wirausaha 2

bekerja tanpa lelah, menjadikan usaha sebagai 
sahabat sejati, dan loyal terhadap usaha yang dijalankan.
6. Devotion
Seorang wirausahawan sangat mencintai pekerjaannya. 
Mereka tidak pernah lelah untuk menjalaninnya karena 
menjalaninya dengan senang hati. Mereka sangat 
mencintai produk atau jasa yang dihasilkan, karena 
dapat dijual dengan efektif.
7. Details
Wirausahawan harus dapat memperhatikan hal￾hal kecil. Mereka tidak akan membiarkan hal sepele 
menyebabkan pasar tidak percaya lagi terhadap
bisnisnya, yang dapat menyebabkan usaha gulung tikar.
8. Destiny
Wirausahawan bertanggung jawab terhadap tujuan 
usahanya, bebas dan tidak bergantung pada orang lain.
9. Dollars
Dollars yang dimaksud disini adalah uang. Dalam 
suatu wirausaha uang dijadikan sebagai pengukur 
kesuksesan bisnis, karena tujuan wirausaha adalah 
keuntungan.
10. Distribute
Wirausahawan memperhatikan setiap karakteristik 
orang-orang di sekitarnya, yang pada akhirnya dapat 
menyalurkan kepemilikkan bisnis kepada orang yang 
dipercaya (orang yang berdedikasi).
Karakteristik setidaknya menjadi penyaring alami 
seorang wirausahawan. Tanpa karakteristik yang khas, 
hanya akan membuat wirausaha sebagai ajang coba-coba. 
Banyak yang ingin menjalankannya, namun karena tidak 
memiliki karakter, akhirnya harus berhenti di tengah jalan. 
Tanpa karakter kuat, wirausaha tidak akan berjalan. 
Apalagi, jika ketakutan, baik takut rugi, takut gagal, atau 
takut yang lainnya, selalu menggelayuti. Hendro (2011) 
mengungkap enam karakteristik wirausaha berdasarkan 
kekuatan emosi, yaitu:
1. Pandai mengelola ketakutannya
Seorang yang smart and good entrepreneur pandai 
mengelola ketakutannya untuk membangkitkan 
keberanian dan kepercayaan diri dalam menghadapi 
risiko. Dengan kata lain, seorang wirausaha haruslah 
berjiwa risk manager, bukan risk taker.
2. Mempunyai ‘iris mata’ yang berbeda dengan yang lain
Iris mata adalah cara seseorang memandang sesuatu 
(masalah, kesulitan, perubahan,diri sendiri, lingkungan,tren, kejadian) untuk memunculkan kreativitas 
agar tercipta ide, gagasan, konsep, lalu mencoba 
meningkatkan nilai (add value). Dengan demikian, 
seseorang yang mempunyai jiwa entrepreneur yang kuat 
memiliki pola pandang yang berbeda dengan orang 
lain.
3. Pemasar sejati atau penjual ulung
Tanpa keterampilan ini, seorang wirausaha akan 
memulai dengan lebih berat dan membutuhkan lebih 
banyak waktu. Keterampilan ini akan mempermudah 
seorang wirausahawan dalam membangun bisnis, 
mempercepat pertumbuhan bisnis, dan mengurangi 
ketergantungan modal yang besar.
4. Melawan arus dan menyukai tantangan baru
Seorang smart and good entrepreneur cenderung tida suka 
mengikuti arus atau terperangkap di dalam kehidupan 
yang monoton. Wirausahawan selalu tidak bisa diam, 
berpikir, dan terus berpikir, karena pada hakikatnya, 
mereka adalah creative and smart worker.
5. High determination (keteguhan hati)
Perbedaan entrepreneur sejati dengan yang biasa saja 
adalah dalam hal durability, firm, dan determination. 
Keteguhan hati ini  membuat wirausahawan sejati 
akan berbeda dalam memandang kegagalan. Kegagalan 
adalah persepsi orang yang merasa buntu dan tidak 
tahu apa yang harus ia lakukan dan tidak ingin mencari 
jalan keluar.
6. Selalu mencari yang terbaik (perfeksionis)
Seorang smart and good entrepreneur mampu memberikan 
apa yang lebih baik lagi bagi pelanggan. Namun, 
yang harus diingat adalah, perfeksionis bagai pisau 
bermata dua. Bila mampu mencapai yang terbaik dan 
memberikannya yang terbaik, tidak menjadi masalah. Akan jadi bumerang bila tidak mampu menanggung 
kesempurnaan diri dan pikiran sehingga berakibat 
fatal, misalnya frustrasi dan putus asa. Adalah tugas 
seorang entrepreneur untuk mengubah hal ini  
menjadi kekuatan.
Imam Sukardi (dalam Suryana dan Bayu, 2010) 
mengidentifikasi sembilan karakteristik wirausahawan 
yang paling sering ditemukan, di antaranya:
1. Sifat instrumental
Seorang wirausahawan dalam berbagai situasi selalu 
memanfaatkan segala sesuatu dalam lingkungannya 
demi tercapainya tujuan pribadi dalam berusaha.
2. Sifat prestatif
Dalam berbagai situasi selalu tampil lebih baik, lebih 
efektif dibandingkan dengan hasil yang tercapai 
sebelumnya.
3. Sifat keluwesan bergaul
Selalu berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dalam 
berbagai situasi hubungan antar manusia, aktif bergaul, 
membina kenalan-kenalannya dan mencari kenalan 
baru, serta berusaha untuk dapat terlibat dengan 
mereka yang ditemui dalam kegiatan sehari-hari.
4. Sifat kerja keras
Selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah 
menyerah sebelum pekerjaan selesai. Mengutamakan 
kerja dan mengisi waktu dengan perbuatan nyata untuk 
mencapai tujuan.
5. Sifat keyakinan diri
Selalu percaya pada kemampuan diri, tidak ragu-ragu 
dalam bertindak, bahkan berkecenderungan untuk 
melibatkan diri secara langsung dalam berbagai situasi 
dengan optimisme untuk berhasil.6. Sifat pengambil risiko
Selalu memperhitungkan keberhasilan dan kegagalan 
dalam setiap kegiatannya khususnya untuk mencapai 
keinginannya. Akan melangkah bila kemungkinan 
untuk gagal tidak terlalu besar.
7. Sifat swa kendali
Dalam menghadapi berbagai situasi selalu mengacu 
pada kekuatan dan kelemahan pribadi dan batas-batas 
kemampuan dalam berusaha. Selalu menyadari dengan 
adanya pengendalian diri ini maka setiap kegiatannya 
menjadi lebih terarah dalam mencapai tujuannya.
8. Sifat inovatif
Selalu mendekati berbagai masalah dengan berusaha 
menggunakan cara-cara baru yang lebih bermanfaat. 
Terbuka terhadap gagasan, pandangan, dan penemuan 
baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan 
kinerjanya. Tidak terpaku pada masa lalu, tapi selalu 
berpandangan ke depan untuk mencari cara-cara baru 
atau memperbaiki cara-cara yang biasa dilakukan 
orang lain untuk peningkatan kinerja. Cenderung 
melakukan sesuatu dengan cara yang khas, unik dari 
hasil pemikirannya. Termasuk dalam sifat inovatif ini 
adalah kecenderungan untuk selalu meniru tetapi 
melalui penyempurnaan tertentu (imitatif inovatif).
9. Sifat kemandirian
Selalu mengembalikan perbuatannya sebagai tanggung 
jawab pribadi. Keberhasilan dan kegagalan merupakan 
konsekuensi pribadi wirausaha. Mementingkan 
otonomi dalam bertindak, pengambilan keputusan dan 
pemilihan berbagai kegiatan dalam mencapat tujuan. 
Lebih senang bekerja sendiri, menentukan dan memilih 
cara kerja yang sesuai dengan dirinya. Ketergantungan 
pada orang lain merupakan suatu yang bertentangan dengan kata hatinya. Seorang wirausahawan dapat saja 
bekerja dalam kelompok selama mendapat kebebasan 
bertindak dan dalam mengambil keputusan.
Karakter-karakter ini  memang wajib dimiliki oleh 
seorang calon wirausahawan. Tanpa karakter, bisnis yang 
digeluti hanya akan berjalan biasa-biasa saja, minim warna 
dan aroma, sulit berkembang, dan besar kemungkinan 
mengalami kemunduran. Padahal, dalam iklim kompetisi 
seperti saat ini, hanya sang pemenanglah yang mampu 
bertahan.
Hendro (2011) menemukan 12 ciri yang biasanya 
dimiliki oleh seorang wirausahawan yang telah sukses, 
antara lain:
1. Mempunyai mimpi-mimpi yang realistis dan tinggi, 
yang mampu diubah menjadi cita-cita yang harus 
ia capai. Hidupnya harus berubah karena kekuatan 
emosionalnya, sehingga mimpi itu bisa terwujud 
(power of dream).
2. Mempunyai empat karakter dasar kekuatan emosional 
yang saling mendukung untuk sukses, determinasi, 
persistent, keberanian, perjuangan, dan resiko 
kepemimpinan.
3. Menyukai tantangan dan tidak pernah puas dengan 
apa yang didapat (High achiever).
4. Mempunyai ambisi dan motivasi yang kuat (motivator).
5. Memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuannya 
bahwa “dia bisa” (power of mind).
6. Seorang yang visioner dan mempunyai daya kreativitas 
yang tinggi.
7. Risiko kepemimpinan, tidak hanya pengambil risiko.
8. Memiliki strong emotional attachment (kekuatan 
emosional).
9. Seorang problem solver.10. Mampu menjual dan memasarkan produknya (seller).
11. Mudah bosan dan terkesan bagi orang lain sulit diatur.
12. Seorang kreator ulung

Selama ini, hal yang paling menghantui para calon 
wirausahwan adalah perasaan gagal. Padahal, dengan 
kegagalan ini , calon wirausahawan sebenarnya 
sedang ditempa, apakah akan terus menggeluti bisnisnya 
atau putar haluan. Mereka yang berani keluar dari rasa 
takut akan kegagalan itulah yang telah menerapkan prinsip 
wirausaha dengan baik.
Di samping itu, seorang wirausahawan juga harus 
berpikir optimis atas peluang dan usaha yang dilakukan. 
Dengan demikian, semangat dan kemauan keras serta 
ketekunan akan menciptakan usaha yang maju dan terus 
berkembang. 
Kasmir (2011) menekankan beberapa prinsip yang 
harus menjadi pegangan wirausahawan, di antaranya:
1. Berani memulai.
2. Berani menanggung risiko.
3. Penuh perhitungan.
4. Memiliki rencana yang jelas.
5. Tidak cepat puas dan putus asa.
6. Optimis dan penuh keyakinan.
7. Memiliki tanggung jawab.
8. Memiliki etika dan moral.
Seperti halnya Kasmir, Saiman (2009) menempatkan 
keberanian untuk gagal sebagai prinsip utama wirausaha. 
Berani di sini artinya tidak berpikir dua kali untuk 
memulai usaha, pantang menyerah, dan tidak takut gagal. 
Selengkapnya prinsip wirausaha menurut Saiman adalah 
sebagai berikut:
1. Jangan takut gagal.
Banyak yang berpendapat bahwa untuk berwirausaha 
dianalogkan dengan impian seseorang untuk dapat 
berenang. Walaupun teori mengenai berbagai gaya 
berenang sudah bertumpuk, sudah dikuasai dengan 
baik dan literaturnya lengkap, tidak ada gunanya kalau 
tidak di ikuti menyebur ke dalam air. Demikian halnya 
untuk berusaha, tidak ada gunanaya berteori kalau 
tidak terjun langsung, sehingga mengalami, jangan 
takut gagal sebab kegagalan adalah kesuksesan yang 
tertunda.
2. Penuh semangat.
Hal yang menjadi penghargaan terbesar bagi pembisnis 
atau perwirausahaan bukanlah tujuannya melainkan 
lebih kepada proses dan perjalanannya. Itulah mengapa 
seorang wirausahawan membutuhkan semangat. 
3. Kreatif dan Inovatif.
Kreativitas dan inovasi adalah modal bagi seorang 
pengusaha. Seorang wirausaha tidak boleh berhenti 
dalam berkreativitas dan berinovasi dalam segala hal.
4. Penuh perhitungan dalam mengambil risiko.
Risiko selalu ada dimanapun kita berada. Seringkali kita 
menghindari risiko yang satu, tetapi menemui bentuk 
risiko lainnya. Namun yang harus diperhitungkan 
adalah perhitungkan dengan baik-baik sebelum 
memutuskan sesuatu, terutama yang tingkat risikonya 
tinggi.
5. Sabar, ulet dan tekun.
Prinsip lain yang tidak kalah penting dalam berusaha 
adalah kesabaran dan ketekunan. Sabar dan tekun 
meskipun harus menghadapi berbagai masalaha, 
percobaan, dan kendala bahkan diremehkan oleh orang 
lain.6. Optimis.
Adalah modal usaha yang cukup penting bagi 
usahawan, sebab kata optimis nerupakan sebuah 
prinsip yang dapat memotivasi kesadaran kita sehingga 
apapun usaha yang kita lakukan harus penuh optimis 
bahwa usaha yang kita laksanakan akan sukses.
7. Ambisius.
Seorang wirausahawan harus berambisi, apapun jenis 
usaha yang akan dijalankannya.
8. Pantang menyerah 
Prinsip pantang menyerah adalah bagian yang harus 
dilakukan kapanpun waktunya.
9. Jeli membaca peluang pasar.
Peka terhadap pasar atau dapat baca peluang pasar 
adalah prinsip mutlak yang harus dilakukan oleh 
wirausahawan, baik pasar ditingkat lokal, regional, 
maupun internasional. Peluang pasar sekecil apapun 
harus diidentifikasi dengan baik, sehingga dapat 
mengambil peluang pasar ini  dengan baik.
10. Berbisnis dengan standar etika.
Setiap pebisnis harus senantiasa memegang secara baik 
tentang standar etika yang berlaku secara universal.
11. Mandiri.
Kemandirian harus menjadi panduan dalam 
berwirausaha. Mandiri dalam banyak hal adalah kunci 
penting agar kita dapat menghindarkan ketergantungan 
dari pihak atau para pemangku kepentingan atas usaha 
kita.
12. Jujur.
Kejujuran adalah mata uang yang akan laku di mana￾mana. Jadi, jujur kepada pemasok dan pelanggan atau 
kepada seluh pemangku kepentingan perusahaan 
adalah prinsip dasar yang harus dinomorsatukan dalam 
berusaha.13. Peduli lingkungan.
