondisi yang harus dipenuhi agar
suatu pasar dikatakan efisien secara informasi (Rodoni dan
Yong, 2002; Sartono, 1996) yaitu:
1. Informasi harus dapat diperoleh tanpa biaya dan terse-
dia bagi semua partisipan pasar modal pada saat yang
sama.
2. Informasi ini adalah dalam bentuk acak dan tidak
bergantung satu sama lain.
3. Pemodal-pemodal bertindak cepat dan tepat terhadap
informasi baru.
4. Tidak ada biaya transaksi, pajak, dan biaya-biaya yang
lain.
5. Harga saham harus bebas dalam bergerak turun atau
naik. Tidak ada seorangpun yang dapat mempengaruhi
pergerakan harga saham.
6. Tidak ada monopoli dalam pasar. Ini berarti bahwa
pemodal-pemodal bebas untuk masuk atau keluar pasar.
7. Semua partisipan pasar modal bersikap rasional yaitu
127
selalu ingin memaksimumkan harapan utilitas (expected
utility).
8. Ada syarat yang diberikan kepada perusahaan dimana
publik bisa mengakses informasi tentang perusahaan.
Jika sekiranya syarat-syarat ini tidak terpenuhi maka
pasar ini dianggap tidak efisien.
Dalam kenyataannya beberapa persyaratan di atas sulit
untuk dipenuhi karena diperlukan biaya untuk memperoleh in-
formasi, beberapa partisipan memperoleh informasi pada saat
yang berbeda, terdapat pajak dan biaya transaksi atau komisi
pialang dan sebagainya. Karena kondisi semacam itu maka
sangatlah perlu untuk membedakan antara pasar yang seca-
ra informasional efisien sempurna (perfectly informationally
efficient) dengan pasar yang informasional secara ekonomikal
(economically informationally effocient) (Sartono, 1996, hlm.
xxi). Dalam pasar efisien sempurna, dimana persyaratan
ini dipenuhi, harga saham selalu mencerminkan infor-
masi yang dipublikasikan (all published information), harga
saham akan menyesuaikan dengan setiap informasi baru secara
spontan dan keuntungan abnormal hanya merupakan keberun-
tungan saja. Sementara itu dalam pasar efisien ekonomikal,
harga saham mungkin tidak segera menyesuaikan dengan ada-
nya informasi baru, tetapi keuntungan abnormal juga tidak
dapat diperoleh setelah informasi dan biaya transaksi dibayar.
Pada prinsipnya, titik tekan hipotesis pasar efisien buka-
nlah pada gagasan apakah pasar itu efisien sepenuhnya atau
tidak, tetapi menitikberatkan sejauh mana tingkat keefisienan
pasar. Salah satu cara untuk mengukur keefisienan pasar
adalah dengan melihat jenis informasi yang diserap ke dalam
harga saham yaitu informasi tentang harga saham yang lalu,
128 Hipotesis Pasar Efisien
informasi umum atau yang dipublikasikan dan informasi privat
atau belum dipublikasikan, dapat dilihat dalam gambar 8.1.
Gambar 8.1: Himpunan informasi untuk hipotesis pasar efisien
Oleh karena itu hipotesis pasar efisien membagi pasar
modal dalam 3 tingkat keefisienan: pasar efisien bentuk lemah
(weak form efficiency), pasar efisien bentuk setengah kuat
(semistrong form efficiency) dan pasar efisien bentuk kuat
(strong form efficiency).
Hipotesis pasar efisien bentuk lemah mengandaikan bahwa
harga saham saat ini adalah mencerminkan perubahan harga
saham pada waktu yang lalu (past price movement). Banyak
kajian yang membuktikan kesahihan HPE bentuk lemah ini,
seperti uji larian, uji simulasi, uji filter, uji distribusi normal,
dan analisis spektral (Rodoni dan Yong, 2002, hlm. 66-76).
Sartono (1996) menyarankan dua pengujian empiris dapat
dilakukan untuk membuktikan kesahihannya yaitu pengujian
129
korelasi perubahan selama beberapa waktu dan pengujian
tentang profitabilitas berbagai pedoman teknis perdagangan
atau analisis teknikal (technical trading rules). Para analis
teknikal percaya bahwa pola harga masa lalu dapat digunakan
untuk meramalkan harga dimasa mendatang. Andaian HPE
bentuk lemah menolak kepercayaan ini sebab harga sekarang
sudah mencerminkan pola harga masa lalu. Ini bisa diartikan
bahwa harga saham yang lalu tidak mengandung arti apa-apa.
Pola harga-harga yang lalu tidak berguna untuk meramalkan
pergerakan harga dimasa mendatang.
HPE menyatakan bahwa harga hanya berubah sebagai re-
aksi atas adanya informasi baru dan karena informasi ini
dapat berpengaruh positif atau negatif terhadap harga saham,
maka perubahan harga saham harian dapat diharapkan akan
mengikuti pola yang acak. Oleh karena itu banyak kajian
telah dilakukan untuk menguji atau mengukur korelasi hasil
keuntungan surat berharga selama beberapa periode.
Ada satu hal yang penting disini, jika harga saham meng-
ikuti pola yang acak maka pola keuntungan/hasil pengem-
balian saham tidak akan konsisten. Kajian lain telah me-
nunjukkan bahwa analisis teknikal tidak memberikan hasil
pengembalian yang mencengangkan dibandingkan strategi
yang sederhana. Dengan demikian dapat disimpulkan bah-
wa terdapat bukti yang kuat bahwa ada analis pasar yang
berhasil secara sensasional dengan memakai data tren
masa lalu untuk memprediksi kenaikan atau penurunan harga
saham di masa datang, tetapi kesalahan yang spektakuler
juga bisa terjadi dengan cara semacam ini. Dengan kata lain
tidak mungkin mendapatkan keuntungan abnormal secara
konsisten hanya dengan memperhatikan harga saham masa
130 Hipotesis Pasar Efisien
lalu.
Hipotesis kedua adalah pasar efisien bentuk setengah kuat,
dimana harga saham dalam bentuk ini mencerminkan peru-
bahan harga saham masa lalu dan informasi lain yang telah
dipublikasikan (other publicly available information). Jika
ini terjadi maka tidak ada manfaatnya memakai data
laporan keuangan tahunan untuk memprediksi harga saham,
karena informasi ini telah tercermin dalam harga saham saat
ini sebelum kita bereaksi. Dalam pasar yang efisien sempur-
na maka harga saham akan mencerminkan semua informasi
secara instant. Sebagai contoh satu perusahaan komputer
mengumumkan penemuan baru dibidang microchip yang le-
bih sempurna dan dapat diproduksi dengan biaya yang lebih
murah dari microchip saat ini, informasi ini dengan segera
mengakibatkan harga saham akan naik. Sudah banyak kajian
dilakukan untuk menguji pengaruh satu informasi penting ter-
hadap harga saham yang sering disebut dengan event studies.
Kajian-kajian ini telah menganalisis misalnya pengaruh
pemecahan saham (stock split), kenaikan pembayaran dividen,
kenaikan laba perusahaan, merger, investasi baru, dan emisi
saham baru. Bentuk pengujian yang lain terhadap pasar efisi-
en bentuk setengah kuat adalah menguji apakah analis dan
manajer portofolio dapat memperoleh keuntungan abnormal.
Dalam pasar yang efisien sempurna tak seorangpun dapat
memperoleh keuntungan abnormal secara konsisten (no one
will be able to consistently beat the market). Beberapa kajian
telah dilakukan untuk menguji bentuk kedua ini seperti yang
dilakukan oleh Michael Jensen (Sartono, 1996, hlm. xxiii).
Terdapat banyak bukti kuat yang mendukung konsep ben-
tuk setengah kuat. Analis dan manajer portofolio memiliki
131
akses hanya pada informasi yang dipublikasikan. Ada yang
memperoleh keuntungan abnormal dan ada pula yang tidak,
sehingga secara umum para analis dan manajer portofolio
tidak mampu memperoleh keuntungan abnormal secara kon-
sisten. Penelitian Ball dan Brown (Weston dan Copeland,
1995, hlm. 109-110; Rodoni dan Yong, 2002, hlm. 80) me-
nunjukkan bahwa laporan pendapatan tahunan tidak berguna
lagi untuk memperoleh keuntungan abnormal. Ini merupakan
bukti bahwa HPE bentuk setengah kuat adalah sahih.
Terakhir adalah hipotesis pasar efisien bentuk kuat. Da-
lam pasar bentuk ini harga saham mencerminkan semua in-
formasi, baik yang dipublikasikan maupun tidak. Jika ini
terjadi maka insider trading (para manajer, pemegang saham
utama) sekalipun tidak mungkin memperoleh keuntungan
abnormal dengan informasi yang dimiliki. Namun demikian
boleh dikatakan tidak ada bentuk efisien sempurna karena
banyak insider trading yang dalam kenyataannya memperoleh
keuntungan abnormal dengan memakai informasi yang
belum dipublikasikan seperti misalnya adanya penawaran take
over dari perusahaan lain, kegagalan program research and
development dan adanya rencana merger dengan perusahaan
lain.
HPE memiliki implikasi yang sangat penting baik bagi
pemodal maupun manajer. Bagi pemodal konsep ini me-
nyarankan bahwa strategi yang optimal adalah mencakup
pemilihan tingkat risiko yang tepat, penciptaan portofolio
yang sesuai dengan tingkat risiko yang diinginkan dan mi-
nimisasi biaya transaksi. Sedangkan bagi manajer, konsep
ini menyarankan bahwa nilai perusahaan tidak ditentukan
oleh transaksi pasar keuangan, karena jika transaksi di pasar
132 Hipotesis Pasar Efisien
keuangan memiliki net present value (NPV) sama dengan
nol (Kamaruddin, 1996, hlm. 202), maka nilai perusahaan
hanya dapat ditingkatkan melalui transaksi pasar barang. Se-
bagai contoh IBM dan Apple Computer menjadi pemimpin
perusahaan komputer karena mereka unggul dibidang desain,
manufaktur, pemasaran serta servis dan tidak semata-mata
ditentukan oleh keputusan keuangan.
Implikasi yang lain adalah adanya proses penyesuaian har-
ga saham sebagai akibat masuknya informasi baru. Apabila
publik mengetahui suatu informasi baru, maka hal ini akan
mempengaruhi permintaan dan penawaran saham. Selanjut-
nya pergeseran ini akan mempengaruhi keseimbangan harga
saham. Harga saham akan berfluktuasi sebelum mencapai
keseimbangan baru yang pada gilirannya juga berimplikasi
terhadap analisis saham. Analis harus mempertimbangkan
dampak munculnya informasi baru yang berkaitan dengan
surat-surat berharga di pasar. Selain itu, fenomena di atas
juga memberikan suatu pertanda kepada pemodal untuk me-
manfaatkan kesempatan berinvestasi dalam opsi. Dengan
berinvestasi dalam opsi beli, maka pemodal dapat membata-
si besarnya kerugian investasi, tetapi memiliki kesempatan
untuk memperoleh tingkat keuntungan yang tidak terbatas.
Hipotesis Pasar Efisien
Karakteristik Harga Saham
Pencagaran Nilai
Batas-batas Harga Opsi
Andaian-andaian
Persamaan Turunan Utama
Keseimbangan Opsi Jual dan Opsi Beli
Penyelesaian Persamaan Turunan Utama
9 — Perumusan Model Harga Opsi
9.1 Hipotesis Pasar Efisien
Hipotesis pasar efisien merupakan topik kajian dalam teori
keuangan yang banyak diperdebatkan sejak digulirkan oleh
Fama (1965). Silang pendapat ini dapat dilacak dalam ba-
nyak kepustakaan.1 Wilayah perdebatan pada dasarnya hanya
berkisar seputar proses stokastik apa yang cocok untuk mene-
rangkan hipotesis pasar efisien.
