invest bodong

Literasi fi nansial adalah pengetahuan, kemampuan, keahlian, dan keyakinan diri 
masyarakat dalam mengelola keuangannya dengan cara yang benar dan bertanggung 
jawab. Literasi fi nansial menjadi solusi dalam menyaring berbagai efek negatif dari 
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Banyak produk/jasa keuangan 
yang muncul dengan modus yang berbeda-beda. Akibatnya, semakin sulit menentukan 
mana investasi yang sah dan mana investasi bodong. Literasi fi nansial menjadi penting 
karena sangat sedikit masyarakat  Indonesia yang benar-benar mengetahui produk/
jasa keuangan yang ada, fi tur-fi turnya, lembaga pengelola, serta resikonya. Kajian ini 
merupakan penelitian studi kepustakaan yakni dengan pengambilan data melalui data 
sekunder yang ada dan studi pustaka yang terkait dengan topik penelitian. Hasil kajian 
menunjukkan bahwa Literasi fi nansial adalah ‘senjata’ ampuh untuk meminimalisir 
korban investasi bodong yang semakin marak di masyarakat. Dengan literasi fi nansial, 
masyarakat mampu mengenali tanda bahaya dari tawaran investasi yang datang, mampu 
merencanakan keuangannya secara benar, dan mampu memanfaatkan pengetahuan dan 
kemampuannya dalam mengambil keputusan secara fi nansial. Pada akhirnyam literasi 
fi nansial diharapkan  dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, karena mereka bisa 
mengakses sumber-sumber daya ekonomi dan menggunakannya dengan cara yang benar. 
Literasi fi nansial dapat ditingkatkan dengan edukasi terhadap masyarakat untuk lebih hati-
hati mengenali produk/jasa keuangan, mengenali investasi yang cocok, mengenali lembaga 
investasi yang sah,  edukasi literasi fi nansial sejak usia dini, sosialisasi secara luas kepada 
masyarakat dengan media yang tepat, serta mendorong partisipasi masyarakat. Literasi 
fi nansial sangat diperlukan sebagai modal bagi masyarakat untuk bisa meningkatkan taraf 
hidupnya, karena dengan pengetahuan, keahlian, dan kepercayaan diri masyarakat bisa 
memanfaatkan sumber daya ekonomi yang ada dengan benar untuk kesejahteraannya.

Mendengar  istilah  literasi, mungkin yang terlintas di benak kita adalah 
kemampuan membaca dan menulis.  Lalu, bagaimana dengan Literasi 
Finansial? pada dasarnya, literasi fi nansial juga berkaitan dengan kemampuan 
dan pengetahuan seseorang, bukan untuk membaca atau menulis, melainkan 
untuk mengelola keuangannya sendiri. Istilah literasi fi nansial memang baru 
diperkenalkan di era digital; namun, substansinya sendiri sudah dijalankan 
masyarakat sejak zaman dahulu.
Literasi fi nansial menjadi salah satu subjek yang populer dalam beberapa tahun 
terakhir, bukan hanya di sektor keuangan namun juga di sektor pendidikan. 
Di berbagai negara, literasi fi nansial telah menjadi bagian dari kurikulum 
pembelajaran resmi di lembaga pendidikan. Pasalnya, kemampuan manajemen 
keuangan, pengetahuan, keahlian, dan kepercayaan diri di bidang keuangan 
semestinya sudah dipupuk sejak usia dini. 
Di zaman yang serba canggih dengan teknologi internet yang dapat dijangkau 
hanya dengan ujung jari, produk/jasa fi nansial yang muncul semakin bervariasi. 
Akibatnya, semakin sulit bagi masyarakat untuk membedakan layanan keuangan 
yang resmi maupun tidak. Modus operasi para pelaku penipuan investasi, alias 
investasi bodong, semakin canggih dan sulit terdeteksi. Oleh sebab itu, literasi 
fi nansial sejak usia dini menjadi salah satu solusi untuk meminimalisir resiko 
jatuhnya korban.