Seorang pengusaha harus memiliki kepedulian 
terhadap lingkungan sehingga harus turut serta 
menjaga kelestarian lingkungan tempat usahanya. 
14. Membangun relasi
Mengembangkan jejaring usaha perlu untuk 
meningkatkan pembelajaran dan pengetahuan akan 
kewirausahawan kita. Semakin banyaknya relasi akan 
menciptakan peluang dalam mengembangkan dan 
mencapai usaha yang baik. Usaha yang baik dan maju 
bukan berarti rasa puas dan rasa nyaman yang telah 
kita dapatkan, karena dengan rasa puas dan nyaman 
ini  justru menurunkan semangat usaha.

Ketika Julius Caesar berhasil memperluas kekuasaan 
Roma hingga ke Samudra Atlantik, menguasai Inggris, 
Perancis, sekaligus menjadi penguasa terhebat Romawi, 
semua itu tidak dilakukan dengan tiba-tiba. Caesar selalu 
merencanakannya dengan matang. Setiap detil terencana 
dengan sempurna, tanpa ada yang terlewat. 
Begitu juga dengan wirausaha. Analogi perencanaan 
model Caesar bisa kita gunakan. Jika bisnis yang kita 
jalankan ingin terus berkembang, membutuhkan 
perencanaan yang matang. Dalam wirausaha, perencanaan 
adalah kata kunci. Tanpa perencanaan, wirausaha akan 
berjalan datar, tidak memberi hasil optimal.
Perencanaan awal wirausaha adalah mengenali 
makna wirausaha itu sendiri. Hendro (2011) menyebut 
pada tahap ini, orang mulai mengetahui arti dan manfaat 
kewirausahaan. Di tahap ini, seorang calaon wirausaha 
biasanya mulai1. Bersentuhan dengan kewirausahaan untuk mengetahui 
tujuan, maksud, dan manfaatnya bagi individu, 
lingkungan, dan negara.
2. Berorientasi pada pola pikir orang yang sukses dalam 
bisnis.
3. Belajar lebih dalam tentang kewirausahaan.
4. Menyadari bahwa ada alternatif setelah lulus selain 
mencari kerja, yakni menciptakan lapangan kerja.
5. Mempersiapkan karir hidup.
6. Mengerti bahwa menjadi wirausahawan sukses 
bukanlan milik sekelompok orang saja.
Setelah mengenali makna wirausaha, tahap selanjutnya 
adalah tertarik dengan wirausaha. Hal ini ditandai dengan 
pamahaman bahwa setiap orang punya jiwa kewirausahaan, 
hanya saja belum diberdayakan dan dikembangkan.
Tahapan berikutnya adalah mempersiapkan diri 
dan merencanakan bisnis. Tahap persiapan adalah fase 
yang akan menjadikan calon wirausahawan menemukan 
inspirasi bisnis secara teori, konsep, serta cara menemukan 
peluang. Di tahapan ini, mempersiapkan bisnis mencakup 
empat fase, yaitu:
1. Tahap mengenal diri untuk menemukan asal peluang 
bisnis.
2. Mempelajari peluang bisnis dengan berpikir kreatif.
3. Menganalisis dan memanfaatkan inspirasi bisnis.
4. Mengubah dan memanfaatkan peluang menjadi bisnis.
Kasmir (2011) mengungkapkan, terdapat beragam cara 
dan sebab orang untuk memulai atau merintis usaha. Di 
antaranya:
1. Faktor keluarga pengusaha.
2. Sengaja terjun menjadi wirausaha.
3. Kerja sampingan.
4. Coba-coba.
5. Terpaksa.
Di antara kelima faktor ini , sengaja terjun menjadi 
wirausaha adalah faktor utama yang menghasilkan 
wirausahawan andal. Sebab, mereka belajar dari kesuksesan 
orang lain, mengukuti contoh pengusaha berhasil.
Lebih lanjut menurut Hendro (2011), tahap berikutnya 
adalah merencanakan kerangka bisnis, yakni dengan 
menjalankan:
1. Perencanaan bisnis.
2. Konsep dan aspek manajemen bisnis.
3. Hal-hal yang berisi tentang pengetahuan lain yang akan 
dirangkai oleh kewirausahaan sebagai benang merah 
pengikat ilmu ini .
Setelah persiapan bisnis matang dan menemukan 
peluang emas, segera rencanakan konsep bisnis dengan 
mengikuti tahapan:
1. Menentukan visi dan misi bisnis.
2. Menentukan model bisnis, apakah secara individu, 
rekanan, atau jenis lain.
3. Membuat rencana bisnis (business plan).
4. Mulai mempelajari aspek-aspek pengetahuan penting 
dalam bisnis, yakni keuangan, HRD, produksi, 
persediaan, pemasaran.
5. Memulai dan menentukan kapan bisnis mulai 
dijalankan.
Pada intinya, semakin matang perencanaan bisnis, 
maka semakin besar pula peluang sukses bisnis ini  
pada masa datang. Banyak calon wirausaha yang mengeluh, kalau tidak 
punya modal, mau usaha apa. Keluhan seperti ini wajar￾wajar saja. Apalagi masalah permodalan merupakan 
penghambat terbesar mandeknya program kewirausahaan 
di Indonesia.
Ada dua pengertian umum tentang modal, yakni yang 
terkait kapital (uang), dan tenaga (keahlian). Modal dalam 
bentuk uang diperlukan untuk membiayai segala keperluan 
usaha, mulai dari biaya pra-investasi, pengurusan izin, 
investasi untuk pembelian aktiva tetap, sampai modal kerja 
(Kasmir, 2011). 
Seorang wirausahan harus cerdik dalam mencari dan 
mengatasi masalah permodalan. Menurut Kasmir (2011), 
dari sisi asal (sumber), terdapat dua jenis permodalan, yaitu: 
modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri diperoleh 
dari pemilik perusahaan dengan cara mengeluarkan saham. 
Kerugian menggunakan modal sendiri adalah jumlahnya 
sangat terbatas dan sulit untuk memperolehnya. Berikutnya 
adalah modal asing atau modal pinjaman. Modal jenis 
ini diperoleh dari pihak luar perusahaan dan biasanya 
bersumber pinjaman. Menggunakan modal pinjaman 
untuk bisnis akan menimbulkan beban biaya bunga, biaya 
administrasi, provisi, dan komisi yang besarnya relatif. 
Penggunaan modal pinjaman mewajibkan pengembalian 
setelah jangka waktu tertentu.
Bagi para wirausahawan pemula, modal adalah 
masalah serius. Sebab, jika menggunakan modal sendiri, 
tentu saja belum mencukupi. Kalaupun harus meminjam, 
ada berbagai syarat yang harus dipenuhi, misalnya 
penggunaan agunan (jaminan), dan lainnya. Padahal, 
usaha yang sedang dirintis ini  baru berjalan dan 
belum memberi keuntungan.
Mengatasi masalah permodalan ini, wirausahawan 
harus cerdik. Sumber modal bisa diekplorasi dari mana 
saja. Bahkan, bisa memanfaatkan relasi, kalau memang 
kenal dengan baik dan mau memberi penjaman. 
Meski penting, namun sesungguhnya modal bukanlah 
segala-galanya. Sebab, banyak juga pengusaha yang 
bermodal ‘dengkul’ bisa sukses. Ir. Ciputra adalah salah 
satu pengusaha yang sejak awal karirnya mengaku 
bermodal ‘dengkul’.
Selain itu, modal besar bukanlah jaminan bahwa 
usaha akan sukses. Dengan demikian, modal besar 
bukanlah harga mati. Alifuddin (2012) menyebut bahwa 
banyak wirausaha yang kini menjadi pengusaha besar 
sebelumnya adalah pengusaha kecil dengan modal kecil 
pula. Karena perjuangannya yang tidak mengenal lelah, 
akhirnya mereka meraih kesuksesan. Sebagai pengusaha, 
kita bisa jadikan contoh visi luar biasa Bill Gates, perintis 
perusahaan komputer perangkat lunak terbesar di dunia, 
Microsoft Corporation. Bill Gates adalah sosok pengusaha 
sukses pada akhir abad ke-20 dalam golongan bisnis.
Keberhasilan Bill Gates adalah karena dia memiliki 
visi, motivasi dan komitmen yang jelas untuk merebut 
kesuksesan. Jelasnya, keberhasilan Bill Gates bukan semata￾mata hanya karena mengandalkan materi atau uang, tetapi 
karena komitmen dan visinya yang luar biasa sehingga dia 
dikenal sebagai pengusaha yang sangat sukses.
Fred Smith, pendiri dan CEO Federal Express Corpo￾ration, menyatakan bahwa agar kita bisa menjadi wirausaha 
yang sukses, mestinya kita memiliki kemampuan membaca 
sesuatu yang tidak bisa dibaca orang lain. Ataukah kita 
mampu melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang 
dilakukan orang lain.
Banyak orang yang berani berbisnis dengan 
mengandalkan modal besar, tapi sedikit sekali yang 
bertahan sampai puncak tujuan. Biasanya, banyak 
pengusaha besar yang tiba-tiba jatuh atau bangkrut dan 
sulit bangkit kembali.
Kita sering menemukan seorang wirausaha mendirikan 
sebuah perusahaan dengan modal seadanya, tapi karena 
dikelola dengan semangat yang menggebu-gebu akhirnya 
menjadi perusahaan besar. Celakanya, setelah pendirinya 
meninggal dunia, kemudian dikelola ahli warisnya, 
perlahan-lahan ternyata perusahaan warisan itu jatuh dan 
tak bisa dipertahankan lagi. Penyebabnya, antara lain, 
karena ahli waris penerus perusahaan itu tidak memiliki 
strategi dan pengalaman bisnis. Mengelola bisnis itu seperti 
mengelola seni dan yang mengetahui bagaimana seni 
memimpin perusahaan adalah pendiri atau pemiliknya. 
Oleh karena itu, sangat sedikit orang lain yang dapat 
mengetahui persis taktik dan cara yang dipergunakan oleh 
pendiri perusahaan itu. 
Namun, kita tidak perlu takut karena kita harus 
berusaha keras. Jika kita gagal mempertahankan bisnis 
yang kita kelola, sebaiknya kita tidak perlu putus asa. Asal 
kita mau bangkit, lalu membenahi perusahaan, lambat laun 
akan ada perbaikan. Selain membutuhkan pengalaman 
yang prosesnya cukup panjang, pengalaman juga bisa 
menjadi barang yang sangat berharga untuk dipergunakan 
sebagai bekal merintis usaha baru.
Kita perlu membedakan antara kegagalan dan 
kesuksesan. Boleh jadi, kita bisa kehilangan uang banyak, 
tapi pengalaman adalah bekal yang cukup berharga untuk 
mendidik diri sendiri. Agar kita tidak jatuh bangkrut, 
sebaiknya kita memiliki tabungan pribadi agar kita dapat 
memanfaatkannya sebagai bekal untuk berbisnis lagi.
Kita jangan kehilangan kesempatan memulai kembali 
usaha. Kalau perlu kita mencoba berbagai bisnis dengan 
memulai dari yang kecil-kecil, sampai membuahkan hasil. 
Berapapun jenis bisnis yang kita pilih sebaiknya sesuai 
dengan hobi atau kegemaran kita.
Bisnis yang ditekuni dengan latar hobi tentu akan 
menyenangkan. Kita akan menjalankannya dengan suka 
cita, tekun, penuh dedikasi, sehingga meraih kesuksesan. 
Kunci sukses dalam bisnis adalah kesenangan. Kita 
tidak akan pernah sukses dalam pekerjaan jika kita tidak 
menyukai pekerjaan itu.
Mustahil pemain musik yang sukses adalah orang 
yang benci musik. Sama halnya seorang pembalap 
mobil takut jatuh dan seorang ahli bedah takut darah. 
Mestinya kita memilih bisnis yang tepat dengan diri kita, 
agar bisnis yang kita tekuni bisa bertahan lama. Modal 
awal berbisnis adalah menumbuhkan rasa percaya diri. 
Apabila seseorang menjalankan bisnisnya tetapi tidak 
sesuai dengan kegemarannya, itu berarti menggeluti bisnis 
dengan perasaan kurang percaya diri. Dengan begitu, ia 
bisa saja membenci orang-orang yang harus berhubungan 
dengannya. Akibatnya, semangat hidupnya meredup, 
bahkan hilang.
Jadi, sebagai wirausaha sebaiknya kita memiliki visi 
dan misi yang jauh ke depan. Selain itu, kita sebaiknya 
juga memanfaatkan intuisi, bahkan kalau perlu membuat 
terobosan dan perubahan spektakuler agar kita bisa maju 
dan berkembang. Hanya dengan cara seperti itu, kita akan 
mampu melihat masa depan dengan lebih baik. Karena 
itu, sebagai wirausaha sebaiknya kita selalu optimis bahwa 
masa yang akan datang adalah milik kita. Maka dari itu, 
sekaranglah saatnya kita merebutnya. Bukan sebaliknya, 
kita hanya berpangku tangan
Dunia bisnis, apapun jenis usahanya, perlu keterbukaan. 
Mengapa? Karena kita ingin menciptakan unit bisnis yang 
memberikan peluang kepada setiap orang untuk ikut 
berjuang mencari uang. Pengaruh keterbukaan bukan 
terhadap pelayanan semata, tetapi juga turut menentukan 
jalannya perusahaan, yang kemudian berimplikasi kepada 
pemilik dan semua karyawan. Dengan keterbukaan, semua 
ikut berpikir dan bertindak seperti pemilik, bukan sekedar 
sebagai orang yang digaji. Itulah model usaha yang 
mungkin dapat diterapkan saat ini, ketika perekonomian 
Indonesia tidak mengalami perbaikan yang signifikan dan 
dihadapkan pada persaingan global yang sangat masif.
Dalam manajemen terbuka, secara ekonomi hari 
depan seseorang ditentukan oleh keadaan usaha. Gaji yang 
diperoleh karyawan tergantung pada sehat tidaknya usaha 
yang dijalankan. Jadi sebenarnya jika hanya beberapa orang 
saja yang tahu pasang surut nasib perusahaan, karyawan 
hanya dianggap ”poin” yang kurang beruntung. Meski 
mendapat gaji rutin dan cukup, mereka tidak mempunyai 
hak mengendalikan sendiri nasibnya.