Secara umum, persaingan dalam pasar modal akan me-
nyebabkan adanya pengaruh informasi baru terhadap nilai
intrinsik saham yang tercermin secara seketika (instantane-
1Lihat Fama (1969), Hagerman dan Richmond (1973), LeRoy (1989),
Rutterford (1993), Weston dan Copeland (1995), Dimson dan Mussavian
(2000), Beechey et. al. (2000), Mauboussin (2002), Rodoni dan Yong
(2002), Damodaran (2005) dan Clarke et.al. (2005).
134 Perumusan Model Harga Opsi
uously) pada harga sekarang. Efisiensi pasar terjadi jika
harga-harga mencerminkan seluruh informasi yang tersedia.
Mengingat bahwa informasi baru bersifat tidak pasti, maka
pengaturan seketika mempunyai 2 akibat. Pertama, harga
sekarang akan sering berubah selaras dengan perubahan in-
formasi. Kedua, nilai-nilai intrinsik yang berturutan akan
menjadi saling bebas. Ini menunjukkan perubahan harga
saham secara berturutan juga saling bebas. Sebuah pasar
dengan ciri demikian merupakan pasar jalan acak.
Jalan acak (random walk) menyatakan bahwa tidak ada
perbedaan antara distribusi hasil pengembalian bersyarat
(conditional) dan tidak bersyarat (unconditional) pada struk-
tur informasi tertentu. Jalan acak adalah kondisi yang jauh
lebih kuat daripada fair game atau martinggil untuk hipotesis
pasar efisien. Perbedaan statistik antara fair game dan jalan
acak adalah bahwa hipotesis jalan acak mensyaratkan bahwa
seluruh penarikan diambil secara independen dari distribusi
yang sama, sedangkan fair game tidak.
Seperti yang sudah dipahami dalam bab terdahulu pada
saat membicarakan jalan acak, dalam konteks ini, jalan acak
dipahami sebagai perubahan harga yang berturutan yang
saling bebas satu sama lain. Dengan kata lain, perubahan
harga besok tidak dapat diramalkan dengan melihat perubah-
an harga sekarang. Andaikan S adalah harga saham, maka
St+1 − St adalah saling bebas terhadap St − St−1. Tidak ada
tren dalam perubahan harga. Dengan cara yang sama seperti
dalam jalan acak, maka penanda terbaik untuk harga saham
besok adalah harga sekarang.
Fama (1965, hlm. 77) menyatakan bahwa uji korelasi da-
ta deret waktu yang dilakukan Cootner,Kendall, dan Moore
9.2 Karakteristik Harga Saham 135
dalam penelitian yang dilakukan masing-masing secara terpi-
sah menghasilkan perhitungan perubahan harga berturutan
yang sangat mendekati 0. Sebagaimana yang sudah dipahami
dalam bab 2, saat koefisien korelasi bernilai 0 menunjukk-
an bahwa peubah-peubah yang bersangkutan tidak memiliki
korelasi (tidak ada hubungan). Dengan kata lain, peubah-
peubah ini saling bebas. Pada tahun yang sama dalam
jurnal berbeda, Fama (1965) juga menelisik dengan hasil yang
juga mendukung model jalan acak ini.
Dengan demikian,
P(St+1|S1, S2, . . . , St) = P(St+1|St) (9.1)
Persamaan di atas juga merupakan sifat dari proses Markov.
Selain itu, karena jalan acak juga memiliki sifat martinggil,
maka dalam pasar yang efisien juga berlaku bahwa nilai harap
harga mendatang hanya bergantung harga sekarang,
E(St+1|St, St−1, St−2, . . . , S1) = E(St+1|St) (9.2)
9.2 Karakteristik Harga Saham
Model perilaku
Untuk mendapatkan gagasan bagaimana memodelkan per-
ilaku harga saham, di sini akan digunakan kias (analogi)
deposito bank yang memberikan suku bunga bebas risiko. An-
daikan bahwa S(0) adalah nilai sekarang dari uang sebanyak
S(t) pada tahun yang akan datang. Bila suku bunga per
tahun adalah r, maka bunga yang dapat diperoleh dari S(0)
adalah r S(0). Setelah masa penyimpanan 1 tahun, maka
136 Perumusan Model Harga Opsi
jumlah uang akan menjadi
S(0) + S(0) r = S(0) (1 + r).
Karena S(t) adalah nilai uang S(0) pada t tahun mendatang,
maka
S(1) = S(0) (1 + r) . (9.3)
Setelah 2 tahun masa penyimpanan, jumlah uang akan men-
jadi
S(2) = S(1)+r S(1) = S(1) (1 + r) = S(0) (1 + r)2 . (9.4)
Dengan cara yang sama, jumlah uang setelah 3 tahun masa
penyimpanan akan menjadi
S(3) = S(0) (1 + r)3 .
Pada akhirnya, hasil dari perampatan persamaan suku bunga
ini setelah masa penyimpanan t tahun ialah
S(t) = S(0) (1 + r)t . (9.5)
Ada banyak pilihan tenggang waktu untuk melakukan
penghitungan suku bunga. Suku bunga dapat dihitung ha-
rian, pekanan, bulanan, kuartalan (4 bulanan), semesteran
(6 bulanan) atau 1 tahun sekali. Dalam praktik sehari-hari,
biasanya penghitungan suku bunga dilakukan lebih dari 1 kali
dalam 1 periode atau 1 tahun. Jika panjang periode adalah t,
maka setiap kali bank melakukan penghitungan suku bunga,
9.2 Karakteristik Harga Saham 137
besar suku bunga yang diterima adalah r
m
, dengan m menya-
takan kekerapan penghitungan bunga dalam 1 periode. Maka,
nilai kemudian (future value) S(t), yaitu
S(t) = S(0)
(
1 +
r
m
)tm
(9.6)
Bila kekerapan perhitungan bunga mendekati tak hingga maka
dapat dilakukan limit terhadap persamaan di atas,
S(t) = lim
m→∞
S(0)
(
1 +
r
m
)tm
= S(0)
[
lim
m→∞
(
1 +
r
m
)m
r
]rt
= S(0)
[
lim
u→0
(1 + u)
1
u
]rt
= S(0) ert. (9.7)
Persamaan ini dikenal sebagai persamaan bunga majemuk
berlanjut (continuous compounding interest), yaitu bunga
majemuk yang memiliki periode tak terhingga dalam setahun
atau bunga mejemuk yang dibungakan sesering mungkin.
Suku bunga deposito ini merupakan suku bunga bebas
risiko karena setiap pemodal yang menanamkan uangnya ke
dalam deposito tidak akan menanggung risiko. Artinya, bisa
dipastikan bahwa pemodal akan selalu menerima pendapatan
atau pengembalian sebesar bunga yang berlaku dalam setiap
periode. Ini merupakan petunjuk bahwa proses bunga maje-
muk berlanjut merupakan deterministik (pengertian ini dapat
dilihat kembali di bab 2 §3).
Dalam konteks saham, jika seorang pemodal membeli sa-
ham, pemodal ini berharap akan memperoleh dividen
138 Perumusan Model Harga Opsi
dari perusahaan dan atau laba modal bila saham ini
dijual. Besar kecilnya dividen sangat bergantung pada besar
kecilnya laba perusahaan dan dividen payout ratio (bagian
laba perusahaan yang akan dibagikan dalam bentuk dividen).
Sedangkan ancaman kerugian yang mungkin diderita pemodal
adalah rugi modal apabila ternyata harga jual saham lebih ren-
dah dibanding harga belinya. Ini merupakan petunjuk bahwa
ada ketidakpastian pengembalian dalam investasi saham. Ke-
tidakpastian ini menyebabkan pemodal menginginkan adanya
tingkat keuntungan yang cukup sebagai kompensasi dari keti-
dakpastian ini . Kompensasi ini dikenal sebagai tingkat
pengembalian yang diharapkan (disyaratkan). Dengan demi-
kian, tingkat pengembalian ini merupakan laju pertumbuhan
dalam investasi saham.
Laju pertumbuhan yang disyaratkan ini dapat dipandang
seperti bunga dalam deposito. Oleh karenanya, jika S meru-
pakan harga saham, maka laju pertumbuhan µ terhadap S
adalah µS. Dengan demikian, dalam rentang waktu sempit
∆t, laju pertumbuhan dari S adalah µS∆t. Jika tidak ada
ancaman kerugian, maka
dS(t) = µS(0)dt
dS(t)
S(0)
= µdt (9.8)
sehingga
S(t) = S(0)eµt (9.9)
dengan S(0) merupakan harga saham pada saat awal. Per-
samaan ini menunjukkan bahwa ketika tidak ada ancaman
9.2 Karakteristik Harga Saham 139
kerugian, investasi dalam saham akan tumbuh seperti inves-
tasi dalam deposito. Dengan kata lain, harga saham identik
dengan bunga deposito.
Gambar 9.1: Grafik pergerakan harga untuk beberapa saham
periode Januari 2004 – Juni 2005: (a) saham Telkom; (b)
saham Astra International; (c) saham Astra Graphia; dan
(d) saham Astra Otoparts. Sumber data: Pusat Data Pasar
Modal Fakultas Ekonomi UGM
Namun demikian, harga saham di pasar modal terben-
tuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Adanya
informasi-informasi baru yang hadir secara acak dan cepat se-
perti pembayaran dividen, laba perusahaan, penjualan saham
baru atau pemecahan saham, akan menyebabkan harga saham
naik turun. Pada gilirannya, hadirnya informasi-informasi
140 Perumusan Model Harga Opsi
ini menyebabkan harga saham memiliki fluktuasi per-
gerakan harga yang disebut kemeruapan (volatilitas). Dalam
tinjauan hipotesis pasar efisien yang sudah dibahas di muka,
pergerakan harga saham mengikuti proses stokastik. Sehingga,
harga saham bukan hanya dapat digambarkan seperti depo-
sito yang deterministik saja, namun juga sebagai aset yang
lekat dengan gangguan fluktuasi stokastik. Karena itu, peru-
bahan harga dS dalam rentang waktu sempit dt seharusnya
terdiri dari 2 sumbangan, yaitu sumbangan deterministik dan
sumbangan stokastik.
Sumbangan deterministik ditunjukkan oleh persamaan
(9.9) yang juga sepadan dengan persamaan (9.7), hanya saja
tetapan r diganti dengan tetapan µ yang menyatakan laju
pertumbuhan.
Sumbangan kedua memodelkan perilaku stokastik dari
pergerakan harga. Disini akan ditinjau bahwa dalam pan-
dangan seorang pemodal, hasil pengembalian pada saat harga
saham Rp 3.000 atau Rp 5.000 adalah sama-sama tidak pasti.
Ketidakpastian hasil pengembalian (return) ini dapat dilihat
dalam gambar 9.2. Oleh karena itu, perlu adanya parameter
yang menyatakan ketidakpastian ini. Parameter ini bisa di-
pandang sebagai ukuran seberapa besar terjadinya perubahan
hasil pengembalian yang berakibat langsung pada perilaku
harga saham. Maka, ketidakpastian hasil pengembalian sebe-
narnya merupakan variansi dari harga saham itu sendiri atau
besarnya fluktuasi harga saham, dan dilambangkan dengan
σ2. Dengan demikian, σ2∆t merupakan variansi harga saham
dalam waktu ∆t, sehingga σ2S2∆t merupakan variansi harga
saham S selama ∆t. Karenanya, variansi seketika (instan)
dari harga saham adalah σ2S2.
