Home »
wirausaha 2
» wirausaha 2
wirausaha 2
sahabat sejati, dan loyal terhadap usaha yang dijalankan.
6. Devotion
Seorang wirausahawan sangat mencintai pekerjaannya.
Mereka tidak pernah lelah untuk menjalaninnya karena
menjalaninya dengan senang hati. Mereka sangat
mencintai produk atau jasa yang dihasilkan, karena
dapat dijual dengan efektif.
7. Details
Wirausahawan harus dapat memperhatikan halhal kecil. Mereka tidak akan membiarkan hal sepele
menyebabkan pasar tidak percaya lagi terhadap
bisnisnya, yang dapat menyebabkan usaha gulung tikar.
8. Destiny
Wirausahawan bertanggung jawab terhadap tujuan
usahanya, bebas dan tidak bergantung pada orang lain.
9. Dollars
Dollars yang dimaksud disini adalah uang. Dalam
suatu wirausaha uang dijadikan sebagai pengukur
kesuksesan bisnis, karena tujuan wirausaha adalah
keuntungan.
10. Distribute
Wirausahawan memperhatikan setiap karakteristik
orang-orang di sekitarnya, yang pada akhirnya dapat
menyalurkan kepemilikkan bisnis kepada orang yang
dipercaya (orang yang berdedikasi).
Karakteristik setidaknya menjadi penyaring alami
seorang wirausahawan. Tanpa karakteristik yang khas,
hanya akan membuat wirausaha sebagai ajang coba-coba.
Banyak yang ingin menjalankannya, namun karena tidak
memiliki karakter, akhirnya harus berhenti di tengah jalan.
Tanpa karakter kuat, wirausaha tidak akan berjalan.
Apalagi, jika ketakutan, baik takut rugi, takut gagal, atau
takut yang lainnya, selalu menggelayuti. Hendro (2011)
mengungkap enam karakteristik wirausaha berdasarkan
kekuatan emosi, yaitu:
1. Pandai mengelola ketakutannya
Seorang yang smart and good entrepreneur pandai
mengelola ketakutannya untuk membangkitkan
keberanian dan kepercayaan diri dalam menghadapi
risiko. Dengan kata lain, seorang wirausaha haruslah
berjiwa risk manager, bukan risk taker.
2. Mempunyai ‘iris mata’ yang berbeda dengan yang lain
Iris mata adalah cara seseorang memandang sesuatu
(masalah, kesulitan, perubahan,diri sendiri, lingkungan,tren, kejadian) untuk memunculkan kreativitas
agar tercipta ide, gagasan, konsep, lalu mencoba
meningkatkan nilai (add value). Dengan demikian,
seseorang yang mempunyai jiwa entrepreneur yang kuat
memiliki pola pandang yang berbeda dengan orang
lain.
3. Pemasar sejati atau penjual ulung
Tanpa keterampilan ini, seorang wirausaha akan
memulai dengan lebih berat dan membutuhkan lebih
banyak waktu. Keterampilan ini akan mempermudah
seorang wirausahawan dalam membangun bisnis,
mempercepat pertumbuhan bisnis, dan mengurangi
ketergantungan modal yang besar.
4. Melawan arus dan menyukai tantangan baru
Seorang smart and good entrepreneur cenderung tida suka
mengikuti arus atau terperangkap di dalam kehidupan
yang monoton. Wirausahawan selalu tidak bisa diam,
berpikir, dan terus berpikir, karena pada hakikatnya,
mereka adalah creative and smart worker.
5. High determination (keteguhan hati)
Perbedaan entrepreneur sejati dengan yang biasa saja
adalah dalam hal durability, firm, dan determination.
Keteguhan hati ini membuat wirausahawan sejati
akan berbeda dalam memandang kegagalan. Kegagalan
adalah persepsi orang yang merasa buntu dan tidak
tahu apa yang harus ia lakukan dan tidak ingin mencari
jalan keluar.
6. Selalu mencari yang terbaik (perfeksionis)
Seorang smart and good entrepreneur mampu memberikan
apa yang lebih baik lagi bagi pelanggan. Namun,
yang harus diingat adalah, perfeksionis bagai pisau
bermata dua. Bila mampu mencapai yang terbaik dan
memberikannya yang terbaik, tidak menjadi masalah. Akan jadi bumerang bila tidak mampu menanggung
kesempurnaan diri dan pikiran sehingga berakibat
fatal, misalnya frustrasi dan putus asa. Adalah tugas
seorang entrepreneur untuk mengubah hal ini
menjadi kekuatan.
Imam Sukardi (dalam Suryana dan Bayu, 2010)
mengidentifikasi sembilan karakteristik wirausahawan
yang paling sering ditemukan, di antaranya:
1. Sifat instrumental
Seorang wirausahawan dalam berbagai situasi selalu
memanfaatkan segala sesuatu dalam lingkungannya
demi tercapainya tujuan pribadi dalam berusaha.
2. Sifat prestatif
Dalam berbagai situasi selalu tampil lebih baik, lebih
efektif dibandingkan dengan hasil yang tercapai
sebelumnya.
3. Sifat keluwesan bergaul
Selalu berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dalam
berbagai situasi hubungan antar manusia, aktif bergaul,
membina kenalan-kenalannya dan mencari kenalan
baru, serta berusaha untuk dapat terlibat dengan
mereka yang ditemui dalam kegiatan sehari-hari.
4. Sifat kerja keras
Selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah
menyerah sebelum pekerjaan selesai. Mengutamakan
kerja dan mengisi waktu dengan perbuatan nyata untuk
mencapai tujuan.
5. Sifat keyakinan diri
Selalu percaya pada kemampuan diri, tidak ragu-ragu
dalam bertindak, bahkan berkecenderungan untuk
melibatkan diri secara langsung dalam berbagai situasi
dengan optimisme untuk berhasil.6. Sifat pengambil risiko
Selalu memperhitungkan keberhasilan dan kegagalan
dalam setiap kegiatannya khususnya untuk mencapai
keinginannya. Akan melangkah bila kemungkinan
untuk gagal tidak terlalu besar.
7. Sifat swa kendali
Dalam menghadapi berbagai situasi selalu mengacu
pada kekuatan dan kelemahan pribadi dan batas-batas
kemampuan dalam berusaha. Selalu menyadari dengan
adanya pengendalian diri ini maka setiap kegiatannya
menjadi lebih terarah dalam mencapai tujuannya.
8. Sifat inovatif
Selalu mendekati berbagai masalah dengan berusaha
menggunakan cara-cara baru yang lebih bermanfaat.
Terbuka terhadap gagasan, pandangan, dan penemuan
baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
kinerjanya. Tidak terpaku pada masa lalu, tapi selalu
berpandangan ke depan untuk mencari cara-cara baru
atau memperbaiki cara-cara yang biasa dilakukan
orang lain untuk peningkatan kinerja. Cenderung
melakukan sesuatu dengan cara yang khas, unik dari
hasil pemikirannya. Termasuk dalam sifat inovatif ini
adalah kecenderungan untuk selalu meniru tetapi
melalui penyempurnaan tertentu (imitatif inovatif).
9. Sifat kemandirian
Selalu mengembalikan perbuatannya sebagai tanggung
jawab pribadi. Keberhasilan dan kegagalan merupakan
konsekuensi pribadi wirausaha. Mementingkan
otonomi dalam bertindak, pengambilan keputusan dan
pemilihan berbagai kegiatan dalam mencapat tujuan.
Lebih senang bekerja sendiri, menentukan dan memilih
cara kerja yang sesuai dengan dirinya. Ketergantungan
pada orang lain merupakan suatu yang bertentangan dengan kata hatinya. Seorang wirausahawan dapat saja
bekerja dalam kelompok selama mendapat kebebasan
bertindak dan dalam mengambil keputusan.
Karakter-karakter ini memang wajib dimiliki oleh
seorang calon wirausahawan. Tanpa karakter, bisnis yang
digeluti hanya akan berjalan biasa-biasa saja, minim warna
dan aroma, sulit berkembang, dan besar kemungkinan
mengalami kemunduran. Padahal, dalam iklim kompetisi
seperti saat ini, hanya sang pemenanglah yang mampu
bertahan.
Hendro (2011) menemukan 12 ciri yang biasanya
dimiliki oleh seorang wirausahawan yang telah sukses,
antara lain:
1. Mempunyai mimpi-mimpi yang realistis dan tinggi,
yang mampu diubah menjadi cita-cita yang harus
ia capai. Hidupnya harus berubah karena kekuatan
emosionalnya, sehingga mimpi itu bisa terwujud
(power of dream).
2. Mempunyai empat karakter dasar kekuatan emosional
yang saling mendukung untuk sukses, determinasi,
persistent, keberanian, perjuangan, dan resiko
kepemimpinan.
3. Menyukai tantangan dan tidak pernah puas dengan
apa yang didapat (High achiever).
4. Mempunyai ambisi dan motivasi yang kuat (motivator).
5. Memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuannya
bahwa “dia bisa” (power of mind).
6. Seorang yang visioner dan mempunyai daya kreativitas
yang tinggi.
7. Risiko kepemimpinan, tidak hanya pengambil risiko.
8. Memiliki strong emotional attachment (kekuatan
emosional).
9. Seorang problem solver.10. Mampu menjual dan memasarkan produknya (seller).
11. Mudah bosan dan terkesan bagi orang lain sulit diatur.
12. Seorang kreator ulung
Selama ini, hal yang paling menghantui para calon
wirausahwan adalah perasaan gagal. Padahal, dengan
kegagalan ini , calon wirausahawan sebenarnya
sedang ditempa, apakah akan terus menggeluti bisnisnya
atau putar haluan. Mereka yang berani keluar dari rasa
takut akan kegagalan itulah yang telah menerapkan prinsip
wirausaha dengan baik.
Di samping itu, seorang wirausahawan juga harus
berpikir optimis atas peluang dan usaha yang dilakukan.
Dengan demikian, semangat dan kemauan keras serta
ketekunan akan menciptakan usaha yang maju dan terus
berkembang.
Kasmir (2011) menekankan beberapa prinsip yang
harus menjadi pegangan wirausahawan, di antaranya:
1. Berani memulai.
2. Berani menanggung risiko.
3. Penuh perhitungan.
4. Memiliki rencana yang jelas.
5. Tidak cepat puas dan putus asa.
6. Optimis dan penuh keyakinan.
7. Memiliki tanggung jawab.
8. Memiliki etika dan moral.
Seperti halnya Kasmir, Saiman (2009) menempatkan
keberanian untuk gagal sebagai prinsip utama wirausaha.
Berani di sini artinya tidak berpikir dua kali untuk
memulai usaha, pantang menyerah, dan tidak takut gagal.
Selengkapnya prinsip wirausaha menurut Saiman adalah
sebagai berikut:
1. Jangan takut gagal.
Banyak yang berpendapat bahwa untuk berwirausaha
dianalogkan dengan impian seseorang untuk dapat
berenang. Walaupun teori mengenai berbagai gaya
berenang sudah bertumpuk, sudah dikuasai dengan
baik dan literaturnya lengkap, tidak ada gunanya kalau
tidak di ikuti menyebur ke dalam air. Demikian halnya
untuk berusaha, tidak ada gunanaya berteori kalau
tidak terjun langsung, sehingga mengalami, jangan
takut gagal sebab kegagalan adalah kesuksesan yang
tertunda.
2. Penuh semangat.
Hal yang menjadi penghargaan terbesar bagi pembisnis
atau perwirausahaan bukanlah tujuannya melainkan
lebih kepada proses dan perjalanannya. Itulah mengapa
seorang wirausahawan membutuhkan semangat.
3. Kreatif dan Inovatif.
Kreativitas dan inovasi adalah modal bagi seorang
pengusaha. Seorang wirausaha tidak boleh berhenti
dalam berkreativitas dan berinovasi dalam segala hal.
4. Penuh perhitungan dalam mengambil risiko.
Risiko selalu ada dimanapun kita berada. Seringkali kita
menghindari risiko yang satu, tetapi menemui bentuk
risiko lainnya. Namun yang harus diperhitungkan
adalah perhitungkan dengan baik-baik sebelum
memutuskan sesuatu, terutama yang tingkat risikonya
tinggi.
5. Sabar, ulet dan tekun.
Prinsip lain yang tidak kalah penting dalam berusaha
adalah kesabaran dan ketekunan. Sabar dan tekun
meskipun harus menghadapi berbagai masalaha,
percobaan, dan kendala bahkan diremehkan oleh orang
lain.6. Optimis.
Adalah modal usaha yang cukup penting bagi
usahawan, sebab kata optimis nerupakan sebuah
prinsip yang dapat memotivasi kesadaran kita sehingga
apapun usaha yang kita lakukan harus penuh optimis
bahwa usaha yang kita laksanakan akan sukses.
7. Ambisius.
Seorang wirausahawan harus berambisi, apapun jenis
usaha yang akan dijalankannya.
8. Pantang menyerah
Prinsip pantang menyerah adalah bagian yang harus
dilakukan kapanpun waktunya.
9. Jeli membaca peluang pasar.
Peka terhadap pasar atau dapat baca peluang pasar
adalah prinsip mutlak yang harus dilakukan oleh
wirausahawan, baik pasar ditingkat lokal, regional,
maupun internasional. Peluang pasar sekecil apapun
harus diidentifikasi dengan baik, sehingga dapat
mengambil peluang pasar ini dengan baik.
10. Berbisnis dengan standar etika.
Setiap pebisnis harus senantiasa memegang secara baik
tentang standar etika yang berlaku secara universal.
11. Mandiri.
Kemandirian harus menjadi panduan dalam
berwirausaha. Mandiri dalam banyak hal adalah kunci
penting agar kita dapat menghindarkan ketergantungan
dari pihak atau para pemangku kepentingan atas usaha
kita.
12. Jujur.
Kejujuran adalah mata uang yang akan laku di manamana. Jadi, jujur kepada pemasok dan pelanggan atau
kepada seluh pemangku kepentingan perusahaan
adalah prinsip dasar yang harus dinomorsatukan dalam
berusaha.13. Peduli lingkungan.