Lain halnya dengan sebuah perusahaan yang 
menerapkan manajemen terbuka, karyawan benar-benar 
menjadi pemain yang ikut menentukan perkembangan 
perusahaan, setidaknya yang terkait dengan tanggung 
jawab mereka. Suatu saat saya mencoba menikmati betapa 
lezatnya sajian masakan Padang di rumah makan Sari 
Bundo di Jakarta. Dengan ramah dan simpatik pelayanan￾nya mengundang pengunjung tidak henti-hentinya 
berdatangan mulai dari mahasiswa, wartawan, pengusaha, 
pejabat, bahkan artis dan para menteri. Meskipun harganya 
relatif mahal — dibandingkan dengan rumah makan Sop 
Saudara atau coto Makasar di Casablanca Jakarta Selatan,
namun rumah makan Padang ini  merupakan rumah 
makan terlaris di Jakarta. Keberhasilannya antara lain 
karena rata-rata karyawan yang dipekerjakan masih relatif 
muda, dan dalam kondisi kemudaan itu mereka proaktif, 
bahkan menggebu-gebu. Selain itu, loyalitas mereka sangat 
tinggi dengan sistem manajemen bagi hasil, kekeluargaan, 
transparan dan terbuka.
Bisnis adalah sesuatu yang menyenangkan. Bisnis 
merupakan permainan yang segar dan menumbuhkan rasa 
percaya. Ada hadiahnya pula. Pemenangnya mendapat 
sejumlah uang, sedang yang kalah bangkrut. 
Karyawan biasanya memikirkan jabatan atau gaji. 
Tapi, dalam manajemen terbuka, yang dipikirkan adalah 
aspek bisnisnya. Sebab, manajemen terbuka mengundang 
semua karyawan atau sebagian besar dari mereka ikut tahu 
tentang pembukuan, kalkulasi keluar masuk atau cash flow 
uang. Itu membuat pekerjaan menjadi terkait satu sama lain, 
sehingga tumbuh semangat saling mengingatkan, bekerja 
sama lebih erat, dan sama sekali tidak saling meninggalkan 
atau menghindari tanggung jawab.
Persaingan manajemen perusahaan yang terbuka 
sebenarnya merupakan usaha untuk memenangi 
persaingan yang semakin tajam di pasar ekonomi. Kita 
semua mengetahui bahwa dunia bisnis bergerak sangat 
cepat, sementara perusahaan yang masih mengandalkan 
manajemen tertutup atau manajemen klasik akan 
mati perlahan-lahan. Apalagi sejak akhir abad ke-20 
memang terjadi persaingan luar biasa. Ada beberapa 
penyebabnya. Pertama, globalisasi, ketika dunia semakin 
sempit. Hubungan antarnegara semakin dekat dan saling 
memengaruhi. Bukan hanya Amerika Serikat dan Eropa 
yang menjadi tantangan ekonomi dan pesaing, tapi juga 
Taiwan, Korea, Thailand, hingga negara-negara Amerika 
Selatan.Kedua, revolusi informasi. Dengan revolusi ini relasi 
antarmanusia di seluruh dunia menjadi makin cepat. Apa 
yang dihasilkan di negara-negara Eropa dan Amerika 
dalam waktu sekejap dapat diketahui di negara-negara 
lain di kawasan Asia. Karena itu, informasi telah menjadi 
industri yang sekaligus mempercepat jalannya informasi 
itu sendiri.
Ketiga, saling memengaruhi. Salah satu akibat dari 
globalisasi dan revolusi informasi adalah adanya spirit 
pengaruh, meniru atau menerjemahkan apa yang sudah 
dihasilkan suatu bangsa/negara. Mengapa demikian? 
Pertama, setelah mendengar dan melihat suatu produk, 
seseorang akan berpikir, mengapa tidak berpikir dan 
berbuat begitu. Hal itu mendorong orang berusaha 
membuat produk serupa, meniru, atau menjiplak produk 
orang lain dengan harga yang relatif lebih murah dan lebih 
baik.
Kedua, akan tumbuh suatu keyakinan bahwa orang 
lain dapat mengerjakan apa yang sudah dikerjakan orang 
lain. Itu mendorong perusahaan lebih keras mencoba 
dengan segala cara. Ada usaha untuk mengerjakan dengan 
cara sendiri yang khas dan lebih canggih.
Bagi yang belum mampu meniru, ada semangat 
bertanya, semangat memperoleh atau mengumpulkan 
lebih banyak informasi. Alhasil, perusahaan akan mampu 
memproduksi sendiri apa saja yang pernah mereka lihat, 
meskipun itu hasil tiruan (imitasi).
Tapi, kita harus menyadari bahwa manajemen terbuka 
bukanlah obat segala permasalahan perusahaan. Manajemen 
terbuka hanya menaikkan jumlah penjualan, baik kualitas 
dan kuantitas. Karena itu, untuk membuat perusahaan 
maju diperlukan pemikiran yang kompleks. Salah satunya 
dengan membuka pembukuan agar lebih banyak yangberpikir, tidak hanya bergantung pada seorang direksi 
atau manajer, dan kadang-kadang membuat karyawan 
merasa memiliki perusahaan. Manajemen terbuka tidak 
dapat berdiri sendiri. Langkah itu harus disertai dengan 
banyak perbaikan dan cara menghadapi saran yang masuk, 
cara memadukan berbagai pendapat, pelaksanaan yang 
tepat, dan kontrol yang baik. Tanpa itu semua, manajemen 
terbuka hanya seperti slogan yang cuma baik diucapkan, 
tapi tak membuahkan hasil. Karena itu, manajemen terbuka 
sifatnya filosofis, bukan metode yang dipergunakan tahap 
demi tahap, langkah demi langkah.
Pada umumnya karyawan memandang manajemen 
sebagai suatu kesempatan. Kesempatan untuk belajar. 
Cobalah cari bekal sebanyak-banyaknya, siapa tahu 
perusahaan Anda beruntung dengan menerapkan 
manajemen terbuka.

Dr. Spencer Johnson, penulis dan pembicara yang me￾miliki reputasi internasional. Karena kepopulerannya, ia 
dikenal dan akrab di kalangan pakar dan praktisi manajemen 
di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Spencer, misalnya, 
terkenal karena bukunya, The One Minute Manager, yang 
ditulis bersama konsultan manajemen legendaris Kenneth 
Blanchard. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa 
Indonesia dengan judul Manajer Satu Menit.
Dalam buku yang lain, Who Moved My CHESS, ia 
menganalisis bagaimana karakter dan tindakan manusia 
tatkala dihadapkan pada perubahan. Menurut Spencer, 
dari waktu ke waktu kehidupan seseorang selalu berubah, 
baik kehidupan profesional maupun personalnya. la 
mengupas empat karakter berbeda yang biasa muncul 
pada diri seseorang. Salah satunya adalah how, tipe belajar beradaptasi secara tepat waktu dan melihat perubahan 
akan membawa pada kondisi yang lebih baik. Pesan 
moral yang ingin disampaikan Spencer adalah, kita harus 
mengantisipasi perubahan, cepat beradaptasi terhadap 
perubahan, menikmati perubahan, dan bersiaplah berubah 
dengan cepat.
Sebagai wirausaha yang baik, mestinya kita selalu 
proaktif. Sikap proaktif sangat diperlukan bagi seorang 
wirausaha, terutama dalam mengantisipasi perubahan yang 
terus bergulir. Istilah proaktif sudah lazim dikenal dalam 
pustaka manajemen. Istilah itu berarti kita bertanggung 
jawab atas kehidupan kita sendiri. Sebab, perilaku kita 
adalah suatu fungsi dari sebuah keputusan. Sebaliknya, 
bukan keadaan pribadi, karena kita dapat menyisihkan 
perasaan menjadi nilai-nilai atas prakarsa serta tanggung 
jawab untuk mewujudkannya. Sebaiknya kita menengok 
kembali kata-kata responsibility-responseability yang berarti 
kemampuan memilih tanggung jawab.
Orang yang sangat proaktif menyadari benar 
adanya tanggung jawab. Ia tidak menyalahkan keadaan 
atau kondisi dan situasi terhadap perilakunya. Sebab, 
perilakunya adalah produk dari kondisinya sendiri yang 
terbangun dari pikiran dan perasaan. Secara alamiah, kita 
bersifat proaktif. 
Dengan proaktif, kita akan menjadi kreatif karena 
sering terpengaruh oleh lingkungan fisik. Misalnya, kalau 
cuaca sedang bersahabat, kita akan merasa nyaman. 
Sebaliknya, kalau cuaca tidak menguntungkan atau buruk, 
akan memengaruhi sikap dan prestasi kita. Orang yang 
proaktif membawa cuaca dalam dirinya sendiri, termasuk 
cuaca hujan atau cerah, tidak akan terpengaruh. Kalau ia 
memproduksi karya bermutu, itu bukan akibat fungsi yang 
ditentukan oleh keadaan cuaca. Jelasnya, orang kreatif dikendalikan perasaan. Karena itu, keadaan dan kondisi 
lingkungan sangat menentukan.
Orang proaktif dikendalikan oleh nilai-nilai yang 
dipilih dengan cermat, diseleksi dari lubuk hati. Orang 
yang proaktif masih dapat dipengaruhi oleh orang lain 
atau orang-orang yang berasal dari luar dirinya. Namun, 
secara sadar atau tidak, tanggapannya pada rangsangan 
ini  merupakan pilihan yang berangkat dari sebuah 
nilai. Karena itu, orang yang proaktif selalu membiasakan 
diri berubah sesuai dengan tantangan hidup. Demikian 
pula sebagai wirausaha yang ingin sukses, sebaiknya 
tidak berhenti atau statis, melainkan terus bergerak seiring 
dengan dinamika perkembangan zaman.

Kewirausahaan merupakan perilaku individu yang 
memiliki semangat, kemampuan untuk memberikan 
tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh 
keuntungan untuk diri sendiri dan/atau pelayanan yang 
lebih baik pada pelanggan/masyarakat; dengan selalu 
berusaha mencari dan melayan langganan lebih banyak dan 
lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk 
yang lebih bermanfaat, melalui keberanian mengambil 
risiko, kreatif, inovatif, dan kemampuan manajemen. 
Kewirausahaan menuntut semangat pantang menyerah, 
berani mengambil risiko untuk memenangkan persaingan 
usaha.
Hal yang menjadi penyaring alami seorang 
wirausahawan adalah karakteristiknya. Tanpa karakteristik 
yang khas, hanya akan membuat wirausaha sebagai ajang 
coba-coba. Banyak yang ingin menjalankannya, naman 
karena tidak memiliki karakter, akhirnya harus berhenti 
di tengah jalan. Tanpa karakter kuat, wirausaha tidak akan
berjalan. Apalagi, jika ketakutan, baik takut rugi, takut 
gagal, dan takut yang lainnya, selalu menggelayuti.
Di samping itu, seorang wirausahawan juga harus 
berpikir optimis atas peluang dan usaha yang dilakukan. 
Dengan demikian, semangat dan kemauan keras serta 
ketekunan akan menciptakan usaha yang maju dan terus 
berkembang. 
Jika bisnis yang kita jalankan ingin terus berkembang, 
membutuhkan perencanaan yang matang. Dalam 
wirausaha, perencanaan adalah kata kunci. Tanpa 
perencanaan, wirausaha akan berjalan datar, tidak memberi 
hasil optimal.
Seorang wirausahan harus cerdik dalam mencari dan 
mengatasi masalah permodalan. Dari sisi asal (sumber), 
terdapat dua jenis permodalan, yaitu modal: sendiri dan 
modal pinjaman. Modal sendiri diperoleh dari pemilik 
perusahaan dengan cara mengeluarkan saham. Kerugian 
menggunakan modal sendiri adalah jumlahnya sangat 
terbatas dan sulit untuk memperolehnya. Sumber modal 
bisa diekplorasi dari mana saja. Bahkan, bisa memanfaatkan 
relasi, kalau memang kenal dengan baik dan mau memberi 
penjaman. 
Meski penting, namun sesungguhnya modal bukanlah 
segala-galanya. Sebab, banyak juga pengusaha yang 
bermodal ‘dengkul’ bisa sukses. Ir. Ciputra adalah salah 
satu pengusaha yang sejak awal karirnya mengaku 
bermodal ‘dengkul’.
Ketika bisnis sudah berjalan, maka sepantasnya 
wirausahawan menerapkan manajemen terbuka. Tujuannya 
adalah agar dapat memberi pembelajaran kepada semua 
pihak, termasuk karyawan. Pada akhirnya, wirausaha juga 
dituntut proaktif, tidak berhenti atau statis, melainkan terus 
bergerak seiring dengan dinamika perkembangan zaman.














Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian 
Indonesia tumbuh rata-rata di atas 6% per tahun. Namun, 
pertumbuhan ini  ternyata belum menetes ke bawah. 
Indikasinya adalah, masih besarnya angka kemiskinan 
dan pengangguran. Data Badan Pusat Statitistik (2012) 
menyebutkan, hingga Agustus 2012, terdapat 7,244 juta 
pengangguran, sementara jumlah penduduk miskin 
mencapai 30,018 juta jiwa. 
Untuk mengurangi angka penganguran dan kemiskinan 
ini , pemerintah bekerja keras menciptakan lapangan 
kerja baru. Sumbernya tentu saja melalui investasi untuk 
pendirian perusahaan/pabrik, perluasan lahan pertanian, 
proyek infrastruktur, dan yang kini sedang digalakkan 
adalah mencetak sebanyak mungkin wirausaha.
Dalam rangka menggenjot jumlah wirausaha, 
pemerintah memberikan dukungan kebijakan supaya 
mereka dapat berperan meningkatkan kesejahteraan 
rakyat, misalnya melalui program penyaluran Kredit Usaha 
Rakyat (KUR) yang besarnya Rp. 20-25 triliun setiap tahun 
(Kompas, 19 Maret 2013).
Data Kementerian Koperasi dan UKM mengungkapkan, 
Indonesia saat ini memiliki sekitar 3,7 juta wirausaha 
atau 1,5% dari jumlah penduduk. Idealnya, dibutuhkanwirausaha sebanyak minimal 2% dari total jumlah penduduk 
untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bangsa. 
Sebagai perbandingan, jumlah wirausaha di Malaysia, 
Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Amerika Serikat 
sebanyak 2,1-11,5% dari populasi penduduk (Kompas, 19 
maret 2013).
Salah satu terobosan pemerintah untuk menggairahkan 
masyarakat berwirausaha adalah dengan menelurkan 
Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Ide dasar GKN 
adalah terbukanya peluang mengembangkan bisnis, 
karena Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, 
pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pendapatan nasional 
yang semakin besar. Di samping itu, kebutuhan barang dan 
jasa di tanah air pun semakin besar, seiring bertumbuhnya 
konsumen dan kelas menengah.
