wirausaha 3

menghadapi risiko kegagalan, namun 
perlu dilakukan berbagai upaya secara terus menerus 
agar kematangan kepribadian terbentuk dari pengamalan￾pengalaman baru. Dari semua upaya yang telah dicoba, 
dapat ditentukan langkah dan strategi terbaiknya.
Keempat, rekreasi. Di balik kegiatan rutinitas kerja, 
sebaiknya ada waktu untuk berekreasi ke tempat-tempat 
yang menyenangkan. Rekreasi bisa membuat pikiran 
kita segar sekaligus merangsang daya kreatif. Dalam hal 
ini, fasilitas perjalanan wisata yang disediakan bagi para 
karyawan minimal dilaksanakan dua kali setahun.
Kita dapat berkaca pada semut. Semut tinggal di 
mana-mana, di daun, di lubang atau sela-sela tanah, di 
bawah pot tanaman bunga, atau di tempat- tempat lain di 
sekitar kita. Semut selalu mempunyai ”ide” untuk tinggal 
di mana saja. Karena itu, semut selalu hidup safe dan 
damai. Jika ada di antara mereka menemukan makanan, 
mereka pun saling berbagi dengan yang lain, bahkan 
mereka saling memberikan informasi untuk mendapatkan 
makanan. Semut mengajar kepada kita bahwa: kita tidak 
dapat memegang obor untuk menerangi jalan orang lain 
tanpa menerangi jalan kita sendiri. Ini suatu kearifan yang 
bersumber dari manajemen semut.
Demikian pula bagi para pengelola usaha, diharapkan 
tidak pernah kehabisan akal dan taktik dalam merespon 
positif berbagai persoalan, hambatan dan tantangan. 
Karena itu, mereka diharapkan hidup tenteram dan damai 
serta bekerja sama, saling menghargai, baik antarsesama karyawan maupun dalam lingkungan keluarga dan 
masyarakat, apalagi saat-saat menghadapi tantangan 
baru dalam situasi krisis. Hal ini membutuhkan strategi 
yang tidak melanggar nilai-nilai etika masyarakat serta 
berangkat dari prinsip saling menguntungkan, baik kepada 
perusahaan, karyawan, maupun para konsumen.
Suatu usaha akan tumbuh dan berkembang jika 
ia menjadi bagian dari hobi atau kegemaran. Untuk 
menempatkan karyawan ataupun seorang pekerja dalam 
jabatan tertentu, akan lebih efektif jika karyawan itu diberi 
jabatan yang sesuai dengan kegemaran atau hobinya. Sebab, 
jika suatu usaha (bisnis) atau pekerjaan yang diberikan 
kepada seseorang kemudian tidak bersentuhan dengan 
hobi yang digemari, ia bakal sulit mencintai pekerjaannya.
Meski Anda memiliki hati yang lembut dan suka 
merendah, wawasan Anda sebagai pemimpin harus selalu 
terdepan dibandingkan yang lain. Artinya, jika karyawan 
berpikir lokal, sebaiknya Anda berpikir regional. Jika 
karyawan lain berpikir regional, mestinya Anda berpikir 
global, atau Anda harus berkeliling ASEAN. Jika karyawan 
lain berkeliling ASEAN, sebaiknya Anda harus mengelilingi 
dunia. Tapi perlu diingat, jangan pernah berpikir Anda 
adalah segala-galanya, yang paling hebat. Berpikirlah 
bahwa ilmu pengetahuan yang Anda miliki bersumber dari 
Tuhan, yang selanjutnya dianugerahkan kepada Anda dan 
diteruskan kepada orang lain. Karena itu, ilmu yang Anda 
miliki akan bermanfaat kalau diberikan kepada karyawan, 
atau diterapkan bersama-sama demi pengembangan 
perusahaan.
Perusahaan bisa berkembang jika diperkaya dengan 
gagasan, ide, kemauan, kerja sama, dan modal kerja 
yang tersedia. Jangan berpikir Andalah yang memajukan 
perusahaan. Tapi, berpikirlah bahwa kemajuan suatu perusahaan karena berkat kerja sama yang baik antarpihak 
yang bersangkutan. Lakukan berbagai daya dan upaya 
untuk menciptakan sumber daya manusia yang hebat, 
berakualitas unggul. Hanya dengan wadah organisasi yang 
didirikan dan diikat dengan teamwork yang solid, karyawan 
akan merasa menjadi satu bagian dari kesatuan tim yang 
memiliki kemampuan dengan memberikan kontribusi 
positif bagi eksistensi dan kontinuitas organisasi. Karena 
itu, setiap kesuksesan ataupun kegagalan harus disadari 
sebagai suatu hasil karya tim, bukan hasil individu.
Untuk menuju tangga tujuan, dibutuhkan kekompakan 
tim kerja yang baik. Mula-mula membentuk tim kerja yang 
solid, lalu diperlukan profesionalisme dalam menerapkan 
sistem kerja yang terkoordinasi, penuh tanggung jawab, 
dan disiplin yang tinggi. Untuk mewujudkannya, di 
samping sikap kepedulian seluruh anggota karyawan, juga 
diperlukan dorongan semangat kerja yang tinggi dengan 
memperhatikan aspek penting yang secara langsung 
dapat memengaruhi setiap anggota tim lainnya. Misalnya, 
kesejahteraan anggota pada masa pensiun, peningkatan 
kualitas sumber daya manusia melalui pemberian 
pendidikan formal ataupun pendidikan tinggi secara 
gratis, penghargaan bagi anggota yang berprestasi dengan 
memberikan piagam, hadiah gratis berwisata ke dalam 
atau ke luar negeri, dan hadiah gratis melakukan ibadah 
umrah atau naik haji.
Dalam menjalin hubungan yang baik dan harmonis 
serta saling menguntungkan, baik dengan sesama 
pengusaha, pemerintah, karyawan, maupun konsumen 
sebagai pemakai, terdapat beberapa faktor lain yang harus 
diperhatikan dalam perusahaan. Pertama, sumber daya 
manusia yang berkualitas. Karena itu, karyawan yang 
bergabung di perusahaan kita wajib mengikuti seleksi yangketat. Hanya yang mampu dan memiliki kualitas excellence
yang bisa diterima. Kemudian, setelah mereka bergabung, 
pihak perusahaan tak henti-hentinya mengontrol mutu dan 
upgrading keterampilan karyawan dan jabatan yang tepat.