B. Kajian Teori
1. Pengertian Literasi Finansial
Literasi fi nansial telah menjadi topik pembahasan dalam berbagai diskusi 
keuangan maupun penelitian. Lusardi dan Mitchell (2014) mendefi nisikan 
literasi fi nansial sebagai “peoples’ ability to process economic information and 
make informed decisions about fi nancial planning, wealth accumulation, debt, 
and pensions.” Penulis mengartikan literasi fi nansial sebagai kemampuan 
seseorang untuk mengolah informasi keuangan yang diterima dan mengambil 
keputusan tentang perencanaan keuangan, akumulasi kekayaan, pensiun, 
maupun hutang dengan pertimbangan yang berdasarkan pengetahuan dan 
pemahaman.
Sejalan dengan itu,  Dr. Laura Elizabeth Pinto dari University of Ontario 
Institute of Technology mendefi nisikan literasi fi nansial sebagai komponen 
keuangan yang berpusat pada kemampuan seseorang untuk mendapatkan, 
memahami, dan mengevaluasi informasi yang dibutuhkan untuk mengambil 
keputusan fi nansial, serta pengetahuan tentang kemungkinan  resikonya 
(Pinto, 2017). Dalam disertasinya, Anis Dwiastanti (2015) mengutip 
beberapa defi nisi literasi fi nansial dari beberapa ahli, di antaranya:
a. Menurut Lusardi dan Micthell (dalam Dwiastansi, 2015), literasi 
fi nansial selalu dikaitkan dengan pengetahuan dan kemampuan untuk 
memanfaatkannya.
b. Hung (dalam Dwiastansi, 2015) mendefi nisikan literasi fi nansial sebagai 
kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan keahlian untuk 
mengelola sumber daya fi nansial yang dimiliki secara efektif untuk 
menciptakan kesejahteraan.
Dari beberapa defi nisi di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi fi nansial 
didefi nisikan sebagai ‘kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah, 
dan menilai informasi keuangan yang diterima dan memanfaatkannya 
untuk mengambil keputusan’. Kemampuan untuk menerima dan mengolah 
informasi keuangan tercermin dari empat aspek, yakni:
a. Edukasi
Literasi fi nansial diperoleh melalui serangkaian pembelajaran (edukasi), 
baik secara sengaja maupun tidak sengaja.  Pembelajaran secara sengaja 
maksudnya adalah seseorang berusaha mendapatkan kemampuan 
pengelolaan fi nansial melalui pendidikan, pelatihan, membaca, atau 
berdiskusi dengan ahlinya. Proses pembelajaran secara tidak sengaja 
misalnya adalah pelajaran yang didapat seseorang dari pengalaman.
b. Pengetahuan 
Dengan literasi keuangan, masyarakat mengetahui jenis produk dan 
layanan keuangan yang ada, fi tur-fi turnya, manfaat maupun resikonya, 
mengenal lembaga jasa keuangan yang ada, serta hak dan kewajiban 
pengguna jasa keuangan sebagai konsumen.

c. Keterampilan
Keterampilan diperoleh dari pengetahuan. Dengan kata lain, keterampilan 
bidang pengelolaan keuangan bersifat  lebih teknis, seperti cara menghitung 
bunga, cara menilai laba-rugi, cara menghitung denda, menghitung pajak, 
fee, maupun biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang konsumen sebagai 
akibat dari sebuah transaksi keuangan. 
d. Kepercayaan Diri
Pengetahuan dan keterampilan akan bermuara kepada kepercayaan 
diri seseorang dalam menggunakan produk maupun jasa keuangan. 
Kepercayaan diri maksudnya adalah seseorang bisa percaya bahwa uang 
yang disimpan atau dikelola sebuah lembaga keuangan tidak akan hilang 
begitu saja. 