9.2 Karakteristik Harga Saham 141
Gambar 9.2: Grafik fluktuasi return untuk beberapa saham
periode Januari 2004 – Juni 2005: (a) saham Telkom; (b)
saham Astra International; (c) saham Astra Graphia; dan
(d) saham Astra Otoparts. Sumber data: Pusat Data Pasar
Modal Fakultas Ekonomi UGM
Argumen-argumen ini menunjukkan bahwa S dapat diwa-
kili dengan proses Itô yang mempunyai laju pertumbuhan µS
dan variansi seketika σ2S2. Ini dapat ditulis sebagai
dS = µS (t) dt+ σS (t) dB, (S(0) > 0 (9.10)
atau
dS
S
= µ dt+ σ dB. (9.11)
142 Perumusan Model Harga Opsi
Model perilaku harga saham yang telah dibangun dalam
persamaan di atas serupa dengan persamaan gerak Brown
geometrik. Bentuk waktu tercacahnya adalah
∆S
S
= µ∆t+ σ
√
δt. (9.12)
Peubah ∆S merupakan perubahan harga saham S dalam
rentang waktu sempit ∆t, dan merupakan sampel acak dari
distribusi normal baku, yakni distribusi normal dengan rerata
0 dan simpangan baku 1. Parameter µ merupakan harapan
pengembalian (laju pertumbuhan) dari saham tiap satuan
waktu dan parameter σ adalah kemeruapan (volatilitas) harga
saham. Kedua parameter ini, yakni µ dan σ diandaikan tetap.
Ruas kiri dalam persamaan (9.12) merupakan hasil pe-
ngembalian sepadan yang diberikan oleh saham dalam rentang
waktu sempit ∆t. Suku µ∆t adalah nilai harap untuk pengem-
balian ini, sedangkan suku σ
√
δt adalah komponen stokastik
untuk pengembalian. Variansi komponen stokastik adalah
σ2∆t.
Persamaan (9.12) juga menunjukkan bahwa ∆S/S terdis-
tribusi normal dengan rerata µ∆t dan simpangan baku σ
√
∆t.
Dengan kata lain
∆S
S
∼ φ
(
µ∆t, σ
√
∆t
)
(9.13)
dengan φ(m, s) melambangkan distribusi normal dengan rera-
ta m dan simpangan baku s.
Gerak Brown geometrik
Gerak Brown geometrik merupakan kejadian khusus dari
9.2 Karakteristik Harga Saham 143
proses Itô yang disajikan dalam persamaan dibawah ini
dX = a (X, t) dt+ b (X, t) dB, (9.14)
dimana dB merupakan proses Wiener atau gerak Brown serta
a dan b merupakan fungsi terhadap X dan t. Peubah X
mempunyai laju pertumbuhan a dan variansi b2. Lemma Itô
menunjukkan bahwa fungsi G dalam X dan t menjalani proses
dG =
(
∂G
∂X
a+
∂G
∂t
+
1
2
∂2G
∂X2
b2
)
dt+
∂G
∂X
b dB (9.15)
dengan dB merupakan proses Wiener yang sama dalam per-
samaan sebelumnya. Karena itu G juga memenuhi proses Itô
sehingga mempunyai laju pertumbuhan
∂G
∂X
a+
∂G
∂t
+
1
2
∂2G
∂X2
b2 (9.16)
dan variansi(
∂G
∂X
)2
b2. (9.17)
Lemma Itô ini menunjukkan bahwa persamaan (9.10) da-
pat dibangun seperti bentuk persamaan (9.15) dengan fungsi
G dalam S dan t yang dapat ditunjukkan dalam persamaan
berikut
dG =
(
∂G
∂S
µS +
∂G
∂t
+
1
2
∂2G
∂S2
σ2S2
)
dt+
∂G
∂S
σS dB. (9.18)
Sementara itu, persamaan (9.11) secara jelas menyata-
144 Perumusan Model Harga Opsi
kan bahwa peubah yang sesuai bukanlah perubahan absolut
dS = S(t + dt) − S(t), melainkan hasil pengembalian dS/S
dalam rentang waktu dt. Dari sisi keuangan ini sangat wajar.
Perubahan absolut dS =Rp 100 dalam waktu dt adalah jauh
lebih bernilai meskipun untuk modal awal yang hanya senilai
S(t) =Rp 1.000 daripada modal awal senilai S(t) = Rp10.000
tetapi tidak mengalami perkembangan sedikitpun. Hasil pe-
ngembalian dS/S secara jelas menyatakan perbedaan ini. Hal
ini dapat dirujuk dalam konsep nilai waktu dari uang (time
value of money) yang secara sederhana menyatakan bahwa
satu rupiah yang dipegang sekarang jauh lebih bernilai dari-
pada satu rupiah yang dipegang dimasa datang, sebab satu
rupiah dimasa sekarang dapat diinvestasikan dan memberikan
hasil pengembalian.
Tafsir (interpretasi) dS/S sebagai peubah yang sesuai
menyarankan bahwa persamaan (9.11) sebaiknya ditulis ulang
dalam bentuk lnS(t). Dengan menyatakan
G = lnS (9.19)
akan menghasilkan
∂G
∂S
=
1
S
,
∂2G
∂S2
= − 1
S2
,
∂G
∂t
= 0 (9.20)
dan jika dimasukkan ke dalam persamaan (9.18) memberikan
hasil akhir
dG =
(
µ− σ
2
2
)
dt+ σdB. (9.21)
Nilai µ dan σ merupakan tetapan sehingga G merupakan pro-
9.2 Karakteristik Harga Saham 145
ses Wiener yang mempunyai laju pertumbuhan tetap µ− σ2
2
dan variansi tetap σ2. Berdasarkan pembahasan pada anak
bab sebelum ini, hal ini menandakan bahwa perubahan dalam
G antara waktu sekarang t dan waktu kemudian T , terdistri-
busi normal dengan rerata
E (dG) =
(
µ− σ
2
2
)
dt (9.22)
dan variansi
Var (dG) = σ2dt. (9.23)
Nilai G pada saat t adalah lnS dan nilainya pada saat T
adalah lnS(T ), dengan S(T ) merupakan harga saham pada
saat T . Sehingga perubahannya selama rentang waktu T − t
ialah
lnS(T )− lnS.
Perubahan ini serupa dengan persamaan (9.13) yaitu
(lnS(T )− lnS) ∼ φ
((
µ− σ
2
2
)
(T − t) , σ√T − t
)
. (9.24)
Sifat log-normal
Sebuah peubah mempunyai distribusi log-normal jika lo-
garitma natural dari peubah terdistribusi normal. Persamaan
(9.24) menunjukkan bahwa logaritma natural dari perubah-
an harga saham (return) mempunyai distribusi normal. Ini
dapat ditunjukkan dalam gambar 9.3. Dengan demikian apa-
bila return saham terdistribusi normal, maka harga saham
146 Perumusan Model Harga Opsi
mempunyai distribusi log-normal.
Andaian sifat distribusi log-normal untuk harga saham
merupakan sifat yang baik. Sifat ini sesuai untuk harga sa-
ham, sebab seandainya harga saham diandaikan berdistribusi
normal maka harga saham dapat bernilai negatif. Dengan
memiliki distribusi log-normal, maka nilai harga saham dapat
berapapun namun tetap dalam kisaran 0 sampai tak terhingga
dan tidak negatif.
Gambar 9.3: Histogram data return dan kurva normal untuk
beberapa saham periode Januari 2004 – Juni 2005: (a) saham
Telkom; (b) saham Astra International; (c) saham Astra
Graphia; dan (d) saham Astra Otoparts. Sumber data: Pusat
Data Pasar Modal Fakultas Ekonomi UGM
9.3 Pencagaran Nilai 147
9.3 Pencagaran Nilai
Gerak Brown geometrik yang menjadi model perilaku harga
saham di atas menyuguhkan 2 parameter, µ dan σ. Parameter
pertama menerangkan tingkat pengembalian yang diharapkan,
sedangkan parameter kedua menjelaskan fluktuasi harga. Jika
fluktuasi besar, saham akan sangat meruap (volatil, volatile)
sehingga investasi menjadi sangat berisiko.
Risiko (risk) adalah tingkat kemungkinan terjadinya kerugi-
an yang harus ditanggung dalam investasi. Dengan demikian,
pengertian risiko digunakan dalam arti ketidakpastian dan
dihubungkan dengan fluktuasi tingkat pengembalian. Misal-
nya, obligasi pemerintah sebesar Rp 18 juta yang menjamin
pemegangnya akan memperoleh bunga sebesar Rp 200 ribu
setelah 30 hari dikatakan tidak memiliki risiko karena tidak
ada fluktuasi pengembalian. Sementara investasi sebesar Rp
18 juta dalam saham biasa suatu perusahaan, dimana para
pemegang saham dengan periode yang sama akan memperoleh
hasil berkisar antara Rp 0 - 400 ribu adalah sangat berisiko
karena tingkat fluktuasi yang tinggi. Boleh jadi pemodal akan
mendapat pengembalian Rp 400 ribu, tetapi sangat mungkin
pula jika pemodal tidak mendapat apapun.
Andaian penting dalam pembicaraan risiko dan tingkat
pengembalian yang diharapkan ini adalah setiap pemodal
bersikap rasional dan tidak menyukai risiko (risk averter).
Sikap tidak menyukai risiko ini tercermin dari sikap pemodal
yang akan meminta tambahan keuntungan yang lebih besar
untuk setiap kenaikan tingkat risiko yang dihadapi.
Dalam hal hubungan risiko dan surat berharga, ada 2
macam risiko yang melekat pada setiap surat berharga, yaitu
148 Perumusan Model Harga Opsi
risiko sistematik (systematic risk, ada juga yang menyebut
unique risk) dan risiko tidak sistematik (unsystematic risk).
Risiko sistematik adalah risiko yang terjadi karena faktor per-
ubahan pasar secara keseluruhan, seperti misalnya perubahan
tingkat suku bunga yang mengakibatkan meningkatnya tingkat
keuntungan yang disyaratkan atas surat berharga secara kese-
luruhan, inflasi, resesi ekonomi, perubahan kebijakan ekonomi
secara menyeluruh dan perubahan tingkat harapan pemodal
terhadap perkembangan ekonomi. Risiko kedua, risiko tidak
sistematik, yaitu risiko yang terjadi karena karakteristik per-
usahaan atau lembaga keuangan yang mengeluarkan surat
berharga itu sendiri. Karakteristik itu misalnya mencakup
kemampuan manajemen, kondisi dan lingkungan kerja serta
kebijakan investasi. Oleh karenanya, risiko ini berbeda satu
sama lain sehingga setiap surat berharga juga memiliki tingkat
kepekaan yang berbeda terhadap setiap perubahan pasar. Se-
bagai contoh, kepekaan surat berharga yang dikeluarkan oleh
perusahaan sektor agrokompleks akan berbeda dengan surat
berharga yang dikeluarkan perusahaan sektor telekomunikasi.
Seorang pemodal yang hati-hati senantiasa ingin meng-
hindari risiko dan melindungi investasinya dari kemungkinan
kerugian. Untuk mencapai tujuan ini, pemodal dapat ber-
investasi dengan tidak hanya pada satu surat berharga saja
tetapi pada beberapa surat berharga yang berbeda sekaligus
dalam satu portofolio.2 Misal, pemodal memiliki portofolio
yang terdiri dari saham perusahaan sektor agrokompleks
dan perusahaan sektor telekomunikasi. Penanaman investasi
pada berbagai macam surat berharga semacam ini disebut
2Portofolio merupakan kumpulan surat berharga
9.3 Pencagaran Nilai 149
juga dengan diversifikasi (diversification, penganekaragaman).