Kedua, ada modal yang memadai. Artinya, modal tidak 
mesti berlimpah ruah. Buat apa banyak modal, tapi tidak 
mampu dikelola secara efesien dan efektif. Sebaliknya, 
tidak mungkin usaha itu ada tanpa memerlukan modal 
atau hanya modal dengkul. Minimal harus memiliki 
infrastruktur dan penyediaan sarana yang memadai. 
Ketiga, nasib. Bagaimana pun hidup manusia 
ditentukan oleh Tuhan. Karena itu, kalaupun Anda sudah 
berusaha maksimal, yang menentukan hasil akhirnya 
adalah Tuhan.
H. Menjadi Pemimpin yang Baik
Dalam dinamika kehidupan manusia sebagai makhluk 
sosial muncul beragam pandangan dan pola hidup, 
yang meliputi keseluruhan hidup manusia dan dimulai 
dari pranata keluarga, pranata sosial, sampai pranata 
negara. Dalam dunia usaha, kompleksitas keberagaman 
itu memerlukan upaya pengorganisasian. Salah satunya 
adalah manajemen. Mengelola sebuah organisasi ibarat 
memimpin sebuah perang. Apakah kita akan memutuskan 
maju, bertahan, mundur, atau menyerah? Itu menjadi 
landasan penting bagi eksistensi pasukan dalam mencapai 
tujuan bersama.
Misi yang paling penting untuk dikelola dimulai dari 
lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Dalam lingkungan 
ini, terdapat beberapa hal yang sangat penting untuk 
ditata. Misalnya, komunikasi yang baik antarsemua 
anggota keluarga, sehingga segala bentuk permasalahan 
dapat diselesaikan demi terciptanya hubungan yangharmonis; inventarisasi keluarga, agar apa yang kita miliki 
dapat dimanfaatkan, dipelihara, dan dikembangkan; 
pengelolaan keuangan secara dinamis, dengan pengaturan 
cash in flow dan cash out flow. Caranya, antara lain, dengan 
membuka tabungan rutin untuk biaya hidup sehari-hari 
yang dapat diisi setiap bulan dan diambil sesuai dengan 
kebutuhan sehari-hari, misalnya dua kali dalam seminggu; 
membuka tabungan khusus untuk biaya pajak, pendidikan,
pakaian, rekreasi, wisata ke luar negeri, umrah, ibadah 
haji, sumbangan-sumbangan zakat, wakaf, dan biaya tak 
terduga; membuka deposito berjangka yang dapat diisi 
setiap tiga bulan untuk pengembangan dana, modal usaha, 
investasi, dan sebagainya.
Sistem pengelolaan seperti itu sangat sederhana 
dan dapat dipergunakan di lingkungan yang terkecil, di 
mana pun, dan kapan pun. Sistem itu akan sukses secara 
menyakinkan jika semua pihak dalam lingkungan ini  
memiliki komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana 
meningkatkan penghasilan keluarga atau usaha yang 
dikelola.
Jika sistem pengelolaannya masih terikat dengan tradisi 
konservatif, maka sistem itu akan gagal karena kesuksesan 
pengelolaan suatu usaha harus didukung dengan ide-ide 
segar, tingkat kreativitas yang tinggi, dan keberanian meng￾hadapi risiko yang tidak terduga. Hal penting lain yang 
harus diingat adalah: kesuksesan itu sangat ditentukan oleh 
kesolidan teamwork, individu, dan perangkat organisasi 
lainnya. Misalnya, dalam lingkungan bisnis, manajer 
sebagai eksekutor utama kerja-kerja organisasi dituntut 
memiliki hubungan yang sehat dan harmonis dengan 
jajarannya, melalui penciptaan suasana kekeluargaan di 
dalam organisasi, menumbuhkan semangat kesetaraan 
bahwa manajer dan karyawan berada pada ”kapal” yang 
sama, senasib dan sepenanggungan.Penulis memiliki pengalaman yang menarik, satu tahun 
pertama berdirinya kursus Handayani pada tahun 1982, 
tepatnya di Jalan Nuri, Makassar. Saat itu, penulis bekerja 
one man power. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari urusan 
pimpinan, staf, infrastruktur, tenaga keamanan, sampai of￾fice boy. Naluri sebagai leader mengharuskan manajemen 
yang qualified diterapkan. Kemudian penulis merekrut 
beberapa tenaga kerja segar dengan kualitas prima. Mula￾mula dibuat pengumuman lowongan kerja dengan sasaran 
para siswa SLTA yang akan menyelesaikan studinya. Setelah 
melalui tahapan seleksi ketat, akhirnya berhasil direkrut 
lima pegawai untuk mengisi pos-pos organisasi. Kelima 
orang itu dididik khusus untuk mengelola organisasi 
Handayani sekaligus menjadi tenaga pengajar.
Selaku owner/leader, awalnya penulis menggunakan pola 
manajemen kepada pegawai dengan filosofi bahwa dunia 
usaha berbeda jauh dengan dunia pendidikan. Misalnya, 
saat belajar di kelas, Anda membayar biaya pendidikan 
dengan harga mahal. Tapi, saat ini perusahaanlah yang 
akan membayar Anda. Jika di kelas atau sekolah, apabila 
Anda sukses dalam ujian dan dapat mengumpulkan nilai 
yang tinggi, berarti Anda berprestasi dengan baik. Tapi 
apabila Anda menceburkan diri ke dalam dunia bisnis 
setiap hari, Anda akan menghadapi ujian dan tidak hanya 
dapat mencapai nilai yang tinggi, tapi bisa sampai ribuan 
atau cuma lima puluh saja. Karena itu, dalam dunia bisnis, 
jika Anda membuat satu kesalahan, maka tidak begitu saja 
akan mendapat nilai nol yang begitu sederhana, tapi akan 
memperoleh nilai minus dan tidak ada batas sampai di 
mana Anda merosot, dan akhirnya menjadi bahaya bagi 
perusahaan.