2. Mengapa Literasi Finansial Penting
Pertanyaan berikutnya adalah “Mengapa literasi fi nansial penting bagi 
masyarakat?” Literasi fi nansial akan memberikan manfaat bagi masyarakat 
maupun perekonomian secara umum. Pasalnya, belum semua masyarakat 
mengetahui hak dan kewajibannya dalam menggunakan produk dan/atau 
layanan keuangan. Hal ini dibuktikan dari sebuah survei yang dilakukan oleh 
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013, bahwa:
a. 21,84% masyarakat Indonesia yang masuk kategori Well Literate. Artinya, 
sangat sedikit masyarakat  yang  memiliki  pengetahuan  yang  baik tentang 
produk/jasa keuangan, fi tur-fi turnya, kelebihan dan resikonya, serta 
keyakinan dalam menggunakan produk dan/atau jasa keuangan yang ada.
b. 75,69% masyarakat Indonesia masuk kategori Suffi  cient Literate. Artinya, 
sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan dan keyakinan 
yang cukup tentang lembaga keuangan serta produk dan/jasa keuangan 
yang ada.
c. 2,06% masyarakat Indonesia masuk kategori Less Literate, yakni memiliki 
sedikit pengetahuan tentang lembaga keuangan serta produk dan/jasa 
keuangan yang ada.
d. 0,41% masyarakat Indonesia masuk kategori Not Literate, yakni tidak 
memiliki pengetahuan tentang lembaga keuangan serta produk dan/jasa 
keuangan yang ada.
Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa sebagian besar masyarakat memiliki 
pengetahuan tentang lembaga keuangan serta produk-produknya di Indonesia. 
Namun, hanya sedikit yang memiliki keterampilan dan kepercayaan dalam 
menggunakannya. Oleh sebab itu, gerakan  Literasi  Finansial  masih 
diperlukan agar masyarakat memperoleh manfaat yang optimum dari layanan 
fi nansial  yang  ada di Indonesia. Pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan 
dalam menggunakan layanan fi nansial akan memberikan sejumlah manfaat 
bagi masyarakat, antara lain:
a. Dapat memilih produk dan/atau jasa keuangan serta lembaga keuangan 
yang ada sesuai kebutuhan;
b. Mampu merencanakan keuangannya sendiri secara lebih baik, sehingga 
tidak berbelanja melebihi kemampuannya;
c. Dapat menghindari aktivitas investasi yang beresiko tinggi atau setidaknya 
mampu meminimalisir resiko dari sebuah keputusan.
d. Dapat menghindari kecurangan, seperti investasi bodong, yang dilakukan 
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
C. Metode Kajian
Penulisan dalam kajian ini menggunakan metode kepustakaan selanjutnya 
dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pentingnya literasi 
keuangan dalam mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan investasi 
seperti investasi bodong. Data yang disajikan diperoleh melalui studi pustaka 
dari jurnal internasional maupun berita resmi dari lembaga pemerintahan.
D. Hasil dan Pembahasan
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang lembaga keuangan 
dan produk-produknya menyebabkan banyaknya masyarakat yang menjadi 
korban penipuan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab. Banyak masyarakat 
yang tergiur dengan iming-iming laba berlipat ganda dalam waktu yang singkat 
dan tanpa berbuat apa-apa. Investasi bodong sebenarnya bukanlah sebuah istilah 
baku yang memiliki defi nisi tetap. Istilah ini muncul di tengah masyarakat karena 
praktek yang terjadi di lapangan. Begitu seseorang menanamkan modalnya, 
bukannya keuntungan yang didapat. Malahan, dana ini  hilang lenyap 
bersama pelaku.
1. Literasi Finansial vs Penipuan Investasi
Mungkin, sebuah pertanyaan muncul di benak kita, “Benarkah korban 
penipuan investasi adalah orang yang benar-benar Not Literate secara fi nansial? 
Sebagian besar orang berpendapat bahwa ketidaktahuan tentang produk/jasa 
keuangan serta lembaga keuangan yang ada menyebabkan seseorang rentan 
menjadi korban penipuan investasi atau investasi bodong. Namun, dalam 
sebuah tulisan berjudul “Understanding and Combating Investment Fraud” 
yang disajikan pada acara Pension Research Council Symposium pada tanggal 
5-6 Mei 2016, Christine N. Kieff er dan Gary R. Mottola menyajikan suatu 
fakta yang cukup mencengangkan. 
Kieff er dan Mottola (2016) mengutip hasil penelitian Consumer Fraud 
Research Group Tahun 2006 oleh AARP yang dilaksanakan Tahun 2007 
bahwa bahwa semakin tinggi literasi fi nansial masyarakat, semakin tinggi 
peluang mereka menjadi korban penipuan investasi. 