Gagasan dasar dari penganekaragaman adalah penurunan
tingkat pengembalian salah satu surat berharga akan ditutup
oleh tingkat pengembalian surat berharga yang lain. Hal ini
juga dapat dibaca dalam ungkapan klasik, don’t put all your
eggs in one basket (jangan letakkan seluruh telurmu dalam
keranjang).
Namun, cara penganekaragaman ini hanya mungkin un-
tuk menyelesaikan risiko tak sistematik dan tidak bisa untuk
mengatasi risiko sistematik sehingga cara ini masih menyisak-
an risiko sistematik yang diakibatkan oleh faktor pasar secara
keseluruhan.
Untuk menanggulangi risiko sistematik ini, ada sebuah
cara yang dikenal sebagai pencagaran nilai atau hedging (da-
pat juga diterjermahkan sebagai cegah risiko atau lindung
nilai). Pencagaran nilai merupakan cara atau teknik untuk
menghindari risiko yang timbul akibat adanya fluktuasi harga
di pasar dalam kaitannya dengan transaksi jual beli komodi-
tas, surat berharga, atau valuta. Misalnya, dalam perjanjian
pinjam-meminjam dalam bentuk valuta asing diperjanjikan
bahwa pembayaran kembali dilakukan dengan kurs yang dise-
pakati. Apabila ternyata nilai kurs berubah pada saat hari
pengembalian pinjaman, pembayaran tetap dilakukan dnegan
memakai kurs yang telah diperjanjikan.
Dengan demikian, teknik pencagaran nilai ini memung-
kinkan seorang pemodal untuk menyusun sebuah portofolio
yang bebas risiko secara sempurna. Pada umumnya instrumen
keuangan yang dapat digunakan untuk pencagaran nilai ada-
lah instrumen derivatif. Pada titik inilah opsi sebagai salah
satu derivatif memainkan peran penting dalam manajemen
150 Perumusan Model Harga Opsi
investasi.
9.4 Batas-batas Harga Opsi
Dalam takrif opsi yang telah diberikan dalam bab 6, suatu
opsi mengandung unsur-unsur pembentuk yaitu harga laksana
K, waktu jatuh tempo pelaksanaan T , harga surat berharga
acuan S dan harga opsi itu sendiri (premi) O. Selanjutnya,
karena berdasarkan haknya opsi dibagi menjadi 2, yaitu opsi
beli dan opsi jual, maka secara khusus harga opsi beli dilam-
bangkan dengan C dan harga opsi jual dilambangkan dengan
P .
Sebagaimana telah diterangkan juga dalam bab yang sama,
opsi merupakan instrumen derivatif sehingga sangat bergan-
tung pada surat berharga acuan. Maka harga opsi atas saham
haruslah merupakan fungsi dari nilai sekarang S dan waktu t,
dapat ditulis O = O(S, t). Kemudian, harga opsi ini bergan-
tung pada parameter-parameter K dan T . Pada waktu jatuh
tempo T , harga opsi menjadi O = O(S, T ).
Sekarang, ditinjau suatu opsi merupakan opsi beli. Pada
saat S(T ) < K, pemegang opsi beli tidak akan melaksanakan
opsinya karena bisa mendapatkan harga yang lebih murah di
pasar. Karenanya, pada saat jatuh tempo harga dari opsi beli
adalah
C(S, T ) = 0. (9.25)
Sebaliknya ketika S(T ) > K, bagaimanapun lebih mengun-
tungkan bagi pemegang opsi beli untuk melaksanakan opsinya.
Dengan membayar sejumlah K, pemegang opsi akan meneri-
9.4 Batas-batas Harga Opsi 151
ma harga saham acuan S(T ) yang memberinya keuntungan
sebesar S(T )−K jika dibandingkan dengan membeli di pasar.
Dengan kata lain, penulis opsi beli membutuhkan setidaknya
C(S, T ) = S(T )−K karena harus membeli saham acuan sehar-
ga S(T ) di pasar dan hanya menerima pembayaran sejumlah
K. Oleh karena itu, harga opsi yang wajar adalah
C(S, T ) = S(T )−K. (9.26)
Dengan melihat kejadian pada saat S(T ) < 0 dimana
C(S, T ) = 0 dan S(T ) > K dimana C(S, T ) = S(T ) − K
secara bersama-sama, maka harga dari opsi beli pada saat
jatuh tempo (t = T ), disebut juga payoff, pasti memenuhi
C(S, T ) = max (S(T )−K, 0) . (9.27)
Sekarang akan ditinjau untuk opsi jual. Pemegang opsi
jual hanya akan memakai haknya jika dipandang mengun-
tungkan yaitu bila dapat menjual saham acuan dengan harga
yang lebih mahal dibandingkan jika menjual saham acuan ke
pasar. Hal ini akan terpenuhi apabila K > S(T ). Pada saat
jatuh tempo ini pemegang opsi jual menerima keuntungan
sebesar K − S(T ), sehingga harga opsi jual pada saat jatuh
tempo adalah
P (S, T ) = K − S(T ). (9.28)
Sebaliknya, apabila K < S(T ), maka dipastikan pemegang
opsi jual lebih memilih untuk membiarkan opsinya kadaluarsa
dan menjual saham acuan ke pasar. Pada saat jatuh tempo
152 Perumusan Model Harga Opsi
yang demikian, harga opsi jual adalah 0,
P (S, T ) = 0. (9.29)
Penjelasan ini menyimpulkan bahwa harga opsi jual pada saat
jatuh tempo (t = T ) adalah
P (S, T ) = max (K − S(T ), 0) . (9.30)
Uraian tentang harga-harga batas dari opsi beli dan opsi
jual di atas yang terangkum dalam persamaan (9.27) dan
(9.30) pada akhirnya mengerucut pada sebuah pertanyaan,
yaitu berapa harga opsi yang wajar atau adil ketika penanda-
tanganan kontrak (t < T ) dilangsungkan dimana pada saat
itu penulis opsi memberikan hak kepada pemegang opsi untuk
menjual atau membeli saham acuan dengan harga laksana K
pada saat jatuh tempo (t = T ).
9.5 Andaian-andaian
Untuk menyusun model tentang penentuan harga opsi se-
bagai jawaban atas pertanyaan di atas diperlukan adanya
andaian-andaian. Andaian-andaian ini dimaksudkan untuk
lebih menyederhanakan permasalahan sehingga model penen-
tuan harga opsi mudah untuk dibangun.
Andaian 9.1. Pasar memenuhi hipotesis pasar efisien.
Ini mengimplikasikan bahwa semua informasi yang dibutuhk-
an tersedia dan tercermin pada harga sekarang. Informasi-
informasi ini pada gilirannya akan ’menggempur’ harga saham
9.5 Andaian-andaian 153
dari berbagai sektor. Gempuran informasi yang datang se-
cara tidak pasti menyebabkan ada ’perilaku khusus’ dalam
pergerakan harga saham.
Andaian 9.2. Pergerakan harga saham mengikuti pola acak.
Andaian ini menafikan para analis teknikal yang percaya
bahwa pergerakan harga saham mempunyai pola-pola tertentu
sehigga bisa diramalkan perubahan yang bagaimana yang
kira-kira akan terjadi mendatang. Andaian ini secara tidak
langsung merupakan turunan dari andaian pertama.
Andaian 9.3. Tidak ada risiko kredit yang ada hanya risiko
pasar.
Risiko kredit merupakan risiko yang timbul dalam hal pihak
debitur gagal memenuhi kewajiban untuk membayar angsuran
pokok ataupun bunga sebagaimana telah disepakati dalam
perjanjian kredit. Di sini diandaikan bahwa emiten3 tidak
memiliki risiko kredit sehingga harga opsi dan saham hanya
dipengaruhi oleh fluktuasi pasar dari surat berharga acuan.
Andaian 9.4. Pasar bebas dari arbitrasi.4
Arbitrasi merupakan pemerolehan keuntungan dengan pembe-
lian surat berharga, mata uang, atau komoditas pada harga
yang rendah di suatu pasar dan seketika itu juga menjual pada
pasar yang lain dengan harga yang lebih tinggi. Arbitrasi
juga dikenal sebagai free lunch dalam jargon keuangan.
3Perusahaan yang mengeluarkan saham.
4Istilah arbitrasi (arbitrage) sama sekali berbeda dengan arbitrase
(arbitration). Arbitrase mempunyai makna penyelesaian perselisihan di
luar pengadilan oleh pihak ketiga sebagai penengah (arbiter/arbitrator)
yang ditunjuk oleh pihak yang berselisih.
154 Perumusan Model Harga Opsi
Andaian 9.5. Suku bunga bebas risiko r dan kemeruapan
(volatilitas) σ tetap dan dapat diketahui.
Suku bunga bebas risiko selalu berubah terhadap waktu. De-
mikian pula volatilitas sebagai besaran yang menerangkan
fluktuasi harga saham juga selalu berubah terhadap waktu.
Dalam membangun model penentuan harga opsi ini, kedua-
nya diandaikan tetap sehingga bisa lebih menyederhanakan
masalah.
Andaian 9.6. Opsi hanya dapat dilaksanakan pada saat
jatuh tempo atau opsi Eropa.
Sebagaimana sudah disinggung, bahwa berdasarkan hak pe-
laksanaannya, opsi dibagi menjadi 2 yaitu opsi yang bisa
dilaksanakan kapan saja selama masa kontrak opsi (opsi Ame-
rika) dan opsi yang hanya bisa dilaksanakan ketika jatuh
tempo saja (opsi Eropa). Dalam model yang akan dibangun,
opsi yang diteliti adalah opsi Eropa.
Andaian 9.7. Surat berharga acuan (underlying asset) ada-
lah saham yang tidak membayarkan dividen selama masa
kontrak opsi berlangsung.
Dengan tidak membayarkan dividen sampai masa jatuh tempo,
maka pemodal akan lebih menyukai untuk bertransaksi opsi.
Andaian 9.8. Biaya transaksi (komisi untuk pialang) relatif
kecil dan dapat diabaikan.
Setiap transaksi di pasar modal selalu melibatkan pialang.
Transaksi opsi selalu nilainya lebih kecil dibanding transaksi
saham. Sehingga biaya jasa pialang (biaya transaksi) untuk
transaksi opsi juga selalu lebih kecil dibanding biaya jasa
pialang untuk transaksi saham.
9.6 Persamaan Turunan Utama 155
9.6 Persamaan Turunan Utama
Andaian-andaian di atas akan digunakan untuk menurunkan
persamaan harga opsi. Dalam andaian 9.2 dinyatakan bahwa
pergerakan harga mengikuti pola acak. Andaian ini secara
tidak langsung menyatakan bahwa persamaan (9.10) tentang
pergerakan harga saham acuan yang mengikuti proses Wiener
berlaku di sini. Persamaan (9.10) itu ialah
dS = µS (t) dt+ σS (t) dB.
Seperti telah dijelaskan di muka bahwa opsi merupakan surat
berharga derivatif sehingga harga opsi O bergantung pada
saham acuan S. Hal ini menunjukkan bahwa peubah harga opsi
O pasti merupakan fungsi dalam S dan t. Akibat selanjutnya,
persamaan (9.18) juga berlaku untuk O, atau dengan kata
lain harga opsi O juga memenuhi proses Itô. Persamaan ini
dapat ditulis sebagai
dO =
(
∂O
∂S
µS +
∂O
∂t
+
1
2
∂2O
∂S2
σ2S2
)
dt+
∂O
∂S
σS dB. (9.31)
Lambang dS dan dO merupakan perubahan O dan S da-
lam rentang waktu sempit dt. Proses Wiener yang mendasari
O dan S adalah sama. Dengan kata lain dB dalam persa-
maan (9.10) dan (9.31) adalah sama. Hal ini menunjukkan
bahwa dengan memilih portofolio yang terdiri dari saham
dan opsi dengan komposisi yang sesuai, proses Wiener dapat
dilenyapkan dari persamaan.