Penulis berpesan kepada para karyawan baru dan 
memberikan pengarahan agar mereka paham bagaimana 
sebenarnya wajah dunia bisnis. Penulis selalu menanamkan kepada mereka bahwa yang terpenting bagi mereka 
mengenai perusahaan dan tentang diri mereka masing 
masing adalah: penulis tidak memberikan gaji tetap karena 
ini bukan perusahaan pemerintah. Jadi, dengan sukarela 
mereka memilih bekerja, itu berarti Anda harus menggaji 
diri sendiri. Karena itu pula, kursus Handayani bak sebuah 
alat yang harus mereka manfaatkan sepandai-pandainya. 
Misalnya, jika semua gergaji tidak dipergunakan dengan 
baik, maka gergaji itu tidak bermanfaat dan akan menjadi 
karatan karena cara menggunakannya pun diperlukan 
keahlian dan teknik tersendiri. Sebab, kalau tekniknya 
salah, pohon yang ditebang bisa menimpa diri sendiri.
Demikian pula perusahaan Handayani adalah ”alat” 
yang harus dimanfaatkan untuk mencari keuntungan. 
Jadi, bukan perusahaan yang mencari untung, tapi Anda 
yang mencari uang, yang akan dikembalikan sebagai gaji 
kepada Anda. Jika ingin gaji besar, Anda harus bekerja 
keras dan mempergunakan teknik-teknik tersendiri agar 
memperoleh keuntungan yang besar.
Karena itu, penulis selalu mewanti-wanti mereka agar 
benar-benar memanfaatkan semua potensi yang ada pada 
diri mereka dengan baik. Jangan pesimistis, jangan pernah 
menyerah, Anda harus maju terus dengan penuh semangat 
dan iringan doa.
Dalam institusi bisnis, kepemimpinan sangat penting. 
Pemimpinlah yang membuat arah dan kebijakan tentang 
bisnis, untuk kemudian diimplementasikan oleh anak 
buah. Sebagian besar institusi bisnis yang menjadi besar 
dan terus berkembang ditopang oleh gaya kepemimpinan 
yang andal dan profesional. Keunggulan wirausaha 
yang sukses dibandingkan dengan wirausaha yang gagal  
terletak pada dinamika dan efektivitas kepemimpinan. 
Pimpinan wirausaha merupakan unsur pokok di dalam 
setiap perusahaan.
Kepemimpinan memerlukan serangkaian sifat-sifat, 
ciri, atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan 
pada setiap situasi. Pemimpin akan berhasil bila memiliki 
sifat, ciri, dan perangai ini .
Sifat kepemimpinan harus dikembangkan sendiri 
karena sifat ini  berbeda-beda setiap orang. Kesadaran 
bahwa kita sendiri yang menentukan kadar kemampuan 
kepemimpinan kita untuk melakukan perbaikan. Tidak ada 
cara terbaik agar menjadi pemimpin. Wirausahawan adalah 
individu yang telah mengembangkan gaya kepemimpinan 
mereka sendiri.
Perilaku spesifik membedakan pemimpin dengan 
yang bukan pemimpin. Perilaku pemimpin menyangkut 
dua bidang utama:
1. Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran, 
merencanakan, dan mencapai sasaran.
2. Berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina 
hubungan manusiawi.
Fungsi pemimpin adalah mengarahkan, membina, 
mengatur, dan menunjukkan orang-orang yang dipimpin 
supaya mereka senang, sehaluan, terbina, serta menurut 
kehendak dan tujuan pemimpin. Kegagalan pemimpin 
dalam menjalankan tugasnya menunjukkan kegagalan 
pemimpin sendiri. Begitu juga sebaliknya, keberhasilan 
seorang pemimpin menunjukkan kesuksesan pemimpin 
itu sendiri.
Hanya pemimpin kreatif dan inovatif yang bisa bertahan 
dalam persaingan bisnis, terutama di tengah-tengah krisis 
multidimensional dan persaingan hebat. Pemimpin yang 
kreatif dan inovatif ditandai dengan tingginya kepercayaandiri, jauh dari rasa takut, dan selalu siap mengantisipasi 
segala tantangan dalam bisnis, bahkan dalam keadaan 
yang tak terduga sekalipun. Selain itu, ketika tak mampu 
menyelesaikan suatu masalah dengan strategi tertentu, 
ia dapat dengan cerdik menyelesaikan masalah dengan 
daya pikir dan kreasi baru. Hal ini menunjukkan bahwa 
kreativitas dan inovasi sangat vital dalam bisnis
Mengelola sebuah organisasi ibarat memimpin sebuah 
perang. Apakah kita akan memutuskan maju, bertahan, 
mundur, atau menyerah? Itu menjadi landasan penting 
bagi eksistensi pemimpin dan pasukannya dalam mencapai 
tujuan bersama.



Inovasi adalah hal yang tak terelakan dalam dunia 
wirausaha. Dengan inovasi, terbuka peluang untuk 
diversifikasi produk atau jasa sekaligus memperlebar 
pangsa pasar. Apalagi, lingkungan bisnis yang kompetitif 
dan dinamis menuntut wirausaha untuk selalu adaptif 
dan mencari terobosan terbaru. Karakter cepat puas diri 
akan membawa bisnis menuju kemunduran. Maka, inovasi 
adalah jawaban untuk wirausaha yang sukses.
 merangkum beberapa definisi inovasi, 
antara lain:
Inovasi adalah aktivitas imajinatif untuk menghasilkan 
produk orsinil sekaligus komersil. (Institute for 
Innovation and information productivity)
Inovasi adalah memperkenalkan sesuatu yang baru 
(Business Week).
Inovasi berkaitan dengan proses komersialisasi atau 
ekstraksi nilai dari ide; hal ini berkebalikan dengan 
‘invensi’ di mana tidak langsung berhubungan dengan 
komersialisasi 
mengidentifikasi lima jenis inovasi , yakni:
1. Produk baru atau perubahan substansial dari produk 
sebelumnya.2. Proses baru.