Setidaknya, ada 2 penjelasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, literasi 
fi nansial membuat sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab mampu 
mengidentifi kasi masalah fi nansial dan kebutuhan masyarakat. Mereka bisa 
merancang dan menawarkan produk/jasa keuangan yang dijanjikan untuk 
mengatasi masalah para ‘korban.’ Semakin tinggi literasi masyarakat, semakin 
banyak jenis investasi yang bisa ditawarkan. Akibatnya, jumlah korban pun 
semakin banyak pula.
Kedua, masyarakat dengan kategori Suffi  cient Literate berpeluang lebih tinggi 
menjadi korban penipuan investasi. Pasalnya, kelompok masyarakat ini 
cenderung ‘terlalu percaya’ dengan produk/jasa keuangan yang ditawarkan. 
Rasa percaya diri yang berlebihan membuat mereka mengabaikan kebenaran 
dengan menutup mata terhadap tanda-tanda bahaya yang sebenarnya sudah 
terlihat dari awal. 
Dengan kata lain, literasi fi nansial yang dibutuhkan untuk meminimalisir 
resiko seseorang menjadi korban penipuan investasi adalah kategori Well 
Literate. Sayangnya, persentase penduduk dengan kategori ini masih sangat 
rendah di Indonesia. Apa yang dikhawatirkan Kieff er dan Mottola sepertinya 
juga terjadi di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam laman 
resminya, mencantumkan daftar 233 perusahaan investasi ilegal sejak tanggal 
18 Agustus 2016 hingga 27 Agustus 2018. Untuk tahun 2018 saja, ada 
113 perusahaan investasi ilegal yang tercatat. Artinya, ada kecenderungan 
pertambahan pelaku investasi ilegal setiap tahunnya.
2. Mengenali Gejala Penipuan Investasi
Sebenarnya, kunci utama untuk mencegah anda menjadi korban penipuan 
investasi adalah kehati-hatian. Investasi bodong dirancang untuk menarik 
perhatian korban dan terlihat seperti investasi yang benar-benar sedang 
mereka cari. Sebenarnya, ada beberapa ‘tanda bahaya’ yang perlu diperhatikan 
ketika anda mendapat tawaran investasi dari seseorang atau suatu lembaga. 
Dalam sebuah publikasi berjudul “Avoiding Investment  Fraud: Signs of a 
Scam” pada Tahun 2011, AARP menyebutkan beberapa sinyal penipuan 
investasi, antara lain:
a. Dijamin menguntungkan
Jika anda ditawari investasi dengan jaminan keuntungan yang besar, ini bisa 
jadi hanyalah trik untuk merayu anda agar tertarik untuk menanamkan 
modal. Tawaran yang ‘terlalu manis’ seperti investasi tanpa resiko adalah 
suatu hal yang harus diwaspadai. Secara logika, tidak ada investasi yang 
tanpa resiko sama sekali. Normalnya, semakin tinggi peluang keuntungan 
sebuah investasi, maka semakin tinggi pula resikonya. Artinya, tawaran 
investasi “pasti untung, “bebas resiko” “untung besar” hanyalah trik rayuan 
untuk menjaring  banyak korban.
b. Tanpa administrasi
Tawaran investasi bebas administrasi adalah cara lain untuk menarik 
perhatian korban. Mesti diakui bahwa penanaman modal adalah suatu 
proses yang melibatkan administrasi yang terkadang cukup rumit. Nah, 
bagaimana jika anda ditawari dengan investasi tanpa administrasi yang 
rumit? “Tanamkan modal anda dulu, nanti saya yang akan mengurusi 
administrasinya.” Janji seperti ini adalah tanda bahaya yang mesti 
diantisipasi. 
c. Penawaran hanya tersedia hari ini
Jika anda ditawari peluang investasi menguntungkan yang “hanya tersedia 
hari ini?” Sebaiknya tolak saja. Sebaiknya, lakukan pemeriksaan terhadap 
lembaga yang menawarkan peluang investasi ini . Logikanya, tidak 
ada peluang penanaman modal yang hanya tersedia satu hari.  