Seorang pengusaha harus memiliki kepedulian
terhadap lingkungan sehingga harus turut serta
menjaga kelestarian lingkungan tempat usahanya.
14. Membangun relasi
Mengembangkan jejaring usaha perlu untuk
meningkatkan pembelajaran dan pengetahuan akan
kewirausahawan kita. Semakin banyaknya relasi akan
menciptakan peluang dalam mengembangkan dan
mencapai usaha yang baik. Usaha yang baik dan maju
bukan berarti rasa puas dan rasa nyaman yang telah
kita dapatkan, karena dengan rasa puas dan nyaman
ini justru menurunkan semangat usaha.
Ketika Julius Caesar berhasil memperluas kekuasaan
Roma hingga ke Samudra Atlantik, menguasai Inggris,
Perancis, sekaligus menjadi penguasa terhebat Romawi,
semua itu tidak dilakukan dengan tiba-tiba. Caesar selalu
merencanakannya dengan matang. Setiap detil terencana
dengan sempurna, tanpa ada yang terlewat.
Begitu juga dengan wirausaha. Analogi perencanaan
model Caesar bisa kita gunakan. Jika bisnis yang kita
jalankan ingin terus berkembang, membutuhkan
perencanaan yang matang. Dalam wirausaha, perencanaan
adalah kata kunci. Tanpa perencanaan, wirausaha akan
berjalan datar, tidak memberi hasil optimal.
Perencanaan awal wirausaha adalah mengenali
makna wirausaha itu sendiri. Hendro (2011) menyebut
pada tahap ini, orang mulai mengetahui arti dan manfaat
kewirausahaan. Di tahap ini, seorang calaon wirausaha
biasanya mulai1. Bersentuhan dengan kewirausahaan untuk mengetahui
tujuan, maksud, dan manfaatnya bagi individu,
lingkungan, dan negara.
2. Berorientasi pada pola pikir orang yang sukses dalam
bisnis.
3. Belajar lebih dalam tentang kewirausahaan.
4. Menyadari bahwa ada alternatif setelah lulus selain
mencari kerja, yakni menciptakan lapangan kerja.
5. Mempersiapkan karir hidup.
6. Mengerti bahwa menjadi wirausahawan sukses
bukanlan milik sekelompok orang saja.
Setelah mengenali makna wirausaha, tahap selanjutnya
adalah tertarik dengan wirausaha. Hal ini ditandai dengan
pamahaman bahwa setiap orang punya jiwa kewirausahaan,
hanya saja belum diberdayakan dan dikembangkan.
Tahapan berikutnya adalah mempersiapkan diri
dan merencanakan bisnis. Tahap persiapan adalah fase
yang akan menjadikan calon wirausahawan menemukan
inspirasi bisnis secara teori, konsep, serta cara menemukan
peluang. Di tahapan ini, mempersiapkan bisnis mencakup
empat fase, yaitu:
1. Tahap mengenal diri untuk menemukan asal peluang
bisnis.
2. Mempelajari peluang bisnis dengan berpikir kreatif.
3. Menganalisis dan memanfaatkan inspirasi bisnis.
4. Mengubah dan memanfaatkan peluang menjadi bisnis.
Kasmir (2011) mengungkapkan, terdapat beragam cara
dan sebab orang untuk memulai atau merintis usaha. Di
antaranya:
1. Faktor keluarga pengusaha.
2. Sengaja terjun menjadi wirausaha.
3. Kerja sampingan.
4. Coba-coba.
5. Terpaksa.
Di antara kelima faktor ini , sengaja terjun menjadi
wirausaha adalah faktor utama yang menghasilkan
wirausahawan andal. Sebab, mereka belajar dari kesuksesan
orang lain, mengukuti contoh pengusaha berhasil.
Lebih lanjut menurut Hendro (2011), tahap berikutnya
adalah merencanakan kerangka bisnis, yakni dengan
menjalankan:
1. Perencanaan bisnis.
2. Konsep dan aspek manajemen bisnis.
3. Hal-hal yang berisi tentang pengetahuan lain yang akan
dirangkai oleh kewirausahaan sebagai benang merah
pengikat ilmu ini .
Setelah persiapan bisnis matang dan menemukan
peluang emas, segera rencanakan konsep bisnis dengan
mengikuti tahapan:
1. Menentukan visi dan misi bisnis.
2. Menentukan model bisnis, apakah secara individu,
rekanan, atau jenis lain.
3. Membuat rencana bisnis (business plan).
4. Mulai mempelajari aspek-aspek pengetahuan penting
dalam bisnis, yakni keuangan, HRD, produksi,
persediaan, pemasaran.
5. Memulai dan menentukan kapan bisnis mulai
dijalankan.
Pada intinya, semakin matang perencanaan bisnis,
maka semakin besar pula peluang sukses bisnis ini
pada masa datang. Banyak calon wirausaha yang mengeluh, kalau tidak
punya modal, mau usaha apa. Keluhan seperti ini wajarwajar saja. Apalagi masalah permodalan merupakan
penghambat terbesar mandeknya program kewirausahaan
di Indonesia.
Ada dua pengertian umum tentang modal, yakni yang
terkait kapital (uang), dan tenaga (keahlian). Modal dalam
bentuk uang diperlukan untuk membiayai segala keperluan
usaha, mulai dari biaya pra-investasi, pengurusan izin,
investasi untuk pembelian aktiva tetap, sampai modal kerja
(Kasmir, 2011).
Seorang wirausahan harus cerdik dalam mencari dan
mengatasi masalah permodalan. Menurut Kasmir (2011),
dari sisi asal (sumber), terdapat dua jenis permodalan, yaitu:
modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri diperoleh
dari pemilik perusahaan dengan cara mengeluarkan saham.
Kerugian menggunakan modal sendiri adalah jumlahnya
sangat terbatas dan sulit untuk memperolehnya. Berikutnya
adalah modal asing atau modal pinjaman. Modal jenis
ini diperoleh dari pihak luar perusahaan dan biasanya
bersumber pinjaman. Menggunakan modal pinjaman
untuk bisnis akan menimbulkan beban biaya bunga, biaya
administrasi, provisi, dan komisi yang besarnya relatif.
Penggunaan modal pinjaman mewajibkan pengembalian
setelah jangka waktu tertentu.
Bagi para wirausahawan pemula, modal adalah
masalah serius. Sebab, jika menggunakan modal sendiri,
tentu saja belum mencukupi. Kalaupun harus meminjam,
ada berbagai syarat yang harus dipenuhi, misalnya
penggunaan agunan (jaminan), dan lainnya. Padahal,
usaha yang sedang dirintis ini baru berjalan dan
belum memberi keuntungan.
Mengatasi masalah permodalan ini, wirausahawan
harus cerdik. Sumber modal bisa diekplorasi dari mana
saja. Bahkan, bisa memanfaatkan relasi, kalau memang
kenal dengan baik dan mau memberi penjaman.
Meski penting, namun sesungguhnya modal bukanlah
segala-galanya. Sebab, banyak juga pengusaha yang
bermodal ‘dengkul’ bisa sukses. Ir. Ciputra adalah salah
satu pengusaha yang sejak awal karirnya mengaku
bermodal ‘dengkul’.
Selain itu, modal besar bukanlah jaminan bahwa
usaha akan sukses. Dengan demikian, modal besar
bukanlah harga mati. Alifuddin (2012) menyebut bahwa
banyak wirausaha yang kini menjadi pengusaha besar
sebelumnya adalah pengusaha kecil dengan modal kecil
pula. Karena perjuangannya yang tidak mengenal lelah,
akhirnya mereka meraih kesuksesan. Sebagai pengusaha,
kita bisa jadikan contoh visi luar biasa Bill Gates, perintis
perusahaan komputer perangkat lunak terbesar di dunia,
Microsoft Corporation. Bill Gates adalah sosok pengusaha
sukses pada akhir abad ke-20 dalam golongan bisnis.
Keberhasilan Bill Gates adalah karena dia memiliki
visi, motivasi dan komitmen yang jelas untuk merebut
kesuksesan. Jelasnya, keberhasilan Bill Gates bukan sematamata hanya karena mengandalkan materi atau uang, tetapi
karena komitmen dan visinya yang luar biasa sehingga dia
dikenal sebagai pengusaha yang sangat sukses.
Fred Smith, pendiri dan CEO Federal Express Corporation, menyatakan bahwa agar kita bisa menjadi wirausaha
yang sukses, mestinya kita memiliki kemampuan membaca
sesuatu yang tidak bisa dibaca orang lain. Ataukah kita
mampu melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang
dilakukan orang lain.
Banyak orang yang berani berbisnis dengan
mengandalkan modal besar, tapi sedikit sekali yang
bertahan sampai puncak tujuan. Biasanya, banyak
pengusaha besar yang tiba-tiba jatuh atau bangkrut dan
sulit bangkit kembali.
Kita sering menemukan seorang wirausaha mendirikan
sebuah perusahaan dengan modal seadanya, tapi karena
dikelola dengan semangat yang menggebu-gebu akhirnya
menjadi perusahaan besar. Celakanya, setelah pendirinya
meninggal dunia, kemudian dikelola ahli warisnya,
perlahan-lahan ternyata perusahaan warisan itu jatuh dan
tak bisa dipertahankan lagi. Penyebabnya, antara lain,
karena ahli waris penerus perusahaan itu tidak memiliki
strategi dan pengalaman bisnis. Mengelola bisnis itu seperti
mengelola seni dan yang mengetahui bagaimana seni
memimpin perusahaan adalah pendiri atau pemiliknya.
Oleh karena itu, sangat sedikit orang lain yang dapat
mengetahui persis taktik dan cara yang dipergunakan oleh
pendiri perusahaan itu.
Namun, kita tidak perlu takut karena kita harus
berusaha keras. Jika kita gagal mempertahankan bisnis
yang kita kelola, sebaiknya kita tidak perlu putus asa. Asal
kita mau bangkit, lalu membenahi perusahaan, lambat laun
akan ada perbaikan. Selain membutuhkan pengalaman
yang prosesnya cukup panjang, pengalaman juga bisa
menjadi barang yang sangat berharga untuk dipergunakan
sebagai bekal merintis usaha baru.
Kita perlu membedakan antara kegagalan dan
kesuksesan. Boleh jadi, kita bisa kehilangan uang banyak,
tapi pengalaman adalah bekal yang cukup berharga untuk
mendidik diri sendiri. Agar kita tidak jatuh bangkrut,
sebaiknya kita memiliki tabungan pribadi agar kita dapat
memanfaatkannya sebagai bekal untuk berbisnis lagi.
Kita jangan kehilangan kesempatan memulai kembali
usaha. Kalau perlu kita mencoba berbagai bisnis dengan
memulai dari yang kecil-kecil, sampai membuahkan hasil.
Berapapun jenis bisnis yang kita pilih sebaiknya sesuai
dengan hobi atau kegemaran kita.
Bisnis yang ditekuni dengan latar hobi tentu akan
menyenangkan. Kita akan menjalankannya dengan suka
cita, tekun, penuh dedikasi, sehingga meraih kesuksesan.
Kunci sukses dalam bisnis adalah kesenangan. Kita
tidak akan pernah sukses dalam pekerjaan jika kita tidak
menyukai pekerjaan itu.
Mustahil pemain musik yang sukses adalah orang
yang benci musik. Sama halnya seorang pembalap
mobil takut jatuh dan seorang ahli bedah takut darah.
Mestinya kita memilih bisnis yang tepat dengan diri kita,
agar bisnis yang kita tekuni bisa bertahan lama. Modal
awal berbisnis adalah menumbuhkan rasa percaya diri.
Apabila seseorang menjalankan bisnisnya tetapi tidak
sesuai dengan kegemarannya, itu berarti menggeluti bisnis
dengan perasaan kurang percaya diri. Dengan begitu, ia
bisa saja membenci orang-orang yang harus berhubungan
dengannya. Akibatnya, semangat hidupnya meredup,
bahkan hilang.
Jadi, sebagai wirausaha sebaiknya kita memiliki visi
dan misi yang jauh ke depan. Selain itu, kita sebaiknya
juga memanfaatkan intuisi, bahkan kalau perlu membuat
terobosan dan perubahan spektakuler agar kita bisa maju
dan berkembang. Hanya dengan cara seperti itu, kita akan
mampu melihat masa depan dengan lebih baik. Karena
itu, sebagai wirausaha sebaiknya kita selalu optimis bahwa
masa yang akan datang adalah milik kita. Maka dari itu,
sekaranglah saatnya kita merebutnya. Bukan sebaliknya,
kita hanya berpangku tangan
Dunia bisnis, apapun jenis usahanya, perlu keterbukaan.
Mengapa? Karena kita ingin menciptakan unit bisnis yang
memberikan peluang kepada setiap orang untuk ikut
berjuang mencari uang. Pengaruh keterbukaan bukan
terhadap pelayanan semata, tetapi juga turut menentukan
jalannya perusahaan, yang kemudian berimplikasi kepada
pemilik dan semua karyawan. Dengan keterbukaan, semua
ikut berpikir dan bertindak seperti pemilik, bukan sekedar
sebagai orang yang digaji. Itulah model usaha yang
mungkin dapat diterapkan saat ini, ketika perekonomian
Indonesia tidak mengalami perbaikan yang signifikan dan
dihadapkan pada persaingan global yang sangat masif.
Dalam manajemen terbuka, secara ekonomi hari
depan seseorang ditentukan oleh keadaan usaha. Gaji yang
diperoleh karyawan tergantung pada sehat tidaknya usaha
yang dijalankan. Jadi sebenarnya jika hanya beberapa orang
saja yang tahu pasang surut nasib perusahaan, karyawan
hanya dianggap ”poin” yang kurang beruntung. Meski
mendapat gaji rutin dan cukup, mereka tidak mempunyai
hak mengendalikan sendiri nasibnya.