Andaikan portofolio itu adalah komposisi dari satu opsi
bernilai O dan sejumlah ∆ (baca: delta) saham acuan dengan
156 Perumusan Model Harga Opsi
nilai ∆ belum ditentukan. Nilai ∆ akan negatif jika saham
dijual dan akan positif jika saham dibeli. Andaikan nilai
portofolio itu adalah Φ, maka
Φ = O +∆S. (9.32)
Pada rentang waktu dt tingkat pengembalian portofolio adalah
dΦ = dO +∆(dS) . (9.33)
Dengan mengganti dS dengan persamaan (9.10) dan dO de-
ngan persamaan (9.31), persamaan di atas akan menjadi
dΦ =
(
∂O
∂S
µS +
∂O
∂t
+
1
2
∂2O
∂S2
σ2S2
)
dt+
∂O
∂S
σS dB
+∆(µ S dt+ σ S dB) (9.34)
Karena pasar diandaikan bebas dari arbitrasi (andaian 9.4)
dan biaya transaksi bisa diabaikan (andaian 9.8), maka ting-
kat pengembalian portofolio ini harus sama dengan tingkat
pengembalian setiap surat berharga bebas risiko. Dengan
kata lain, kedua andaian ini menegaskan bahwa tingkat pe-
ngembalian portofolio merupakan deterministik. Akibatnya,
suku stokastik (dB) dalam persamaan di atas harus lenyap.
Ini hanya dapat diraih jika nilai ∆ = − ∂0
∂S
, sehingga suku
yang tersisa dari persamaan di atas adalah
dΦ =
(
∂O
∂t
+
1
2
∂2O
∂S2
σ2S2
)
dt. (9.35)
Sementara itu, karena tingkat pengembalian portofolio sama
dengan surat berharga bebas risiko, maka nilai dari tingkat
9.7 Keseimbangan Opsi Jual dan Opsi Beli 157
pengembalian portofolio dapat dituliskan sebagai
dΦ = rΦdt. (9.36)
dengan r merupakan suku bunga bebas risiko. Penggantian
dΦ dengan persamaan (9.34) dan Φ dengan persamaan (9.32)
untuk persamaan di atas akan menghasilkan(
∂O
∂t
+
1
2
∂2O
∂S2
σ2S2
)
dt = r
(
O − dO
dS
)
dt
sehingga didapat
∂O
∂t
+
1
2
∂2O
∂S2
σ2S2 + rS
dO
dS
− rO = 0. (9.37)
Persamaan ini merupakan persamaan turunan utama harga
opsi. Persamaan ini bebas dari parameter laju pertumbuhan
µ dan sahih untuk setiap derivatif yang memenuhi andaian-
andaian di atas, khususnya untuk opsi beli dan opsi jual.
Perbedaan antara opsi beli dan jual hanya terletak pada
kondisi batas yang digunakan. Untuk opsi beli tipe Eropa
mempunyai kunci kondisi batas
O = max (S(T )−K, 0) ketika t = T (9.38)
dan kondisi batas untuk opsi jual tipe Eropa ialah
O = max (K − S(T ), 0) ketika t = T. (9.39)
9.7 Keseimbangan Opsi Jual dan Opsi Beli
Weston dan Copeland (1995, hlm. 516) menyatakan semua
158 Perumusan Model Harga Opsi
jenis kontrak keuangan (financial contract) pada dasarnya me-
rupakan gabungan dari hanya 4 bentuk surat berharga, yaitu:
saham, obligasi bebas risiko, opsi beli, opsi jual. Mengacu pa-
da pendapat ini, maka pembelian selembar saham seharga S
dan satu opsi jual dengan harga laksana K akan memberikan
hasil yang tepat sama dengan selembar obligasi seharga B
dan satu opsi beli dengan harga laksana K, sehingga berlaku
persamaan berikut
S + P = B + C. (9.40)
Dengan demikian, jika portofolio pertama tersusun dari selem-
bar saham dan opsi jual, maka portofolio ini mempunyai nilai
yang sama dengan portofolio kedua yang terdiri dari obligasi
bebas risiko dan opsi beli.
Sekarang akan ditinjau kasus berikut, dimana seorang
pemodal memiliki kedua portofilo ini secara bersamaan.
Diandaikan harga saham acuan di pasar sekarang adalah S,
sedangkan nilai obligasi, opsi beli, opsi jual dan saham acuan
adalah masing-masing K dengan tanggal jatuh tempo yang
sama.
Pada saat jatuh tempo, dimana harga saham acuan di
pasar lebih mahal daripada harga laksana, yaitu S > X , maka
opsi beli akan sangat menguntungkan jika dilaksanakan sebab
pemodal akan meraup keuntungan sebesar S−X. Sebaliknya,
opsi jual tidak mungkin dilaksanakan sebab lebih mengun-
tungkan untuk menjual saham di pasar dibanding ke penulis
opsi, sehingga nilai opsi jual adalah nol. Keadaan ini dapat
9.7 Keseimbangan Opsi Jual dan Opsi Beli 159
dilihat sebagai
B = S + P − C
K = S + 0− (S −K) = K. (9.41)
Pada saat harga saham acuan sekarang di pasar sama
dengan harga laksana, yakni S = K, opsi beli dan opsi jual
keduanya tidak mempunyai pengaruh sedikitpun sehingga
tidak menjadi masalah kedua opsi ini dilaksanakan atau
tidak. Pada keadaan ini, kedua opsi dikatakan bernilai 0,
sehingga
B = S + P − C
K = K + 0− 0 = K. (9.42)
Kemudian, jika harga saham acuan di pasar lebih murah
daripada harga laksana, yakni saat S < K, maka pemodal
tetap bisa menjual sahamnya dengan harga yang lebih mahal
daripada harga pasar, yaitu sebesar K, sehingga pemodal
akan meraih keuntungan sebesar K − S. Dengan demikian,
pada saat seperti ini opsi jual akan dilaksanakan dan opsi beli
tidak mungkin dilaksanakan sebab pemodal bisa mendapatkan
harga yang lebih murah di pasar sehingga nilai opsi beli
adalah nol. Keadaan ini dengan sangat jelas tercermin dalam
persamaan
B = S + P − C
K = S + (K − S)− 0 = K. (9.43)
Dari ketiga keadaan di atas, apapun keadaan yang terjadi
saat jatuh tempo, portofolio pemodal selalu mempunyai nilai
160 Perumusan Model Harga Opsi
K, yakni sama dengan nilai obligasi bebas risiko. Dengan de-
mikian hasil yang diperoleh dari portofolio adalah benar-benar
bebas risiko, dan nilainya bisa didiskontokan pada tingkat
suku bunga bebas risiko. Disini, obligasi bebas risiko berarti
bahwa obligasi akan menghasilkan sebesar nilai nominalnya
dalam keadaan apapun, sehingga dengan memakai pen-
diskontoan majemuk berlanjut nilai sekarang obligasi adalah
B = Ke−r(T−t) (9.44)
Dengan demikian persamaan (9.40) dapat ditulis ulang de-
ngan memasukkan persamaan (9.44) dan akan didapatkan
persamaan baru
S + P − C = Ke−r(T−t) (9.45)
atau
P = C − S +Ke−r(T−t). (9.46)
Persamaan terakhir ini dikenal sebagai persamaan keseim-
bangan opsi jual dan opsi beli (put-cal parity). Persamaan ini
sangat penting karena begitu harga opsi beli dapat ditentuk-
an maka pada saat itu pula harga opsi jual dapat dihitung.
Hubungan ini memperlihatkan bahwa ada hubungan yang
lestari antara harga dari opsi jual dan opsi beli dengan syarat
memiliki kesamaan dalam surat berharga acuan, tanggal jatuh
tempo dan harga laksana.
9.8 Penyelesaian Persamaan Turunan Utama 161
9.8 Penyelesaian Persamaan Turunan Uta-
ma
Adanya hubungan keseimbangan opsi jual dan opsi beli mem-
buat penyelesaian persamaan turunan utama menjadi lebih
sederhana, penyelesaian tidak harus meninjau kedua jenis
opsi beli dan jual secara serempak, tetapi penyelesaian dapat
dilakukan dengan hanya meninjau salah satu jenis opsi saja.
Kaitan keseimbangan opsi beli dan jual yang sederhana juga
menunjukkan bahwa urutan pemilihan jenis opsi dalam menye-
lesaikan persamaan turunan utama tidak berpengaruh sama
sekali. Di sini akan ditinjau opsi beli. Harga opsi beli C(S, t)
merupakan penyelesaian persamaan (9.37) dengan mengganti
harga opsi O dengan C sehingga persamaan turunan utama
untuk opsi beli adalah
∂C
∂t
+
1
2
(σS)2
∂2C
∂S2
+ rS
∂C
∂S
− rC = 0, (9.47)
yang mempunyai kondisi batas
C(S, T ) = max (S(T )−K, 0) ketika t = T. (9.48)
Untuk menyelesaikan persamaan di atas, maka harus dicari
skala yang cocok sedemikian sehingga persamaan menjadi tak
berdimensi kemudian menyederhanakannya dengan permainan
(manipulasi) peubah-peubah.
Sesuai dengan pembahasan pada bab sebelumnya tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi harga opsi, pada waktu
jatuh tempo harga opsi bisa dikatakan hanya bergantung
pada harga laksana dan harga saham acuan. Jadi, skala
162 Perumusan Model Harga Opsi
untuk harga opsi dapat dipilih salah satu dari keduanya.
Namun, struktur persamaan dari karakteristik harga saham
menyarankan bahwa lnS merupakan peubah yang lebih baik
daripada S sebab peubah lnS menghilangkan ketergantungan
koefisien pada harga saham acuan. Dengan demikian, skala
harga opsi adalah harga laksana K. Sedangkan untuk waktu
dapat dipilih salah satu dari r, σ2, atau T . Di sini dipilih
kemeruapan, tetapi pilihan ini menyarankan untuk menghapus
T dengan meletakkan dan menyusun t dengan arah yang
berlawanan, dimulai pada saat jatuh tempo. Transformasi
kondisi batas ini mengakibatkan waktu pada saat t = T
menjadi kondisi awal. Gagasan-gagasan ini tersaji dalam
kaitan berikut:
C = Kf (x, τ) , S = Kex, t = T − τ
(σ2/2)
(9.49)
Oleh karena itu, persamaan (9.47) dan (9.48) bisa ditulis
kembali sebagai
∂f
∂τ
=
∂2f
∂x2
+ (λ− 1) ∂f
∂x
− λf, λ = 2r
σ2
(9.50)
dengan
τ = 0→ f(x, 0) = max (ex − 1, 0) . (9.51)
Persamaan ini telah menunjukkan bahwa harga opsi ha-
nya bergantung pada satu parameter tunggal saja, yakni λ.
Parameter-parameter yang lain telah diserap dalam transfor-
masi peubah.
