Home »
invest bodong
» invest bodong
invest bodong
Literasi fi nansial adalah pengetahuan, kemampuan, keahlian, dan keyakinan diri
masyarakat dalam mengelola keuangannya dengan cara yang benar dan bertanggung
jawab. Literasi fi nansial menjadi solusi dalam menyaring berbagai efek negatif dari
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Banyak produk/jasa keuangan
yang muncul dengan modus yang berbeda-beda. Akibatnya, semakin sulit menentukan
mana investasi yang sah dan mana investasi bodong. Literasi fi nansial menjadi penting
karena sangat sedikit masyarakat Indonesia yang benar-benar mengetahui produk/
jasa keuangan yang ada, fi tur-fi turnya, lembaga pengelola, serta resikonya. Kajian ini
merupakan penelitian studi kepustakaan yakni dengan pengambilan data melalui data
sekunder yang ada dan studi pustaka yang terkait dengan topik penelitian. Hasil kajian
menunjukkan bahwa Literasi fi nansial adalah ‘senjata’ ampuh untuk meminimalisir
korban investasi bodong yang semakin marak di masyarakat. Dengan literasi fi nansial,
masyarakat mampu mengenali tanda bahaya dari tawaran investasi yang datang, mampu
merencanakan keuangannya secara benar, dan mampu memanfaatkan pengetahuan dan
kemampuannya dalam mengambil keputusan secara fi nansial. Pada akhirnyam literasi
fi nansial diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, karena mereka bisa
mengakses sumber-sumber daya ekonomi dan menggunakannya dengan cara yang benar.
Literasi fi nansial dapat ditingkatkan dengan edukasi terhadap masyarakat untuk lebih hati-
hati mengenali produk/jasa keuangan, mengenali investasi yang cocok, mengenali lembaga
investasi yang sah, edukasi literasi fi nansial sejak usia dini, sosialisasi secara luas kepada
masyarakat dengan media yang tepat, serta mendorong partisipasi masyarakat. Literasi
fi nansial sangat diperlukan sebagai modal bagi masyarakat untuk bisa meningkatkan taraf
hidupnya, karena dengan pengetahuan, keahlian, dan kepercayaan diri masyarakat bisa
memanfaatkan sumber daya ekonomi yang ada dengan benar untuk kesejahteraannya.
Mendengar istilah literasi, mungkin yang terlintas di benak kita adalah
kemampuan membaca dan menulis. Lalu, bagaimana dengan Literasi
Finansial? pada dasarnya, literasi fi nansial juga berkaitan dengan kemampuan
dan pengetahuan seseorang, bukan untuk membaca atau menulis, melainkan
untuk mengelola keuangannya sendiri. Istilah literasi fi nansial memang baru
diperkenalkan di era digital; namun, substansinya sendiri sudah dijalankan
masyarakat sejak zaman dahulu.
Literasi fi nansial menjadi salah satu subjek yang populer dalam beberapa tahun
terakhir, bukan hanya di sektor keuangan namun juga di sektor pendidikan.
Di berbagai negara, literasi fi nansial telah menjadi bagian dari kurikulum
pembelajaran resmi di lembaga pendidikan. Pasalnya, kemampuan manajemen
keuangan, pengetahuan, keahlian, dan kepercayaan diri di bidang keuangan
semestinya sudah dipupuk sejak usia dini.
Di zaman yang serba canggih dengan teknologi internet yang dapat dijangkau
hanya dengan ujung jari, produk/jasa fi nansial yang muncul semakin bervariasi.
Akibatnya, semakin sulit bagi masyarakat untuk membedakan layanan keuangan
yang resmi maupun tidak. Modus operasi para pelaku penipuan investasi, alias
investasi bodong, semakin canggih dan sulit terdeteksi. Oleh sebab itu, literasi
fi nansial sejak usia dini menjadi salah satu solusi untuk meminimalisir resiko
jatuhnya korban.