GKN secara khusus membidik kaum muda. 
Sebab, merekalah yang memiliki peluang besar untuk 
menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan. 
Peluang yang dimaksud adalah tingginya pertumbuhan 
ekonomi Indonesia secara berkelanjutan dalam beberapa 
tahun belakangan (Kompas, 19 Maret 2013).
Bersisian dengan hal ini , salah seorang pelopor 
gerakan entrepreneurship (kewirausahaan) di Indonesia, Ir. 
Ciputra, mengatakan bahwa bangsa Indonesia amat kaya, 
sumber daya manusianya hebat, sumber daya alamnya 
salah satu yang terbaik di dunia. Apa saja ada di Indonesia. 
Minyak bumi, gas, batubara, emas, perak, tembaga, hutan 
tropis terbesar ketiga di dunia, dan tanah yang demikian 
subur. 
Kenyataannya, menurut Ciputra, Indonesia masih 
tertinggal jauh dengan negara-negara maju. Jepang, 
Korea Selatan, dan Taiwan, sumber daya alamnya minim, 
namun ketiga negara ini  mampu menjadi negara 
industri dengan kemampuan yang mencengangkan. 
Pendapatan penduduknya berkali lipat dibandingkan 
Indonesia. Beberapa aspek ini  menjadi alasan Ciputra 
menggalakkan entrepreneurship. Ia mengeluarkan uang 
pribadi untuk mendorong gerakan ini  berjalan, dan 
belakangan sejumlah lembaga serta badan usaha membantu 
programnya (Kompas, 5 April 2013).
Di mata Ciputra, entrepreneurship adalah bagaimana 
menjadikan sesuatu yang tidak berguna menjadi berguna. 
Misalnya, mengubah sampah menjadi ‘emas’ serta 
mengubah barang murahan menjadi barang dengan nilai 
ekonomi amat tinggi. Atau mengubah seseorang yang tidak 
tahu bisnis sama sekali menjadi sangat tahu berbisnis.
Hal penting yang harus digarisbawahi, tegas Ciputra, 
masyarakat tidak boleh terlena di zona nyaman. Mereka 
mesti menyiapkan diri, misalnya jika terkena pemutusan 
hubungan kerja (PHK), tidak perlu bingung karena sudah 
memiliki sumber penghasilan lain. Itulah mengapa pria 
kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931, 
itu, selalu bersemangat mengampanyekan pentingnya 
entrepreneurship. 
Upaya yang dilakukan Ciputra, juga para penggagas 
kewirausahaan lainnya di Indonesia, adalah sebuah 
ikhtiar untuk mengubah pola pikir mayoritas masyarakat 
Indonesia, dari mental pekerja menjadi berjiwa wirausaha. 
Hal ini  tentu bukan pekerjaan gampang. Apalagi, 
sudah menjadi rahasia umum kalau orang Indonesia lebih 
senang menjad karyawan, mendapat gaji tetap setiap bulan, 
sekaligus berada di zona nyaman. 
Karena itulah, diperlukan perubahan mendasar 
untuk mengubah paradigma pekerja menjadi wirausaha. 
Misalnya melalui pendidikan kewirausahaan yang 
ditanamkan sejak sekolah menengah. Sejauh ini, pemerintah berupaya untuk melakukan hal ini , 
yakni lewat pendidikan prakarya dan kewirausahaan 
dalam kurikulum 2013. Namun, kompetensi inti dan dasar 
mata pelajaran prakarya dan pendidikan kewirausahaan 
Kurikulum 2013 lebih ditekankan pada prakarya semata. 
Prakarya yang dipelajari di jenjang pendidikan menengah 
meliputi kerajinan, rekayasa, budidaya, dan pengolahan. 
Adapun pendidikan kewirausahaan belum terlihat jelas 
kompetensinya (Kompas, 27 Februari 2013).
Pelajar Indonesia harus memanfaatkan kesempatan 
pendidikan kewirusahaan itu sebaik-baiknya. Apalagi, 
di tengah tren pendidikan kewirausahaan yang terus 
melesat di berbagai negara. Frederick, Kuratko & Hodgetts 
(2006) menyebutkan bahwa kurikulum kewirausahaan 
berkembang cepat. Riset di Amerika Serikat menunjukkan, 
mahasiswa arsitektur, olahraga, atau kesehatan, yang 
mengambil mata kuliah pilihan wirausaha, setelah lulus 
cenderung berprofesi sebagai wirausaha. Bukti lain 
mengungkapkan, ide terbaik kompetisi perencanaan bisnis 
justru berasal dari mahasiswa non-bisnis, dan beberapa 
inisiatif wirausaha inovatif tidak melibatkan sekolah 
bisnis (Frederick, Kuratko & Hodgetts, 2006). Hal ini  
mengindikasikan bahwa pendidikan kewirausahaan harus 
dipelajari oleh semua mahasiswa, meskipun mahasiswa 
ini  tidak mengambil bisnis sebagai program studi 
utamanya.
Meski pendidikan kewirausahaan baru diperkenalkan 
di Indonesia dalam dua dekade terakhir, namun hal 
ini  bukanlah ganjalan untuk mencetak wirausaha 
andal. Kuncinya terletak pada keseriusan dan kemauan 
semua stakeholder—pemerintah, swasta, kalangan pendidik, 
dan masyarakat—untuk terus menggelorakan semangat 
wirausaha. Ada adagium menarik tentang orang Indonesia. 
Biasanya, mereka akan melakukan sesuatu setelah kepepet. 
Kreativitas mereka baru muncul karena tekanan dari sana 
sini. Misalnya, setelah terkena PHK, baru mencari jalan 
untuk wirausaha. Saat uang betul-betul sulit diperoleh 
padahal kebutuhan begitu mendesak, barulah wara-wiri 
cari modal usaha. Dengan kata lain, baru bergerak setelah 
terdesak. Hal ini  memang lumrah saja. Namun, 
jika dikaitkan dengan konteks yang lebih luas, misalnya 
wirausaha, tentu hal ini  kurang pas. Sebab, menjadi 
wirausaha butuh perencanaan, pemikiran, dan konsep 
yang matang serta tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. 
Pelajaran menarik bisa dipetik dari pengalaman Ibnu 
Riyanto, pemilik usaha batik Trusmi terluas di Indonesia 
(Kompas, 6 April 2013). Ketika memulai usaha, ia masih 
terbilang muda. Kuliah pun tidak sempat dijalaninya. 
Namun, tekadnya adalah memajukan usaha batik. Pangkal 
masalahnya adalah kegagalan orangtua Ibnu untuk 
mengembangkan dan memperluas usaha batiknya. Maka, 
ia pun memutuskan untuk terjun langsung menangani 
usaha batik. Awalnya, Ibnu hanya berdagang kain putih 
untuk batik yang dijajakan di lingkungan keluarga 
yang lebih dulu membuka usaha batik. Namun, karena 
berdagang kain putih saja keuntungannya kecil, ia nekat 
berdagang batik di Pasar Tanah Abang. Nasib baik mulai 
menghampiri dirinya, ketika pelanggan batik di Tanah 
Abang mulai ramai. Lambat laun, usaha batik Ibnu mulai 
menuai sukses. Kuncinya adalah lincah menjalin relasi, 
tidak pernah berpuas diri, gencar mencari peluang, serta 
memanfaatkan teknologi (membuka toko online) untuk 
menembus pangsa pasar yang lebih luas (Kompas, 6 April 
2013).
Memutuskan untuk menjadi wirausaha juga dilakoni 
Wawang Supriyadi (Kompas, 23 Maret 2013). Wawang 
menggeluti usaha kerajinan miniatur dan hiasan dari 
logam. Mulanya, Wawang yang sarjana ekonomi itu 
melihat usaha kerajinan yang dijalankan sang ayah. Ia pun 
belajar soal cetak-mencetak dan mencampurkan logam 
yang dikerjakan ayahnya. Wawang kemudian belajar 
sendiri membuat master, membuat pelat cetakan, hingga 
penyelesaian akhir. Setelah cukup belajar, ia pun akhirnya 
terjun menggeluti bisnis ini  pada tahun 1999. Dengan 
modal awal Rp. 10 juta, kini bisnis Wawang telah beromzet 
Rp. 200 juta per bulan. Kunci sukses Wawang adalah jeli 
melihat peluang. Ia memanfaatkan serbuan mainan China 
sebagai tantangan untuk melahirkan kerajinan miniatur 
yang khas Indonesia. 
Kedua contoh anak muda yang terjun menjadi wirausaha 
ini  patut ditiru pemuda Indonesia lainnya. Keduanya 
berani mengambil risiko dan mampu mendobrak pola 
pikir lama, dari orientasi karyawan menjadi pengusaha. 
Keberanian mengubah pola pikir inilah yang sayangnya 
jarang dimiliki orang Indonesia. 
Urgensi wirausaha pada dasarnya adalah mengubah 
pola pikir dari mental pekerja menjadi mental pengusaha. 
Inilah sulitnya, di mana mental pekerja ini  bahkan 
sudah dikenalkan sejak masih kanak-kanak. Bagaimana 
tidak. Ketika orangtua bertanya pada anak, mau jadi apa 
kelak ketika dewasa, jawabannya pasti ingin jadi dokter, 
tentara, pilot, atau PNS. Jarang sekali yang menjawab ingin 
jadi pengusaha. 
Untuk mengatasi hal itu, kata Kasmir (2011), perlu 
diciptakan iklim yang dapat mengubah pola pikir, baik 
mental maupun motivasi orangtua, dosen, dan mahasiswa 
agar kelak anak-anak dibiasakan untuk menciptakan 
lapangan kerja ketimbang mencari pekerjaan. Perubahan ini  jelas memerlukan waktu dan bertahap. Misalnya 
dengan mendirikan sekolah yang berwawasan wirausaha 
atau menerapkan mata kuliah kewirausahaan, yang akan 
mengubah dan menciptakan pola pikir mahasiswa dan 
orangtua (Kasmir, 2011)
Di samping itu, dalam pendidikan kewirausahaan, 
perlu ditekankan keberanian untuk memulai wirausaha. 
Para mahasiswa ditantang untuk tidak takut rugi atau 
bangkrut. Hal ini misalnya bisa dimulai dengan menggeluti 
wirausaha dengan memanfaatkan hobinya. Hal lain yang 
juga perlu ditekankan adalah, wirausaha membuat semua 
kendali berada di tangan kita (Kasmir, 2011). Ini artinya, 
masa depan kita sendiri yang menentukan, bukan orang 
lain. 
Sejauh ini, beberapa instansi dan kementerian terkait 
mulai mengembangkan program untuk menciptakan 
sebanyak mungkin wirausahawan. Kementerian Koperasi 
dan UKM gencar dengan Gerakan Kewirausahaan Nasional 
serta terlibat aktif mengampanyekan iklan layanan 
masyarakat “Daripada Wara Wiri Cari Kerja, Mending 
Wirausaha”. Kemudian Bank Mandiri dengan program 
“Wirausahawan Muda Mandiri” serta Kementerian 
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengembangkan 
program wirausaha kreatif. 
Kotak 1
Belajar dari Si Anak Singkong
Chairul Tanjung (CT) adalah pengusaha papan atas 
negeri ini. Jaringan usaha di bawah bendera CT Corp 
menggurita, mulai dari media, ritel, hingga perbankan. 
Namun, untuk sampai pada tahap seperti sekarang, tidak 
dilalui dengan gampang. Chairul Tanjung merintisnya dari bawah, yakni ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran 
gigi. 
Keinginan kuat untuk keluar dari kemiskinan menjadi 
latar belakang utama Chairul Tanjung memulai usaha. 
Sebagai anak rantau, ia tak ingin status mahasiswa 
membebani kedua orang tuanya. Ia pun mencari-cari 
peluang usaha yang pas dilakoni oleh seorang mahasiswa. 
Maka, munculah peluang usaha foto kopi, yang ternyata 
bisa membawa ‘napas lega’ bagi Chairul Tanjung.
Mencermati lembar demi lembar buku biografi Chairul 
Tanjung, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik sebagai 
modal wirausaha, yakni:
1. Kreatif dan inisiatif
Hal ini misalnya dapat dilihat ketika Chairul Tanjung 
memutuskan membuka usaha foto kopi diktat 
kuliah. Meskipun terlihat sepele, namun mampu 
membuat Chairul jadi mahasiswa kaya ketika itu. 
Hal inilah yang harus dimiliki oleh para calon 
wirausaha, tidak sekadar menjadi ‘follower’ tetapi 
menjadi ‘pionir’ berbekal kreativitas dan inisiatif.
2. Kerja keras
Ketika kuliah, Chairul Tanjung tidak sekadar menjadi 
mahasiswa, namun ia juga seorang aktivis kampus 
dan pengusaha sekaligus. Ketiganya dilakukan 
secara total dan tidak setengah-setengah
3. Berani mengambil risiko
Setiap wirausahawan harus punya mental ini. Berani 
mengambil risiko untuk mengembangkan usaha. 
Chairul Tanjung bahkan berani mengambil alih 
sebuah bank yang dalam kondisi ‘megap-megap’ 
bahkan perbankan bukanlah dunianya. Akhirnya, 
ia tidak hanya bisa menolong bank ini , namun 
juga membesarkannya.Kelas menengah baru bermunculan di Indonesia. Hal 
itu seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi dalam 
beberapa tahun terakhir. Kelas menengah didefinisikan 
sebagai mereka yang mempunyai pengeluaran dengan 
rentang 2-20 dollar Amerika (USD) per kapita per hari 
berdasarkan paritas daya beli/purchasing power parity (ADB, 
2010). Definisi ini adalah khas untuk masyarakat Asia. 
Rentang pengeluaran perkapita ini  dibagi lagi ke 
dalam tiga kelompok, yaitu: masyarakat kelas menengah 
bawah (lower middle class) dengan pengeluaran perkapita 
perhari sebesar 2-4 USD; kelas menengah tengah (middle￾middle class) sebesar 4-10 USD; dan kelas menengah 
atas (upper-middle class) 10-20 USD. Dengan rentang 
pengeluaran 2-20 USD, maka didapatkan jumlah kelas 
menengah Indonesia sebanyak 134 juta (2010) atau sekitar 
56% dari seluruh penduduk, jumlah yang cukup besar.