Lain halnya dengan sebuah perusahaan yang
menerapkan manajemen terbuka, karyawan benar-benar
menjadi pemain yang ikut menentukan perkembangan
perusahaan, setidaknya yang terkait dengan tanggung
jawab mereka. Suatu saat saya mencoba menikmati betapa
lezatnya sajian masakan Padang di rumah makan Sari
Bundo di Jakarta. Dengan ramah dan simpatik pelayanannya mengundang pengunjung tidak henti-hentinya
berdatangan mulai dari mahasiswa, wartawan, pengusaha,
pejabat, bahkan artis dan para menteri. Meskipun harganya
relatif mahal — dibandingkan dengan rumah makan Sop
Saudara atau coto Makasar di Casablanca Jakarta Selatan,
namun rumah makan Padang ini merupakan rumah
makan terlaris di Jakarta. Keberhasilannya antara lain
karena rata-rata karyawan yang dipekerjakan masih relatif
muda, dan dalam kondisi kemudaan itu mereka proaktif,
bahkan menggebu-gebu. Selain itu, loyalitas mereka sangat
tinggi dengan sistem manajemen bagi hasil, kekeluargaan,
transparan dan terbuka.
Bisnis adalah sesuatu yang menyenangkan. Bisnis
merupakan permainan yang segar dan menumbuhkan rasa
percaya. Ada hadiahnya pula. Pemenangnya mendapat
sejumlah uang, sedang yang kalah bangkrut.
Karyawan biasanya memikirkan jabatan atau gaji.
Tapi, dalam manajemen terbuka, yang dipikirkan adalah
aspek bisnisnya. Sebab, manajemen terbuka mengundang
semua karyawan atau sebagian besar dari mereka ikut tahu
tentang pembukuan, kalkulasi keluar masuk atau cash flow
uang. Itu membuat pekerjaan menjadi terkait satu sama lain,
sehingga tumbuh semangat saling mengingatkan, bekerja
sama lebih erat, dan sama sekali tidak saling meninggalkan
atau menghindari tanggung jawab.
Persaingan manajemen perusahaan yang terbuka
sebenarnya merupakan usaha untuk memenangi
persaingan yang semakin tajam di pasar ekonomi. Kita
semua mengetahui bahwa dunia bisnis bergerak sangat
cepat, sementara perusahaan yang masih mengandalkan
manajemen tertutup atau manajemen klasik akan
mati perlahan-lahan. Apalagi sejak akhir abad ke-20
memang terjadi persaingan luar biasa. Ada beberapa
penyebabnya. Pertama, globalisasi, ketika dunia semakin
sempit. Hubungan antarnegara semakin dekat dan saling
memengaruhi. Bukan hanya Amerika Serikat dan Eropa
yang menjadi tantangan ekonomi dan pesaing, tapi juga
Taiwan, Korea, Thailand, hingga negara-negara Amerika
Selatan.Kedua, revolusi informasi. Dengan revolusi ini relasi
antarmanusia di seluruh dunia menjadi makin cepat. Apa
yang dihasilkan di negara-negara Eropa dan Amerika
dalam waktu sekejap dapat diketahui di negara-negara
lain di kawasan Asia. Karena itu, informasi telah menjadi
industri yang sekaligus mempercepat jalannya informasi
itu sendiri.
Ketiga, saling memengaruhi. Salah satu akibat dari
globalisasi dan revolusi informasi adalah adanya spirit
pengaruh, meniru atau menerjemahkan apa yang sudah
dihasilkan suatu bangsa/negara. Mengapa demikian?
Pertama, setelah mendengar dan melihat suatu produk,
seseorang akan berpikir, mengapa tidak berpikir dan
berbuat begitu. Hal itu mendorong orang berusaha
membuat produk serupa, meniru, atau menjiplak produk
orang lain dengan harga yang relatif lebih murah dan lebih
baik.
Kedua, akan tumbuh suatu keyakinan bahwa orang
lain dapat mengerjakan apa yang sudah dikerjakan orang
lain. Itu mendorong perusahaan lebih keras mencoba
dengan segala cara. Ada usaha untuk mengerjakan dengan
cara sendiri yang khas dan lebih canggih.
Bagi yang belum mampu meniru, ada semangat
bertanya, semangat memperoleh atau mengumpulkan
lebih banyak informasi. Alhasil, perusahaan akan mampu
memproduksi sendiri apa saja yang pernah mereka lihat,
meskipun itu hasil tiruan (imitasi).
Tapi, kita harus menyadari bahwa manajemen terbuka
bukanlah obat segala permasalahan perusahaan. Manajemen
terbuka hanya menaikkan jumlah penjualan, baik kualitas
dan kuantitas. Karena itu, untuk membuat perusahaan
maju diperlukan pemikiran yang kompleks. Salah satunya
dengan membuka pembukuan agar lebih banyak yangberpikir, tidak hanya bergantung pada seorang direksi
atau manajer, dan kadang-kadang membuat karyawan
merasa memiliki perusahaan. Manajemen terbuka tidak
dapat berdiri sendiri. Langkah itu harus disertai dengan
banyak perbaikan dan cara menghadapi saran yang masuk,
cara memadukan berbagai pendapat, pelaksanaan yang
tepat, dan kontrol yang baik. Tanpa itu semua, manajemen
terbuka hanya seperti slogan yang cuma baik diucapkan,
tapi tak membuahkan hasil. Karena itu, manajemen terbuka
sifatnya filosofis, bukan metode yang dipergunakan tahap
demi tahap, langkah demi langkah.
Pada umumnya karyawan memandang manajemen
sebagai suatu kesempatan. Kesempatan untuk belajar.
Cobalah cari bekal sebanyak-banyaknya, siapa tahu
perusahaan Anda beruntung dengan menerapkan
manajemen terbuka.
Dr. Spencer Johnson, penulis dan pembicara yang memiliki reputasi internasional. Karena kepopulerannya, ia
dikenal dan akrab di kalangan pakar dan praktisi manajemen
di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Spencer, misalnya,
terkenal karena bukunya, The One Minute Manager, yang
ditulis bersama konsultan manajemen legendaris Kenneth
Blanchard. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan judul Manajer Satu Menit.
Dalam buku yang lain, Who Moved My CHESS, ia
menganalisis bagaimana karakter dan tindakan manusia
tatkala dihadapkan pada perubahan. Menurut Spencer,
dari waktu ke waktu kehidupan seseorang selalu berubah,
baik kehidupan profesional maupun personalnya. la
mengupas empat karakter berbeda yang biasa muncul
pada diri seseorang. Salah satunya adalah how, tipe belajar beradaptasi secara tepat waktu dan melihat perubahan
akan membawa pada kondisi yang lebih baik. Pesan
moral yang ingin disampaikan Spencer adalah, kita harus
mengantisipasi perubahan, cepat beradaptasi terhadap
perubahan, menikmati perubahan, dan bersiaplah berubah
dengan cepat.
Sebagai wirausaha yang baik, mestinya kita selalu
proaktif. Sikap proaktif sangat diperlukan bagi seorang
wirausaha, terutama dalam mengantisipasi perubahan yang
terus bergulir. Istilah proaktif sudah lazim dikenal dalam
pustaka manajemen. Istilah itu berarti kita bertanggung
jawab atas kehidupan kita sendiri. Sebab, perilaku kita
adalah suatu fungsi dari sebuah keputusan. Sebaliknya,
bukan keadaan pribadi, karena kita dapat menyisihkan
perasaan menjadi nilai-nilai atas prakarsa serta tanggung
jawab untuk mewujudkannya. Sebaiknya kita menengok
kembali kata-kata responsibility-responseability yang berarti
kemampuan memilih tanggung jawab.
Orang yang sangat proaktif menyadari benar
adanya tanggung jawab. Ia tidak menyalahkan keadaan
atau kondisi dan situasi terhadap perilakunya. Sebab,
perilakunya adalah produk dari kondisinya sendiri yang
terbangun dari pikiran dan perasaan. Secara alamiah, kita
bersifat proaktif.
Dengan proaktif, kita akan menjadi kreatif karena
sering terpengaruh oleh lingkungan fisik. Misalnya, kalau
cuaca sedang bersahabat, kita akan merasa nyaman.
Sebaliknya, kalau cuaca tidak menguntungkan atau buruk,
akan memengaruhi sikap dan prestasi kita. Orang yang
proaktif membawa cuaca dalam dirinya sendiri, termasuk
cuaca hujan atau cerah, tidak akan terpengaruh. Kalau ia
memproduksi karya bermutu, itu bukan akibat fungsi yang
ditentukan oleh keadaan cuaca. Jelasnya, orang kreatif dikendalikan perasaan. Karena itu, keadaan dan kondisi
lingkungan sangat menentukan.
Orang proaktif dikendalikan oleh nilai-nilai yang
dipilih dengan cermat, diseleksi dari lubuk hati. Orang
yang proaktif masih dapat dipengaruhi oleh orang lain
atau orang-orang yang berasal dari luar dirinya. Namun,
secara sadar atau tidak, tanggapannya pada rangsangan
ini merupakan pilihan yang berangkat dari sebuah
nilai. Karena itu, orang yang proaktif selalu membiasakan
diri berubah sesuai dengan tantangan hidup. Demikian
pula sebagai wirausaha yang ingin sukses, sebaiknya
tidak berhenti atau statis, melainkan terus bergerak seiring
dengan dinamika perkembangan zaman.
Kewirausahaan merupakan perilaku individu yang
memiliki semangat, kemampuan untuk memberikan
tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh
keuntungan untuk diri sendiri dan/atau pelayanan yang
lebih baik pada pelanggan/masyarakat; dengan selalu
berusaha mencari dan melayan langganan lebih banyak dan
lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk
yang lebih bermanfaat, melalui keberanian mengambil
risiko, kreatif, inovatif, dan kemampuan manajemen.
Kewirausahaan menuntut semangat pantang menyerah,
berani mengambil risiko untuk memenangkan persaingan
usaha.
Hal yang menjadi penyaring alami seorang
wirausahawan adalah karakteristiknya. Tanpa karakteristik
yang khas, hanya akan membuat wirausaha sebagai ajang
coba-coba. Banyak yang ingin menjalankannya, naman
karena tidak memiliki karakter, akhirnya harus berhenti
di tengah jalan. Tanpa karakter kuat, wirausaha tidak akan
berjalan. Apalagi, jika ketakutan, baik takut rugi, takut
gagal, dan takut yang lainnya, selalu menggelayuti.
Di samping itu, seorang wirausahawan juga harus
berpikir optimis atas peluang dan usaha yang dilakukan.
Dengan demikian, semangat dan kemauan keras serta
ketekunan akan menciptakan usaha yang maju dan terus
berkembang.
Jika bisnis yang kita jalankan ingin terus berkembang,
membutuhkan perencanaan yang matang. Dalam
wirausaha, perencanaan adalah kata kunci. Tanpa
perencanaan, wirausaha akan berjalan datar, tidak memberi
hasil optimal.
Seorang wirausahan harus cerdik dalam mencari dan
mengatasi masalah permodalan. Dari sisi asal (sumber),
terdapat dua jenis permodalan, yaitu modal: sendiri dan
modal pinjaman. Modal sendiri diperoleh dari pemilik
perusahaan dengan cara mengeluarkan saham. Kerugian
menggunakan modal sendiri adalah jumlahnya sangat
terbatas dan sulit untuk memperolehnya. Sumber modal
bisa diekplorasi dari mana saja. Bahkan, bisa memanfaatkan
relasi, kalau memang kenal dengan baik dan mau memberi
penjaman.
Meski penting, namun sesungguhnya modal bukanlah
segala-galanya. Sebab, banyak juga pengusaha yang
bermodal ‘dengkul’ bisa sukses. Ir. Ciputra adalah salah
satu pengusaha yang sejak awal karirnya mengaku
bermodal ‘dengkul’.
Ketika bisnis sudah berjalan, maka sepantasnya
wirausahawan menerapkan manajemen terbuka. Tujuannya
adalah agar dapat memberi pembelajaran kepada semua
pihak, termasuk karyawan. Pada akhirnya, wirausaha juga
dituntut proaktif, tidak berhenti atau statis, melainkan terus
bergerak seiring dengan dinamika perkembangan zaman.
Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian
Indonesia tumbuh rata-rata di atas 6% per tahun. Namun,
pertumbuhan ini ternyata belum menetes ke bawah.
Indikasinya adalah, masih besarnya angka kemiskinan
dan pengangguran. Data Badan Pusat Statitistik (2012)
menyebutkan, hingga Agustus 2012, terdapat 7,244 juta
pengangguran, sementara jumlah penduduk miskin
mencapai 30,018 juta jiwa.
Untuk mengurangi angka penganguran dan kemiskinan
ini , pemerintah bekerja keras menciptakan lapangan
kerja baru. Sumbernya tentu saja melalui investasi untuk
pendirian perusahaan/pabrik, perluasan lahan pertanian,
proyek infrastruktur, dan yang kini sedang digalakkan
adalah mencetak sebanyak mungkin wirausaha.
Dalam rangka menggenjot jumlah wirausaha,
pemerintah memberikan dukungan kebijakan supaya
mereka dapat berperan meningkatkan kesejahteraan
rakyat, misalnya melalui program penyaluran Kredit Usaha
Rakyat (KUR) yang besarnya Rp. 20-25 triliun setiap tahun
(Kompas, 19 Maret 2013).
Data Kementerian Koperasi dan UKM mengungkapkan,
Indonesia saat ini memiliki sekitar 3,7 juta wirausaha
atau 1,5% dari jumlah penduduk. Idealnya, dibutuhkanwirausaha sebanyak minimal 2% dari total jumlah penduduk
untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Sebagai perbandingan, jumlah wirausaha di Malaysia,
Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Amerika Serikat
sebanyak 2,1-11,5% dari populasi penduduk (Kompas, 19
maret 2013).