B. Kajian Teori
1. Pengertian Literasi Finansial
Literasi fi nansial telah menjadi topik pembahasan dalam berbagai diskusi
keuangan maupun penelitian. Lusardi dan Mitchell (2014) mendefi nisikan
literasi fi nansial sebagai “peoples’ ability to process economic information and
make informed decisions about fi nancial planning, wealth accumulation, debt,
and pensions.” Penulis mengartikan literasi fi nansial sebagai kemampuan
seseorang untuk mengolah informasi keuangan yang diterima dan mengambil
keputusan tentang perencanaan keuangan, akumulasi kekayaan, pensiun,
maupun hutang dengan pertimbangan yang berdasarkan pengetahuan dan
pemahaman.
Sejalan dengan itu, Dr. Laura Elizabeth Pinto dari University of Ontario
Institute of Technology mendefi nisikan literasi fi nansial sebagai komponen
keuangan yang berpusat pada kemampuan seseorang untuk mendapatkan,
memahami, dan mengevaluasi informasi yang dibutuhkan untuk mengambil
keputusan fi nansial, serta pengetahuan tentang kemungkinan resikonya
(Pinto, 2017). Dalam disertasinya, Anis Dwiastanti (2015) mengutip
beberapa defi nisi literasi fi nansial dari beberapa ahli, di antaranya:
a. Menurut Lusardi dan Micthell (dalam Dwiastansi, 2015), literasi
fi nansial selalu dikaitkan dengan pengetahuan dan kemampuan untuk
memanfaatkannya.
b. Hung (dalam Dwiastansi, 2015) mendefi nisikan literasi fi nansial sebagai
kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan keahlian untuk
mengelola sumber daya fi nansial yang dimiliki secara efektif untuk
menciptakan kesejahteraan.
Dari beberapa defi nisi di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi fi nansial
didefi nisikan sebagai ‘kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah,
dan menilai informasi keuangan yang diterima dan memanfaatkannya
untuk mengambil keputusan’. Kemampuan untuk menerima dan mengolah
informasi keuangan tercermin dari empat aspek, yakni:
a. Edukasi
Literasi fi nansial diperoleh melalui serangkaian pembelajaran (edukasi),
baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Pembelajaran secara sengaja
maksudnya adalah seseorang berusaha mendapatkan kemampuan
pengelolaan fi nansial melalui pendidikan, pelatihan, membaca, atau
berdiskusi dengan ahlinya. Proses pembelajaran secara tidak sengaja
misalnya adalah pelajaran yang didapat seseorang dari pengalaman.
b. Pengetahuan
Dengan literasi keuangan, masyarakat mengetahui jenis produk dan
layanan keuangan yang ada, fi tur-fi turnya, manfaat maupun resikonya,
mengenal lembaga jasa keuangan yang ada, serta hak dan kewajiban
pengguna jasa keuangan sebagai konsumen.
c. Keterampilan
Keterampilan diperoleh dari pengetahuan. Dengan kata lain, keterampilan
bidang pengelolaan keuangan bersifat lebih teknis, seperti cara menghitung
bunga, cara menilai laba-rugi, cara menghitung denda, menghitung pajak,
fee, maupun biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang konsumen sebagai
akibat dari sebuah transaksi keuangan.
d. Kepercayaan Diri
Pengetahuan dan keterampilan akan bermuara kepada kepercayaan
diri seseorang dalam menggunakan produk maupun jasa keuangan.
Kepercayaan diri maksudnya adalah seseorang bisa percaya bahwa uang
yang disimpan atau dikelola sebuah lembaga keuangan tidak akan hilang
begitu saja.