McKinsey Global Institute (2012) menyebut kelas 
menengah dengan istilah “consuming class”. Definisinya 
adalah individu yang memiliki pendapatan sebesar 3600 
USD (berdasarkan paritas daya beli) ke atas. Dengan definisi 
ini, maka jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 45 
juta pada tahun 2010 dan akan meroket menjadi 134 juta 
pada tahun 2030.
Survey Nielsen (2012) menyebutkan bahwa 
kelas menengah Indonesia adalah pihak yang paling 
diuntungkan akibat pertumbuhan ekonomi. Konsumsi 
mereka meningkat, begitu juga dengan kualitas hidupnya. 
Konsekuensinya adalah bertambahnya permintaan barang￾barang konsumsi, mulai dari peralatan elektronik hingga 
produk kecantikan. Begitu juga dengan permintaan jasa, 
misalnya layanan kesehatan, asuransi, dan pendidikan.
Ada beberapa fakta terkait kecenderungan konsumsi 
kelas menengah Indonesia (Nielsen, 2012), yakni:1. Belanja bulanan untuk makanan mencapai 37%. 
2. Sebanyak 88% kelas menengah mengaku akan 
bereksperimen dengan merek.
3. Lebih dari setengah (53%) berbelanja di pasar modern 
dua kali sebulan.
4. Mereka cenderung mengunjungi minimarket terdekat 
dengan rumah, yang dicari adalah beragam macam 
barang, layanan yang ramah dan lingkungan yang 
nyaman.
5. Tempat dengan tingkat pengeluaran tertinggi adalah 
mini market, diikuti supermarket, sementara peritel 
tradisional masih dikunjungi untuk mencari makanan 
segar. 
Fakta-fakta ini  setidaknya menyiratkan satu hal: 
besarnya peluang wirausaha di Indonesia. Tingkat konsumsi 
yang tinggi, baik barang maupun jasa, sudah seharusnya 
diimbangi dengan persediaan (suplai) yang tinggi pula. 
Problemnya, suplai ini  belum sepenuhnya dapat 
dipenuhi oleh orang Indonesia. Maka, barang impor pun 
merajalela. Padahal, jika peluang ini  dimanfaatkan, 
maka tujuan wirausaha, yakni menambah angkatan kerja 
dan mengurangi kemiskinan akan tercapai. 
Ketika memutuskan untuk wirausaha, maka yang 
pertama kali harus dilakukan adalah memutar ide dan 
kejelian melihat peluang. Ide dan peluang ini , dapat 
ditemukan di segala aspek kehidupan masyarakat dan 
semua kegiatan ekonomi. 
Maka, kata kunci dalam melihat peluang adalah 
kreativitas. Kreativitas acapkali datang dalam bentuk ide. 
Ide digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Ide 
dapat digerakkan melalui perubahan cara atau metode 
yang lebih baik untuk kepentingan pelanggan dalam 
memenuhi kebutuhan barang dan jasa. Walau demikian, tak sedikit wirausahawan yang 
sukses bukan berdasarkan ide sendiri, tetapi berdasarkan 
hasil pengamatan dan penerapan ide lain. Agar ide-ide 
yang potensial menjadi peluang, maka wirausahawan 
harus mencari dan mengidentifikasi sumber peluang bisnis 
ini . Kegiatan mengidentifikasikan merupakan upaya 
awal seorang wirausahawan untuk dapat masuk ke pasar. 
Dengan identifikasi ini , wirausahawan akan dapat 
mengetahui tingkat persaingan, strategi, kekuatan, dan 
kelemahan pesaing, dan memperkirakan pola persaingan.
Pada dasarnya ide dan peluang dapat tumbuh di mana 
saja, kapan saja oleh siapa saja. Semakin banyak ide yang 
muncul semakin kreatif manusia meraih peluang. Semakin 
banyak meraih peluang semakin banyak juga keberhasilan.
Saat ini, yang menjadi pekerjaan rumah besar adalah 
bagaimana mendobrak keinginan kaum muda untuk 
menekuni wirausaha. Apalagi menjadi wirausaha di usia 
muda menjadi tantangan tersendiri apabila melihat kondisi 
bangsa Indonesia saat ini. Masih lemahnya ekonomi 
sektor riil serta banyaknya pengangguran dan kemiskinan 
seharusnya menjadi cambuk generasi muda untuk berani 
memulai berwirausaha.
Secara keseluruhan, seperti telah diungkap di bagian 
awal buku ini, jumlah pengangguran di Indonesia adalah 
7,244 juta orang. Angka ini  jelas menunjukkan 
masalah besar dalam perkembangan perekonomian dan 
sosial di Indonesia yang memicu  melonjaknya 
jumlah pengangguran berpendidikan di Indonesia. Hal 
ini , secara tidak langsung juga akibat cara pandang 
yang ditekankan kepada para pemuda Indonesia adalah 
mencari pekerjaan, dan bukan sebaliknya, menciptakan 
lapangan pekerjaan.
Dalam konteks sekarang, di tengah tantangan 
dan kendala yang dihadapi generasi muda, mental kewirausahaan mesti ditumbuhkan dan terus didorong. 
Mereka harus kreatif, inovatif, dan berani mengambil 
risiko untuk memulai usaha. Keluarga, tak pelak lagi, 
menjadi lingkungan pertama yang menumbuhkan mental 
kewirausahaan anak. Dunia perguruan tinggi juga sudah 
saatnya diubah menjadi kawah candradimuka pembentukan 
mental wirausaha. Kemitraan swasta, pemerintah dan 
lembaga pendidikan harus mendukung terciptanya iklim 
kondusif bagi wirausaha muda.
D.Pandai Memanfaatkan Peluang
Laksana perawan di sarang penyamun. Istilah itulah 
yang mungkin tepat untuk mengungkapkan peluang 
yang kerap menjadi buruan banyak orang. Setiap orang, 
mulai dari pengusaha, pejabat, manajer, hingga karyawan 
biasa antusias mengejar dan kemudian menemukannya. 
Karena itu, siapa pun yang berhasil menemukan dan 
lalu memanfaatkannya, itu merupakan keberhasilan. Jika 
dianalogikan peluang ibarat sebuah perkawinan yang 
selanjutnya melahirkan anak dengan nama keberhasilan 
(Alifuddin, 2012). 
Negara kita memiliki sumber daya alam dan sumber 
daya manusia yang berlimpah. Namun, kita tidak memiliki 
kemampuan dan pengetahuan untuk mengelola kekayaan 
alam itu. Coba bandingkan dengan beberapa negara lain 
yang tandus dan tidak memiliki sumber daya alam yang 
potensial namun mereka eksis karena memiliki pengetahuan 
dan teknologi yang baik. Mereka hidup makmur dan keluar 
sebagai pemenang dalam persaingan global. Simaklah 
kesuksesan ekonomi negara-negara dengan kondisi alam 
yang tandus seperti Taiwan, Singapura, dan Jepang. 
Mereka justru sukses luar biasa.Jadi, sumber daya manusia berupa ilmu pengetahuan 
dan teknologi merupakan keunggulan komparatif bagi 
masa depan umat manusia. Persoalannya, bagaimana 
sumber daya manusia yang kita miliki bisa mengelola 
sumber daya alam yang tersedia di bumi Indonesia. Apa 
yang harus dilakukan supaya Indonesia bisa unggul 
dan memiliki perusahaan-perusahaan yang mampu 
menghasilkan keuntungan besar? Jawabannya adalah: 
generasi penerus bangsa ini perlu memiliki dan dibekali 
dengan pengetahuan tentang kewirausahaan agar 
terpenuhi sumber daya manusia yang berkualitas dan 
berpengetahuan luas untuk mengelola usaha terutama 
usaha yang berbasis dan memanfaatkan potensi alam 
Indonesia.
Satu hal yang perlu kita ingat dalam wirausaha adalah 
belajar. Di antaranya dengan mengambil pengalaman dari 
bisnis masa lalu. Contohnya, tentu kita masih ingat ketika 
pada tahun 1970-an ngetrend gaya rambut gondrong dengan 
bisnis rambut palsu dan industri fashion model gombrong, 
sandal dan sepatu tinggi. Memasuki tahun 1980-an model 
dan gaya ini  berubah dan kembali meniru gaya pada 
era 60-an dengan model serba mini dan pendek. Industri 
wieg jatuh karena model rambut dipotong cepak ala militer.
Memasuki tahun 1990-an seiring dengan melubernya 
informasi dan komunikasi global, gaya anak-anak muda 
mulai berubah mengikuti gaya model fungki, rambut 
pirang, pakaian seronok dan warna warni. Bukankah 
semua itu adalah potensi bisnis yang tiada habisnya? 
Pertanyaannya, kapan kita memulainya?! Jawabannya: 
sekarang, atau tidak sama sekali.
Ketika memilih wirausaha sebagai pegangan hidup, 
tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Jalan yang 
akan kita lalui tidak selalu mulus, ada saja hambatan yang 
merintangi. Hambatan ini  bisa berasal dari dalam diri 
maupun dari luar (lingkungan). 
Hambatan dari dalam misalnya mental. Kerapkali, 
ketika menemui kegagalan dalam wirausaha, kita meratapi 
kegagalan ini . Malas bangkit dan mencoba kembali. 
Padahal, kegagalan adalah hal lumrah. Justru, di situlah 
mental kita diuji. Apakah sanggup menjadi seorang 
wirausahawan andal atau tidak. Para pengusaha sukses 
tidak sekali jalan membangun usaha. Mereka jatuh bangun 
terlebih dahulu, baru kemudian menemukan formula yang 
pas, dan sukses.
Kemudian kurang bisa mengenali potensi diri. 
Mengenali diri adalah memahami siapa diri kita 
sebenarnya. Jika seseorang mengenal dirinya, ia akan 
menemukan kebenaran tentang dirinya (Suryana & Bayu, 
2010). Dalam konteks wirausaha, kemampuan memahami 
diri sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan. 
Seorang wirausahawan perlu memiliki pengetahuan 
yang cukup untuk dapat mengarahkan dirinya guna 
memperoleh peluang usaha, menyusun konsep usaha, 
membuat perencanaan, dan opersional usaha. Di sisi lain, 
keterampilan juga tidak bisa diremehkan. Sebab, hal itu 
berguna untuk mengembangkan, memimpin, mengelola, 
dan mengatur strategi usaha ,
Begitu juga dengan kreativitas. Kalau sudah menjalani 
satu usaha, kita cenderung berkutat di usaha ini , 
tidak kreatif untuk mengembangkannya, atau bahkan 
mendiversifikasi usaha. Padahal, dalam teori siklus hidup 
produk seperti yang dikemukakan oleh Levitt (1978), ketika produk sudah mencapai kedewasaan (maturity), harus 
dilakukan upaya luar biasa agar produk ini  bertahan. 
Misalnya dengan diversifikasi atau merekonstruksi ulang 
produksi ini . Jika tidak, produk ini  akan mati 
dengan sendirinya.
Diversifikasi produk atau jasa memerlukan kreativitas. 
Sayangnya, kreativitas kerap dihambat oleh hal-hal yang 
tidak perlu. Misalnya, tidak berani berkesperimen, tidak 
mau mengambil risiko, kurang up date dengan keadaan 
sekitar, dan menjauhi kritik. Jika kita punya daya keatif, 
bukan mustahil produk dan jasa kita akan bertahan lama.
Jika penghambat dari dalam sudah diketahui dan 
diatasi, seorang wirausaha juga harus memperhitungkan 
faktor yang berasal dari luar. Misalnya, kurang memahami 
karakteristik pasar, faktor sosial budaya yang tidak bisa 
menerima suatu produk atau jasa, minimnya permodalan, 
kurangnya dukungan pemerintah, dan lain-lain.
Bagi seorang wirausahawan, mengidentifikasi faktor 
penghambat adalah hal penting. Tujuannya, supaya bisnis 
yang kita jalankan terarah, tidak berhenti di tengah jalan, 
tahan banting, dan terus berkembang.
Selain faktor eksternal dan internal, penghambat 
wirausaha juga dapat berasal dari sisi makro, yakni pembuat 
kebijakan atau pemerintah. Wakil Presiden periode 2009-
2014, Boediono, mengungkap enam penghambat wirausaha 
(Kontan, 12 November 2012), yakni:
1. Ketertiban hukum atau law and order. Hal ini untuk 
membuat aturan main agar lebih jelas. Apalagi, Apalagi 
saat ini masih terjadi di beberapa daerah ada pungutan 
liar sehingga memengaruhi sisi ketertiban hukum.
2. Kestabilan makro. Ekonomi harus tetap stabil, tidak 
naik turun yang membuat wirausaha sulit berkembang.
3. Infrastruktur. Isu ini jadi penting karena memengaruhi 
kemudahan dan perkembangan bisnis.
4. Regulasi. Selama ini, masih ada persinggungan antara 
peraturan daerah dan pusat terkait otonomi daerah 
yang dapat memengaruhi bisnis.
5. Finansial. Ketersediaan layanan finansial perlu 
didukung sektor perbankan melalui program financial 
inclusion.
6. Minimnya tenaga kerja terlatih. Meskipun sektor yang 
dibidik adalah UKM, tetap saja wirausaha memerlukan 
tenaga kerja terlatih untuk mendukung bisnis. 
Menurut Boediono, harus diambil langkah konkret 
penyelesaian atas keenam penghambat ini  supaya 
wirausaha di Indonesia berkembang, tidak saja kuantitas, 
tetapi juga kualitasnya. Maka, dibutuhkan sinergi semua 
pihak, pembuat kebijakan, pemerintah, dan swasta untuk 
menghasilkan wirausaha yang tangguh. 
F. Rangkuman
Untuk mengurangi angka kemiskinan dan 
pengangguran, diperlukan terobosan mendasar. Cara-cara 
konvensional semacam penyediaan lahan pertanian atau 
pembangunan proyek infrastruktur tidak lagi memadai. 
Jawabannya terletak pada wirausaha.
Bangsa Indonesia memerlukan wirausaha yang 
memulai bisnisnya dari usia muda. Hal itu sekaligus 
untuk mengubah pola pikir mayoritas masyarakat, dari 
mental pekerja menjadi mental pengusaha. Mengubah 
mindset bisa dilakukan, salah satunya melalui pendidikan 
kewirausahaan sejak sekolah menengah atas.
Potensi wirausaha di Indonesia sangat besar. Hal ini 
ditopang oleh tingginya pertumbuhan ekonomi serta 
semakin banyaknya kelas menengah, yang membutuhkan 
tidak saja barang, tetapi juga jasa.