Salah satu terobosan pemerintah untuk menggairahkan
masyarakat berwirausaha adalah dengan menelurkan
Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Ide dasar GKN
adalah terbukanya peluang mengembangkan bisnis,
karena Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah,
pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pendapatan nasional
yang semakin besar. Di samping itu, kebutuhan barang dan
jasa di tanah air pun semakin besar, seiring bertumbuhnya
konsumen dan kelas menengah.
GKN secara khusus membidik kaum muda.
Sebab, merekalah yang memiliki peluang besar untuk
menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan.
Peluang yang dimaksud adalah tingginya pertumbuhan
ekonomi Indonesia secara berkelanjutan dalam beberapa
tahun belakangan (Kompas, 19 Maret 2013).
Bersisian dengan hal ini , salah seorang pelopor
gerakan entrepreneurship (kewirausahaan) di Indonesia, Ir.
Ciputra, mengatakan bahwa bangsa Indonesia amat kaya,
sumber daya manusianya hebat, sumber daya alamnya
salah satu yang terbaik di dunia. Apa saja ada di Indonesia.
Minyak bumi, gas, batubara, emas, perak, tembaga, hutan
tropis terbesar ketiga di dunia, dan tanah yang demikian
subur.
Kenyataannya, menurut Ciputra, Indonesia masih
tertinggal jauh dengan negara-negara maju. Jepang,
Korea Selatan, dan Taiwan, sumber daya alamnya minim,
namun ketiga negara ini mampu menjadi negara
industri dengan kemampuan yang mencengangkan.
Pendapatan penduduknya berkali lipat dibandingkan
Indonesia. Beberapa aspek ini menjadi alasan Ciputra
menggalakkan entrepreneurship. Ia mengeluarkan uang
pribadi untuk mendorong gerakan ini berjalan, dan
belakangan sejumlah lembaga serta badan usaha membantu
programnya (Kompas, 5 April 2013).
Di mata Ciputra, entrepreneurship adalah bagaimana
menjadikan sesuatu yang tidak berguna menjadi berguna.
Misalnya, mengubah sampah menjadi ‘emas’ serta
mengubah barang murahan menjadi barang dengan nilai
ekonomi amat tinggi. Atau mengubah seseorang yang tidak
tahu bisnis sama sekali menjadi sangat tahu berbisnis.
Hal penting yang harus digarisbawahi, tegas Ciputra,
masyarakat tidak boleh terlena di zona nyaman. Mereka
mesti menyiapkan diri, misalnya jika terkena pemutusan
hubungan kerja (PHK), tidak perlu bingung karena sudah
memiliki sumber penghasilan lain. Itulah mengapa pria
kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931,
itu, selalu bersemangat mengampanyekan pentingnya
entrepreneurship.
Upaya yang dilakukan Ciputra, juga para penggagas
kewirausahaan lainnya di Indonesia, adalah sebuah
ikhtiar untuk mengubah pola pikir mayoritas masyarakat
Indonesia, dari mental pekerja menjadi berjiwa wirausaha.
Hal ini tentu bukan pekerjaan gampang. Apalagi,
sudah menjadi rahasia umum kalau orang Indonesia lebih
senang menjad karyawan, mendapat gaji tetap setiap bulan,
sekaligus berada di zona nyaman.
Karena itulah, diperlukan perubahan mendasar
untuk mengubah paradigma pekerja menjadi wirausaha.
Misalnya melalui pendidikan kewirausahaan yang
ditanamkan sejak sekolah menengah. Sejauh ini, pemerintah berupaya untuk melakukan hal ini ,
yakni lewat pendidikan prakarya dan kewirausahaan
dalam kurikulum 2013. Namun, kompetensi inti dan dasar
mata pelajaran prakarya dan pendidikan kewirausahaan
Kurikulum 2013 lebih ditekankan pada prakarya semata.
Prakarya yang dipelajari di jenjang pendidikan menengah
meliputi kerajinan, rekayasa, budidaya, dan pengolahan.
Adapun pendidikan kewirausahaan belum terlihat jelas
kompetensinya (Kompas, 27 Februari 2013).
Pelajar Indonesia harus memanfaatkan kesempatan
pendidikan kewirusahaan itu sebaik-baiknya. Apalagi,
di tengah tren pendidikan kewirausahaan yang terus
melesat di berbagai negara. Frederick, Kuratko & Hodgetts
(2006) menyebutkan bahwa kurikulum kewirausahaan
berkembang cepat. Riset di Amerika Serikat menunjukkan,
mahasiswa arsitektur, olahraga, atau kesehatan, yang
mengambil mata kuliah pilihan wirausaha, setelah lulus
cenderung berprofesi sebagai wirausaha. Bukti lain
mengungkapkan, ide terbaik kompetisi perencanaan bisnis
justru berasal dari mahasiswa non-bisnis, dan beberapa
inisiatif wirausaha inovatif tidak melibatkan sekolah
bisnis (Frederick, Kuratko & Hodgetts, 2006). Hal ini
mengindikasikan bahwa pendidikan kewirausahaan harus
dipelajari oleh semua mahasiswa, meskipun mahasiswa
ini tidak mengambil bisnis sebagai program studi
utamanya.
Meski pendidikan kewirausahaan baru diperkenalkan
di Indonesia dalam dua dekade terakhir, namun hal
ini bukanlah ganjalan untuk mencetak wirausaha
andal. Kuncinya terletak pada keseriusan dan kemauan
semua stakeholder—pemerintah, swasta, kalangan pendidik,
dan masyarakat—untuk terus menggelorakan semangat
wirausaha. Ada adagium menarik tentang orang Indonesia.
Biasanya, mereka akan melakukan sesuatu setelah kepepet.
Kreativitas mereka baru muncul karena tekanan dari sana
sini. Misalnya, setelah terkena PHK, baru mencari jalan
untuk wirausaha. Saat uang betul-betul sulit diperoleh
padahal kebutuhan begitu mendesak, barulah wara-wiri
cari modal usaha. Dengan kata lain, baru bergerak setelah
terdesak. Hal ini memang lumrah saja. Namun,
jika dikaitkan dengan konteks yang lebih luas, misalnya
wirausaha, tentu hal ini kurang pas. Sebab, menjadi
wirausaha butuh perencanaan, pemikiran, dan konsep
yang matang serta tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba.
Pelajaran menarik bisa dipetik dari pengalaman Ibnu
Riyanto, pemilik usaha batik Trusmi terluas di Indonesia
(Kompas, 6 April 2013). Ketika memulai usaha, ia masih
terbilang muda. Kuliah pun tidak sempat dijalaninya.
Namun, tekadnya adalah memajukan usaha batik. Pangkal
masalahnya adalah kegagalan orangtua Ibnu untuk
mengembangkan dan memperluas usaha batiknya. Maka,
ia pun memutuskan untuk terjun langsung menangani
usaha batik. Awalnya, Ibnu hanya berdagang kain putih
untuk batik yang dijajakan di lingkungan keluarga
yang lebih dulu membuka usaha batik. Namun, karena
berdagang kain putih saja keuntungannya kecil, ia nekat
berdagang batik di Pasar Tanah Abang. Nasib baik mulai
menghampiri dirinya, ketika pelanggan batik di Tanah
Abang mulai ramai. Lambat laun, usaha batik Ibnu mulai
menuai sukses. Kuncinya adalah lincah menjalin relasi,
tidak pernah berpuas diri, gencar mencari peluang, serta
memanfaatkan teknologi (membuka toko online) untuk
menembus pangsa pasar yang lebih luas (Kompas, 6 April
2013).
Memutuskan untuk menjadi wirausaha juga dilakoni
Wawang Supriyadi (Kompas, 23 Maret 2013). Wawang
menggeluti usaha kerajinan miniatur dan hiasan dari
logam. Mulanya, Wawang yang sarjana ekonomi itu
melihat usaha kerajinan yang dijalankan sang ayah. Ia pun
belajar soal cetak-mencetak dan mencampurkan logam
yang dikerjakan ayahnya. Wawang kemudian belajar
sendiri membuat master, membuat pelat cetakan, hingga
penyelesaian akhir. Setelah cukup belajar, ia pun akhirnya
terjun menggeluti bisnis ini pada tahun 1999. Dengan
modal awal Rp. 10 juta, kini bisnis Wawang telah beromzet
Rp. 200 juta per bulan. Kunci sukses Wawang adalah jeli
melihat peluang. Ia memanfaatkan serbuan mainan China
sebagai tantangan untuk melahirkan kerajinan miniatur
yang khas Indonesia.
Kedua contoh anak muda yang terjun menjadi wirausaha
ini patut ditiru pemuda Indonesia lainnya. Keduanya
berani mengambil risiko dan mampu mendobrak pola
pikir lama, dari orientasi karyawan menjadi pengusaha.
Keberanian mengubah pola pikir inilah yang sayangnya
jarang dimiliki orang Indonesia.
Urgensi wirausaha pada dasarnya adalah mengubah
pola pikir dari mental pekerja menjadi mental pengusaha.
Inilah sulitnya, di mana mental pekerja ini bahkan
sudah dikenalkan sejak masih kanak-kanak. Bagaimana
tidak. Ketika orangtua bertanya pada anak, mau jadi apa
kelak ketika dewasa, jawabannya pasti ingin jadi dokter,
tentara, pilot, atau PNS. Jarang sekali yang menjawab ingin
jadi pengusaha.
Untuk mengatasi hal itu, kata Kasmir (2011), perlu
diciptakan iklim yang dapat mengubah pola pikir, baik
mental maupun motivasi orangtua, dosen, dan mahasiswa
agar kelak anak-anak dibiasakan untuk menciptakan
lapangan kerja ketimbang mencari pekerjaan. Perubahan ini jelas memerlukan waktu dan bertahap. Misalnya
dengan mendirikan sekolah yang berwawasan wirausaha
atau menerapkan mata kuliah kewirausahaan, yang akan
mengubah dan menciptakan pola pikir mahasiswa dan
orangtua (Kasmir, 2011)
Di samping itu, dalam pendidikan kewirausahaan,
perlu ditekankan keberanian untuk memulai wirausaha.
Para mahasiswa ditantang untuk tidak takut rugi atau
bangkrut. Hal ini misalnya bisa dimulai dengan menggeluti
wirausaha dengan memanfaatkan hobinya. Hal lain yang
juga perlu ditekankan adalah, wirausaha membuat semua
kendali berada di tangan kita (Kasmir, 2011). Ini artinya,
masa depan kita sendiri yang menentukan, bukan orang
lain.
Sejauh ini, beberapa instansi dan kementerian terkait
mulai mengembangkan program untuk menciptakan
sebanyak mungkin wirausahawan. Kementerian Koperasi
dan UKM gencar dengan Gerakan Kewirausahaan Nasional
serta terlibat aktif mengampanyekan iklan layanan
masyarakat “Daripada Wara Wiri Cari Kerja, Mending
Wirausaha”. Kemudian Bank Mandiri dengan program
“Wirausahawan Muda Mandiri” serta Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengembangkan
program wirausaha kreatif.
Kotak 1
Belajar dari Si Anak Singkong
Chairul Tanjung (CT) adalah pengusaha papan atas
negeri ini. Jaringan usaha di bawah bendera CT Corp
menggurita, mulai dari media, ritel, hingga perbankan.
Namun, untuk sampai pada tahap seperti sekarang, tidak
dilalui dengan gampang. Chairul Tanjung merintisnya dari bawah, yakni ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran
gigi.
Keinginan kuat untuk keluar dari kemiskinan menjadi
latar belakang utama Chairul Tanjung memulai usaha.
Sebagai anak rantau, ia tak ingin status mahasiswa
membebani kedua orang tuanya. Ia pun mencari-cari
peluang usaha yang pas dilakoni oleh seorang mahasiswa.
Maka, munculah peluang usaha foto kopi, yang ternyata
bisa membawa ‘napas lega’ bagi Chairul Tanjung.
Mencermati lembar demi lembar buku biografi Chairul
Tanjung, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik sebagai
modal wirausaha, yakni:
1. Kreatif dan inisiatif
Hal ini misalnya dapat dilihat ketika Chairul Tanjung
memutuskan membuka usaha foto kopi diktat
kuliah. Meskipun terlihat sepele, namun mampu
membuat Chairul jadi mahasiswa kaya ketika itu.
Hal inilah yang harus dimiliki oleh para calon
wirausaha, tidak sekadar menjadi ‘follower’ tetapi
menjadi ‘pionir’ berbekal kreativitas dan inisiatif.
2. Kerja keras
Ketika kuliah, Chairul Tanjung tidak sekadar menjadi
mahasiswa, namun ia juga seorang aktivis kampus
dan pengusaha sekaligus. Ketiganya dilakukan
secara total dan tidak setengah-setengah
3. Berani mengambil risiko
Setiap wirausahawan harus punya mental ini. Berani
mengambil risiko untuk mengembangkan usaha.
Chairul Tanjung bahkan berani mengambil alih
sebuah bank yang dalam kondisi ‘megap-megap’
bahkan perbankan bukanlah dunianya. Akhirnya,
ia tidak hanya bisa menolong bank ini , namun
juga membesarkannya.Kelas menengah baru bermunculan di Indonesia. Hal
itu seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi dalam
beberapa tahun terakhir. Kelas menengah didefinisikan
sebagai mereka yang mempunyai pengeluaran dengan
rentang 2-20 dollar Amerika (USD) per kapita per hari
berdasarkan paritas daya beli/purchasing power parity (ADB,
2010). Definisi ini adalah khas untuk masyarakat Asia.
Rentang pengeluaran perkapita ini dibagi lagi ke
dalam tiga kelompok, yaitu: masyarakat kelas menengah
bawah (lower middle class) dengan pengeluaran perkapita
perhari sebesar 2-4 USD; kelas menengah tengah (middlemiddle class) sebesar 4-10 USD; dan kelas menengah
atas (upper-middle class) 10-20 USD. Dengan rentang
pengeluaran 2-20 USD, maka didapatkan jumlah kelas
menengah Indonesia sebanyak 134 juta (2010) atau sekitar
56% dari seluruh penduduk, jumlah yang cukup besar.