3. Pangsa pasar baru.
4. Sumber daya baru.
5. Perubahan organisasi usaha/industri.
Inovasi bukan hanya sekadar sebuah ide. Meski sumber 
ide itu sendiri adalah hal yang penting, namun peran 
berpikir kreatif lebih vital dalam pengembangan inovasi 
Suryana dan Bayu (2010) menggambarkan inovasi 
sebagai kreativitas yang diterjemahkan menjadi sesuatu 
yang dapat diimplementasikan dan memberikan nilai 
tambah atas sumber daya yang kita miliki. Jadi, untuk 
senantiasa dapat berinovasi, kita memerlukan kecerdasan 
kreatif. Caranya, dengan berlatih untuk senantiasa 
menurunkan gelombang otak sedemikian rupa sehingga 
kita dapat mencapai hati nurani kita sebagai sumber 
kreativitas dan intuisi bisnis. 
Inovasi dapat dikelompokkan menjadi dua kategori: 
inkremental atau inovasi berkelanjutan dan inovasi radikal 
Titik akhir inovasi berkelanjutan adalah 
menngembangkan teknologi yang telah eksis dengan 
cara baru. Contohnya iPod yang dikembangkan Apple, 
merupakan perbaikan dari pemutar MP3. Inovasi radikal 
bermuara pada sesuatu yang benar-benar baru atau 
menghapus teknologi sebelumnya. Misalnya, internet dan 
pil kontrasepsi. 
 menyebutkan bahwa inovasi merupakan 
terminologi yang lebih dekat ke sisi ekonomi atau sosial 
ketimbang teknis. Hal ini mirip dengan pengertian 
kewirausahaan seperti yang diungkapkan Say. Lebih lanjut 
Drucker mengungkapkan, “Innovation is the specific fuction of entrepreneurship, 
whether in an existing business, a public service institution, 
or a new venture started by a lone individual. Innovations 
is the means by which the entrepreneur either creates new 
wealth-producing resources or endows existing resources 
with enhanced potential for creating wealth.” 
Penjelasan ini  menunjukkan pengertian bahwa 
inovasi adalah fungsi khusus dari kewirausahan, baik itu 
dalam bisnis yang telah ada, institusi pelayanan publik, 
atau usaha yang baru dimulai individu seorang diri. Inovasi 
juga berarti pengusaha yang menciptakan kekayaan baru, 
yaitu menghasilkan sumber daya atau memberikan sumber 
daya yang telah ada dengan meningkatkan potensi untuk 
menciptakan kekayaan. 
 mendefinisikan inovasi sebagai sesuatu 
yang berkenaan dengan barang, jasa, atau ide yang 
dirasakan baru oleh seseorang. Meskipun ide ini  telah 
lama eksis tetapi ini dapat dikatakan suatu inovasi bagi 
orang yang baru melihat atau merasakannya. Lebih lanjut 
menurut Kottler, perusahaan dapat melakuka inovasi 
berupa:
1. Inovasi produk (barang, jasa, ide, tempat).
2. Inovasi manajemen (proses kerja, proses produksi, 
keuangan, pemasaran).
 inovasi berkelanjutan risikonya 
lebih kecil serta mudah diprediksi. Bahkan, lebih cepat 
menemukan selera pasar. Namun, inovasi berkelanjutan 
harus diselingi dengan inovasi radikal untuk menghambat 
kejenuhan serta berkurangnya keuntungan.
 bahwa dalam melakukan
inovasi perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai 
berikut:1. Sesuatu yang dilakukan
a. Menganalisis peluang
b. Apa yang harus dilakukan untuk memuaskan 
peluang
c. Sederhana dan terarah
d. Dimulai dari yang kecil
e. Kepemimpinan 
2. Sesuatu yang tidak dilakukan
a. Mencoba untuk menjadi yang pandai
b. Mencoba ingin mengerjakan sesuatu yang banyak
c. Mencoba inovasi untuk masa yang akan dating
3. Kondisi
a. Memerlukan ilmu pengetahuan
b. Membangun keunggulan sendiri
c. Inovasi adalah efek dari ekonomi masyarakat
Hisrich, Peters & Shepherd (2008) menyebutkan bahwa 
inovasi merupakan kunci perkembangan ekonomi dari 
perusahaan manapun, wilayah (propinsi) dalam suatu 
negara, dan negara itu sendiri. Ketika teknologi berubah, 
produk lama penjualannya menurun dan industri lama 
berkurang jumlahnya. Inovasi merupakan struktur 
pembangun masa depan ekonomi. Thomas Edison  juga mengatakan bahwa 
pikiran yang inovatif terdiri atas 1 persen inovasi dan 99 
persen kerja keras.
Dari hasil pembuatan skala perilaku inovatif yang 
dilakukan dengan menggunakan analisis faktor, Kleysen 
dan menemukan lima dimensi untuk 
mengukur perilaku inovatif, yaitu:
1. Eksplorasi peluang (opportunity exploration). Berdasarkan 
penelusuran pada beberapa literatur, eksplorasi peluang 
mencakup menaruh perhatian pada sumber peluang, mencari peluang untuk inovasi, mengenali peluang, 
dan mengumpulkan informasi tentang peluang.
2. Generativitas (generativity). Generativitas berhubungan 
dengan perilaku yang diarahkan untuk menghasilkan 
perubahan yang menguntungkan untuk tujuan 
pertumbuhan organisasi, orang, produk, proses, 
dan jasa. Generativitas meliputi tiga perilaku pokok, 
yaitu: menghasilkan ide atau solusi untuk peluang, 
menghasilkan representasi atau kategori peluang, dan 
menghasilkan aosiasi dan kombinasi ide dan informasi.
3. Investigasi informatif (informative investigation). 
Dimensi ini berhubungan dengan memberikan 
bentuk dan mengeluarkan ide, solusi dan opini serta 
mencobanya melalui investigasi. Perilaku umum yang 
ditunjukkan meliputi memformulasikan ide dan solusi, 
memperagakan ide dan solusi, mengevaluasi ide dan 
solusi.