Seorang wirausaha harus jeli dan pandai memanfaatkan 
peluang. Peluang wirausaha dapat ditemukan di segala 
aspek kehidupan masyarakat dan semua kegiatan 
ekonomi. Maka, kata kunci dalam melihat peluang adalah 
kreativitas. Kreativitas acapkali datang dalam bentuk ide. 
Ide digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa, dari 
situlah wirausaha bermula.
Di samping itu, wirausaha juga harus mengenali 
hambatan, yang datang dari dalam dan luar, serta 
yangberbentuk kebijakan. Hambatan dari dalam misalnya 
malas menggali potensi diri, tidak kreatif, gampang 
putus asa. Hambatan dari luar seperti tidak memahami 
karakteristik pasar, faktor sosial budaya, dan lainnya. 
Faktor penghambat yang berupa kebijakan antara lain 
regulasi yang tumpang tindih, infrastruktur, dan minimnya 
tenaga kerja terlatih. 





Dalam sebuah organisasi, misalnya institusi bisnis, 
kepemimpinan sangat penting. Pemimpinlah yang 
membuat arah dan kebijakan tentang bisnis, untuk 
kemudian diimplementasikan oleh anak buah (bawahan). 
Sebagian besar institusi bisnis yang menjadi besar dan 
terus berkembang ditopang oleh gaya kepemimpinan yang 
andal dan profesional. Keunggulan wirausaha yang sukses 
dibandingkan dengan wirausaha yang gagal terletak 
pada dinamika dan efektivitas kepemimpinan. Pimpinan 
wirausaha merupakan unsur pokok di dalam setiap 
perusahaan.
Kepemimpinan, menurut Suryana dan Bayu (2010), 
adalah kemampuan, proses, atau fungsi yang digunakan 
dalam memengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu 
dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pada suatu 
kegiatan, kepemimpinan merupakan upaya membantu 
diri sendiri atau orang lain mencapai suatu tujuan.
Di sisi lain, menurut Sopiah (2008), kepemimpinan 
adalah proses mengarahkan dan memengaruhi aktivitas 
yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok. 
Definisi ini  berimplikasi pada tiga hal (Sopiah, 2008), 
yakni:1. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain, yaitu 
bawahan atau pengikut. Karena kesediaan mereka 
menerima pengarahan dari pemimpin,anggota 
kelompok membantu menegaskan status pemimpin 
dan memungkinkan terjadinya proses kepemimpinan. 
Tanpa bawahan, maka semua sifat kepemimpinan 
menjadi tidak relevan.
2. Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang 
tidak sama di antara pemimpin dan anggota kelompok. 
Pemimpin mempunya wewenang untuk mengarahkan 
beberapa aktivitas anggota kelompok, yang caranya 
tidak sama antara pemimpin yang satu dengan yang 
lain.
3. Di samping secara sah mempu memberikan perintah 
atau pengarahan kepada bawahan atau pengikutnya, 
pemimpin juga harus memengaruhi bawahan dengan 
bermacam cara.
Daft dan Carcic (2008) mendefinisikan kepemimpinan 
sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang ke arah 
pencapaian tujuan organisasi. Memengaruhi berarti 
hubungan antarorang tidak pasif dan pengaruh didesain 
untuk mencapai tujuan. Taylor yang dikutip oleh Drafke 
(2009) menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah ”the
ability to influence the activities of others, through the process 
of communication, toward the attainment of goal.” Pengertian 
ini menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan 
untuk memengaruhi aktivitas orang lain melalui proses 
komunikasi ke arah pencapain tujuan. Definisi yang hampir 
sama dikemukakan oleh Kinicki dan Kreitner (2008), yaitu: 
”leadership is the ability influence people toward te attainment 
of goals.” Kepemimpinan adalah kemampuan untuk 
memengaruhi orang ke arah pencapaian tujuan organisasi.Robbins dan Judge (2007) menjelaskan kepemimpinan 
sebagai kemampuan untuk memengaruhi sebuah kelompok 
ke arah pencapaian visi atau seperangkat tujuan. Menurut 
Greenberg dan Baron (2003), kepemimpinan merupakan 
proses yang digunakan oleh seseorang untuk memengaruhi 
anggota kelompok ke arah pencapaian tujuan kelompok 
organisasi.
Definisi-definisi di atas pada umumnya memandang 
kepemimpinan sebagai aktivitas yang berkelanjutan, 
diarahkan untuk menimbulkan dampak pada perilaku 
orang lain yang pada akhirnya difokuskan pada upaya 
untuk mewujudkan tujuan-tujuan organisasi. Definisi 
ini  juga mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan 
menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal 
ini pengaruhnya disengaja oleh seseorang terhadap orang 
lain untuk mengatur aktivitas-aktivitas serta hubungan di 
dalam kelompok atau organisasi.
Kepemimpinan merupakan sebuah proses kompleks 
yang memerlukan banyak keterampilan. Menurut 
Robbins (2001), salah satu fondasi utama kepemimpinan 
adalah kepercayaan. Boon dan Holmes (dalam Robbins, 
2001) menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan suatu 
pengharapan positif bahwa orang lain tidak akan — melalui 
kata-kata, tindakan, atau keputusan — bertindak secara 
oportunistik. Dari definisi ini , setidaknya ada dua 
kata kunci penting dari kepercayaan, yaitu pengharapan 
positif dan secara oportunistik. Istilah pengharapan 
positif dalam pengharapan ini  mengasumsikan 
bahwa pengetahuan dan keakraban dengan pihak lain. 
Menurut Rotter (dalam Robbins, 2001), kepercayaan 
adalah suatu proses ketergantungan-historis yang 
didasarkan pada sampel-sampel pengalaman yang relevan 
namun terbatas. Pengharapan itu membutuhkan waktu untuk membentuknya, dibangun sedikit demi sedikit 
dan terakumulasi. Sementara istilah secara oportunistik 
merujuk pada risiko dan kerentanan yang inheren dalam 
setiap hubungan kepercayaan. Menurut Rempel, Holmes 
dan Zanna (dalam Robbins, 2001), kepercayaan mencakup 
membuat seseorang rentan seperti ketika, misalnya, 
minyingkapkan informasi intim atau bergantung pada 
janji-janji. Karena sifat ini juga, kepercayaan memberikan 
peluang bagi kekecewaan atau pengambilan manfaat dari 
kepercayaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kepemimpinan 
seringkali diartikan sama dengan manajemen. Padahal, 
keduanya memiliki perbedaan. Menurut Drafke (2009), 
kepemimpinan berhubungan secara langsung dengan 
orang dan perilakunya. Kepemimpinan hanyalah salah satu 
aspek dari manajemen. Sementara manajemen merupakan 
sebuah konsep yang lebih luas, termasuk aktivitas 
kepemimpinan, tetapi mungkin juga melibatkan fungsi￾fungsi non perilaku yang tidak secara langsung berpengaruh 
terhadap orang lain. Manejemen berhubungan dengan 
isu global, seperti menjaga kelangsungan organisasi, dan 
bekerja baik dengan hirarki, sedangkan kepemimpinan 
melibatkan inisiasi aksi dan percepatan perubahan. 
Pada akhirnya, manajemen adalah proses perencanaan, 
pengorganisasioan, pengkoordinasian, pengarahan, dan 
pengendalian aktivitas orang lain.
Capowski (dalam Kinicki dan Kreitner, 2008) melihat 
perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen dari segi 
kualitas yang dibutuhkan. Kualitas yang dibutuhkan dari 
seorang pemimpin mencakup: jiwa, visioner, bersemangat, 
kreatif, fleksibel, menginspirasi, inovasi, berani, imajinatif, 
ekperimental, memiliki inisiatif perubahan, dan memiliki 
kekuasaan pribadi. Sementara kualitas yang dibutuhkan 
seorang manajer adalah pikiran, rasional, konsultasi, gigih, pemecahan masalah, tegas, analitis, terstruktur, penuh 
pertimbangan, berwibawa, stabil, dan kekuasaan posisi.
Dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, seorang 
pemimpin dituntut untuk memiliki banyak kompetensi 
agar efektif dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. 
Menurut Joseph (2007), ada sepuluh kompetensi yang perlu 
dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni: 
Pertama, adalah arah diri (self direction). Arah diri 
merupakan kemampuan menyusun tujuan untuk dirinya 
yang mengarahkan pada tujuan dengan dedikasi pemikiran 
tunggal. Hal ini merupakan kunci dorongan personal dalam 
memimpin. Beberapa orang menyusun tujuannya tetapi 
tidak diikuti dengan dorongan personal. Sementara yang 
lainnya memulai dengan bekerja atas tujuan-tujuannya, 
tetapi mungkin tidak sampai akhir. 
Kedua, fleksibilitas (flexibility), yaitu kemampuan 
untuk mengubah dirinya sesuai dengan situasi. Esensi dari 
fleksibilitas mental adalah kemampuan untuk menangani 
situasi yang berbeda dalam cara yang berlainan, khususnya 
untuk menanggapi hal-hal yang baru, komplek dan situasi 
yang problematik.
Ketiga, tim kerja (team work), yang merupakan 
kemampuan untuk bekerja bersama terhadap visi bersama. 
Kemampuan ini  untuk mengarahkan individu 
melaksanakan tujuan organisasi. Kemampuan kerja tim 
antara lain mencakup: bekerja bersama dalam suatu 
kelompok untuk mencapai tujuan bersama, mencapai 
hasil yang ingin dicapai, merayakan kesuksesan, memiliki 
pimpinan tim yang jelas, memiliki tujuan yang jelas, 
mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan, masing￾masing anggota memiliki kemampuan untuk memengaruhi 
keputusan, dan masing-masing anggota memiliki tanggung 
jawab personal atas kinerja dan kualitasnya.Keempat, strategi (strategy). Strategi adalah kejadian 
suatu tindakan yang diadopsi sesudah disaring secara 
ekstensif melalui data-data yang tersedia dan sesudah 
dievaluasi dari alternatif solusi yang bervariasi. Strategi 
juga merupakan kemampuan untuk memahami dan 
menginterpretasikan informasi untuk tindakan-tindakan 
tertentu yang akan diimplementasikan.
Kelima, pengambilan keputusan (decision making). 
Pengambilan keputusan merupakan studi yang 
mengidentifikasi dan memilih alternatif-alternatif yang 
didasarkan pada nilai dan preferensi dari pembuat 
keputusan. Membuat keputusan berdampak bahwa ada 
alternatif-alternatif pilihan untuk dipertimbangkan dan 
dalam kasus ini tidak hanya mengidentifikasi banyak 
alternatif yang mungkin, tetapi juga memilih salah satu 
yang terbaik dan cocok dengan tujuan, kehendak, gaya 
hidup, nilai dan sebagainya.
Keenam, mengelola perubahan (managing change). 
Megelola perubahan merupakan kemampuan untuk 
beradaptasi terhadap perubahan skenario tanpa kehilangan 
keefektivan dan efisiensi. Mengelola perubahan mencakup 
mengelola perubahan tugas, area praktik profesional dan 
tubuh pengetahuan. 
Ketujuh, delegasi (delegation). Delegasi adalah kesediaan 
untuk menugaskan tanggung jawab kepada yang lain. 
Delegasi merupakan fungsi manajerial yang penting 
untuk mengurangi beban tugas pimpinan. Delegasi 
membutuhkan kepercayaan yang cukup terhadap orang 
yang diberikan delegasi tugas.
Kedelapan, komunikasi (communication). Komunikasi 
adalah proses yang mana informasi melewati atau dibawa 
dalam berbagai bentuk. Komunikasi bisa dalam bentuk 
organisasi atau tim dalam sebuah organisasi. Komunikasi yang efektif tergantung pada tiga faktor, yaitu kepercayaan, 
emosi dan alasan. 
Kesembilan, negosiasi (negotiation). Negosiasi adalah 
proses dimana dua pihak memecahkan perselisihan, 
setuju atas terjadinya suatu tindakan atau mencoba 
untuk memperoleh hasil yang saling menguntungkan. 
Kepentingan yang saling diuntungkan merupakan bagian 
penting dalam negosiasi dan tidak boleh hanya satu pihak 
saja yang diuntungkan. 
Kesepuluh, kekuasaan dan pengaruh (power and 
influence). Kekuasaan adalah kemampuan untuk 
menggunakan pengaruh dalam organisasi atau individu di 
luar wewenang yang diturunkan dari jabatan.

Dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya, seorang 
pemimpin menggunakan pendekatan yang berbeda-beda. 
Mejia dan Balkin (2007) mengklasifikasikan kepemimpinan 
menjadi empat kelompok, yaitu teori kepemimpinan yang 
ditinjau berdasarkan orang (person-based theories), teori 
situasional (situational theories), teori terpencar (dispersed 
theories), dan teori pertukaran (exchange theories).
Pertama, teori kepemimpinan yang didasarkan pada 
pendekatan orang. Ada beberapa teori kepemimpinan 
yang tergabung dalam kelompok ini, antara lain teori 
sifat dan teori perilaku. Untuk teori sifat berkembangan 
dari hasil studi-studi tentang kepemimpinan pada akhir 
abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang pada umumnya 
terkait pada orientasi kepemimpinan menurut keturunan 
(raja dan bangsawan). Para peneliti berasumsi bahwa 
pemimpin itu tidak mungkin berasal dari orang biasa 
yang berstatus sosial rendah. Studi ini kemudian terkenal 
sebagai The Great Man Theory of Leadership. Teori ini
berpandangan bahwa seorang yang dilahirkan sebagai 
pemimpin otomatis menjadi pemimpin (Munandar, 1997). 
Kemudian studi kepemimpinan memusatkan perhatian 
pada ciri pribadi pemimpin, yang dikenal dengan trait 
theory. Teori-teori kepemimpinan mulai menghubungkan 
ciri kesuksesan dengan pemilikan bakat-bakat istimewa. 
Ratusan studi mengenai trait dilaksanakan selama tahun 
1930-an hingga tahun 1940-an. Studi ini mengungkapkan 
kualitas pribadi yang sulit dipahami. Banyak penelitian 
dilakukan dengan hasil yang mengecewakan. Sejumlah 
trait yang ditemukan hanya mampu mengungkapkan 
tipe orang yang memiliki kemampuan untuk menduduki 
posisi-posisi kepemimpinan dan tidak mengungkapkan 
tipe seperti apakah yang akan berhasil sebagai seorang 
pemimpin.