McKinsey Global Institute (2012) menyebut kelas
menengah dengan istilah “consuming class”. Definisinya
adalah individu yang memiliki pendapatan sebesar 3600
USD (berdasarkan paritas daya beli) ke atas. Dengan definisi
ini, maka jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 45
juta pada tahun 2010 dan akan meroket menjadi 134 juta
pada tahun 2030.
Survey Nielsen (2012) menyebutkan bahwa
kelas menengah Indonesia adalah pihak yang paling
diuntungkan akibat pertumbuhan ekonomi. Konsumsi
mereka meningkat, begitu juga dengan kualitas hidupnya.
Konsekuensinya adalah bertambahnya permintaan barangbarang konsumsi, mulai dari peralatan elektronik hingga
produk kecantikan. Begitu juga dengan permintaan jasa,
misalnya layanan kesehatan, asuransi, dan pendidikan.
Ada beberapa fakta terkait kecenderungan konsumsi
kelas menengah Indonesia (Nielsen, 2012), yakni:1. Belanja bulanan untuk makanan mencapai 37%.
2. Sebanyak 88% kelas menengah mengaku akan
bereksperimen dengan merek.
3. Lebih dari setengah (53%) berbelanja di pasar modern
dua kali sebulan.
4. Mereka cenderung mengunjungi minimarket terdekat
dengan rumah, yang dicari adalah beragam macam
barang, layanan yang ramah dan lingkungan yang
nyaman.
5. Tempat dengan tingkat pengeluaran tertinggi adalah
mini market, diikuti supermarket, sementara peritel
tradisional masih dikunjungi untuk mencari makanan
segar.
Fakta-fakta ini setidaknya menyiratkan satu hal:
besarnya peluang wirausaha di Indonesia. Tingkat konsumsi
yang tinggi, baik barang maupun jasa, sudah seharusnya
diimbangi dengan persediaan (suplai) yang tinggi pula.
Problemnya, suplai ini belum sepenuhnya dapat
dipenuhi oleh orang Indonesia. Maka, barang impor pun
merajalela. Padahal, jika peluang ini dimanfaatkan,
maka tujuan wirausaha, yakni menambah angkatan kerja
dan mengurangi kemiskinan akan tercapai.
Ketika memutuskan untuk wirausaha, maka yang
pertama kali harus dilakukan adalah memutar ide dan
kejelian melihat peluang. Ide dan peluang ini , dapat
ditemukan di segala aspek kehidupan masyarakat dan
semua kegiatan ekonomi.
Maka, kata kunci dalam melihat peluang adalah
kreativitas. Kreativitas acapkali datang dalam bentuk ide.
Ide digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Ide
dapat digerakkan melalui perubahan cara atau metode
yang lebih baik untuk kepentingan pelanggan dalam
memenuhi kebutuhan barang dan jasa. Walau demikian, tak sedikit wirausahawan yang
sukses bukan berdasarkan ide sendiri, tetapi berdasarkan
hasil pengamatan dan penerapan ide lain. Agar ide-ide
yang potensial menjadi peluang, maka wirausahawan
harus mencari dan mengidentifikasi sumber peluang bisnis
ini . Kegiatan mengidentifikasikan merupakan upaya
awal seorang wirausahawan untuk dapat masuk ke pasar.
Dengan identifikasi ini , wirausahawan akan dapat
mengetahui tingkat persaingan, strategi, kekuatan, dan
kelemahan pesaing, dan memperkirakan pola persaingan.
Pada dasarnya ide dan peluang dapat tumbuh di mana
saja, kapan saja oleh siapa saja. Semakin banyak ide yang
muncul semakin kreatif manusia meraih peluang. Semakin
banyak meraih peluang semakin banyak juga keberhasilan.
Saat ini, yang menjadi pekerjaan rumah besar adalah
bagaimana mendobrak keinginan kaum muda untuk
menekuni wirausaha. Apalagi menjadi wirausaha di usia
muda menjadi tantangan tersendiri apabila melihat kondisi
bangsa Indonesia saat ini. Masih lemahnya ekonomi
sektor riil serta banyaknya pengangguran dan kemiskinan
seharusnya menjadi cambuk generasi muda untuk berani
memulai berwirausaha.
Secara keseluruhan, seperti telah diungkap di bagian
awal buku ini, jumlah pengangguran di Indonesia adalah
7,244 juta orang. Angka ini jelas menunjukkan
masalah besar dalam perkembangan perekonomian dan
sosial di Indonesia yang memicu melonjaknya
jumlah pengangguran berpendidikan di Indonesia. Hal
ini , secara tidak langsung juga akibat cara pandang
yang ditekankan kepada para pemuda Indonesia adalah
mencari pekerjaan, dan bukan sebaliknya, menciptakan
lapangan pekerjaan.
Dalam konteks sekarang, di tengah tantangan
dan kendala yang dihadapi generasi muda, mental kewirausahaan mesti ditumbuhkan dan terus didorong.
Mereka harus kreatif, inovatif, dan berani mengambil
risiko untuk memulai usaha. Keluarga, tak pelak lagi,
menjadi lingkungan pertama yang menumbuhkan mental
kewirausahaan anak. Dunia perguruan tinggi juga sudah
saatnya diubah menjadi kawah candradimuka pembentukan
mental wirausaha. Kemitraan swasta, pemerintah dan
lembaga pendidikan harus mendukung terciptanya iklim
kondusif bagi wirausaha muda.
D.Pandai Memanfaatkan Peluang
Laksana perawan di sarang penyamun. Istilah itulah
yang mungkin tepat untuk mengungkapkan peluang
yang kerap menjadi buruan banyak orang. Setiap orang,
mulai dari pengusaha, pejabat, manajer, hingga karyawan
biasa antusias mengejar dan kemudian menemukannya.
Karena itu, siapa pun yang berhasil menemukan dan
lalu memanfaatkannya, itu merupakan keberhasilan. Jika
dianalogikan peluang ibarat sebuah perkawinan yang
selanjutnya melahirkan anak dengan nama keberhasilan
(Alifuddin, 2012).
Negara kita memiliki sumber daya alam dan sumber
daya manusia yang berlimpah. Namun, kita tidak memiliki
kemampuan dan pengetahuan untuk mengelola kekayaan
alam itu. Coba bandingkan dengan beberapa negara lain
yang tandus dan tidak memiliki sumber daya alam yang
potensial namun mereka eksis karena memiliki pengetahuan
dan teknologi yang baik. Mereka hidup makmur dan keluar
sebagai pemenang dalam persaingan global. Simaklah
kesuksesan ekonomi negara-negara dengan kondisi alam
yang tandus seperti Taiwan, Singapura, dan Jepang.
Mereka justru sukses luar biasa.Jadi, sumber daya manusia berupa ilmu pengetahuan
dan teknologi merupakan keunggulan komparatif bagi
masa depan umat manusia. Persoalannya, bagaimana
sumber daya manusia yang kita miliki bisa mengelola
sumber daya alam yang tersedia di bumi Indonesia. Apa
yang harus dilakukan supaya Indonesia bisa unggul
dan memiliki perusahaan-perusahaan yang mampu
menghasilkan keuntungan besar? Jawabannya adalah:
generasi penerus bangsa ini perlu memiliki dan dibekali
dengan pengetahuan tentang kewirausahaan agar
terpenuhi sumber daya manusia yang berkualitas dan
berpengetahuan luas untuk mengelola usaha terutama
usaha yang berbasis dan memanfaatkan potensi alam
Indonesia.
Satu hal yang perlu kita ingat dalam wirausaha adalah
belajar. Di antaranya dengan mengambil pengalaman dari
bisnis masa lalu. Contohnya, tentu kita masih ingat ketika
pada tahun 1970-an ngetrend gaya rambut gondrong dengan
bisnis rambut palsu dan industri fashion model gombrong,
sandal dan sepatu tinggi. Memasuki tahun 1980-an model
dan gaya ini berubah dan kembali meniru gaya pada
era 60-an dengan model serba mini dan pendek. Industri
wieg jatuh karena model rambut dipotong cepak ala militer.
Memasuki tahun 1990-an seiring dengan melubernya
informasi dan komunikasi global, gaya anak-anak muda
mulai berubah mengikuti gaya model fungki, rambut
pirang, pakaian seronok dan warna warni. Bukankah
semua itu adalah potensi bisnis yang tiada habisnya?
Pertanyaannya, kapan kita memulainya?! Jawabannya:
sekarang, atau tidak sama sekali.
Ketika memilih wirausaha sebagai pegangan hidup,
tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Jalan yang
akan kita lalui tidak selalu mulus, ada saja hambatan yang
merintangi. Hambatan ini bisa berasal dari dalam diri
maupun dari luar (lingkungan).
Hambatan dari dalam misalnya mental. Kerapkali,
ketika menemui kegagalan dalam wirausaha, kita meratapi
kegagalan ini . Malas bangkit dan mencoba kembali.
Padahal, kegagalan adalah hal lumrah. Justru, di situlah
mental kita diuji. Apakah sanggup menjadi seorang
wirausahawan andal atau tidak. Para pengusaha sukses
tidak sekali jalan membangun usaha. Mereka jatuh bangun
terlebih dahulu, baru kemudian menemukan formula yang
pas, dan sukses.
Kemudian kurang bisa mengenali potensi diri.
Mengenali diri adalah memahami siapa diri kita
sebenarnya. Jika seseorang mengenal dirinya, ia akan
menemukan kebenaran tentang dirinya (Suryana & Bayu,
2010). Dalam konteks wirausaha, kemampuan memahami
diri sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan.
Seorang wirausahawan perlu memiliki pengetahuan
yang cukup untuk dapat mengarahkan dirinya guna
memperoleh peluang usaha, menyusun konsep usaha,
membuat perencanaan, dan opersional usaha. Di sisi lain,
keterampilan juga tidak bisa diremehkan. Sebab, hal itu
berguna untuk mengembangkan, memimpin, mengelola,
dan mengatur strategi usaha ,
Begitu juga dengan kreativitas. Kalau sudah menjalani
satu usaha, kita cenderung berkutat di usaha ini ,
tidak kreatif untuk mengembangkannya, atau bahkan
mendiversifikasi usaha. Padahal, dalam teori siklus hidup
produk seperti yang dikemukakan oleh Levitt (1978), ketika produk sudah mencapai kedewasaan (maturity), harus
dilakukan upaya luar biasa agar produk ini bertahan.
Misalnya dengan diversifikasi atau merekonstruksi ulang
produksi ini . Jika tidak, produk ini akan mati
dengan sendirinya.
Diversifikasi produk atau jasa memerlukan kreativitas.
Sayangnya, kreativitas kerap dihambat oleh hal-hal yang
tidak perlu. Misalnya, tidak berani berkesperimen, tidak
mau mengambil risiko, kurang up date dengan keadaan
sekitar, dan menjauhi kritik. Jika kita punya daya keatif,
bukan mustahil produk dan jasa kita akan bertahan lama.
Jika penghambat dari dalam sudah diketahui dan
diatasi, seorang wirausaha juga harus memperhitungkan
faktor yang berasal dari luar. Misalnya, kurang memahami
karakteristik pasar, faktor sosial budaya yang tidak bisa
menerima suatu produk atau jasa, minimnya permodalan,
kurangnya dukungan pemerintah, dan lain-lain.
Bagi seorang wirausahawan, mengidentifikasi faktor
penghambat adalah hal penting. Tujuannya, supaya bisnis
yang kita jalankan terarah, tidak berhenti di tengah jalan,
tahan banting, dan terus berkembang.
Selain faktor eksternal dan internal, penghambat
wirausaha juga dapat berasal dari sisi makro, yakni pembuat
kebijakan atau pemerintah. Wakil Presiden periode 2009-
2014, Boediono, mengungkap enam penghambat wirausaha
(Kontan, 12 November 2012), yakni:
1. Ketertiban hukum atau law and order. Hal ini untuk
membuat aturan main agar lebih jelas. Apalagi, Apalagi
saat ini masih terjadi di beberapa daerah ada pungutan
liar sehingga memengaruhi sisi ketertiban hukum.
2. Kestabilan makro. Ekonomi harus tetap stabil, tidak
naik turun yang membuat wirausaha sulit berkembang.
3. Infrastruktur. Isu ini jadi penting karena memengaruhi
kemudahan dan perkembangan bisnis.
4. Regulasi. Selama ini, masih ada persinggungan antara
peraturan daerah dan pusat terkait otonomi daerah
yang dapat memengaruhi bisnis.
5. Finansial. Ketersediaan layanan finansial perlu
didukung sektor perbankan melalui program financial
inclusion.
6. Minimnya tenaga kerja terlatih. Meskipun sektor yang
dibidik adalah UKM, tetap saja wirausaha memerlukan
tenaga kerja terlatih untuk mendukung bisnis.
Menurut Boediono, harus diambil langkah konkret
penyelesaian atas keenam penghambat ini supaya
wirausaha di Indonesia berkembang, tidak saja kuantitas,
tetapi juga kualitasnya. Maka, dibutuhkan sinergi semua
pihak, pembuat kebijakan, pemerintah, dan swasta untuk
menghasilkan wirausaha yang tangguh.
F. Rangkuman
Untuk mengurangi angka kemiskinan dan
pengangguran, diperlukan terobosan mendasar. Cara-cara
konvensional semacam penyediaan lahan pertanian atau
pembangunan proyek infrastruktur tidak lagi memadai.
Jawabannya terletak pada wirausaha.
Bangsa Indonesia memerlukan wirausaha yang
memulai bisnisnya dari usia muda. Hal itu sekaligus
untuk mengubah pola pikir mayoritas masyarakat, dari
mental pekerja menjadi mental pengusaha. Mengubah
mindset bisa dilakukan, salah satunya melalui pendidikan
kewirausahaan sejak sekolah menengah atas.
Potensi wirausaha di Indonesia sangat besar. Hal ini
ditopang oleh tingginya pertumbuhan ekonomi serta
semakin banyaknya kelas menengah, yang membutuhkan
tidak saja barang, tetapi juga jasa.