4. Memperjuangkan (championing). Memperjuangkan 
meliputi perilaku sosial politik yang melibatkan proses 
inovasi dan penting untuk merealisasikan solusi, ide 
dan inovasi potensial. Perilaku umum yang ditunjukkan 
yaitu memobilisasi sumber daya, membujuk dan 
memengaruhi, mendorong dan bernegoisiasi, 
menantang dan mengambil risiko.
5. Aplikasi (application). Perilaku yang ditunjukkan 
dalam dimensi ini adalah mengimplementasikan, 
memodifikasi, dan membiasakan.

Membicarakan inovasi dalam wirausaha tentu tidak 
terlepas dari sumber-sumber inovasi itu sendiri. Drucker 
(1986) membagi sumber inovasi menjadi tujuh jenis, yakni:
1. Hal yang tidak diperkirakan (the unexpected), yakni 
sukses yang tidak diperkirakan atau kegagalan yang 
tidak diperkirakan.
2. Keganjilan/ketidaksesuaian (the incongruity), ada 
perbedaan antara realitas yang sebenarnya dengan 
kenyataan yang diasumsikan.
3. Proses kebutuhan (process need).
4. Perubahan struktur pasar dan struktur industri.
5. Demografi, yakni perubahan dalam besaran populasi, 
struktur usia, komposisi tenaga kerja, tingkat 
pendidikan,
6. Perubahan persepsi, suasana hati
7. Pengetahuan baru, ilmiah atau tidak.
Bagi wirausahawan, inovasi bersifat memanfaatkan 
perubahan daripada menciptakannya. Mencari inovasi 
dapat dilakukan dengan memanfaatkan perubahan 
pada penemuan yang menyebabkan perubahan. Ide 
inovatif dapat bersumber pada kreativitas eksternal dan 
internal. Kreativitas eksternal dapat dirangsang dengan 
memanfaatkan secara sistematis rasa keingintahuan tentang 
perkembangan, ide, dan kekuatan baru yang sedang 
berlangsung di sekitar . Lebih lanjut 
menurut Suryana & Bayu (2010), inovasi merupakan alat 
spesifik kewirausahaan serta tindakan yang memberikan 
sumber daya dan kemampuan baru untuk menciptakan 
kesejahteraan. 
Kuratko (dalam Frederick, Kuratko & Hodgetts, 2006) 
membagi sumber inovasi menjadi delapan jenis, yakni:
1. Tren
Menandakan pergeseran dalam paradigma terkini (atau 
pemikiran terkini) dari mayoritas penduduk. Mengamati 
tren dengan saksama akan membuat wirausaha mampu 
untuk mengenali peluang potensial. Tren harus diamati dalam masayarakat, pemerintahan, ekonomi dan 
teknologi. 
2. Peristiwa tak terduga
Bisa berupa keberhasilan atau kegagalan yang karena 
tidak direncanakan sering terbukti menjadi sumber 
inovasi besar yang mengejutkan. Peristiwa teror 11 
September 2001 misalnya, memicu aliran deras solusi 
inovatif terhadap tantangan baru yang muncul mengenai 
keamanan dalam negeri AS.
3. Kesenjangan
Terjadi saat sebuah jurang perbedaan ditemui antara 
kenyataan dan harapan. 
4. Kebutuhan proses 
Kebutuhan ini ada saat sebuah jawaban terhadap sebuah 
kebutuhan tertentu diperlukan. Wirausahawan harus 
menemukan sebuah solusi inovatif atau “pereda sakit”. 
Perubahan pasar dan industri
Pergeseran terus menerus dalam pasar disebabkan oleh 
perkembangan seperti sikap konsumen, perkembangan 
dalam teknologi dan pertumbuhan industri. Industri dan 
pasar selalu mengalami perubahan dalam hal struktur, 
desain, atau definisi.
1. Perubahan kependudukan.
Berasal dari perubahan tren dalam masyarakat, usia, 
pendidikan, pekerjaan, lokasi geografis dan faktor lain 
yang sejenis. Pergeseran demografis penting dan sering 
memberikan peluang berbisnis yang belum terpikirkan 
sebelumnya. Misalnya, saat jumlah penduduk usia lanjut 
meningkat di suatu wilayah karena makin banyaknya 
pensiunan, pengembangan lahan, industri perawatan 
kesehatan dan rekreasi menjadi bidang-bidang bisnis 
yang menguntungkan.2. Perubahan persepsi
Merupakan perubahan yang terjadi dalam interpretasi 
fakta dan konsep masyarakat mengenai suatu isu. 
Perubahan ini tak berwujud tetapi sangat bermakna. 
Persepsi bisa menimbulkan pergeseran besar dalam ide 
yang ingin diwujudkan dengan sukses. 
3. Konsep berdasarkan pengetahuan
Merupakan pondasi penciptaan atau pengembangan 
dari sesuatu yang baru sama. Penemuan baru biasanya 
berdasarkan pada pengetahuan. Penemuan juga 
merupakan sebuah produk pemikiran baru, metode 
baru dan pengetahuan baru. Inovasi seperti ini sering 
membutuhkan periode waktu yang lama antara waktu 
memulai dan implementasi di pasar karena harus diuji 
dan dimodifikasi agar lebih sempurna. 
sumber peluang inovasi juga 
dapat berasal dari:
1. Penelitian dan pengembangan 
Perusahaan-perusahaan yang telah maju atau besar 
umumnya mempunyai satu divisi khusus untuk 
melakukan penelitian dan pengembangan ini merupakan 
suatu inovasi yang sistematis dengan menggunakan 
metode-metode ilmiah. Perusahaan ini berprinsip harus 
melakukan inovasi terus menerus bagi kelangsungan 
hidupnya.
2. Keberhasilan atau kegagalan.
Keberhasilan/kegagalan baik dari perusahaan sendiri 
maupun dari perusahaan lain dapat dijadikan sumber 
ide bagi suatu inovasi. Keberhasilan peluncuran suatu 
produk merupakan ide untuk melakukan inovasi bagi 
produk yang lainnya. Produk inovasi ini  dapat 
sama tetapi dengan perbedaan spesifikasinya.