Bangun persamaan (9.50) menyerupai dengan bangun per-
9.8 Penyelesaian Persamaan Turunan Utama 163
samaan difusi atau rambatan panas. Persamaan ini
dapat menjadi persamaan difusi jika 2 suku yang memuat λ
pada ruas kanan dapat dilenyapkan. Mengingat gejala difusi
adalah gejala yang tidak stabil dengan dugaan kemerosotan
semacam eksponensial, maka untuk mencapai bangun persa-
maan yang serupa dengan persamaan difusi dapat dilakukan
dengan jalan menyisipkan
f(x, τ) = exp(ax+ bτ) g(x, τ), a, b riil dan sebarang
(9.52)
ke dalam persamaan (9.50) dan didapat persamaan baru
∂g
∂τ
=
∂2g
∂x2
+[2a+ (λ− 1)] ∂g
∂x
+
[
a2 + (λ− 1) a− λ− b] g.
(9.53)
Struktur persamaan baru ini sangat mudah untuk dijadikan
persamaan difusi dengan cara menghitung tetapan a dan b
sedemikian hingga suku-suku yang memuatnya (di ruas kan-
an) menjadi bernilai 0, kemudian juga dilakukan pengubahan
kondisi batas dari persamaan. Hasil perhitungan yang seder-
hana menunjukkan bahwa suku-suku yang memuatnya akan
menjadi 0 jika a dan b mempunyai nilai
a := −1
2
(λ− 1)
b := a2 + (λ− 1)a− λ = −1
4
(λ+ 1)2
(9.54)
sehingga koefisien ∂g
∂x
dan g lenyap, dan akhirnya didapatkan
164 Perumusan Model Harga Opsi
persamaan difusi
∂g
∂τ
=
∂2g
∂x2
(9.55)
yang kondisi batasnya ditunjukkan dalam persamaan berikut
τ = 0→ g(x, 0) = max
(
exp
[
(λ+ 1)
x
2
]
− exp
[
(λ− 1) x
2
]
, 0
)
(9.56)
Persamaan difusi yang juga sering disebut persamaan
rambatan panas merupakan persamaan yang sangat sering
muncul dan sudah umum dalam sains dan bidang keteknik-
an (engineering). Dengan memakai metode standard
untuk penyelesaian persamaan rambatan panas atau difusi,
penyelesaian persamaan ini adalah
g(x, τ) =
1√
4πτ
∫ +∞
−∞
dy g(y, 0) exp
(
− 1
4τ
(x− y)2
)
. (9.57)
Integrasi dalam persamaan di atas dapat dipecah dalam 2
rentang batas integrasi, yaitu −∞ ≤ y ≤ 0 dan 0 ≤ y ≤ +∞.
Untuk rentang batas pertama, fungsi maksimum mempunyai
nilai negatif jika y < 0 dan bernilai 0 jika y = 0. Karenanya,
pada rentang batas ini fungsi maksimum bernilai 0 sehingga
dengan sendirinya nilai integrasi juga bernilai 0. Sedangkan
untuk rentang batas kedua, nilai fungsi maksimum bernilai
positif saat y > 0 dan bernilai 0 saat y = 0, sehingga nilai
fungsi maksimum pada rentang ini adalah tidak nol. Dengan
demikian, integrasi dalam persamaan (9.57) hanya menyisakan
integrasi dengan rentang batas 0 ≤ y ≤ +∞ dan fungsi g(y, 0)
9.8 Penyelesaian Persamaan Turunan Utama 165
bernilai bukan nol, dapat ditulis
g(x, τ) =
1√
4τπ
∫ +∞
0
dy[
exp
(
(λ+ 1)
y
2
)
− exp
(
(λ− 1) y
2
)]
exp
(
− 1
4τ
(x− y)2
)
. (9.58)
Langkah yang perlu ditempuh untuk menyelesaikan per-
samaan di atas hanya memerlukan sedikit kepiawaian dalam
permainan peubah-peubah. Dengan memakai kaitan
sederhana ξ = (y−x)
2
2τ
, persamaan akan menjadi
g(x, τ) =
1√
4πτ
∫ +∞
− x√
2τ
√
2τdξ
[
exp
(
1
2
(
x+ ξ
√
2τ
)
(λ+ 1)
)]
exp
(
−ξ
2
2
)
=
1√
2τ
∫ +∞
− x√
2τ
dξ exp
[
1
2
(
x+ ξ
√
2τ
)
(λ+ 1)− ξ
2
2
]
− 1√
2τ
∫ +∞
− x√
2τ
dξ exp
[
1
2
(
x+ ξ
√
2τ
)
(λ− 1)− ξ
2
2
]
= I1 − I2. (9.59)
Selanjutnya dengan kaitan η1 = ξ− (λ+1)
√
2τ
2
, η2 = ξ− (λ−1)
√
2τ
2
untuk lambang-lambang I1 dan I2 secara berurutan akan
166 Perumusan Model Harga Opsi
menghasilkan
I1 = exp
[
1
2
(λ+ 1)x+
τ
4
(λ+ 1)2
]
1√
2π
∫ +∞
− x√
2τ
− (λ+1)
√
2τ
2
exp
(
−1
2
η1
2
)
dη1
= exp
[
1
2
(λ+ 1)x+
τ
4
(λ+ 1)2
]
N (d1) (9.60)
dan
I2 = exp
[
1
2
(λ− 1)x+ τ
4
(λ− 1)2
]
1√
2π
∫ +∞
− x√
2τ
− (λ−1)
√
2τ
2
exp
(
−1
2
η2
2
)
dη2
= exp
[
1
2
(λ− 1)x+ τ
4
(λ− 1)2
]
N (d2) (9.61)
dengan
d1 =
x√
2τ
+ 1
2
(λ+ 1)
√
2τ
d2 =
x√
2τ
+ 1
2
(λ− 1)√2τ (9.62)
dan
N (d) =
1√
2π
∫ d
−∞
dη exp
(
−η
2
2
)
. (9.63)
Fungsi N(d) adalah peluang bahwa peubah η yang mengambil
nilai lebih kecil dari d teragih secara normal. Ini merupakan
agihan peluang kumulatif untuk agihan Gaussan.
Dengan diketahuinya nilai I1 dan I2, maka persamaan
9.8 Penyelesaian Persamaan Turunan Utama 167
g(x, τ) = I1 − I2 dapat dihitung yaitu
g(x, τ) = exp
[
1
2
(λ+ 1)x+
τ
4
(λ+ 1)2
]
N (d1)
− exp
[
1
2
(λ− 1)x+ τ
4
(λ− 1)2
]
N (d2) .
(9.64)
Pada akhirnya, persamaan harga opsi beli C dapat dihitung
dengan memakai kaitan-kaitan dalam persamaan (9.49),
(9.52) dan (9.54) serta λ = 2r
σ2
untuk mengembalikan peubah-
peubah asal ke dalam bangun persamaan. Perhitungan ini
menunjukkan bahwa harga untuk opsi beli C yaitu
C = K exp
[
−1
2
(λ− 1)x− 1
4
(λ+ 1)2τ
]
g(x, τ)
= K exp[x]N (d1)−K exp[−τλ]N (d2) (9.65)
Dengan demikian, harga opsi beli C(S, t) adalah
C(S, t) = SN (d1)−Ke−r(T−t)N (d2) (9.66)
dengan
d1 =
x√
2τ
+
1
2
(λ+ 1)
√
2τ =
ln
(
S
K
)
+
(
r + σ
2
2
)
(T − t)
σ
√
(T − t)
(9.67)
168 Perumusan Model Harga Opsi
dan
d2 =
x√
2τ
+
1
2
(λ− 1)
√
2τ =
ln
(
S
K
)
+
(
r − σ2
2
)
(T − t)
σ
√
(T − t)
= d1 − σ
√
(T − t). (9.68)
Dengan selesainya perhitungan untuk opsi beli ini, persa-
maan opsi jual dapat dihitung dengan mudah berdasarkan
kaitan keseimbangan opsi beli dan opsi jual
P (S, t) = C(S, t)− S +Ke−r(T−t).
Perhitungan ini menunjukkan bahwa persamaan untuk opsi
jual adalah
P (S, t) = −S [1−N (d1)]+Ke−r(T−t) [1−N (d2)] . (9.69)
Dalam persamaan (9.66), (9.67), (9.68) dan (9.69), lam-
bang S,K, P dinyatakan dalam satuan mata uang. Lambang
σ, r dapat dinyatakan dalam persen atau bilangan desimal.
Dan parameter T − t dinyatakan dalam satuan waktu tahun.
Artinya, jika diketahui masa jatuh tempo dalam bilangan hari,
maka harus diubah dulu dalam orde tahun.
Volatilitas Saham Acuan
Kontrak Opsi
Simulasi Kontrak Opsi
Makna Harga Opsi
Siasat Bermain Opsi
Siasat Membendung Risiko
Siasat Membangun Portofolio Bebas
Risiko
10 — Siasat Investasi
Model penentuan harga opsi yang tertera dalam persamaan
(9.66) dan (9.69) memuat 5 parameter yaitu harga saham
acuan, harga laksana, suku bunga bebas risiko, waktu jatuh
tempo dan volatilitas saham acuan. Empat parameter perta-
ma dapat ditentukan dengan mudah berdasarkan informasi
yang tersedia di pasar. Parameter harga laksana dan jatuh
tempo merupakan parameter yang tertera dalam kontrak itu
sendiri. Suku bunga bebas risiko bisa didapatkan dengan
mudah, misalnya dari koran. Untuk negara kita , suku bunga
bebas risiko mengacu pada suku bunga yang dikeluarkan
oleh Bank negara kita . Sedangkan parameter volatilitas saham
acuan harus ditentukan dengan cara tersendiri.
170 Siasat Investasi
10.1 Volatilitas Saham Acuan
Volatilitas saham acuan merupakan satu-satunya faktor yang
nilainya tidak diketahui di dalam model penentuan harga
opsi. Pemain pasar dapat memperkirakan volatilitas dengan
2 cara, yaitu volatilitas tersirat (implied volatility) atau vola-
tilitas yang berdasarkan data perubahan harga saham harian
(volatilitas historis, historis volatility).
Volatilitas tersirat
Dalam model penentuan harga opsi (9.66) dan (9.69) terlihat
bahwa ada suatu jalinan ’tertentu’ antara volatilitas dan har-
ga opsi. Ini memberikan petunjuk bahwa jika harga opsi telah
diketahui, maka volatilitas dapat dicari dengan model penen-
tuan harga opsi ini . Volatilitas yang didapat dengan
cara ini disebut volatilitas tersirat.
Selanjutnya, volatilitas tersirat ini dapat digunakan se-
bagai masukan dalam persamaan (9.66) dan (9.69) untuk
menentukan harga opsi yang lain. Volatilitas tersirat dapat
juga digunakan sebagai perbandingan terhadap volatilitas his-
toris. Perbandingan ini sangat berguna untuk menilai apakah
suatu opsi dapat disebut mahal atau murah. Misalnya, jika
volatilitas historis lebih tinggi dibandingkan volatilitas tersi-
rat, maka harga opsi ini dapat dikatakan tidak mahal,
sebab semakin besar fluktuasi saham acuan maka harga opsi
seharusnya semakin tinggi.
Volatilitas historis
Cara kedua untuk menentukan volatilitas adalah dengan meng-
hitung simpangan baku perubahan harga harian atau return
harian dari saham acuan. Ada perbedaan tentang jumlah
10.1 Volatilitas Saham Acuan 171
hari yang sebaiknya digunakan untuk menghitung simpangan
baku harian. Hull (1989, hlm. 88-90) menyarankan untuk
memakai data 90–180 hari yang lalu, sedangkan menurut
Fabozzi (2000, hlm. 492) cukup dengan data 10–100 hari saja.