d. Investasi Rahasia Yang Hanya Tersedia untuk Anda
Satu lagi cara para pelaku investasi bodong untuk menarik perhatian 
korban adalah menawarkan ‘investasi eksklusif ” yang hanya ditawarkan 
untuk anda. Peluang seperti ini kerap ditawarkan melalui sambungan 
telepon atau telemarketing. Biasanya, penelpon menghubungkan tawaran 
eksklusif ini  dengan eksistensi anda di sebuah lembaga keuangan, 
misalnya, nasabah terlama, atau nasabah dengan volume transaksi terbesar, 
dan semacamnya. Sekilas, anda mungkin akan merasa bangga karena 
diberi kehormatan untuk berinvestasi  secara eksklusif. Namun, benarkah 
ada investasi semacam ini? Jawabannya adalah tidak ada. 
e. Lakukan pembayaran “hanya” melalui saya
Penawaran semacam ini juga kerap datang melalui telemarketing, 
meski tidak tertutup kemungkinan kalau telemarketer langsung juga 
menyampaikan hal yang sama. Misalnya, “Saya adalah satu-satunya agen 
pemasaran di wilayah ini.” Agen investasi ini berusaha meyakinkan  anda 
untuk  melakukan  pembayaran melalui dirinya, karena tidak ada orang 
lain lagi. Logikanya, investasi dikelola oleh sebuah lembaga resmi, yang 
pastinya tidak hanya dimiliki oleh satu orang. Jadi, anda harus waspada 
terhadap tawaran  yang bersifat ‘memaksa’ seperti ini. 
3. Cara Menghindari Penipuan Investasi
Literasi fi nansial adalah solusi untuk meminimalisir terjadinya penipuan 
investasi. Seberapa menarikpun peluang investasi yang ditawarkan kepada 
anda, jangan langsung menjawab  “Ya”  sekalipun tawaran itu datang dari 
seorang profesional, ipar, mertua,  teman, atau seseorang yang baru anda kenal 
di bis. Tetap lakukan pemeriksaan sebelum mengambil keputusan.  Berikut 
adalah beberapa aspek yang wajinb anda periksa menurut versi AARP (2011):
a. Periksa produknya
Sebagian besar investasi bodong datang dalam bentuk tawaran saham yang 
semestinya dikelola oleh pialang saham terdaftar. Sejumlah perusahaan 
nakal bisa saja menawarkan saham dengan harga perlembar yang cukup 
menarik dan janji keuntungan yang menggiurkan. Namun, perlu 
diketahui bahwa  tidak ada saham yang ditawarkan langsung atau door-to-
door. Sekalipun yang menawarkan adalah Saudara anda, jangan langsung 
menerimanya. Besar kemungkinan kalau saham seperti ini sebenarnya 
tidak terdaftar.
Di Indonesia, penawaran saham dilakukan secara resmi melalui Bursa Efek. 
Nah, jika anda tertarik untuk berinvestasi saham, maka carilah saham di 
Bursa Efek resmi yang ada di Indonesia. Periksa situs OJK untuk melihat 
apa saja bursa resmi yang ada di Indonesia. 
b. Periksa Kecocokannya
Sekalipun produk keuangan ini  terdaftar di OJK atau situs resmi 
pemerintah lainnya, bukan berarti anda harus menerima semua tawaran 
investasi yang datang. Sebaiknya, periksa apakah jenis inverstasi ini  
cocok untuk anda. Tidak semua investasi cocok untuk anda, bukan? 
Pasalnya, minat, perhatian, dan pemahaman setiap orang bisa berbeda-
beda. Kecocokan dalam hal ini bisa dilihat dari beberapa hal, seperti:
1) Anda memiliki setidaknya pengetahuan dasar tentang produk/jasa 
keuangan ini ;
2) Anda mengetahui resikonya dan yakin bisa mengatasi tingkat resiko 
yang mungkin terjadi;
3) Merupakan jenis investasi yang anda sukai;
4) Anda  memiliki pengalaman dengan jenis investasi yang sama;
5) Anda bisa menyediakan dana investasi tanpa harus mempertaruhkan 
tabungan masa depan atau tabungan pendidikan anak;
6) Anda tidak bergantung kepada keuntungan yang dijanjikan/mungkin 
didapat dari investasi ini . 
c. Periksa Perusahaannya
Nah, cobalah menjawab pertanyaan berikut untuk mencegah terjadinya 
penipuan berkedok investasi:
1) Apakah perusahaan yang menawarkan investasi ini   terdaftar atau 
berlinsensi? 