2. Mengapa Literasi Finansial Penting
Pertanyaan berikutnya adalah “Mengapa literasi fi nansial penting bagi
masyarakat?” Literasi fi nansial akan memberikan manfaat bagi masyarakat
maupun perekonomian secara umum. Pasalnya, belum semua masyarakat
mengetahui hak dan kewajibannya dalam menggunakan produk dan/atau
layanan keuangan. Hal ini dibuktikan dari sebuah survei yang dilakukan oleh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013, bahwa:
a. 21,84% masyarakat Indonesia yang masuk kategori Well Literate. Artinya,
sangat sedikit masyarakat yang memiliki pengetahuan yang baik tentang
produk/jasa keuangan, fi tur-fi turnya, kelebihan dan resikonya, serta
keyakinan dalam menggunakan produk dan/atau jasa keuangan yang ada.
b. 75,69% masyarakat Indonesia masuk kategori Suffi cient Literate. Artinya,
sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan dan keyakinan
yang cukup tentang lembaga keuangan serta produk dan/jasa keuangan
yang ada.
c. 2,06% masyarakat Indonesia masuk kategori Less Literate, yakni memiliki
sedikit pengetahuan tentang lembaga keuangan serta produk dan/jasa
keuangan yang ada.
d. 0,41% masyarakat Indonesia masuk kategori Not Literate, yakni tidak
memiliki pengetahuan tentang lembaga keuangan serta produk dan/jasa
keuangan yang ada.
Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa sebagian besar masyarakat memiliki
pengetahuan tentang lembaga keuangan serta produk-produknya di Indonesia.
Namun, hanya sedikit yang memiliki keterampilan dan kepercayaan dalam
menggunakannya. Oleh sebab itu, gerakan Literasi Finansial masih
diperlukan agar masyarakat memperoleh manfaat yang optimum dari layanan
fi nansial yang ada di Indonesia. Pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan
dalam menggunakan layanan fi nansial akan memberikan sejumlah manfaat
bagi masyarakat, antara lain:
a. Dapat memilih produk dan/atau jasa keuangan serta lembaga keuangan
yang ada sesuai kebutuhan;
b. Mampu merencanakan keuangannya sendiri secara lebih baik, sehingga
tidak berbelanja melebihi kemampuannya;
c. Dapat menghindari aktivitas investasi yang beresiko tinggi atau setidaknya
mampu meminimalisir resiko dari sebuah keputusan.
d. Dapat menghindari kecurangan, seperti investasi bodong, yang dilakukan
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
C. Metode Kajian
Penulisan dalam kajian ini menggunakan metode kepustakaan selanjutnya
dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pentingnya literasi
keuangan dalam mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan investasi
seperti investasi bodong. Data yang disajikan diperoleh melalui studi pustaka
dari jurnal internasional maupun berita resmi dari lembaga pemerintahan.
D. Hasil dan Pembahasan
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang lembaga keuangan
dan produk-produknya menyebabkan banyaknya masyarakat yang menjadi
korban penipuan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab. Banyak masyarakat
yang tergiur dengan iming-iming laba berlipat ganda dalam waktu yang singkat
dan tanpa berbuat apa-apa. Investasi bodong sebenarnya bukanlah sebuah istilah
baku yang memiliki defi nisi tetap. Istilah ini muncul di tengah masyarakat karena
praktek yang terjadi di lapangan. Begitu seseorang menanamkan modalnya,
bukannya keuntungan yang didapat. Malahan, dana ini hilang lenyap
bersama pelaku.
1. Literasi Finansial vs Penipuan Investasi
Mungkin, sebuah pertanyaan muncul di benak kita, “Benarkah korban
penipuan investasi adalah orang yang benar-benar Not Literate secara fi nansial?
Sebagian besar orang berpendapat bahwa ketidaktahuan tentang produk/jasa
keuangan serta lembaga keuangan yang ada menyebabkan seseorang rentan
menjadi korban penipuan investasi atau investasi bodong. Namun, dalam
sebuah tulisan berjudul “Understanding and Combating Investment Fraud”
yang disajikan pada acara Pension Research Council Symposium pada tanggal
5-6 Mei 2016, Christine N. Kieff er dan Gary R. Mottola menyajikan suatu
fakta yang cukup mencengangkan.
Kieff er dan Mottola (2016) mengutip hasil penelitian Consumer Fraud
Research Group Tahun 2006 oleh AARP yang dilaksanakan Tahun 2007
bahwa bahwa semakin tinggi literasi fi nansial masyarakat, semakin tinggi
peluang mereka menjadi korban penipuan investasi.