3. Penolakan pelanggan
Pelanggan yang menolak sebuah produk atau jasa karena satu alas an, bisa menjadi sumber peluang inovasi untuk 
mengembangkan produk atau jasa yang lebih baru.
4. Kebutuhan, keinginan, dan daya beli masyarakat.
Inovasi dapat bersumber dari memperhatikan 
kebutuhan, keinginan, dan daya beli masyarakat. 
Misalnya, semua masyarakat mempunyai kebutuhan 
akan perumahan. Namun keinginan dari individu 
masyarakat ini  berbeda beda sesuai dengan selera 
dan keadaan ekonomi mereka.
5. Persaingan.
Persaingan adalah sumber inovasi yang sangat besar 
andilnya dalam peluncuran produk-produk baru. 
Persaingan membuat perusahaan akan terdorong untuk 
melakukan inovasi.
6. Perubahan demografi.
Perubahan demografi dapat merupakan sumber inovasi 
untuk menyesuaikan produk-produk yang ada atau 
membuat produksi yang sama sekali baru. Perubahan 
demografi meliputi; usia, seks, jumlah keluarga, 
siklus kehidupan keluarga, pendapatan, kedudukan, 
pendidikan, agama, ras, kebangsaan
7. Perubahan selera.
Konsumen dapat diasumsikan mudah tertarik dengan 
sesuatu yang baru atau berbeda dari apa yang biasa 
dilihatnya sehri-hari. Konsumen mempunyai keinginan 
untuk tampil beda dengan yang lainnya sesuai 
dengan seleranya masing-masing. Perubahan harus 
cermat memperhatikan selera para konsumen dan 
perubahannya untuk segera melakukan inovasi bagi 
produknya.
8. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
Munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru untuk 
memudahkan memproduksi suatu barang atau jasa 
dapat merupakan sumber inovasi.Kotak 4
Inovasi Kecil Tapi Berkelanjutan
Setiap inovator selalu berharap untuk menghasilkan 
inovasi yang akan menjadi serangkaian terobosan 
yang mengagumkan. Namun, menurut Rosabeth Moss 
Kanter, dalam kondisi perekonomian global yang belum 
sepenuhnya pulih, inovasi seringkali berisiko tinggi bagi 
perusahaan apalagi startup yang masih labil dan belum lagi 
harus mempertimbangkan para konsumen yang tak terlalu 
menyukai perubahan.
 Karena itu, daripada harus bermimpi menelurkan 
inovasi besar yang akan dicatat dalam sejarah, pusatkan 
tenaga dan pikiran Anda untuk melakukan upaya inovasi 
dalam skala yang lebih masuk akal. Demikian saran Kanter. 
Caranya dengan fokus untuk mengerjakan hal-hal ‘kecil’ 
tetapi memiliki dampak dan manfaat yang tidak kecil bagi 
perbaikan kehidupan.
Carilah perbaikan dan penyempurnaan yang bisa 
diterapkan dalam setiap produk dan layanan yang Anda 
tawarkan kepada masyarakat luas. Gunakan berbagai 
eksperimen kecil dan sederhana tetapi efektif dan tak 
banyak memakan biaya bagi perusahaan dengan tujuan 
untuk menguji animo konsumen terhadap ide baru yang 
Anda benamkan dalam produk dan layanan baru. 
Carilah inovasi yang dengan mudah bisa disesuaikan 
penerapannya oleh konsumen dan jangan sampai inovasi 
ini  memberatkan investasi. Inovasi ini  memiliki 
peluang untuk digemari dan konsumen.
Dalam wirausaha, inovasi dan kreativitas adalah dua 
hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat anak 
panah, yang bisa melesat menghasilkan bisnis yang terus 
berkembang dan menguntungkan.
Menghadapi persaingan yang semakin kompleks 
dan ekonomi global, Zimmerer menyebut kreativitas tidak hanya penting untuk 
menciptakan keunggulan kompetitif, tapi juga penting bagi 
kesinambungan perusahaan. Artinya, dalam menyiasati 
tantangan global, diperlukan sumber daya manusia 
kreatif dan inovatif sekaligus berjiwa kewirausahaan. 
Wirausahalah yang dapat menciptakan nilai tambah dan 
keunggulan. Nilai tambah itu dihasilkan melalui kreativitas 
dan inovasi. kunci utama seseorang yang 
memutuskan menjadi wirausahawan adalah berpikir 
kreatif. Tanpa kreativitas, mimpi seorang wirausahawan 
hanyalah angan-angan saja.
Beberapa tahun terakhir, riset mengenai kreativitas 
dalam bisnis meningkat pesat. Menurut Richard Florida 
(dalam Frederick, Kuratko & Hodgetss, 2006), kreativitas 
manusia merupakan faktor utama ekonomi dan 
kemasyarakatan. Kita sekarang bahkan memiliki ekonomi 
berlandaskan kreativitas manusia dan tak pelak lagi, kata 
Florida, kreativitas adalah sumber keuntungan kompetitif.
terdapat dua aspek kreativitas yaitu proses dan manusia. 
Proses berorientasi pada tujuan, dirancang untuk 
mengatasi masalah. Manusia merupakan sumber daya 
yang menentukan penyelesaian masalah.
McPherson seperti dikutip Hubeis  menyatakan bahwa kreativitas adalah 
kemampuan menghubungkan dan merangkai ulangpengetahuan di dalam pikiran manusia yang membiarkan 
dirinya untuk berpikir secara lebih bebas dalam 
membangkitkan hal-hal baru, atau menghasilkan gagasan 
yang mengejutkan pihak lain dalam menghasilkan hal 
yang bermanfaat.
Definisi yang lebih spesifik dikemukakan oleh Evans 
 Menurut Evans, kreativitas 
adalah keterampilan untuk menentukan pertalian baru, 
melihat subjek dari perspektif baru dan membentuk 
kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah 
tercetak dalam pikiran dan juga merupakan pembangkit 
ide baru. 