Teori kepemimpinan yang menggunakan pendekatan 
perilaku dapat dipilah menjadi dua, yaitu pendekatan 
perilaku berdasarkan struktur inisiasi (initiatinng 
structure) dan pertimbangan (consideration) serta 
pendekatan perilaku berdasarkan penghargaan (reward) 
dan menghukum (punishing). Terkait dengan model 
pertama yaitu untuk struktur pemicu (initiating structure), 
menunjukkan sejauhmana pemimpin mendefinisikan dan 
menstrukturkan peran karyawan dalam mencapai tujuan. 
Stukrur inisiasi mencakup inisiasi, organisasi dan produksi. 
Inisiasi adalah tindakan mengorganisasikan, memfasilitasi, 
dan kadang-kadang menolak ide-ide dan praktek baru. 
Organisasi adalah mendefinisikan dan menstrukturkan 
pekerjaan, menjelaskan peran pemimpin dan pengikut, 
dan mengkoordinasikan tugas-tugas karyawan. Produksi 
adalah menetapkan tujuan dan memberikan insentif bagi 
upaya-upaya dan produktivitas karyawan. Kemudian 
untuk aspek pertimbangan (consideration), merefleksikan sejauhmana pemimpin menciptakan hubungan 
kerja yang dicirikan oleh kepercayaan yang saling 
menguntungkan, hormat terhadap ide-ide karyawan, dan 
mempertimbangkan perasaan karyawan. Pertimbangan 
mencakup keanggotaan, integrasi, komunikasi, pengakuan 
dan perwakilan. Keanggotaaan adalah membaur dengan 
karyawan, menekankan hubungan tidak formal, dan 
pertukaran pelayanan personal. Integrasi ialah mendorong 
sebuah iklim yang menyenangkan, mengurangi konflik, 
dan meningkatkan penyesuaian individu terhadap 
kelompok. Komunikasi adalah memberikan informasi 
terhadap karyawan, mencari informasi untuk karyawan 
dan menunjukkan kesadaran atas persoalan-persoalan 
yang berdampak terhadap karyawan. Pengakuan ialah 
mengungkapkan kesetujuan atau ketiaksetujuan atas 
perilaku karyawan. Perwakilan yaitu bertindak atas nama 
kelompok, mempertahankan kelompok dan mendahulukan 
kepentingan kelompok (Colquitt & LePine, 2009).
Untuk pendekatan kepemimpinan yang berorientasi 
perilaku, pemberian penghargaan terjadi ketika seorang 
pemimpin memberikan penguatan secara positif kepada 
bawahan agar terjadi perilaku-perilaku yang dikehendaki. 
Jika bawahan dapat melakukan pekerjaan dengan baik, 
maka pemimpin memberikan pengakuan melalui pujian, 
hadiah, atau keuntungan-keuntungan lain yang kasat 
mata seperti peningkatan upah dan promosi. Pemimpin 
memberikan penghargaan untuk memastikan karyawan 
memiliki kinerja pada tingkatan yang tertinggi. Selanjutnya 
untuk pemimpin yang berorientasi menghukum terjadi 
ketika seorang pemimpin mencerca atau menanggapi 
seccara negatif terhadap bawahan yang melakukan 
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Meskipun 
perilaku menghukum dapat menjadi efektif, namun juga memicu perilaku yang membahayakan di dalam organisasi. 
Umumnya lebih efektif jika menggunakan penguatan 
untuk menghentikan perilaku-perilaku yang tidak 
dikehendaki jika dibandingkan dengan menggunakan 
hukuman. Hukuman dapat menimbulkan sesuatu yang 
tidak diinginkan seperti kemarahan (George & Jones, 2007).
Kedua, teori situasional. Teori-teori kepemimpinan 
yang tergabung dalam kelompok ini adalah Fiedler’s 
Contingency Model dan Path-Goal Theory. Terkait dengan teori 
pertama, Fred E. Fiedler mengembangkan sebuah elaborasi 
model kontingensi, yang berpegang bahwa pemimpin 
terbaik ditentukan oleh situasi kerja pemimpin. Model 
Fiedler menetapkan kondisi yang mana pemimpin harus 
menggunakan tugas, dan hubungan, gaya memotivasi. 
Fiedler juga menggunakan istilah kontrol situasi yang 
diartikan sejauhmana pemimpin dapat mengendalikan dan 
memengaruhi hasil usaha-usaha kelompok. Pengukuran 
kendali situasi berdasarkan tiga faktor, yaitu: (1) hubungan 
pemimpin anggota, yaitu sejauhmana anggota menerima 
dan mendukung pemimpinnya, (2) struktur tugas, yakni 
sejauhmana mengetahui secara nyata apa yang dilakukan 
dan seberapa baik serta apakah tugas-tugas secara rinci 
diselesaikan, dan (3) kekuasaan posisi (position power), 
menunjukkan sejauhmana organisasi menyediakan 
pemimpin dengan: (a) penghargaan dan hukuman kepada 
anggota organisasi, dan (b) wewenang formal yang sesuai 
untuk melakukan pekerjaan (DuBrin, 2007).
Pendekatan yang kedua adalah Path-Goal Theory. Dalam 
pendekatan ini pada intinya ada empat cara yang digunakan 
oleh seorang pemimpin, yitu direktif, suportif, partisipatif, 
dan orientasi tugas. Direktif (directive) mencakup perilaku 
mengklarifikasi yang menyediakan sebuah struktur 
psikologis untuk bawahan. Pemimpin mengklarifikasikan tujuan kinerja, maksud mencapai tujuan ini , dan 
menetapkan standar-standar kinerja yang akan dinilai. 
Hal itu juga mencakup kebijaksanaan penggunaan 
penghargaan dan tindakan disiplin. Kepemimpin direktif 
sama dengan kepemimpinan orientasi tugas. Suportif 
(sopportive) merupakan perilaku ini memberikan dukungan 
psikologis untuk karyawan. Pemimpin bersikap ramah 
dan mudah didekati, membuat pekerjaan menyenangkan, 
memperlakukan karyawan degan rasa hormat yang adil, 
dan menunjukkan perhatian pada status, kebutuhan 
dan kesejahteraan karyawan. Kepemimpinan suportif 
sama dengan kepemimpinan yang berorientasi pada 
orang. Partisipatif (partisipative) berusaha mendorong dan 
memfasilitasi keterlibatan bawahan dalam pengambilan 
keputusan di luar aktivitas kerja normal. Pemimpin 
berkonsultasi dengan karyawan, meminta sarannya, 
dan mengambil ide-idenya dalam pertimbangan yang 
serius sebelum mengabil sebuah keputusan. Kepimpinan 
partisipatif berhubungan dengan keterlibatan karyawan 
dalam keputusan. Orientasi prestasi (achievement-oriented) 
berupaya mendorong karyawan untuk mencapai kinerja 
puncak. Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang, 
mengaharapkan karyawan memiliki kinerja pada 
tingkat yang paling atas, secara terus menerus mencari 
perbaikan pada kinerja karyawan, dan menunjukkan 
derajat kepercayaan tinggi sehingga karyawan akan 
mengambil tanggungjawab dan melakukan tujuan-tujuan 
yang menantang. Kepemimpinan yang berorientasi pada 
prestasi mengaplikasikan teori penetapan tujuan. 
Selain kedua pendekatan di atas, juga terdapat teori 
kepemimpinan situasional yang dikembangkan Paul 
Hersey dan Kenneth Blanchard. Menurut teori ini, perilaku 
kepemimpinan yang efektif antara lain tergantung pada tingkat kesiapan pengikut. Kesiapan berarti sejauhmana 
kemampuan yang dimiliki pengikut dan kesediaan untuk 
menyelesaikan tugas. Kesediaan merupakan kombinasi 
dari kepercayaan diri, komitmen dan motivasi. Teori 
kepemimpinan situasional ini  melahirkan empat 
gaya kepemimpinan spesifik, yaitu telling (S1), selling 
(S2), participating (S3) dan delegating (S4). Keempat 
gaya ini  merupakan kombinasi dari tugas dengan 
orientasi hubungan perilaku kepemimpinan. Pemimpin 
didorong untuk menggunakan gaya telling untuk 
pengikut yang memiliki deraja kesiapan rendah. Gaya ini 
mengombinasikan perilaku kepemimpinan berorientasi 
tugas tinggi, seperti memberikan pengarahan, dengan 
perilaku orientasi hubungan rendah, seperti supervisi 
yang tertutup. Apabila kesiapan pengikut meningkat, 
maka kepemimpinan dianjurkan untuk secara berangsur￾angsur bergerak dari gaya telling ke selling, participating, 
dan puncaknya adalah delegating (Kinicki & Kreitner, 2008).
Ketiga, teori yang terpencar. Teori kepemimpinan yang 
tergabung dalam kategori ini antara lain substitute leadership 
dan self leadership. Substitute leaderhip atau kepemimpinan 
pengganti merupakan teori kepemimpinan yang 
dipertimbangkan untuk melawan teori kepemimpinan 
yang berdasarkan pada orang. Teori kepemimpinan yang 
berdasarkan orang menekankan pada pentingnya sifat 
dan perilaku pemimpin. Sementara teori kepemimpinan 
pengganti menekankan pada pentingnya karakteristik 
situasi. Teori ini berdasarkan pada ide bahwa setidaknya 
pada beberapa situasi, kepemimpinan tidak hanya efektif, 
tetapi juga tidak relevan. Orang cenderung menyesuaikan 
kepemimpian dan menekankan pada pentingnya sifat-sifat 
pemimpin jika dibandingkan dengan kondisi aktual yang 
pantas. Teori ini juga berusaha menidentifikasi karakteristik tempat kerja yang dapat mengganti untuk kepemimpinan 
atau menetralisasi upaya-upaya yang dibuat oleh seorang 
pemimpin (Mejia & Balkin, 2007).
Untuk kepemimpinan diri (self-leadership) menekankan 
pada tanggung jawab individu karyawan untuk 
mengembangkan prioritas kerjanya yang telah disesuikan 
dengan tujuan organisasi. Manajer adalah fasilitator yang 
meningkatkan kapasitas kepemimpinan diri bawahan 
dan mendorong karyawan untuk mengembangkan 
keterampilan mengendalikan diri. Ada dua mekanisme 
penting dalam kepemimpinan diri, yaitu: (1) pemberdayaan 
(empowerment), atau proses mentransfer kendali perilaku 
kerja individu dari supervisor ke karyawan. Karyawan harus 
dibekali dengan keterampilan, peralatan, dan informasi￾informasi sehingga wewenang dan tanggung jawab-nya 
dapat sukses didelegasikan kepadanya; (2) pemodelan 
peran (role modeling), yaitu manajer memberikan contoh 
perilaku-perilaku yang diharapkan untuk dilakukan oleh 
karyawan. Pemodelan peran akan menjadi lebih efektif jika 
karyawan dapat melihat hubungan antara adopsi perilaku￾perilaku yang dikehendaki dengan hasil positif, seperti 
upah yang lebih tinggi, promosi, atau pengakuan publik 
(Mejia & Balkin, 2007).
Keempat, teori pertukaran. Teori kepemimpinan 
yang tergabung dalam kelompok ini antara lain teori 
kepemimpinan transformasional, teori kepemimpinan 
transaksional, teori kepemimpinan otentik atau 
kharismatik. Teori kepemimpinan transformasional 
ditandai kemampuan pemimpin untuk mengartikulasikan 
visi bersama tentang masa depan, secara intelektual 
menstimulasi karyawan, dan menaruh perhatian terhadap 
perbedaan individual karyawan (Brown & Keeping, 
2005). Menurut Keegan & Hartogg (2004), kepemimpinan transformasional terkait dengan identifikasi diri yang kuat, 
penciptaan visi bersama untuk masa depan, dan hubungan 
antara pemimpin dan pengikut berdasar pada suatu hal 
yang lebih daripada sekadar pemberian penghargaan 
agar patuh. Pemimpin transformasional mendefisikan 
kebutuhan untuk perubahan, menciptakan visi baru, 
memobilisasi komitmen untuk menjalankan visi dan 
mentransformasi pengikut baik pada tingkat individual 
maupun tingkat organisasi. Kemampuan pemimpin untuk 
mengartikulasikan suatu visi yang atraktif bagi masa depan 
adalah elemen utama dari kepemimpinan transformasional. 
Menurut Kinicki dan Kreitner (2008), model kepemimpinan 
transformasional banyak menghasilkan perubahan 
organisasi secara signifikan karena bentuk kepemimpinan 
ini menekankan pada tingkatan yang lebih tinggi pada 
motivasi intrinsik, kepercayaan, komitmen dan loyalitas 
dari bawahan.
Kepemimpinan transaksional (transactional leadership) 
didasarkan pada konsep pertukaran antara pemimpin 
dan pengikut. Pemimpin menyediakan pengikut sumber 
daya dan penghargaan untuk ditukar dengan motivasi, 
produktivitas dan pelaksanaan tugas yang efektif. 
Kepemimpinan transaksional mengajarkan kepada 
pemimpin agar menyediakan penghargaan untuk 
menguatkan perilaku yang sesuai dan mencegah perilaku 
yang tidak sesuai. Pemimipin transaksional adalah 
pemimpin yang bertanggung jawab, andal, memiliki logika 
tinggi dan berpikiran jernih. Pemimpin meyakinkan bahwa 
sistem yang ada terpelihara dengan baik. Dalam situasi 
konflik, pemimpin menggunakan aturan dan prosedur. 
Prosedur dan standar operasional bekerja dengan baik 
sepanjang hari seperti hari kemarin.Teori kepemimpinan karismatik dicitrakan sebagai 
kepemimpinan yang penting dalam hubungannya dengan 
kepuasan. Weber (dalam Wang & Jiang, 2005). memandang 
pemimpin karismatik sebagai mistis, narsistik, dan memiliki 
kemampuan personal yang magnetis. Pemimpin karismatik 
berinteraksi dengan orang lain melalui keyakinan-keyakinan 
dan perilaku yang unik. Pengaruh karismatik berakar 
pada nilai-nilai pemimpin, karakteristik kepribadian, 
dan perilaku, atribusi pengikut, konteks, atau beberapa 
kombinasi dari faktor-faktor ini . Pemimpin karismatik 
bersifat percaya diri, dominan, ekstraver, dan keyakinan 
kuat akan nilai-nilai yang dianut, serta keyakinan dan 
moral yang dianggap benar. Tendensi perilaku pemimpin 
karismatik adalah melibatkan inspirasi untuk memotivasi 
tindakan kolektif, berperilaku dalam berbagai cara yang 
dapat menghasilkan model bagi pengikutnya, sensitif 
terhadap kecenderungan lingkungan, perilaku yang tidak 
konvensional, berani mengambil risiko, memformulasikan 
dan mengartikulasikan suatu visi. Sementara Nyquist dan 
Spence (dalam Andre, 2008) menjelaskan lima karakteristik 
dari kepemimpinan karismatik, yaitu: (1) percaya diri (self 
confidence), menjadi percaya diri baik dalam kemampuan 
personal maupun dalam memutuskan, (2) visi (vision), 
mengartikulasikan visi, menekankan ideologi, (3) perilaku 
yang tidak konvensional (unconventional behavior), 
menunjukkan perilaku yang baru, tidak konvensional, 
dan melawan norma-norma, (4) sensitivitas lingkungan 
(environmental sensitivity), menjadi realistik mengenai 
ketersediaan sumber daya dan memberikan batasan￾batasan yang mungkin tentang apa yang dapat dan 
tidak dapat dilakukan, (5) sensitivitas terhadap bawahan 
(sensitivity ti followers), tanggap terhadap kebutuhan dan 
kemampuan bawahan, dan (6) model peran (role modeling), mengembangkan citra sebagai agen perubahan, seseorang 
yang membuat sesuatu terjadi.