Seorang wirausaha harus jeli dan pandai memanfaatkan
peluang. Peluang wirausaha dapat ditemukan di segala
aspek kehidupan masyarakat dan semua kegiatan
ekonomi. Maka, kata kunci dalam melihat peluang adalah
kreativitas. Kreativitas acapkali datang dalam bentuk ide.
Ide digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa, dari
situlah wirausaha bermula.
Di samping itu, wirausaha juga harus mengenali
hambatan, yang datang dari dalam dan luar, serta
yangberbentuk kebijakan. Hambatan dari dalam misalnya
malas menggali potensi diri, tidak kreatif, gampang
putus asa. Hambatan dari luar seperti tidak memahami
karakteristik pasar, faktor sosial budaya, dan lainnya.
Faktor penghambat yang berupa kebijakan antara lain
regulasi yang tumpang tindih, infrastruktur, dan minimnya
tenaga kerja terlatih.
Dalam sebuah organisasi, misalnya institusi bisnis,
kepemimpinan sangat penting. Pemimpinlah yang
membuat arah dan kebijakan tentang bisnis, untuk
kemudian diimplementasikan oleh anak buah (bawahan).
Sebagian besar institusi bisnis yang menjadi besar dan
terus berkembang ditopang oleh gaya kepemimpinan yang
andal dan profesional. Keunggulan wirausaha yang sukses
dibandingkan dengan wirausaha yang gagal terletak
pada dinamika dan efektivitas kepemimpinan. Pimpinan
wirausaha merupakan unsur pokok di dalam setiap
perusahaan.
Kepemimpinan, menurut Suryana dan Bayu (2010),
adalah kemampuan, proses, atau fungsi yang digunakan
dalam memengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu
dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Pada suatu
kegiatan, kepemimpinan merupakan upaya membantu
diri sendiri atau orang lain mencapai suatu tujuan.
Di sisi lain, menurut Sopiah (2008), kepemimpinan
adalah proses mengarahkan dan memengaruhi aktivitas
yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok.
Definisi ini berimplikasi pada tiga hal (Sopiah, 2008),
yakni:1. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain, yaitu
bawahan atau pengikut. Karena kesediaan mereka
menerima pengarahan dari pemimpin,anggota
kelompok membantu menegaskan status pemimpin
dan memungkinkan terjadinya proses kepemimpinan.
Tanpa bawahan, maka semua sifat kepemimpinan
menjadi tidak relevan.
2. Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang
tidak sama di antara pemimpin dan anggota kelompok.
Pemimpin mempunya wewenang untuk mengarahkan
beberapa aktivitas anggota kelompok, yang caranya
tidak sama antara pemimpin yang satu dengan yang
lain.
3. Di samping secara sah mempu memberikan perintah
atau pengarahan kepada bawahan atau pengikutnya,
pemimpin juga harus memengaruhi bawahan dengan
bermacam cara.
Daft dan Carcic (2008) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang ke arah
pencapaian tujuan organisasi. Memengaruhi berarti
hubungan antarorang tidak pasif dan pengaruh didesain
untuk mencapai tujuan. Taylor yang dikutip oleh Drafke
(2009) menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah ”the
ability to influence the activities of others, through the process
of communication, toward the attainment of goal.” Pengertian
ini menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
untuk memengaruhi aktivitas orang lain melalui proses
komunikasi ke arah pencapain tujuan. Definisi yang hampir
sama dikemukakan oleh Kinicki dan Kreitner (2008), yaitu:
”leadership is the ability influence people toward te attainment
of goals.” Kepemimpinan adalah kemampuan untuk
memengaruhi orang ke arah pencapaian tujuan organisasi.Robbins dan Judge (2007) menjelaskan kepemimpinan
sebagai kemampuan untuk memengaruhi sebuah kelompok
ke arah pencapaian visi atau seperangkat tujuan. Menurut
Greenberg dan Baron (2003), kepemimpinan merupakan
proses yang digunakan oleh seseorang untuk memengaruhi
anggota kelompok ke arah pencapaian tujuan kelompok
organisasi.
Definisi-definisi di atas pada umumnya memandang
kepemimpinan sebagai aktivitas yang berkelanjutan,
diarahkan untuk menimbulkan dampak pada perilaku
orang lain yang pada akhirnya difokuskan pada upaya
untuk mewujudkan tujuan-tujuan organisasi. Definisi
ini juga mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan
menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal
ini pengaruhnya disengaja oleh seseorang terhadap orang
lain untuk mengatur aktivitas-aktivitas serta hubungan di
dalam kelompok atau organisasi.
Kepemimpinan merupakan sebuah proses kompleks
yang memerlukan banyak keterampilan. Menurut
Robbins (2001), salah satu fondasi utama kepemimpinan
adalah kepercayaan. Boon dan Holmes (dalam Robbins,
2001) menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan suatu
pengharapan positif bahwa orang lain tidak akan — melalui
kata-kata, tindakan, atau keputusan — bertindak secara
oportunistik. Dari definisi ini , setidaknya ada dua
kata kunci penting dari kepercayaan, yaitu pengharapan
positif dan secara oportunistik. Istilah pengharapan
positif dalam pengharapan ini mengasumsikan
bahwa pengetahuan dan keakraban dengan pihak lain.
Menurut Rotter (dalam Robbins, 2001), kepercayaan
adalah suatu proses ketergantungan-historis yang
didasarkan pada sampel-sampel pengalaman yang relevan
namun terbatas. Pengharapan itu membutuhkan waktu untuk membentuknya, dibangun sedikit demi sedikit
dan terakumulasi. Sementara istilah secara oportunistik
merujuk pada risiko dan kerentanan yang inheren dalam
setiap hubungan kepercayaan. Menurut Rempel, Holmes
dan Zanna (dalam Robbins, 2001), kepercayaan mencakup
membuat seseorang rentan seperti ketika, misalnya,
minyingkapkan informasi intim atau bergantung pada
janji-janji. Karena sifat ini juga, kepercayaan memberikan
peluang bagi kekecewaan atau pengambilan manfaat dari
kepercayaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kepemimpinan
seringkali diartikan sama dengan manajemen. Padahal,
keduanya memiliki perbedaan. Menurut Drafke (2009),
kepemimpinan berhubungan secara langsung dengan
orang dan perilakunya. Kepemimpinan hanyalah salah satu
aspek dari manajemen. Sementara manajemen merupakan
sebuah konsep yang lebih luas, termasuk aktivitas
kepemimpinan, tetapi mungkin juga melibatkan fungsifungsi non perilaku yang tidak secara langsung berpengaruh
terhadap orang lain. Manejemen berhubungan dengan
isu global, seperti menjaga kelangsungan organisasi, dan
bekerja baik dengan hirarki, sedangkan kepemimpinan
melibatkan inisiasi aksi dan percepatan perubahan.
Pada akhirnya, manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasioan, pengkoordinasian, pengarahan, dan
pengendalian aktivitas orang lain.
Capowski (dalam Kinicki dan Kreitner, 2008) melihat
perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen dari segi
kualitas yang dibutuhkan. Kualitas yang dibutuhkan dari
seorang pemimpin mencakup: jiwa, visioner, bersemangat,
kreatif, fleksibel, menginspirasi, inovasi, berani, imajinatif,
ekperimental, memiliki inisiatif perubahan, dan memiliki
kekuasaan pribadi. Sementara kualitas yang dibutuhkan
seorang manajer adalah pikiran, rasional, konsultasi, gigih, pemecahan masalah, tegas, analitis, terstruktur, penuh
pertimbangan, berwibawa, stabil, dan kekuasaan posisi.
Dalam menjalankan fungsi kepemimpinan, seorang
pemimpin dituntut untuk memiliki banyak kompetensi
agar efektif dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya.
Menurut Joseph (2007), ada sepuluh kompetensi yang perlu
dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni:
Pertama, adalah arah diri (self direction). Arah diri
merupakan kemampuan menyusun tujuan untuk dirinya
yang mengarahkan pada tujuan dengan dedikasi pemikiran
tunggal. Hal ini merupakan kunci dorongan personal dalam
memimpin. Beberapa orang menyusun tujuannya tetapi
tidak diikuti dengan dorongan personal. Sementara yang
lainnya memulai dengan bekerja atas tujuan-tujuannya,
tetapi mungkin tidak sampai akhir.
Kedua, fleksibilitas (flexibility), yaitu kemampuan
untuk mengubah dirinya sesuai dengan situasi. Esensi dari
fleksibilitas mental adalah kemampuan untuk menangani
situasi yang berbeda dalam cara yang berlainan, khususnya
untuk menanggapi hal-hal yang baru, komplek dan situasi
yang problematik.
Ketiga, tim kerja (team work), yang merupakan
kemampuan untuk bekerja bersama terhadap visi bersama.
Kemampuan ini untuk mengarahkan individu
melaksanakan tujuan organisasi. Kemampuan kerja tim
antara lain mencakup: bekerja bersama dalam suatu
kelompok untuk mencapai tujuan bersama, mencapai
hasil yang ingin dicapai, merayakan kesuksesan, memiliki
pimpinan tim yang jelas, memiliki tujuan yang jelas,
mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan, masingmasing anggota memiliki kemampuan untuk memengaruhi
keputusan, dan masing-masing anggota memiliki tanggung
jawab personal atas kinerja dan kualitasnya.Keempat, strategi (strategy). Strategi adalah kejadian
suatu tindakan yang diadopsi sesudah disaring secara
ekstensif melalui data-data yang tersedia dan sesudah
dievaluasi dari alternatif solusi yang bervariasi. Strategi
juga merupakan kemampuan untuk memahami dan
menginterpretasikan informasi untuk tindakan-tindakan
tertentu yang akan diimplementasikan.
Kelima, pengambilan keputusan (decision making).
Pengambilan keputusan merupakan studi yang
mengidentifikasi dan memilih alternatif-alternatif yang
didasarkan pada nilai dan preferensi dari pembuat
keputusan. Membuat keputusan berdampak bahwa ada
alternatif-alternatif pilihan untuk dipertimbangkan dan
dalam kasus ini tidak hanya mengidentifikasi banyak
alternatif yang mungkin, tetapi juga memilih salah satu
yang terbaik dan cocok dengan tujuan, kehendak, gaya
hidup, nilai dan sebagainya.
Keenam, mengelola perubahan (managing change).
Megelola perubahan merupakan kemampuan untuk
beradaptasi terhadap perubahan skenario tanpa kehilangan
keefektivan dan efisiensi. Mengelola perubahan mencakup
mengelola perubahan tugas, area praktik profesional dan
tubuh pengetahuan.
Ketujuh, delegasi (delegation). Delegasi adalah kesediaan
untuk menugaskan tanggung jawab kepada yang lain.
Delegasi merupakan fungsi manajerial yang penting
untuk mengurangi beban tugas pimpinan. Delegasi
membutuhkan kepercayaan yang cukup terhadap orang
yang diberikan delegasi tugas.
Kedelapan, komunikasi (communication). Komunikasi
adalah proses yang mana informasi melewati atau dibawa
dalam berbagai bentuk. Komunikasi bisa dalam bentuk
organisasi atau tim dalam sebuah organisasi. Komunikasi yang efektif tergantung pada tiga faktor, yaitu kepercayaan,
emosi dan alasan.
Kesembilan, negosiasi (negotiation). Negosiasi adalah
proses dimana dua pihak memecahkan perselisihan,
setuju atas terjadinya suatu tindakan atau mencoba
untuk memperoleh hasil yang saling menguntungkan.
Kepentingan yang saling diuntungkan merupakan bagian
penting dalam negosiasi dan tidak boleh hanya satu pihak
saja yang diuntungkan.
Kesepuluh, kekuasaan dan pengaruh (power and
influence). Kekuasaan adalah kemampuan untuk
menggunakan pengaruh dalam organisasi atau individu di
luar wewenang yang diturunkan dari jabatan.
Dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya, seorang
pemimpin menggunakan pendekatan yang berbeda-beda.
Mejia dan Balkin (2007) mengklasifikasikan kepemimpinan
menjadi empat kelompok, yaitu teori kepemimpinan yang
ditinjau berdasarkan orang (person-based theories), teori
situasional (situational theories), teori terpencar (dispersed
theories), dan teori pertukaran (exchange theories).
Pertama, teori kepemimpinan yang didasarkan pada
pendekatan orang. Ada beberapa teori kepemimpinan
yang tergabung dalam kelompok ini, antara lain teori
sifat dan teori perilaku. Untuk teori sifat berkembangan
dari hasil studi-studi tentang kepemimpinan pada akhir
abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang pada umumnya
terkait pada orientasi kepemimpinan menurut keturunan
(raja dan bangsawan). Para peneliti berasumsi bahwa
pemimpin itu tidak mungkin berasal dari orang biasa
yang berstatus sosial rendah. Studi ini kemudian terkenal
sebagai The Great Man Theory of Leadership. Teori ini
berpandangan bahwa seorang yang dilahirkan sebagai
pemimpin otomatis menjadi pemimpin (Munandar, 1997).
Kemudian studi kepemimpinan memusatkan perhatian
pada ciri pribadi pemimpin, yang dikenal dengan trait
theory. Teori-teori kepemimpinan mulai menghubungkan
ciri kesuksesan dengan pemilikan bakat-bakat istimewa.
Ratusan studi mengenai trait dilaksanakan selama tahun
1930-an hingga tahun 1940-an. Studi ini mengungkapkan
kualitas pribadi yang sulit dipahami. Banyak penelitian
dilakukan dengan hasil yang mengecewakan. Sejumlah
trait yang ditemukan hanya mampu mengungkapkan
tipe orang yang memiliki kemampuan untuk menduduki
posisi-posisi kepemimpinan dan tidak mengungkapkan
tipe seperti apakah yang akan berhasil sebagai seorang
pemimpin.