Dari dua pengertian ini  dapat dikatakan 
bahwa kreativitas merupakan sekumpulan ide, berupa 
pengetahuan atau pengalaman yang berada dalam pikiran 
manusia yang kemudian digabungkan menjadi hal yang 
sifatnya kreatif yang berguna pada dirinya sendiri ataupun 
orang lain atau organisasi dalam situasi dan kondisi yang 
tidak menentua. 
Dalam pandangan Hubeis  kreativitas adalah pertimbangan subjektif dan 
berkonteks khusus mengenai segala sesuatu yang baru 
serta merupakan hasil perilaku secara individu maupun 
kolektif. 
Definisi-definisi di atas membawa kita pada 
pemahaman bahwa kreativitas pada hakikatnya adalah:
1. Dimiliki oleh setiap orang (baik pada tingkat kemampuan 
yang kecil maupun besar)
2. Memerlukan pencapaian dari suatu prespektif yang 
baru. Paling tidak baru untuk orang ini .
3. Persperktif yang baru ini, dicapai dengan membawa 
bersama pengalaman yang tidak berhubungan 
sebelumnya.
4. Kreativitas mendambakan sesuatu yang lebih berkualitas.
5. Seseorang harus mendekati lingkungannya dengan cara 
yang holistic.
6. Orang yang kreatif harus berfantasi, bermain, dan 
berpikir.
7. Orang yang kreatif bersikap spontan, fleksibel, dan 
terbuka terhadap pengalaman.
8. Spontanitas dari manusia adalah sumber dari kreativitas.
Orang kreatif mudah dikenali. Terdapat beberapa 
atribut khas yang melekat pada orang kreatif  yaitu:
1. Memiliki nilai intelektual dan artistik.
2. Minat pada kompleksitas.
3. Peduli pada pekerjaan dan pencapaian.
4. Tekun.
5. Berpikir mandiri.
6. Toleransi terhadap keraguan.
7. Otonom.
8. Percaya diri.
9. Siap mengambil risiko.
Di sisi lain, Raudsepp  juga memberi 
ciri khas orang kreatif sebagai berikut:
1. Sensitif terhadap permasalahan.
2. Lancar – kemampuan untuk men-generik ide-ide yang 
banyak.
3. Fleksibel.
4. Keaslian.
5. Responsif terhadap perasaan.
6. Terbuka terhadap fenomena yang belum jelas.
7. Motivasi.
8. Bebas dari rasa takut gagal.
9. Berpikir dalam imajinasi.
10. Selektif.Bagi wirausahawan, kreativitas adalah proses. 
Kreativitas adalah sikap. Maka, naluri kreativitas harus 
diasah terus dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat 
melihat peluang bisnis, dan dalam menghadapi iklim 
kompetisi. Hal-hal sekecil apapun, bagi wirausahawan, 
layak diperlakukan secara kreatif.
mengidentifikasi 
empat fase proses kerja kreatif. Keempat fase ini  
adalah:
1. Latar belakang atau akumulasi pengetahuan.
Penciptaan atau kreasi yang sukses biasanya didahului 
oleh penyelidikan dan pengumpulan informasi. Hal 
ini  dapat dilakukan dengan banyak membaca, 
mengikuti seminar atau workshop, serta menyerap 
informasi umum terkait masalah yang sedang dikaji.
2. Proses inkubasi pemikiran.
Individu kreatif akan membiarkan isi kepalanya 
dipenuhi informasi. Proses inkubasi biasanya terjadi saat 
mereka tidak sedang beraktivitas yang terkait dengan 
masalah yang tengah ditangani. Bisa saja proses inkubasi 
ini  berlangsung saat tidur. Maka, sediakanlah 
waktu luang untuk aktivitas ringan, olahraga, dan 
lainnya, agar proses inkubasi berlangsung.
3. Pengalaman dengan ide
Merupakan fase paling menarik dari proses kreatif. 
Fase ini terjadi saat idea tau solusi yang sedang dicari 
berhasil ditemukan. Banyak ahli yang menyebut proses 
ini sebagai faktor eureka.
4. Evaluasi dan implementasi
Adalah langkah yang paling sulit dalam ikhtiar kreatif 
karena membutuhkan kedisiplinan dan ketekunan. 
Wirausaha yang sukses dapat mengidentifikasi ide 
yang dapat dijalankan sekaligus punya keterampilan mengimplementasikannya. Hal yang paling pentig 
adalah, mereka tidak akan menyerah jika menemui 
halangan. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa 
kesuksesan sebuah kreativitas didahului oleh banyak 
kegagalan. Sebab, pada hakikatnya ide terbaik memang 
muncul dari proses uji coba.
Bagi wirausahawan, berpikir kreatif dapat membantu 
memecahkan masalah sekaligus menemukan solusi. Ada 
beberapa manfaat berpikir kreatif , antara 
lain:
1. Menemukan gagasan, ide, peluang, dan inspirasi baru.
2. Mengubah masalah atau kesulitan dan kegagalan 
menjadi pemikiran cemerlang untuk langkah 
selanjutnya.
3. Menemukan solusi yang inovatif.
4. Menemukan kejadian yang belum pernah dialami atau 
yang pernah dialami sehingga menjadi penemuan baru.
5. Menemukan teknologi baru.
6. Mengubah keterbatasan menjadi kekuatan atau 
keunggulan.
Agar wirausawahan dapat mengembangkan pola pikir 
kreatif, memberi 
beberapa solusi, di antaraya:
1. Berpikir lateral
Berpikir lateral dikembangkan oleh Edward de Bono. 
Makna berpikir lateral adalah berpikir yang berlawanan 
dengan pola kebiasaan dan bukannya bergerak searah 
dengan pola ini . Menurut de Bono, hakikat 
berpikir lateral adalah keluar dari penjara ide-ide lama. 
Meski begitu, berpikir lateral tidak dimaksudkan untuk 
melawan pemikiran vertikal, namun keduanya saling 
melengkapi.2. Berpikir out of the box
Maksudnya, berpikir di luar pola kebiasaan, dengan 
meninggalkan zona nyaman. Berpikir out of the 
box diperlukan oleh wirausahawan agar dapat 
memenangkan kompetisi sekaligus bertahan di tengan 
persaingan yang makin ketat. 