Setidaknya, ada 2 penjelasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, literasi
fi nansial membuat sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab mampu
mengidentifi kasi masalah fi nansial dan kebutuhan masyarakat. Mereka bisa
merancang dan menawarkan produk/jasa keuangan yang dijanjikan untuk
mengatasi masalah para ‘korban.’ Semakin tinggi literasi masyarakat, semakin
banyak jenis investasi yang bisa ditawarkan. Akibatnya, jumlah korban pun
semakin banyak pula.
Kedua, masyarakat dengan kategori Suffi cient Literate berpeluang lebih tinggi
menjadi korban penipuan investasi. Pasalnya, kelompok masyarakat ini
cenderung ‘terlalu percaya’ dengan produk/jasa keuangan yang ditawarkan.
Rasa percaya diri yang berlebihan membuat mereka mengabaikan kebenaran
dengan menutup mata terhadap tanda-tanda bahaya yang sebenarnya sudah
terlihat dari awal.
Dengan kata lain, literasi fi nansial yang dibutuhkan untuk meminimalisir
resiko seseorang menjadi korban penipuan investasi adalah kategori Well
Literate. Sayangnya, persentase penduduk dengan kategori ini masih sangat
rendah di Indonesia. Apa yang dikhawatirkan Kieff er dan Mottola sepertinya
juga terjadi di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam laman
resminya, mencantumkan daftar 233 perusahaan investasi ilegal sejak tanggal
18 Agustus 2016 hingga 27 Agustus 2018. Untuk tahun 2018 saja, ada
113 perusahaan investasi ilegal yang tercatat. Artinya, ada kecenderungan
pertambahan pelaku investasi ilegal setiap tahunnya.
2. Mengenali Gejala Penipuan Investasi
Sebenarnya, kunci utama untuk mencegah anda menjadi korban penipuan
investasi adalah kehati-hatian. Investasi bodong dirancang untuk menarik
perhatian korban dan terlihat seperti investasi yang benar-benar sedang
mereka cari. Sebenarnya, ada beberapa ‘tanda bahaya’ yang perlu diperhatikan
ketika anda mendapat tawaran investasi dari seseorang atau suatu lembaga.
Dalam sebuah publikasi berjudul “Avoiding Investment Fraud: Signs of a
Scam” pada Tahun 2011, AARP menyebutkan beberapa sinyal penipuan
investasi, antara lain:
a. Dijamin menguntungkan
Jika anda ditawari investasi dengan jaminan keuntungan yang besar, ini bisa
jadi hanyalah trik untuk merayu anda agar tertarik untuk menanamkan
modal. Tawaran yang ‘terlalu manis’ seperti investasi tanpa resiko adalah
suatu hal yang harus diwaspadai. Secara logika, tidak ada investasi yang
tanpa resiko sama sekali. Normalnya, semakin tinggi peluang keuntungan
sebuah investasi, maka semakin tinggi pula resikonya. Artinya, tawaran
investasi “pasti untung, “bebas resiko” “untung besar” hanyalah trik rayuan
untuk menjaring banyak korban.
b. Tanpa administrasi
Tawaran investasi bebas administrasi adalah cara lain untuk menarik
perhatian korban. Mesti diakui bahwa penanaman modal adalah suatu
proses yang melibatkan administrasi yang terkadang cukup rumit. Nah,
bagaimana jika anda ditawari dengan investasi tanpa administrasi yang
rumit? “Tanamkan modal anda dulu, nanti saya yang akan mengurusi
administrasinya.” Janji seperti ini adalah tanda bahaya yang mesti
diantisipasi.
c. Penawaran hanya tersedia hari ini
Jika anda ditawari peluang investasi menguntungkan yang “hanya tersedia
hari ini?” Sebaiknya tolak saja. Sebaiknya, lakukan pemeriksaan terhadap
lembaga yang menawarkan peluang investasi ini . Logikanya, tidak
ada peluang penanaman modal yang hanya tersedia satu hari.