Teori kepemimpinan yang menggunakan pendekatan
perilaku dapat dipilah menjadi dua, yaitu pendekatan
perilaku berdasarkan struktur inisiasi (initiatinng
structure) dan pertimbangan (consideration) serta
pendekatan perilaku berdasarkan penghargaan (reward)
dan menghukum (punishing). Terkait dengan model
pertama yaitu untuk struktur pemicu (initiating structure),
menunjukkan sejauhmana pemimpin mendefinisikan dan
menstrukturkan peran karyawan dalam mencapai tujuan.
Stukrur inisiasi mencakup inisiasi, organisasi dan produksi.
Inisiasi adalah tindakan mengorganisasikan, memfasilitasi,
dan kadang-kadang menolak ide-ide dan praktek baru.
Organisasi adalah mendefinisikan dan menstrukturkan
pekerjaan, menjelaskan peran pemimpin dan pengikut,
dan mengkoordinasikan tugas-tugas karyawan. Produksi
adalah menetapkan tujuan dan memberikan insentif bagi
upaya-upaya dan produktivitas karyawan. Kemudian
untuk aspek pertimbangan (consideration), merefleksikan sejauhmana pemimpin menciptakan hubungan
kerja yang dicirikan oleh kepercayaan yang saling
menguntungkan, hormat terhadap ide-ide karyawan, dan
mempertimbangkan perasaan karyawan. Pertimbangan
mencakup keanggotaan, integrasi, komunikasi, pengakuan
dan perwakilan. Keanggotaaan adalah membaur dengan
karyawan, menekankan hubungan tidak formal, dan
pertukaran pelayanan personal. Integrasi ialah mendorong
sebuah iklim yang menyenangkan, mengurangi konflik,
dan meningkatkan penyesuaian individu terhadap
kelompok. Komunikasi adalah memberikan informasi
terhadap karyawan, mencari informasi untuk karyawan
dan menunjukkan kesadaran atas persoalan-persoalan
yang berdampak terhadap karyawan. Pengakuan ialah
mengungkapkan kesetujuan atau ketiaksetujuan atas
perilaku karyawan. Perwakilan yaitu bertindak atas nama
kelompok, mempertahankan kelompok dan mendahulukan
kepentingan kelompok (Colquitt & LePine, 2009).
Untuk pendekatan kepemimpinan yang berorientasi
perilaku, pemberian penghargaan terjadi ketika seorang
pemimpin memberikan penguatan secara positif kepada
bawahan agar terjadi perilaku-perilaku yang dikehendaki.
Jika bawahan dapat melakukan pekerjaan dengan baik,
maka pemimpin memberikan pengakuan melalui pujian,
hadiah, atau keuntungan-keuntungan lain yang kasat
mata seperti peningkatan upah dan promosi. Pemimpin
memberikan penghargaan untuk memastikan karyawan
memiliki kinerja pada tingkatan yang tertinggi. Selanjutnya
untuk pemimpin yang berorientasi menghukum terjadi
ketika seorang pemimpin mencerca atau menanggapi
seccara negatif terhadap bawahan yang melakukan
perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Meskipun
perilaku menghukum dapat menjadi efektif, namun juga memicu perilaku yang membahayakan di dalam organisasi.
Umumnya lebih efektif jika menggunakan penguatan
untuk menghentikan perilaku-perilaku yang tidak
dikehendaki jika dibandingkan dengan menggunakan
hukuman. Hukuman dapat menimbulkan sesuatu yang
tidak diinginkan seperti kemarahan (George & Jones, 2007).
Kedua, teori situasional. Teori-teori kepemimpinan
yang tergabung dalam kelompok ini adalah Fiedler’s
Contingency Model dan Path-Goal Theory. Terkait dengan teori
pertama, Fred E. Fiedler mengembangkan sebuah elaborasi
model kontingensi, yang berpegang bahwa pemimpin
terbaik ditentukan oleh situasi kerja pemimpin. Model
Fiedler menetapkan kondisi yang mana pemimpin harus
menggunakan tugas, dan hubungan, gaya memotivasi.
Fiedler juga menggunakan istilah kontrol situasi yang
diartikan sejauhmana pemimpin dapat mengendalikan dan
memengaruhi hasil usaha-usaha kelompok. Pengukuran
kendali situasi berdasarkan tiga faktor, yaitu: (1) hubungan
pemimpin anggota, yaitu sejauhmana anggota menerima
dan mendukung pemimpinnya, (2) struktur tugas, yakni
sejauhmana mengetahui secara nyata apa yang dilakukan
dan seberapa baik serta apakah tugas-tugas secara rinci
diselesaikan, dan (3) kekuasaan posisi (position power),
menunjukkan sejauhmana organisasi menyediakan
pemimpin dengan: (a) penghargaan dan hukuman kepada
anggota organisasi, dan (b) wewenang formal yang sesuai
untuk melakukan pekerjaan (DuBrin, 2007).
Pendekatan yang kedua adalah Path-Goal Theory. Dalam
pendekatan ini pada intinya ada empat cara yang digunakan
oleh seorang pemimpin, yitu direktif, suportif, partisipatif,
dan orientasi tugas. Direktif (directive) mencakup perilaku
mengklarifikasi yang menyediakan sebuah struktur
psikologis untuk bawahan. Pemimpin mengklarifikasikan tujuan kinerja, maksud mencapai tujuan ini , dan
menetapkan standar-standar kinerja yang akan dinilai.
Hal itu juga mencakup kebijaksanaan penggunaan
penghargaan dan tindakan disiplin. Kepemimpin direktif
sama dengan kepemimpinan orientasi tugas. Suportif
(sopportive) merupakan perilaku ini memberikan dukungan
psikologis untuk karyawan. Pemimpin bersikap ramah
dan mudah didekati, membuat pekerjaan menyenangkan,
memperlakukan karyawan degan rasa hormat yang adil,
dan menunjukkan perhatian pada status, kebutuhan
dan kesejahteraan karyawan. Kepemimpinan suportif
sama dengan kepemimpinan yang berorientasi pada
orang. Partisipatif (partisipative) berusaha mendorong dan
memfasilitasi keterlibatan bawahan dalam pengambilan
keputusan di luar aktivitas kerja normal. Pemimpin
berkonsultasi dengan karyawan, meminta sarannya,
dan mengambil ide-idenya dalam pertimbangan yang
serius sebelum mengabil sebuah keputusan. Kepimpinan
partisipatif berhubungan dengan keterlibatan karyawan
dalam keputusan. Orientasi prestasi (achievement-oriented)
berupaya mendorong karyawan untuk mencapai kinerja
puncak. Pemimpin menetapkan tujuan yang menantang,
mengaharapkan karyawan memiliki kinerja pada
tingkat yang paling atas, secara terus menerus mencari
perbaikan pada kinerja karyawan, dan menunjukkan
derajat kepercayaan tinggi sehingga karyawan akan
mengambil tanggungjawab dan melakukan tujuan-tujuan
yang menantang. Kepemimpinan yang berorientasi pada
prestasi mengaplikasikan teori penetapan tujuan.
Selain kedua pendekatan di atas, juga terdapat teori
kepemimpinan situasional yang dikembangkan Paul
Hersey dan Kenneth Blanchard. Menurut teori ini, perilaku
kepemimpinan yang efektif antara lain tergantung pada tingkat kesiapan pengikut. Kesiapan berarti sejauhmana
kemampuan yang dimiliki pengikut dan kesediaan untuk
menyelesaikan tugas. Kesediaan merupakan kombinasi
dari kepercayaan diri, komitmen dan motivasi. Teori
kepemimpinan situasional ini melahirkan empat
gaya kepemimpinan spesifik, yaitu telling (S1), selling
(S2), participating (S3) dan delegating (S4). Keempat
gaya ini merupakan kombinasi dari tugas dengan
orientasi hubungan perilaku kepemimpinan. Pemimpin
didorong untuk menggunakan gaya telling untuk
pengikut yang memiliki deraja kesiapan rendah. Gaya ini
mengombinasikan perilaku kepemimpinan berorientasi
tugas tinggi, seperti memberikan pengarahan, dengan
perilaku orientasi hubungan rendah, seperti supervisi
yang tertutup. Apabila kesiapan pengikut meningkat,
maka kepemimpinan dianjurkan untuk secara berangsurangsur bergerak dari gaya telling ke selling, participating,
dan puncaknya adalah delegating (Kinicki & Kreitner, 2008).
Ketiga, teori yang terpencar. Teori kepemimpinan yang
tergabung dalam kategori ini antara lain substitute leadership
dan self leadership. Substitute leaderhip atau kepemimpinan
pengganti merupakan teori kepemimpinan yang
dipertimbangkan untuk melawan teori kepemimpinan
yang berdasarkan pada orang. Teori kepemimpinan yang
berdasarkan orang menekankan pada pentingnya sifat
dan perilaku pemimpin. Sementara teori kepemimpinan
pengganti menekankan pada pentingnya karakteristik
situasi. Teori ini berdasarkan pada ide bahwa setidaknya
pada beberapa situasi, kepemimpinan tidak hanya efektif,
tetapi juga tidak relevan. Orang cenderung menyesuaikan
kepemimpian dan menekankan pada pentingnya sifat-sifat
pemimpin jika dibandingkan dengan kondisi aktual yang
pantas. Teori ini juga berusaha menidentifikasi karakteristik tempat kerja yang dapat mengganti untuk kepemimpinan
atau menetralisasi upaya-upaya yang dibuat oleh seorang
pemimpin (Mejia & Balkin, 2007).
Untuk kepemimpinan diri (self-leadership) menekankan
pada tanggung jawab individu karyawan untuk
mengembangkan prioritas kerjanya yang telah disesuikan
dengan tujuan organisasi. Manajer adalah fasilitator yang
meningkatkan kapasitas kepemimpinan diri bawahan
dan mendorong karyawan untuk mengembangkan
keterampilan mengendalikan diri. Ada dua mekanisme
penting dalam kepemimpinan diri, yaitu: (1) pemberdayaan
(empowerment), atau proses mentransfer kendali perilaku
kerja individu dari supervisor ke karyawan. Karyawan harus
dibekali dengan keterampilan, peralatan, dan informasiinformasi sehingga wewenang dan tanggung jawab-nya
dapat sukses didelegasikan kepadanya; (2) pemodelan
peran (role modeling), yaitu manajer memberikan contoh
perilaku-perilaku yang diharapkan untuk dilakukan oleh
karyawan. Pemodelan peran akan menjadi lebih efektif jika
karyawan dapat melihat hubungan antara adopsi perilakuperilaku yang dikehendaki dengan hasil positif, seperti
upah yang lebih tinggi, promosi, atau pengakuan publik
(Mejia & Balkin, 2007).
Keempat, teori pertukaran. Teori kepemimpinan
yang tergabung dalam kelompok ini antara lain teori
kepemimpinan transformasional, teori kepemimpinan
transaksional, teori kepemimpinan otentik atau
kharismatik. Teori kepemimpinan transformasional
ditandai kemampuan pemimpin untuk mengartikulasikan
visi bersama tentang masa depan, secara intelektual
menstimulasi karyawan, dan menaruh perhatian terhadap
perbedaan individual karyawan (Brown & Keeping,
2005). Menurut Keegan & Hartogg (2004), kepemimpinan transformasional terkait dengan identifikasi diri yang kuat,
penciptaan visi bersama untuk masa depan, dan hubungan
antara pemimpin dan pengikut berdasar pada suatu hal
yang lebih daripada sekadar pemberian penghargaan
agar patuh. Pemimpin transformasional mendefisikan
kebutuhan untuk perubahan, menciptakan visi baru,
memobilisasi komitmen untuk menjalankan visi dan
mentransformasi pengikut baik pada tingkat individual
maupun tingkat organisasi. Kemampuan pemimpin untuk
mengartikulasikan suatu visi yang atraktif bagi masa depan
adalah elemen utama dari kepemimpinan transformasional.
Menurut Kinicki dan Kreitner (2008), model kepemimpinan
transformasional banyak menghasilkan perubahan
organisasi secara signifikan karena bentuk kepemimpinan
ini menekankan pada tingkatan yang lebih tinggi pada
motivasi intrinsik, kepercayaan, komitmen dan loyalitas
dari bawahan.
Kepemimpinan transaksional (transactional leadership)
didasarkan pada konsep pertukaran antara pemimpin
dan pengikut. Pemimpin menyediakan pengikut sumber
daya dan penghargaan untuk ditukar dengan motivasi,
produktivitas dan pelaksanaan tugas yang efektif.
Kepemimpinan transaksional mengajarkan kepada
pemimpin agar menyediakan penghargaan untuk
menguatkan perilaku yang sesuai dan mencegah perilaku
yang tidak sesuai. Pemimipin transaksional adalah
pemimpin yang bertanggung jawab, andal, memiliki logika
tinggi dan berpikiran jernih. Pemimpin meyakinkan bahwa
sistem yang ada terpelihara dengan baik. Dalam situasi
konflik, pemimpin menggunakan aturan dan prosedur.
Prosedur dan standar operasional bekerja dengan baik
sepanjang hari seperti hari kemarin.Teori kepemimpinan karismatik dicitrakan sebagai
kepemimpinan yang penting dalam hubungannya dengan
kepuasan. Weber (dalam Wang & Jiang, 2005). memandang
pemimpin karismatik sebagai mistis, narsistik, dan memiliki
kemampuan personal yang magnetis. Pemimpin karismatik
berinteraksi dengan orang lain melalui keyakinan-keyakinan
dan perilaku yang unik. Pengaruh karismatik berakar
pada nilai-nilai pemimpin, karakteristik kepribadian,
dan perilaku, atribusi pengikut, konteks, atau beberapa
kombinasi dari faktor-faktor ini . Pemimpin karismatik
bersifat percaya diri, dominan, ekstraver, dan keyakinan
kuat akan nilai-nilai yang dianut, serta keyakinan dan
moral yang dianggap benar. Tendensi perilaku pemimpin
karismatik adalah melibatkan inspirasi untuk memotivasi
tindakan kolektif, berperilaku dalam berbagai cara yang
dapat menghasilkan model bagi pengikutnya, sensitif
terhadap kecenderungan lingkungan, perilaku yang tidak
konvensional, berani mengambil risiko, memformulasikan
dan mengartikulasikan suatu visi. Sementara Nyquist dan
Spence (dalam Andre, 2008) menjelaskan lima karakteristik
dari kepemimpinan karismatik, yaitu: (1) percaya diri (self
confidence), menjadi percaya diri baik dalam kemampuan
personal maupun dalam memutuskan, (2) visi (vision),
mengartikulasikan visi, menekankan ideologi, (3) perilaku
yang tidak konvensional (unconventional behavior),
menunjukkan perilaku yang baru, tidak konvensional,
dan melawan norma-norma, (4) sensitivitas lingkungan
(environmental sensitivity), menjadi realistik mengenai
ketersediaan sumber daya dan memberikan batasanbatasan yang mungkin tentang apa yang dapat dan
tidak dapat dilakukan, (5) sensitivitas terhadap bawahan
(sensitivity ti followers), tanggap terhadap kebutuhan dan
kemampuan bawahan, dan (6) model peran (role modeling), mengembangkan citra sebagai agen perubahan, seseorang
yang membuat sesuatu terjadi.