Pastikan anda mengetahui status keberadaan perusahaan investasi 
sebelum mengambil keputusan. Anda bisa mengunjungi situs OJK 
untuk melihat daftar perusahaan yang ada di Indonesia. Jika perusahaan 
ini  tidak ada di daftar, hati-hatilah. 
2) Lalu, bagaimana jika mereka mengaku memiliki lisensi? 
Maka langkah yang harus anda lakukan adalah mencocokkan tanda 
daftar perusahaan ini  melalui situs OJK. Selain itu, anda bisa 
mencocokkan jenis lisensi dengan produk/jasa keuangan yang 
ditawarkan. Misalnya, sebuah perusahaan yang berlisensi untuk 
menjual produk asuransi hanya bisa menjual produk keuangan  yang 
berkaitan dengan investasi. Perusahaan asuransi tidak akan bisa 
menawarkan saham. 
3) Bagaimana jika perusahaan ini  terdaftar secara resmi?
Sekalipun perusahaan investasi ini  terdaftar dan beroperasi secara 
resmi, jangan langsung menerima penawarannya. Selalu lakukan 
pemeriksaan untuk melihat track record perusahaan ini . Bisa saja 
perusahaan itu sebenarnya sudah nyaris bankrut dan sedang mencari 
modal tambahan. Kunjungi situsnya dan lihat bagaimana komentar 
pengunjung terhadap pelayanan perusahaan ini .
d. Edukasi Literasi Finansial Sejak Usia Dini
Dalam sebuah pidato yang disampaikan Raphael Bostic, President 
sekaligus CEO Federal Reseve Bank of Atlanta, dalam rangka peringatan 
Hari Literasi Finansial Tahunan yang Kedua pada Tanggal 5 April 018 di 
Sarasota, Florida, Bostic menyatakan bahwa salah satu cara paling efektif 
untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan adalah dengan 
menerapkan edukasi literasi fi nansial sejak dini. 
Menurut Bostic, pembelajaran tentang keuangan harus dimulai dari rumah. 
Misalnya, orang tua bisa mengajarkan anaknya bagaimana mengelola 
keuangan sendiri dan mengenali gejala-gejala penipuan. Sebuah penelitian 
yang dilakukan di  University of Cambridge menemukan bahwa sebagian 
besar kebiasaan seseorang dalam mengelola keuangannya terbentuk sejak 
usia + 7 tahun. Artinya, ketika seorang anak memasuki Sekolah Dasar, 
sudah saatnya ia diperkenalkan dengan dunia keuangan.
Di tingkat dasar, pendidikan literasi fi nansial dapat dimulai dari hal-hal 
rutin seperti proses terjadinya transaksi dagang, menghitung uang kembali, 
membuka rekening bank, cara menabung, merencanakan anggaran, atau 
simpan-pinjam. Pada akhirnya, proses edukasi ini akan sampai kepada 
hal-hal teknis seperti menghitung bunga, menghitung rate of return, 
menghitung resiko, dan mengenali produk/jasa keuangan palsu. 
e. Sosialisasi Secara Luas
Dalam pidato yang sama, Bostic juga menawarkan solusi untuk 
meminimalisir resiko terjadinya penipuan investasi. Di antaranya:
1) Mendorong perusahaan investasi resmi untuk menyebarluaskan 
informasi tentang produk/jasa keuangan yang ditawarkan. Informasi 
ini  bisa berupa video propaganda, iklan, e-book gratis, dan 
sebagainya. Dengan demikian, investor merasa yakin bahwa mereka 
menanamkan modal di prusahaan yang tepat.