d. Investasi Rahasia Yang Hanya Tersedia untuk Anda
Satu lagi cara para pelaku investasi bodong untuk menarik perhatian
korban adalah menawarkan ‘investasi eksklusif ” yang hanya ditawarkan
untuk anda. Peluang seperti ini kerap ditawarkan melalui sambungan
telepon atau telemarketing. Biasanya, penelpon menghubungkan tawaran
eksklusif ini dengan eksistensi anda di sebuah lembaga keuangan,
misalnya, nasabah terlama, atau nasabah dengan volume transaksi terbesar,
dan semacamnya. Sekilas, anda mungkin akan merasa bangga karena
diberi kehormatan untuk berinvestasi secara eksklusif. Namun, benarkah
ada investasi semacam ini? Jawabannya adalah tidak ada.
e. Lakukan pembayaran “hanya” melalui saya
Penawaran semacam ini juga kerap datang melalui telemarketing,
meski tidak tertutup kemungkinan kalau telemarketer langsung juga
menyampaikan hal yang sama. Misalnya, “Saya adalah satu-satunya agen
pemasaran di wilayah ini.” Agen investasi ini berusaha meyakinkan anda
untuk melakukan pembayaran melalui dirinya, karena tidak ada orang
lain lagi. Logikanya, investasi dikelola oleh sebuah lembaga resmi, yang
pastinya tidak hanya dimiliki oleh satu orang. Jadi, anda harus waspada
terhadap tawaran yang bersifat ‘memaksa’ seperti ini.
3. Cara Menghindari Penipuan Investasi
Literasi fi nansial adalah solusi untuk meminimalisir terjadinya penipuan
investasi. Seberapa menarikpun peluang investasi yang ditawarkan kepada
anda, jangan langsung menjawab “Ya” sekalipun tawaran itu datang dari
seorang profesional, ipar, mertua, teman, atau seseorang yang baru anda kenal
di bis. Tetap lakukan pemeriksaan sebelum mengambil keputusan. Berikut
adalah beberapa aspek yang wajinb anda periksa menurut versi AARP (2011):
a. Periksa produknya
Sebagian besar investasi bodong datang dalam bentuk tawaran saham yang
semestinya dikelola oleh pialang saham terdaftar. Sejumlah perusahaan
nakal bisa saja menawarkan saham dengan harga perlembar yang cukup
menarik dan janji keuntungan yang menggiurkan. Namun, perlu
diketahui bahwa tidak ada saham yang ditawarkan langsung atau door-to-
door. Sekalipun yang menawarkan adalah Saudara anda, jangan langsung
menerimanya. Besar kemungkinan kalau saham seperti ini sebenarnya
tidak terdaftar.
Di Indonesia, penawaran saham dilakukan secara resmi melalui Bursa Efek.
Nah, jika anda tertarik untuk berinvestasi saham, maka carilah saham di
Bursa Efek resmi yang ada di Indonesia. Periksa situs OJK untuk melihat
apa saja bursa resmi yang ada di Indonesia.
b. Periksa Kecocokannya
Sekalipun produk keuangan ini terdaftar di OJK atau situs resmi
pemerintah lainnya, bukan berarti anda harus menerima semua tawaran
investasi yang datang. Sebaiknya, periksa apakah jenis inverstasi ini
cocok untuk anda. Tidak semua investasi cocok untuk anda, bukan?
Pasalnya, minat, perhatian, dan pemahaman setiap orang bisa berbeda-
beda. Kecocokan dalam hal ini bisa dilihat dari beberapa hal, seperti:
1) Anda memiliki setidaknya pengetahuan dasar tentang produk/jasa
keuangan ini ;
2) Anda mengetahui resikonya dan yakin bisa mengatasi tingkat resiko
yang mungkin terjadi;
3) Merupakan jenis investasi yang anda sukai;
4) Anda memiliki pengalaman dengan jenis investasi yang sama;
5) Anda bisa menyediakan dana investasi tanpa harus mempertaruhkan
tabungan masa depan atau tabungan pendidikan anak;
6) Anda tidak bergantung kepada keuntungan yang dijanjikan/mungkin
didapat dari investasi ini .
c. Periksa Perusahaannya
Nah, cobalah menjawab pertanyaan berikut untuk mencegah terjadinya
penipuan berkedok investasi:
1) Apakah perusahaan yang menawarkan investasi ini terdaftar atau
berlinsensi?