Kepemimpinan memerlukan serangkaian sifat-sifat, 
ciri, atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan 
pada setiap situasi. Pemimpin akan berhasil bila memiliki 
sifat, ciri, dan perangai ini .
Terdapat tiga pendekatan dalam telaah kepemimpinan 
untuk mengetahui sifatnya. Pendekatan pertama 
memandang kepemimpinan sebagai pemunculan paduan 
ciri. Pendekatan kedua mengidentifikasi perilaku yang 
berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif (Sopiah, 
2008). Asumsi yang lazim untuk kedua pendekatan 
ini  adalah bahwa individu yang memiliki ciri yang 
tepat atau memperlihatkan perilaku yang tepat akan tampil 
sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apa saja yang ia 
masuki. Pandangan ketiga mengasumsikan bahwa kondisi 
yang menentukan efektivitas kepemimpinan berbeda￾beda sesuai dengan situasi tugas yang harus diselesaikan, 
keterampilan dan harapan bawahan, lingkungan organisasi, 
pengalaman masa lampau, dan yang lainnya.
Penggagas dan penulis buku Choice Theory,
William Glasser M.D (1998) —yang mengurai perilaku 
manusia berdasarkan motivasi dari dalam (internal)— 
mengungkapkan, setidaknya terdapat delapan sifat 
kepemimpinan, antara lain:
1. Memberi teladan tentang arti sukses kepada bawahan. 
Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam 
bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan 
mereka bekerja. Ketiadaan tujuan dan arah sering 
mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang 
pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa
memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para 
bawahannya.
2. Beri bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan. 
Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang 
pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya. 
Namun, sebenarnya itu bukan tugas atasan. Daripada 
terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah 
orang lain, lebih baik berikan bawahan cara dan rambu 
untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3. Jangan sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan. 
Tak hanya kritik, pujian dan apresiasi terhadap hasil 
kerja bawahan juga dapat memotivasi produktivitas 
dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk 
lebih sukses lagi.
4. Berikan ruang untuk kesalahan. 
Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi 
pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan 
yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan 
dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus bekerja, 
tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.
5. Delegasikan tugas tanpa banyak turut campur. 
Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu 
mempercayakan tugas secara penuh kepada 
bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi kendala 
pekerjaannya sendiri. Namun, di sisi lain pastikan 
seorang pemimpin selalu ada untuk membantu saat 
mereka membutuhkan.
6. Lebih baik bertanya daripada memberi nasihat 
Seringkali bawahan tahu lebih banyak daripada 
pemimpin. Tanyakan pendapat mereka tentang 
masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di kantor. 
Dengan demikian, seorang pemimpin membantu 
mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar terbaik dari masalah ini . Hindari memberi nasihat, karena 
akan terkesan menggurui. 
7. Bersikap ramah. 
Aturan mainnya sederhana. Jangan berharap orang 
lain bersikap ramah kepada pemimpin jika pemimpin 
sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang 
pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk 
bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan 
bersikap ramah, pemimpin akan selalu bisa melihat sisi 
positif dari setiap karyawan dan memotivasi mereka 
untuk bekerja lebih baik lagi.
Kepemimpinan terkait erat dengan hubungan antar 
manusia. Saat bawahan percaya bahwa pemimpin tulus 
peduli dengan mereka, mereka akan berusaha lebih baik 
dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan, dengarkan 
cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas 
kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari kualitas 
hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.
Sifat kepemimpinan harus dikembangkan sendiri 
karena sifat ini  berbeda-beda setiap orang. Kesadaran 
bahwa kita sendiri yang menentukan kadar kemampuan 
kepemimpinan kita untuk melakukan perbaikan. Tidak ada 
cara terbaik agar menjadi pemimpin. Wirausahawan adalah 
individu yang telah mengembangkan gaya kepemimpinan 
mereka sendiri ,

Perilaku kepemimpinan dapat dipelajari. Oleh 
karena itu, dapat terjadi bahwa individu yang dilatih 
dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan mampu 
memimpin secara lebih efektif. Meski begitu, penelitian 
menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan yang tepat dalam satu situasi tidak selalu cocok untuk situasi yang 
lain ,
Berdasarkan teori perilaku kepemimpinan, perilaku 
spesifik membedakan pemimpin dengan yang bukan 
pemimpin. Teori perilaku adalah yang paling menyeluruh, 
dihasilkan dari penelitian yang dimulai di University of 
Ohio pada akhir dasawarsa 1940-an. Peneliti di universitas 
ini  mengidentifikasi dimensi independen perilaku 
pemimpin. Di awali dengan lebih dari beberapa dimensi, 
akhirnya mereka menyempitkan menjadi dua kategori, 
yang secara hakiki menjelaskan kebanyakan perilaku 
kepemimpinan yang digambarkan oleh bawahan. Kedua 
dimensi itu adalah struktur prakarsa dan pertimbangan 
(Robbins, 2008).
Thoha (2004) menyebut empat perilaku kepemimpinan. 
Pertama, kepemimpinan instruktif: memberitahukan 
kepada para bawahan tentang apa yang diharapkan 
dari mereka, member pedoman yang spesifik, meminta 
para bawahan untuk mengikuti peraturan dan prosedur, 
mengatur waktu, dan mengkoordinir pekerjaan mereka. 
Kedua, kepemimpiman suportif: pemimpin yang member 
perhatian kepada kebutuhan para bawahan, memperlihatkan 
perhatian terhadap kesejahteraan mereka dan menciptakan 
suasana yang bersahabat dalam unit kerja mereka. Ketiga, 
kepemimpinan partisipatif: berkonsultasi dengan para 
bawahan dan memperhitungan opini serta saran mereka. 
Keempat, kepemimpinan delegatif: menetapkan tujuan 
yang menantang, mencari perbaikan kinerja, menekankan 
keunggulan kinerja, dan mem perlihatkan kepercayaan 
bahwa para bawahan akan mencapai standar yang tinggi.
Perilaku pemimpin menyangkut dua bidang utama 
(), yakni:
1. Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran, 
merencanakan, dan mencapai sasaran.
2. Berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina 
hubungan manusiawi.
Pemimpin yang mempunyai orientasi tugas cenderung 
menunjukkan perilaku sebagai berikut (Suryana & Bayu, 
2010):
1. Merumuskan secara jelas perannya sendiri maupun 
peran staf.
2. Menetapkan tujuan-tujuan yang sukar, tetapi dapat 
dicapai dan memberitahukan kepada anak buah apa 
yang diharapkan dari mereka. 
3. Menentukan prosedur untuk mengukur kemajuan 
menuju tujuan dan untuk mengukur pencapaian tujuan 
ini , yakni tujuan yang dirumuskan secara jelas 
dan kas.
4. Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif 
dalam merencanakan, mengarahkan, membimbing, 
dan mengendalikan kegiatan yang berorientasi tujuan.
5. Berminat meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, pemimpin yang berorientasi orang 
menunjukkan pola perilaku sebagai berikut 
1. Menunjukkan perhatian atas terpeliharanya 
keharmonisan dalam organisasi dan menghilangkan 
ketegangan.
2. Menunjukkan perhatian pada orang sebagai manusia 
dan bukan sebagai alat produksi.
3. Menunjukkan pengertian dan rasa hormat atas 
kebutuhan, tujuan, keinginan, perasaan, dan ide 
bawahan.
4. Mengupayakan komunikasi timbal balik yang baik 
dengan staf.
5. Menerapkan prinsip penekanan ulang untuk 
meningkatkan prestasi karyawan.
6. Mendelegasikan kekuasaan dan tanggung jawab serta 
mendorong inisiatif.
7. Menciptakan suasana kerja sama dan gugus kerja dalam 
organisasi.

Fungsi pemimpin adalah mengarahkan, membina, 
mengatur, dan menunjukkan orang-orang yang dipimpin 
supaya mereka senang, sehaluan, terbina, serta menurut 
kehendak dan tujuan pemimpin (Suryana & Bayu, 2010). 
Kegagalan pemimpin dalam menjalankan tugasnya 
menunjukkan kegagalan pemimpin sendiri. Begitu juga 
sebaliknya, keberhasilan seorang pemimpin menunjukkan 
kesuksesan pemimpin itu sendiri.
Pemimpin pada dasarnya adalah seorang manajer. 
Maka, ia pun harus paham dengan fungsi-fungsi 
manajemen secara umum. Dalam institusi bisnis/usaha, 
fungsi pemimpin adalah sebagai berikut 
1. Koordinasi, yakni pemimpin harus mampu menjalin 
koordinasi yang baik antar kegiatan dan organisasi.
2. Pengarahan, yakni harus mampu memberikan 
pengarahan yang benar supaya tidak terjadi 
penyimpangan dan keterlambatan terhadap strategi 
dan kebijakan organisasi yang telah ditetapkan.
3. Komunikasi, yaitu seorang pemimpin yang harus 
mampu berkomunikasi, baik kepada atasan maupun 
bawahan.
4. Konsultasi, yaitu seorang pemimpin harus mampu 
mengambangkan sikap konsultatif ke atas dan ke 
bawah serta memupuk keterbukaan.
5. Pelayanan, yakni harus rendah hati dan mampu member 
pelayanan yang baik dan memuaskan.

Untuk dapat menjalankan fungsi kepemimpinan 
dengan baik, maka seorang pemipin harus memiliki sifat 
kreatif, inovatif, dan komunikatif, yakni kemampuan 
untuk mentransfer dan menerapkan gagasan serta praktik 
pembauran yang berdaya guna dan berhasil guna bagi 
kepentingan lembaga dan orang banyak. Faktor yang 
memengaruhi fungsi kepemimpinan seorang pemimpin 
adalah karakter kepribadian, kelompok yang dipimpin, 
dan situasi 
Prinsip umum kepemimpinan yang baik adalah: 
semakin besar perhatian pada karyawan, semakin keras 
mereka bekerja. Dengan demikian, fungsi kepemimpinan 
sesuai dengan pemimpinnya. Jika mementingkan 
karyawan, peluang sukses lebih besar. Jika pemimpin 
bersifat manusiawi dalam hubungan dengan karyawan, 
dipastikan bakal membawa efisiensi dan laba yang lebih 
besar. Karakter yang harus dimiliki wirausaha, seperti 
dikutip , pada jiwa wirausaha 
yaitu:
1. Berani bertindak.
2. Membangun tim yang baik.
3. Menjadi pendengar yang baik.
4. Berani mengambil risiko.
5. Having mentor.
6. Pikiran yang terbuka.
7. Membangun kepercayaan.
F. Kunci Sukses Pemimpin
Fakta telah menunjukkan bahwa hanya orang-orang 
kreatif dan inovatif yang bisa bertahan dalam persaingan 
bisnis, terutama di tengah-tengah krisis multidimensional 
dan persaingan hebat. Pribadi yang kreatif dan inovatif 
ditandai dengan tingginya kepercayaan diri, jauh dari rasa
takut, dan selalu siap mengantisipasi segala tantangan 
dalam bisnis, bahkan dalam keadaan yang tak terduga 
sekalipun. Selain itu, ketika tak mampu menyelesaikan 
suatu masalah dengan strategi tertentu, ia dapat dengan 
cerdik menyelesaikan masalah dengan daya pikir dan 
kreasi baru. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas dan 
inovasi sangat vital dalam bisnis (Alifuddin, 2012).
Bagaimana kreativitas dan inovasi dapat dikembang￾kan? Paling tidak ada empat langkah yang perlu dilakukan 
dengan baik. Pertama, selalu berpikir inovatif. Dalam 
kerangka itu, sebuah usaha perlu ditetapkan tahap￾tahap kesuksesan dalam marketing plan-nya – yang kerap 
disebut dengan rencana pengembangan usaha, baik dari 
aspek posisi, pembagian penghasilan, maupun pemberian 
fasilitas. Jika berhasil meraih kesuksesan, itu adalah buah 
dari berpikir inovatif. Karena itu, untuk mendapatkan hasil 
kerja yang memuaskan, perlu menempuh berbagai cara 
yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Kedua, berani introspeksi diri. Kita perlu menyediakan 
waktu menilai kejadian dan aktivitas masa lalu agar 
semakin memahami bagaimana strategi meraih kesuksesan 
sekaligus menghindari kegagalan. Caranya adalah 
melakukan evaluasi diri, lalu membandingkan dengan 
kenyataan dan target yang disusun dari awal. Seandainya 
realisasi masih jauh dari target, sebaiknya kita memikirkan 
cara dan strategi baru untuk meningkatkan produktivitas. 
Selain pekerjaan yang sedang berjalan, sebaiknya juga 
dilakukan evaluasi melalui pertemuan secara berkala dan 
intensif antara karyawan dan pimpinan. Dalam pertemuan 
itu, setiap bagian membahas berbagai masalah dan 
solusinya. Tujuannya, agar mereka punya kemampuan 
berpikir dan berdiskusi untuk menentukan ide baru yang 
dapat dikembangkan.Ketiga, berani mencoba. Untuk menumbuhkan sikap 
kreatif dan inovatif, kepada para karyawan perlu ditekankan 
untuk mencoba hal-hal baru, baik dalam penjualan mau￾pun sponsorship. Meskipun semua itu membutuhkan 
pengorbanan, baik dalam aspek biaya maupun perlunya 
ketabahan ketika menghadapi

Related Posts:

  • wirausaha 2 bekerja tanpa lelah, menjadikan usaha sebagai sahabat sejati, dan loyal terhadap usaha yang dijalankan.6. Dev… Read More