Kepemimpinan memerlukan serangkaian sifat-sifat,
ciri, atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan
pada setiap situasi. Pemimpin akan berhasil bila memiliki
sifat, ciri, dan perangai ini .
Terdapat tiga pendekatan dalam telaah kepemimpinan
untuk mengetahui sifatnya. Pendekatan pertama
memandang kepemimpinan sebagai pemunculan paduan
ciri. Pendekatan kedua mengidentifikasi perilaku yang
berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif (Sopiah,
2008). Asumsi yang lazim untuk kedua pendekatan
ini adalah bahwa individu yang memiliki ciri yang
tepat atau memperlihatkan perilaku yang tepat akan tampil
sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apa saja yang ia
masuki. Pandangan ketiga mengasumsikan bahwa kondisi
yang menentukan efektivitas kepemimpinan berbedabeda sesuai dengan situasi tugas yang harus diselesaikan,
keterampilan dan harapan bawahan, lingkungan organisasi,
pengalaman masa lampau, dan yang lainnya.
Penggagas dan penulis buku Choice Theory,
William Glasser M.D (1998) —yang mengurai perilaku
manusia berdasarkan motivasi dari dalam (internal)—
mengungkapkan, setidaknya terdapat delapan sifat
kepemimpinan, antara lain:
1. Memberi teladan tentang arti sukses kepada bawahan.
Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam
bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan
mereka bekerja. Ketiadaan tujuan dan arah sering
mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang
pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa
memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para
bawahannya.
2. Beri bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan.
Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang
pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya.
Namun, sebenarnya itu bukan tugas atasan. Daripada
terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah
orang lain, lebih baik berikan bawahan cara dan rambu
untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3. Jangan sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan.
Tak hanya kritik, pujian dan apresiasi terhadap hasil
kerja bawahan juga dapat memotivasi produktivitas
dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk
lebih sukses lagi.
4. Berikan ruang untuk kesalahan.
Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi
pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan
yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan
dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus bekerja,
tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.
5. Delegasikan tugas tanpa banyak turut campur.
Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu
mempercayakan tugas secara penuh kepada
bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi kendala
pekerjaannya sendiri. Namun, di sisi lain pastikan
seorang pemimpin selalu ada untuk membantu saat
mereka membutuhkan.
6. Lebih baik bertanya daripada memberi nasihat
Seringkali bawahan tahu lebih banyak daripada
pemimpin. Tanyakan pendapat mereka tentang
masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di kantor.
Dengan demikian, seorang pemimpin membantu
mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar terbaik dari masalah ini . Hindari memberi nasihat, karena
akan terkesan menggurui.
7. Bersikap ramah.
Aturan mainnya sederhana. Jangan berharap orang
lain bersikap ramah kepada pemimpin jika pemimpin
sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang
pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk
bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan
bersikap ramah, pemimpin akan selalu bisa melihat sisi
positif dari setiap karyawan dan memotivasi mereka
untuk bekerja lebih baik lagi.
Kepemimpinan terkait erat dengan hubungan antar
manusia. Saat bawahan percaya bahwa pemimpin tulus
peduli dengan mereka, mereka akan berusaha lebih baik
dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan, dengarkan
cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas
kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari kualitas
hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.
Sifat kepemimpinan harus dikembangkan sendiri
karena sifat ini berbeda-beda setiap orang. Kesadaran
bahwa kita sendiri yang menentukan kadar kemampuan
kepemimpinan kita untuk melakukan perbaikan. Tidak ada
cara terbaik agar menjadi pemimpin. Wirausahawan adalah
individu yang telah mengembangkan gaya kepemimpinan
mereka sendiri ,
Perilaku kepemimpinan dapat dipelajari. Oleh
karena itu, dapat terjadi bahwa individu yang dilatih
dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan mampu
memimpin secara lebih efektif. Meski begitu, penelitian
menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan yang tepat dalam satu situasi tidak selalu cocok untuk situasi yang
lain ,
Berdasarkan teori perilaku kepemimpinan, perilaku
spesifik membedakan pemimpin dengan yang bukan
pemimpin. Teori perilaku adalah yang paling menyeluruh,
dihasilkan dari penelitian yang dimulai di University of
Ohio pada akhir dasawarsa 1940-an. Peneliti di universitas
ini mengidentifikasi dimensi independen perilaku
pemimpin. Di awali dengan lebih dari beberapa dimensi,
akhirnya mereka menyempitkan menjadi dua kategori,
yang secara hakiki menjelaskan kebanyakan perilaku
kepemimpinan yang digambarkan oleh bawahan. Kedua
dimensi itu adalah struktur prakarsa dan pertimbangan
(Robbins, 2008).
Thoha (2004) menyebut empat perilaku kepemimpinan.
Pertama, kepemimpinan instruktif: memberitahukan
kepada para bawahan tentang apa yang diharapkan
dari mereka, member pedoman yang spesifik, meminta
para bawahan untuk mengikuti peraturan dan prosedur,
mengatur waktu, dan mengkoordinir pekerjaan mereka.
Kedua, kepemimpiman suportif: pemimpin yang member
perhatian kepada kebutuhan para bawahan, memperlihatkan
perhatian terhadap kesejahteraan mereka dan menciptakan
suasana yang bersahabat dalam unit kerja mereka. Ketiga,
kepemimpinan partisipatif: berkonsultasi dengan para
bawahan dan memperhitungan opini serta saran mereka.
Keempat, kepemimpinan delegatif: menetapkan tujuan
yang menantang, mencari perbaikan kinerja, menekankan
keunggulan kinerja, dan mem perlihatkan kepercayaan
bahwa para bawahan akan mencapai standar yang tinggi.
Perilaku pemimpin menyangkut dua bidang utama
(), yakni:
1. Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran,
merencanakan, dan mencapai sasaran.
2. Berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina
hubungan manusiawi.
Pemimpin yang mempunyai orientasi tugas cenderung
menunjukkan perilaku sebagai berikut (Suryana & Bayu,
2010):
1. Merumuskan secara jelas perannya sendiri maupun
peran staf.
2. Menetapkan tujuan-tujuan yang sukar, tetapi dapat
dicapai dan memberitahukan kepada anak buah apa
yang diharapkan dari mereka.
3. Menentukan prosedur untuk mengukur kemajuan
menuju tujuan dan untuk mengukur pencapaian tujuan
ini , yakni tujuan yang dirumuskan secara jelas
dan kas.
4. Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif
dalam merencanakan, mengarahkan, membimbing,
dan mengendalikan kegiatan yang berorientasi tujuan.
5. Berminat meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, pemimpin yang berorientasi orang
menunjukkan pola perilaku sebagai berikut
1. Menunjukkan perhatian atas terpeliharanya
keharmonisan dalam organisasi dan menghilangkan
ketegangan.
2. Menunjukkan perhatian pada orang sebagai manusia
dan bukan sebagai alat produksi.
3. Menunjukkan pengertian dan rasa hormat atas
kebutuhan, tujuan, keinginan, perasaan, dan ide
bawahan.
4. Mengupayakan komunikasi timbal balik yang baik
dengan staf.
5. Menerapkan prinsip penekanan ulang untuk
meningkatkan prestasi karyawan.
6. Mendelegasikan kekuasaan dan tanggung jawab serta
mendorong inisiatif.
7. Menciptakan suasana kerja sama dan gugus kerja dalam
organisasi.
Fungsi pemimpin adalah mengarahkan, membina,
mengatur, dan menunjukkan orang-orang yang dipimpin
supaya mereka senang, sehaluan, terbina, serta menurut
kehendak dan tujuan pemimpin (Suryana & Bayu, 2010).
Kegagalan pemimpin dalam menjalankan tugasnya
menunjukkan kegagalan pemimpin sendiri. Begitu juga
sebaliknya, keberhasilan seorang pemimpin menunjukkan
kesuksesan pemimpin itu sendiri.
Pemimpin pada dasarnya adalah seorang manajer.
Maka, ia pun harus paham dengan fungsi-fungsi
manajemen secara umum. Dalam institusi bisnis/usaha,
fungsi pemimpin adalah sebagai berikut
1. Koordinasi, yakni pemimpin harus mampu menjalin
koordinasi yang baik antar kegiatan dan organisasi.
2. Pengarahan, yakni harus mampu memberikan
pengarahan yang benar supaya tidak terjadi
penyimpangan dan keterlambatan terhadap strategi
dan kebijakan organisasi yang telah ditetapkan.
3. Komunikasi, yaitu seorang pemimpin yang harus
mampu berkomunikasi, baik kepada atasan maupun
bawahan.
4. Konsultasi, yaitu seorang pemimpin harus mampu
mengambangkan sikap konsultatif ke atas dan ke
bawah serta memupuk keterbukaan.
5. Pelayanan, yakni harus rendah hati dan mampu member
pelayanan yang baik dan memuaskan.
Untuk dapat menjalankan fungsi kepemimpinan
dengan baik, maka seorang pemipin harus memiliki sifat
kreatif, inovatif, dan komunikatif, yakni kemampuan
untuk mentransfer dan menerapkan gagasan serta praktik
pembauran yang berdaya guna dan berhasil guna bagi
kepentingan lembaga dan orang banyak. Faktor yang
memengaruhi fungsi kepemimpinan seorang pemimpin
adalah karakter kepribadian, kelompok yang dipimpin,
dan situasi
Prinsip umum kepemimpinan yang baik adalah:
semakin besar perhatian pada karyawan, semakin keras
mereka bekerja. Dengan demikian, fungsi kepemimpinan
sesuai dengan pemimpinnya. Jika mementingkan
karyawan, peluang sukses lebih besar. Jika pemimpin
bersifat manusiawi dalam hubungan dengan karyawan,
dipastikan bakal membawa efisiensi dan laba yang lebih
besar. Karakter yang harus dimiliki wirausaha, seperti
dikutip , pada jiwa wirausaha
yaitu:
1. Berani bertindak.
2. Membangun tim yang baik.
3. Menjadi pendengar yang baik.
4. Berani mengambil risiko.
5. Having mentor.
6. Pikiran yang terbuka.
7. Membangun kepercayaan.
F. Kunci Sukses Pemimpin
Fakta telah menunjukkan bahwa hanya orang-orang
kreatif dan inovatif yang bisa bertahan dalam persaingan
bisnis, terutama di tengah-tengah krisis multidimensional
dan persaingan hebat. Pribadi yang kreatif dan inovatif
ditandai dengan tingginya kepercayaan diri, jauh dari rasa
takut, dan selalu siap mengantisipasi segala tantangan
dalam bisnis, bahkan dalam keadaan yang tak terduga
sekalipun. Selain itu, ketika tak mampu menyelesaikan
suatu masalah dengan strategi tertentu, ia dapat dengan
cerdik menyelesaikan masalah dengan daya pikir dan
kreasi baru. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas dan
inovasi sangat vital dalam bisnis (Alifuddin, 2012).
Bagaimana kreativitas dan inovasi dapat dikembangkan? Paling tidak ada empat langkah yang perlu dilakukan
dengan baik. Pertama, selalu berpikir inovatif. Dalam
kerangka itu, sebuah usaha perlu ditetapkan tahaptahap kesuksesan dalam marketing plan-nya – yang kerap
disebut dengan rencana pengembangan usaha, baik dari
aspek posisi, pembagian penghasilan, maupun pemberian
fasilitas. Jika berhasil meraih kesuksesan, itu adalah buah
dari berpikir inovatif. Karena itu, untuk mendapatkan hasil
kerja yang memuaskan, perlu menempuh berbagai cara
yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Kedua, berani introspeksi diri. Kita perlu menyediakan
waktu menilai kejadian dan aktivitas masa lalu agar
semakin memahami bagaimana strategi meraih kesuksesan
sekaligus menghindari kegagalan. Caranya adalah
melakukan evaluasi diri, lalu membandingkan dengan
kenyataan dan target yang disusun dari awal. Seandainya
realisasi masih jauh dari target, sebaiknya kita memikirkan
cara dan strategi baru untuk meningkatkan produktivitas.
Selain pekerjaan yang sedang berjalan, sebaiknya juga
dilakukan evaluasi melalui pertemuan secara berkala dan
intensif antara karyawan dan pimpinan. Dalam pertemuan
itu, setiap bagian membahas berbagai masalah dan
solusinya. Tujuannya, agar mereka punya kemampuan
berpikir dan berdiskusi untuk menentukan ide baru yang
dapat dikembangkan.Ketiga, berani mencoba. Untuk menumbuhkan sikap
kreatif dan inovatif, kepada para karyawan perlu ditekankan
untuk mencoba hal-hal baru, baik dalam penjualan maupun sponsorship. Meskipun semua itu membutuhkan
pengorbanan, baik dalam aspek biaya maupun perlunya
ketabahan ketika menghadapi
Related Posts:
wirausaha 2 bekerja tanpa lelah, menjadikan usaha sebagai sahabat sejati, dan loyal terhadap usaha yang dijalankan.6. Dev… Read More