Pastikan anda mengetahui status keberadaan perusahaan investasi
sebelum mengambil keputusan. Anda bisa mengunjungi situs OJK
untuk melihat daftar perusahaan yang ada di Indonesia. Jika perusahaan
ini tidak ada di daftar, hati-hatilah.
2) Lalu, bagaimana jika mereka mengaku memiliki lisensi?
Maka langkah yang harus anda lakukan adalah mencocokkan tanda
daftar perusahaan ini melalui situs OJK. Selain itu, anda bisa
mencocokkan jenis lisensi dengan produk/jasa keuangan yang
ditawarkan. Misalnya, sebuah perusahaan yang berlisensi untuk
menjual produk asuransi hanya bisa menjual produk keuangan yang
berkaitan dengan investasi. Perusahaan asuransi tidak akan bisa
menawarkan saham.
3) Bagaimana jika perusahaan ini terdaftar secara resmi?
Sekalipun perusahaan investasi ini terdaftar dan beroperasi secara
resmi, jangan langsung menerima penawarannya. Selalu lakukan
pemeriksaan untuk melihat track record perusahaan ini . Bisa saja
perusahaan itu sebenarnya sudah nyaris bankrut dan sedang mencari
modal tambahan. Kunjungi situsnya dan lihat bagaimana komentar
pengunjung terhadap pelayanan perusahaan ini .
d. Edukasi Literasi Finansial Sejak Usia Dini
Dalam sebuah pidato yang disampaikan Raphael Bostic, President
sekaligus CEO Federal Reseve Bank of Atlanta, dalam rangka peringatan
Hari Literasi Finansial Tahunan yang Kedua pada Tanggal 5 April 018 di
Sarasota, Florida, Bostic menyatakan bahwa salah satu cara paling efektif
untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan adalah dengan
menerapkan edukasi literasi fi nansial sejak dini.
Menurut Bostic, pembelajaran tentang keuangan harus dimulai dari rumah.
Misalnya, orang tua bisa mengajarkan anaknya bagaimana mengelola
keuangan sendiri dan mengenali gejala-gejala penipuan. Sebuah penelitian
yang dilakukan di University of Cambridge menemukan bahwa sebagian
besar kebiasaan seseorang dalam mengelola keuangannya terbentuk sejak
usia + 7 tahun. Artinya, ketika seorang anak memasuki Sekolah Dasar,
sudah saatnya ia diperkenalkan dengan dunia keuangan.
Di tingkat dasar, pendidikan literasi fi nansial dapat dimulai dari hal-hal
rutin seperti proses terjadinya transaksi dagang, menghitung uang kembali,
membuka rekening bank, cara menabung, merencanakan anggaran, atau
simpan-pinjam. Pada akhirnya, proses edukasi ini akan sampai kepada
hal-hal teknis seperti menghitung bunga, menghitung rate of return,
menghitung resiko, dan mengenali produk/jasa keuangan palsu.
e. Sosialisasi Secara Luas
Dalam pidato yang sama, Bostic juga menawarkan solusi untuk
meminimalisir resiko terjadinya penipuan investasi. Di antaranya:
1) Mendorong perusahaan investasi resmi untuk menyebarluaskan
informasi tentang produk/jasa keuangan yang ditawarkan. Informasi
ini bisa berupa video propaganda, iklan, e-book gratis, dan
sebagainya. Dengan demikian, investor merasa yakin bahwa mereka
menanamkan modal di prusahaan yang tepat.