Karena volatilitas yang digunakan dalam persamaan meru-
pakan volatilitas tahunan, maka simpangan baku ini
harus dikalikan dengan akar kuadrat dari jumlah hari dalam
setahun,
simpangan baku ×
√
jumlah hari dalam setahun. (10.1)
Jumlah hari yang digunakan dalam persamaan di atas pun
juga berbeda-beda. Fabozzi (2000, hlm. 492) menyatakan
umumnya jumlah yang digunakan adalah 250, 260 atau 365
hari. Angka 250 dan 260 hari digunakan karena kedua angka
ini mengacu pada jumlah hari perdagangan yang sebe-
narnya bagi opsi-opsi tertentu. Untuk angka ini, Hull (1989,
hlm. 90) hanya menyebut 250 hari saja. Sedangkan di Indo-
nesia, jumlah hari perdagangan selama setahun berdasarkan
data harian harga saham hanyalah 241 hari.
Adanya perbedaan dalam memilih jumlah hari ini menye-
babkan seorang manajer keuangan harus mengambil keputus-
an tersendiri tentang:
1. jumlah hari yang akan digunakan untuk menghitung
simpangan baku return harian saham acuan,
2. jumlah hari dalam satu tahun yang digunakan untuk
mengubah butir 1 menjadi volatilitas tahunan
Akibat adanya 2 pilihan di atas, perhitungan volatilitas histo-
ris dapat memberikan nilai yang berbeda-beda.
Dalam perhitungan volatilitas historis ini, simpangan baku
172 Siasat Investasi
dari s data return Ri diberikan oleh persamaan
s =
√√√√ 1
n− 1
n∑
i=1
Ri
2 − 1
n(n− 1)
(
n∑
i=1
Ri
)2
, (10.2)
dengan n adalah jumlah data harian yang digunakan. Berda-
sarkan persamaan (9.24), simpangan baku dari data Ri adalah
σ
√
τ , dengan τ merupakan 1 per jumlah hari perdagangan
dalam setahun. Karenanya, peubah s merupakan perkiraan
dari σ
√
τ , sehingga
σ =
s√
τ
. (10.3)
Penjelasan yang lebih lengkap tentang masalah ini dapat
dilihat dalam pustaka (Hull, 1989).
10.2 Kontrak Opsi
Data harga saham Telkom pada tanggal 4 Mei 2005 adalah Rp.
4300. Jika kontrak opsi beli atas saham Telkom ini untuk
jatuh tempo 3 bulan lagi harga laksananya Rp. 4000, maka
akan muncul pertanyaan berapa harga opsi yang adil untuk
kontrak ini. Harga yang adil untuk kontrak opsi ini sangat
berguna bagi pemodal. Bagi pemodal yang ingin menjual
atau membeli kontrak opsi beli, model harga opsi memberikan
’rambu atau patokan’ harga yang sepantasnya ketika kontrak
opsi akan diterbitkan di pasar.
Dalam kasus di atas, andaikan suku bunga bebas risiko
adalah 8% per tahun, maka untuk mencari harga opsi ha-
rus dihitung volatilitasnya terlebih dahulu. Nilai s untuk
10.3 Simulasi Kontrak Opsi 173
data harga saham Telkom selama 90 hari sebelum tanggal 4
Mei 2005 adalah 0.0137. Dengan demikian data memberikan
perkiraan volatilitas sebesar 0.0137
√
250 = 0.2173 atau 22%
(pembulatan). Volatilitas ini merupakan volatilitas tahunan
yang tetap (berdasarkan andaian 9.5).
10.3 Simulasi Kontrak Opsi
Dari pembahasan di atas, didapat parameter-parameter seba-
gai berikut:
S = 4300, K = 4000, T = 120 hari,
r = 0.08, σ = 0.22.
Struktur persamaan dari model penentuan harga opsi (9.66)
dan (9.69) menunjukkan bahwa model ini sangat mudah sekali
untuk diubah dalam berbagai bahasa pemrograman. Mulai
dari bahasa yang begitu masyhur di lingkungan sains dan
teknik seperti Matlab sampai perangkat lunak yang biasanya
digunakan di lingkungan akuntansi seperti Excel. Bahkan,
persamaan ini juga memungkinkan untuk sebuah kalku-
lator sekalipun.
Berdasarkan simulasi yang telah dibuat dan dengan meng-
gunakan hasil keluaran dari simulasi ini akan didapatkan
grafik yang disajikan oleh gambar 10.1.
Seluruh grafik yang tersaji dalam gambar 10.1 menunjukk-
an kaitan antara harga opsi dengan 1 parameter saja dan 4
paramater yang lain dianggap tetap. Grafik ini juga
dapat dibaca sebagai pembuktian atas pengaruh faktor-faktor
yang mempengaruhi harga opsi. Secara ringkas, dengan me-
174 Siasat Investasi
Gambar 10.1: Grafik ini menunjukkan pengaruh masing-
masing parameter dalam persamaan harga opsi terhadap har-
ga opsi dengan mengandaikan parameter-parameter yang lain
tetap. Dalam grafik ini, harga opsi merupakan fungsi terha-
dap: (a) harga saham acuan; (b) harga laksana; (c) volatilitas;
(d) jatuh tempo; dan (e) suku bunga bebas risiko
10.4 Makna Harga Opsi 175
lihat grafik ini pengaruh paramater-parameter dalam
persamaan harga opsi dapat disajikan pula dalam tabel 10.1.
Tabel 10.1: Ringkasan faktor-faktor yang mempengaruhi har-
ga opsi
Jika faktor meningkat maka...
Faktor Harga opsi beli Harga opsi jual
Harga saham acuan Meningkat Menurun
Harga laksana Menurun Meningkat
Jatuh tempo Meningkat Meningkat
Volatilitas Meningkat Meningkat
Suku bunga bebas risiko Meningkat Menurun
Dengan demikian, parameter-parameter yang terkandung
dalam model persamaan (9.66) dan (9.69) menunjukkan pe-
ngaruh yang serupa menurut pijakan teori keuangan.
10.4 Makna Harga Opsi
Perhitungan terhadap kontrak opsi di atas berdasarkan persa-
maan (9.66) dan (9.69) menunjukkan bahwa harga untuk opsi
beli adalah Rp. 467,84 dan harga opsi jual adalah Rp. 64,00 .
Harga-harga ini merupakan harga yang adil (layak)
berdasarkan model yang telah dibuat. Oleh karenanya, harga-
harga ini berguna untuk menilai apakah suatu opsi yang
dijual di pasar dapat disebut mahal atau tidak. Jika seorang
pemodal menjual opsi beli atas saham Telkom dengan harga
Rp. 500,00, maka berdasarkan hasil model, harga opsi ini
adalah mahal. Pada gilirannya, jika ternyata kecenderungan
176 Siasat Investasi
pemain pasar adalah menjual opsi beli atas saham Telkom
pada tingkat harga Rp. 500,00, maka seorang pemodal bisa
mempertimbangkan untuk juga ikut menjual opsi beli pada
tingkat harga Rp. 500,00. Sebaliknya jika harga opsi beli di
pasar ternyata adalah Rp. 400,00, maka pemodal sebaiknya
melakukan pembelian opsi beli.
Hal yang sama juga berlaku untuk opsi jual. Andaikan
kecenderungan pemain pasar adalah menjual opsi jual pada
tingkat harga Rp. 80,00, maka sebaiknya pemodal mengambil
keputusan untuk ikut menjual opsi jual. Sebaliknya jika harga
di pasar hanya Rp. 50,00 maka keputusan yang sebaiknya
diambil ialah membeli opsi jual ini .
10.5 Siasat Bermain Opsi
Setelah harga opsi diketahui, maka sekarang terhampar ber-
agam pilihan dalam bermain opsi. Untuk permainan yang
sederhana, setidaknya ada 4 pilihan sesuai dengan jenis opsi
yang ada, pegang opsi beli, lepas opsi beli, pegang opsi jual
dan lepas opsi jual. Siasat dengan hanya memilih 1 dari 4 po-
sisi ini dikenal sebagai siasat terbuka (naked strategies).
Langkah terpenting sebelum mengambil keputusan dalam
siasat ini adalah mencermati sentimen pasar terhadap saham
acuan. Langkah ini begitu penting sebab siasat ini tidak
mengenal perimbangan atas risiko dan hasil.
Untuk saham acuan yang harganya cenderung meningkat,
maka pemain pasar bisa mempertimbangkan 2 pilihan: pegang
opsi beli atau lepas opsi jual. Dengan memegang opsi beli,
mengingat harga saham cenderung meningkat, ada harapan
besar bahwa ketika jatuh tempo harga saham acuan di pasar
10.5 Siasat Bermain Opsi 177
lebih tinggi dibanding harga laksana, sehingga keuntungan-
nya sebesar selisih harga pasar dan harga laksana, kemudian
dipotong harga opsi. Karenanya, untuk saham acuan yang
cenderung sangat meningkat, pilihan siasat ini merupakan
pilihan yang rasional. Apalagi, ancaman kerugian hanyalah
sebesar harga opsi.
Namun, jika kecenderungan naiknya harga saham acuan
tidak begitu berarti, pilihan yang rasional adalah menulis
(menjual) opsi jual. Dalam siasat ini, jika ternyata pada
saat jatuh tempo harga saham acuan melonjak tinggi, bisa
dipastikan pemegang opsi jual lebih menyukai untuk menjual
sahamnya di pasar sebab memiliki harga yang lebih tinggi.
Sebaliknya, untuk saham acuan yang harganya memperli-
hatkan kecenderungan menurun, siasat yang menguntungkan
adalah menulis opsi beli dan memegang opsi jual. Menulis opsi
beli dapat dipilih untuk saham-saham yang penurunannya
tidak begitu berarti. Sebab, andaikan harga saham anjlok,
maka harga di pasar tentu jauh lebih murah sehingga opsi
beli akan diabaikan. Sedangkan memegang opsi jual menjadi
pilihan tepat jika saham acuan menunjukkan penurunan yang
sangat berarti. Dengan demikian, apabila pada saat jatuh
tempo harga saham acuan benar-benar anjlok, pemegang opsi
jual masih bisa menjualnya dengan harga yang relatif lebih
tinggi kepada penulis opsi jual.
Empat macam siasat terbuka ini disimulasikan dalam ta-
bel 10.2 yang kemudian dilukiskan dalam gambar 10.2. Empat
grafik yang tersaji dengan jelas menunjukkan bahwa siasat
terbuka merupakan siasat yang paling dasar karena hanya
bertumpu pada 1 posisi dari 4 posisi opsi dan tidak ada penye-
imbangan atas risiko yang membayangi. Akibatnya, siasat ini
178 Siasat Investasi
Tabel 10.2: Simulasi siasat terbuka dengan K=Rp. 4000,
S=Rp. 4300, r = 0.08, σ = 0.22, dan T − t=120 hari
S K C P Pegang C Lepas C Pegang P Lepas P
Laba
3400 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 536.00 -536.00
3500 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 436.00 -436.00
3600 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 336.00 -336.00
3700 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 236.00 -236.00
3800 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 136.00 -136.00
3900 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 36.00 -36.00
4000 4000 467.84 64.00 -467.84 467.84 -64.00 64.00
4100 4000 467.84 64.00 -367.84 367.84 -64.00 64.00
4200 4000 467.84 64.00 -267.84 267.84 -64.00 64.00
4300 4000 467.84 64.00 -167.84 167.84 -64.00 64.00
4400 4000 467.84 64.00 -67.84 67.84 -64.00 64.00
4500 4000 467.84 64.00 32.16 -32.16 -64.00 64.00
4600 4000 467.84 64.00 132.16 -132.16 -64.00 64.00
4700 4000 467.84 64.00 232.16 -232.16 -64.00 64.00
4800 4000 467.84 64.00 332.16 -332.16 -64.00 64.00
4900 4000 467.84 64.00 432.16 -432.16 -64.00 64.00
5000 4000 467.84 64.00 532.16 -532.16 -64.00 64.00
tidak mempunyai mekanisme bagaimana membendung risiko
seperti tampak dalam gambar 10.2 (b) dan (d).