2) Mendorong dunia usaha untuk menyediakan akses bagi karyawannya 
terhadap layanan keuangan resmi. Saat ini, banyak perusahaan yang 
tidak menyadari stress yang dialami karyawannya karena masalah 
fi nansial. Nah, jika perusahaan tidak bisa menyediakan solusi berupa 
kredit atau pembiayaan, setidaknya mereka bisa menyediakan 
informasi/akses ke perusahaan pembiayaan resmi. 
f. Mendorong Partisipasi Masyarakat
Kieff er dan Mottola (2015) menyarankan bahwa salah satu solusi mencegah 
penipuan investasi adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah 
maupun lembaga sosial masyarakat harus berpartisipasi dalam mendorong 
masyarakat menjauhi praktek fi nansial yang tidak jelas. Jika masyarakat 
tidak terpapar dengan aktivitas keuangan semacam ini, resiko jatuhnya 
korban atas tindakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat 
diminimalisasi.  Beberapa hal yang membuat seseorang rentan menjadi 
korban penipuan investasi adalah terlalu terbuka menerima informasi dan 
pengaruh lingkungan, seperti teman, sahabat, tetangga, atau saudara yang 
ikut dalam investasi yang tidak jelas. 

Literasi fi nansial adalah solusi mencerdaskan masyarakat dalam mengelola 
keuangannya, baik secara pribadi, organisasi, maupun lembaga. Masyarakat yang 
Well Literate akan mampu mengambil keputusan dengan cermat dan bertanggung 
jawab. Literasi fi nansial membantu meminimalisir resiko terjadinya penipuan 
investasi dan meminimalisir jatuhnya korban. Dampak dari penipuan investasi 
tidak hanya bersifat fi nansial. Dengan edukasi secara dini kepada masyarakat, 
dampak yang lebih besar, seperti stres, tekanan mental, dan bahkan penyakit 
yang diderita korban penipuan, bisa diminimalisir.   
Pada dasarnya, penipuan investasi dapat dicegah dengan edukasi dan kehati-
hatian. Masyarakat perlu mendapat informasi yang komprehensif tentang 
bagaimana mengenali gejala yang mencurigakan dari tawaran investasi yang 
datang dan bagaimana menghindarinya. Tentunya, hal ini tidak hanya menjadi 
tanggung jawab pemerintah. Diperlukan peran dan kerjasama semua pihak, 
sehingga masyarakat akan lebih bertanggung jawab terhadap setiap tindakannya 
di bidang keuangan.

Peran Orangtua sebagai pertama dan utama dalam memberikan pengetahuan sejak dini 
mengenai literasi keuangan menjadi sangatlah penting. Begitu pun pendidikan anak usia 
dini sebagai lembaga pendidikan anak yang orangtua berada didalamnya sebagai salah 
satu komponen keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu diperlukan sebuah komitmen 
antara sekolah dan orangtua dalam menanamkan berbagai nilai literasi keuangan 
didalam kehidupan anak-anak baik dilembaga ataupun di lingkungan rumah. Penulisan 
ini merupakan sebuah kajian literatur tentang literasi keuangan sebagai salah satu upaya 
dalam mempersiapkan berbagai program-program literasi keuangan khususnya bagi 
orangtua di lingkungan pendidikan anak usia dini.
Kata kunci:  Pendidikan Literasi Keuangan, Pendidikan Anak Usia Dini, Orangtua

Masyarakat khususnya orangtua, tentu memiliki berbagai permasalahan didalam 
kehidupannya terutama mengenai kesejahteraan dalam mengelola keuangan. 
Apalagi sebagian orangtua mulai terjebak dalam kondisi yang tidak seimbang 
antara pemasukan serta kebetuhan pengeluaran yang kian hari semakin 
meningkat, sehingga memahami tentang literasi keuangan bisa menjadi salah satu 
solusi bagi orangtua karena kemampuan ini  tidak terlepas dari kehidupan 
kita, hal ini  sejalan dengan Orton (2007) yang menyatakan bahwa literasi 
keuangan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seseorang karena literasi 
keuangan digunakan oleh individu ini  untuk melakukan pengambilan 
keputusan keuangan pribadi.

Related Posts:

  • invest bodong Literasi fi nansial adalah pengetahuan, kemampuan, keahlian, dan keyakinan diri masyarakat dalam … Read More