2) Mendorong dunia usaha untuk menyediakan akses bagi karyawannya
terhadap layanan keuangan resmi. Saat ini, banyak perusahaan yang
tidak menyadari stress yang dialami karyawannya karena masalah
fi nansial. Nah, jika perusahaan tidak bisa menyediakan solusi berupa
kredit atau pembiayaan, setidaknya mereka bisa menyediakan
informasi/akses ke perusahaan pembiayaan resmi.
f. Mendorong Partisipasi Masyarakat
Kieff er dan Mottola (2015) menyarankan bahwa salah satu solusi mencegah
penipuan investasi adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah
maupun lembaga sosial masyarakat harus berpartisipasi dalam mendorong
masyarakat menjauhi praktek fi nansial yang tidak jelas. Jika masyarakat
tidak terpapar dengan aktivitas keuangan semacam ini, resiko jatuhnya
korban atas tindakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat
diminimalisasi. Beberapa hal yang membuat seseorang rentan menjadi
korban penipuan investasi adalah terlalu terbuka menerima informasi dan
pengaruh lingkungan, seperti teman, sahabat, tetangga, atau saudara yang
ikut dalam investasi yang tidak jelas.
Literasi fi nansial adalah solusi mencerdaskan masyarakat dalam mengelola
keuangannya, baik secara pribadi, organisasi, maupun lembaga. Masyarakat yang
Well Literate akan mampu mengambil keputusan dengan cermat dan bertanggung
jawab. Literasi fi nansial membantu meminimalisir resiko terjadinya penipuan
investasi dan meminimalisir jatuhnya korban. Dampak dari penipuan investasi
tidak hanya bersifat fi nansial. Dengan edukasi secara dini kepada masyarakat,
dampak yang lebih besar, seperti stres, tekanan mental, dan bahkan penyakit
yang diderita korban penipuan, bisa diminimalisir.
Pada dasarnya, penipuan investasi dapat dicegah dengan edukasi dan kehati-
hatian. Masyarakat perlu mendapat informasi yang komprehensif tentang
bagaimana mengenali gejala yang mencurigakan dari tawaran investasi yang
datang dan bagaimana menghindarinya. Tentunya, hal ini tidak hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah. Diperlukan peran dan kerjasama semua pihak,
sehingga masyarakat akan lebih bertanggung jawab terhadap setiap tindakannya
di bidang keuangan.
Peran Orangtua sebagai pertama dan utama dalam memberikan pengetahuan sejak dini
mengenai literasi keuangan menjadi sangatlah penting. Begitu pun pendidikan anak usia
dini sebagai lembaga pendidikan anak yang orangtua berada didalamnya sebagai salah
satu komponen keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu diperlukan sebuah komitmen
antara sekolah dan orangtua dalam menanamkan berbagai nilai literasi keuangan
didalam kehidupan anak-anak baik dilembaga ataupun di lingkungan rumah. Penulisan
ini merupakan sebuah kajian literatur tentang literasi keuangan sebagai salah satu upaya
dalam mempersiapkan berbagai program-program literasi keuangan khususnya bagi
orangtua di lingkungan pendidikan anak usia dini.
Kata kunci: Pendidikan Literasi Keuangan, Pendidikan Anak Usia Dini, Orangtua
Masyarakat khususnya orangtua, tentu memiliki berbagai permasalahan didalam
kehidupannya terutama mengenai kesejahteraan dalam mengelola keuangan.
Apalagi sebagian orangtua mulai terjebak dalam kondisi yang tidak seimbang
antara pemasukan serta kebetuhan pengeluaran yang kian hari semakin
meningkat, sehingga memahami tentang literasi keuangan bisa menjadi salah satu
solusi bagi orangtua karena kemampuan ini tidak terlepas dari kehidupan
kita, hal ini sejalan dengan Orton (2007) yang menyatakan bahwa literasi
keuangan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seseorang karena literasi
keuangan digunakan oleh individu ini untuk melakukan pengambilan
keputusan keuangan pribadi.
Related Posts:
invest bodong Literasi fi nansial adalah pengetahuan, kemampuan, keahlian, dan keyakinan diri masyarakat dalam … Read More