Gambar 10.2 secara jelas menyarankan bahwa siasat terbu-
ka yang risikonya paling kecil adalah memegang opsi beli dan
memegang opsi jual. Ancaman kerugian yang mungkin dide-
rita keduanya hanya sebatas harga opsi. Namun, keuntungan
yang mungkin dapat dituai besarnya bisa tak terbatas.
Potensi kerugian tak terbatas pada siasat terbuka bisa di-
bendung dengan melakukan kombinasi untuk menyeimbangk-
an risiko dan hasil. Salah satu cara untuk melakukan penye-
imbangan ini adalah dengan melibatkan posisi saham acuan.
Siasat ini dikenal sebagai siasat tertutup (covered strategies).
10.5 Siasat Bermain Opsi 179
Gambar 10.2: Profil 4 macam siasat terbuka dalam investasi
opsi. Dalam satu jenis opsi, misalnya opsi beli, keuntungan
pemegang opsi beli merupakan kerugian penulis (penjual) opsi
beli. Demikian pula untuk opsi jual. Dalam siasat ini, pema-
in pasar tidak memiliki penyeimbang untuk risiko dan hasil.
Masing-masing grafik menunjukkan siasat terbuka:(a) meme-
gang opsi beli; (b) menulis/melepas opsi beli; (c) memegang
opsi jual; dan (d) menulis opsi jual
180 Siasat Investasi
Dengan demikian, begitu kontrak disepakati maka penulis
opsi segera membeli saham acuan di pasar dengan harga saat
itu. Andaikan kontrak opsi ini adalah opsi beli untuk
100 ribu lembar saham acuan yang tidak membayar dividen
sampai jatuh tempo. Jika harga saham acuan saat itu di pasar
adalah Rp. 4300, maka dengan segera penulis opsi membeli
saham acuan dengan harga Rp. 4300 per lembar sebanyak
100 ribu lembar. Investasi awal yang diperlukan adalah
Rp.430000000− Rp.46784000 = Rp.383216000.
Jika 120 hari kemudian opsi ternyata out-of-the-money (se-
bagai contoh, harga saham acuan pada saat jatuh tempo
Rp. 3800) maka portofolio penulis opsi bernilai Rp. 380000000.
Kerugian penulis opsi adalah Rp. 3216000. Jika harga saham
acuan ketika jatuh tempo adalah Rp. 5000 (in-the-money),
portofolio penulis opsi saat itu sebesar Rp. 116484000. Karena
masih membuka peluang munculnya kerugian, bisa dikata-
kan siasat tertutup tetap belum berdaya untuk membendung
risiko dengan baik. Maka, siasat ini masih perlu diperbaiki.
10.6 Siasat Membendung Risiko
Dalam siasat tertutup, pelibatan saham acuan hanya dilakuk-
an sekali saja ketika kontrak selesai ditandatangani. Sehingga,
portofolio penulis opsi tersusun atas opsi dan saham acu-
an. Selebihnya, penulis opsi hanya pasif menunggu sampai
jatuh tempo sambil berharap semoga opsi dalam keadaan
in-the-money sehingga tidak merugi.
Selama masa jatuh tempo, sebenarnya penulis opsi bisa
10.7 Siasat Membangun Portofolio Bebas Risiko 181
melakukan pencagaran nilai terhadap posisinya (melindungi
nilainya) dengan segera membeli saham acuan pada saat
harganya di atas K dan segera menjual kembali sebelum
jatuh dibawah K. Pola ini menjamin bahwa penulis opsi
memiliki saham acuan saat T jika opsi berakhir in-the-money
dan tidak memiliki saham jika opsi berakhir out-of-the-money.
Kerugian bisa ditekan dan biaya untuk melakukan ini hanya
sebesar
Q = max(S −K, 0) (10.4)
dengan S merupakan harga saham acuan ketika opsi ditulis.
Namun demikian, cara ini menyimpan 3 masalah:
1. bahwa sangat tidak mungkin untuk membeli dan men-
jual saham acuan tepat disekitar K,
2. aliran dana untuk pencagaran nilai ini terjadi untuk
waktu-waktu yang berbeda sehingga pasti nilainya ter-
diskonto,
3. biaya transaksi opsi (komisi jasa pialang) belum dihi-
tung.
10.7 Siasat Membangun Portofolio Bebas Ri-
siko
Pada dasarnya, gagasan yang dipakai dalam siasat memben-
dung risiko di atas setali tiga uang dengan gagasan siasat
membangun portofolio yang bebas risiko. Jika andaian 9.1
– 9.8 yang digunakan untuk membangun persamaan turun-
an utama berlaku, maka membangun portofolio bebas risiko
merupakan sebuah keniscayaan.
182 Siasat Investasi
Ketika membangun persamaan turunan utama dalam
bab 9 (§ 9.6) halaman 156, untuk melenyapkan ketidakpasti-
an dalam investasi, maka suku stokastik harus dilenyapkan.
Upaya pelenyapan ini dilakukan dengan membentuk suatu
portofolio yang terdiri atas opsi dan sejumlah ∆ (baca: delta)
saham.
Dalam upaya yang telah dilakukan, portofolio Φ yang
digunakan merupakan portofolio yang memiliki komposisi
(persamaan (9.32))
Φ = O +∆S.
Keberhasilan portofolio ini dalam melenyapkan suku stokastik
dapat dimaknai bahwa portofolio ini merupakan portofolio
bebas risiko. Perhitungan yang sudah dilakukan saat itu
menunjukkan bahwa nilai ∆ dalam persamaan di atas adalah
−∂O
∂S
(lihat persamaan (9.34)). Ini mengandung pengertian
bahwa portofolio Φ dapat disusun dengan membeli 1 opsi dan
menjual sejumlah ∂O
∂S
saham acuan.
Portofolio Φ dapat juga disusun dengan menjual 1 opsi
dan membeli sejumlah ∂O
∂S
saham acuan. Susunan portofolio
ini dapat ditulis sebagai
Φ = −O +∆S, (10.5)
dengan ∆ = ∂O
∂S
. Susunan portofolio ini tetap menunjukkan
bahwa portofolio Φ merupakan portofolio bebas risiko, sebab
suku stokastik juga bisa dilenyapkan. Oleh karenanya, secara
umum portofolio Φ dapat disusun dengan memakai kaitan
Φ = ±O ∓∆S, (10.6)
10.7 Siasat Membangun Portofolio Bebas Risiko 183
tanda (+) menyatakan membeli dan tanda (−) menyatakan
menjual.
Lambang ∆ dalam portofolio ini disebut sebagai delta
pencagaran nilai (delta hedging). Dengan demikian, delta
dapat ditakrifkan sebagai nisbah antara perubahan harga opsi
dengan perubahan harga saham acuan. Atau, jika diterje-
mahkan dalam ’bahasa’ investasi, delta merupakan jumlah
saham acuan yang sebaiknya dipegang untuk setiap penjualan
opsi demi menjaga portofolio supaya tetap bebas risiko, dan
sebaliknya.
Maka, berdasarkan persamaan (9.66) dan (9.69), masing-
masing nilai delta untuk opsi beli dan opsi jual dapat dicari
dengan mudah. Delta untuk opsi beli adalah
∆C = N(d1) +
S√
2π
e−d1
2/2 ∂d1
∂S
− K√
2π
e−r(T−t)−d
2
1/2
∂d2
∂S
= N(d1) +
1
σ
√
2π(T − t)
[
e−d
2
1/2 − e−(r(T−t)+lnS/K) e−d22/2
]
= N(d1). (10.7)
Delta untuk opsi jual dapat dihitung dengan mudah berda-
sarkan kaitan keseimbangan opsi jual dan opsi beli,
∆P =
∂P
∂S
=
∂
∂S
(
C +Ke−r(T−t) − S) = N(d1)−1 (10.8)
yang menunjukkan selalu negatif.
Delta untuk opsi beli selalu positif karena 0 ≤ N(d1) ≤ 1.
Rentang nilai ini merupakan rentang peluang apakah opsi akan
dilaksanakan atau diabaikan. Sebelumnya, gambar 10.1 (a)
telah menjelaskan bahwa kenaikan harga saham acuan di pasar
184 Siasat Investasi
akan meningkatkan harga opsi beli. Secara tersirat gambar
ini juga menyatakan bahwa kenaikan harga saham acuan
sebanding dengan kemungkinan bahwa opsi beli akan in-the-
money sehingga harganya juga naik. Ini semakin jelas dalam
gambar 10.3. Gambar ini juga menunjukkan bahwa peluang
opsi beli akan at-the-money ketika jatuh tempo adalah di
sekitar 0.5.
Gambar 10.3: Perubahan delta terhadap harga saham acuan
untuk opsi beli
Dengan demikian, semakin jelaslah bagaimana seorang pe-
nulis opsi beli bisa membangun portofolio bebas risiko selama
masa jatuh tempo. Portofolio ini menjamin bahwa pada saat
jatuh tempo penulis opsitidak mengalami kerugian. Bangunan
portofolio ini dapat dibaca dalam persamaan
Φ = −C +∆S = −C + ∂C
∂S
S = −C +N(d1)S. (10.9)
10.7 Siasat Membangun Portofolio Bebas Risiko 185
Secara teoritis persamaan ini menyebutkan bahwa jika penulis
opsi beli menjual opsi beli sejumlah C, maka sejumlah N(d1)S
saham harus dibeli untuk menyeimbangkan risiko dalam por-
tofolionya. Dengan kata lain, portofolio bebas risiko Φ dapat
dengan mudah dibentuk hanya dengan memelihara jumlah
N(d1)S saham acuan. Dengan sendirinya, pergerakan harga
saham acuan harus diimbangi dengan pengaturan kembali
(rebalancing) jumlah saham acuan yang disertakan dalam por-
tofolio Φ. Ini akan semakin jelas dengan melihat gambar 10.4
Pada waktu jatuh tempo, opsi beli hanya akan bernilai
S > K. Keadaan ini disebut in-the-money (opsi yang meng-
hasilkan). Sebaliknya, jika S < K opsi mengalami keadaan
out-of-the-money (opsi tidak berguna). Dalam keadaan ini,
opsi tidak mempunyai nilai sehingga tidak dibutuhkan sa-
ham acuan dalam portofolio Φ. Namun demikian, seiring
pergerakan harga saham acuan terhadap waktu, opsi akan
segera mencapai at-the-money (yakni S = K) atau bahkan
in-the-money. Pada keadaan yang demikian, pemegang opsi
beli dipastikan akan melaksanakan haknya. Pada gilirannya,
penulis opsi beli wajib menyediakan saham acuan yang dijan-
jikan.
Selama belum jatuh tempo, harga opsi beli lebih ma-
hal dan tidak nol, bahkan jika opsi masih out-of-the-money.
Karenanya, delta pencagaran risiko harus menyeimbangkan
sesegera mungkin untuk memelihara portofolio yang bebas
risiko. Siasat dengan memakai portofolio bebas risiko
ini lebih dikenal sebagai siasat delta pencagaran nilai (delta
hedging).
Konsistensi logis dari adanya dinamika harga saham acuan
Related Posts:
fisika pasar modal 2 kerancuan dengan ’hargapada waktu pelaksanaan’. Padahal, makna sebenarnya adalah ’hargapelaksanaan sesuai yang dij… Read More