3. Memandang hubungan antar elemen.
Untuk meningkatkan kreativitas, wirausaha harus 
memandang hubungan antara elemen dan individu 
dengan berbeda. Kemampuan ini dapat dikembangkan 
dengan cara memandang benda dan manusia sebagai 
hubungan yang saling melengkapi dengan benda dan 
manusia lainnya. Hubungan ini  akan memicu 
pada pandangan baru yang bermuara pada ide, produk, 
dan jasa baru.
Ada anggapan bahwa kreativitas sifatnya genetik dan 
hanya milik orang tertentu. Pandangan seperti itu jelas 
keliru. Sebab, pemikiran kreatif bisa dikembangkan dan 
dipelajari oleh setiap orang.  merangkumnya 
sebagai berikut:
1. Mulai berimajinasi dan terus berimajinasi. Caranya:
a. Menggambarkan pemikiran kita tentang suatu 
kejadian yang unik, menarik, dan aneh.
b. Membayangkan benda atau produk lalu membuat 
prototipe-nya.
2. Berpikir berbeda dengan orang lain atau berlawanan.
3. Belajar berpikir optimis, bukan pesimis dalam 
menghadapi masalah yang belum terjawab.
4. Selalu membuat konsep, misalnya dengan:
a. Sketsa perencanaan dan ide.
b. Corat-coret dalam setiap pemikiran.
c. Menguraikan kejadian sebuah pengalaman.
d. Menggambarkan apa yang baru saja terjadi.e. Membuat perincian dari berbagai sisi.
5. Berpikir, melihat, dan memvisualisasikan hal dari 
segala aspek.
6. Berpikir lebih detail.
7. Melihat produk, gambar, atau hal lebih lama untuk 
menemukan perbedaan.
8. Mengamati perubahan yang terjadi.
9. Menggabungkan pemikiran yang terdiri atas 
pengetahuan, pengalaman, dan informasi yang baru, 
atau kejadian yang dialami.
10. Selalu berpikir bahwa barang, produk, atau hal yang kita 
lihat belum sempurna dan masih bisa disempurnakan.
Kreativitas bagi seorang wirausahawan adalah harga 
mati. Para wirausahawan akan berhasil jika mengembangkan 
proses berpikir kreatif serta melaksanakan hal baru atau 
lama dengan cara baru (inovasi).

Beberapa tahun terakhir, muncul genre baru 
wirausaha yang bermodalkan ide, inovasi, dan kreativitas. 
Wirausaha jenis ini menghasilkan produk berupa barang 
yang diproduksi massal, namun juga tak sedikit yang 
menghasilkan jasa. Wirausaha (industri) kreatif kini telah 
menjadi andalan mahasiswa dan anak muda yang berpikiran 
maju, tak hanya mengandalkan diri untuk menjadi pekerja. 
Pemerintah pun membuka peluang wirausaha kreatif, 
bahkan mewadahinya dalam kementerian tersendiri, yakni 
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
 memberi alasan munculnya wirausaha 
kreatif. Menurutnya, untuk unggul dalam persaingan, bisnis 
tidak lagi mengandalkan teknologi saja, tetapi melibatkan 
faktor lain yang menjadi kunci sukses dalam memulai bisnis 
dan dapat dijadikan peluang, yakni kemampuan berpikir
kreatif serta pemikiran untuk menciptakan produk atau 
jasa yang kreatif agar bisnis baru bisa berkembang.
pebisnis yang kreatif 
dibutuhkan untuk menjadi rekan dan penunjang kesuksesan 
perusahaan besar. Maka, munculnya pengusaha muda 
yang kreatif akan menciptakan model entrepreneur gaya 
baru, creativepreneur. Mereka adalah wirausahawan yang 
menciptakan kreasi tiada henti sebagai inti bisnisnya.
Di Indonesia, industri (wirausaha) kreatif 
 didefinisikan sebagai industri 
yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan 
serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan 
serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan 
mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu 
ini .
Tidak seperti industri pada umumnya, industri kreatif 
merupakan kelompok industri yang terdiri atas berbagai 
jenis industri dan memiliki keterkaitan dalam proses 
pengeksploitasian ide atau kekayaan intelektual menjadi 
nilai ekonomi tinggi yang dapat menciptakan kesejahteraan 
dan lapangan pekerjaan. Inggris yang merupakan pelopor 
industri kreatif mengelompokkan 13 sektor usaha kreatif, 
yakni periklanan, arsitektur, seni dan barang antik, 
kerajinan, desain, fesyen, film dan video, piranti lunak 
interaktif (games), musik, seni pertunjukkan, penerbitan, 
komputer dan piranti lunak, televisi, serta radio.
Indonesia mengelompokkan industri kreatifnya ke 
dalam 14 kelompok  yakni:
1. Arsitektur.
2. Desain.
3. Fesyen.
4. Film, video, dan fotografi.
5. Kerajinan.
6. Komputer dan piranti lunak.7. Musik.
8. Barang seni.
9. Penerbitan dan percetakan.
10. Periklanan.
11. Permainan interaktif.
12. Riset dan pengembangan.
13. Seni pertunjukkan.
14. Televisi dan radio.
Di dalam industri kreatif, kreativitas memegang 
peranan sentral sebagai sumber daya utama. Industri 
kreatif lebih banyak membutuhkan sumber daya kreatif 
yang berasal dari kreativitas manusia daripada sumber 
daya fisik. Namun demikian, sumber daya fisik tetap 
diperlukan terutama dalam peranannya sebagai media 
kreatif. Apalagi, industri kreatif mengutamakan desain 
dalam penciptaan produk. Industri kreatif membutuhkan 
kreativitas individu sebagai input utama dalam proses 
penciptaan nilai.
Hal yang penting diketahui dalam industri kreatif 
adalah rantai penciptaan, karena pemahaman atas rantai 
penciptaan ini  berguna untuk menentukan strategi 
pengembangan. Urutan pengembangannya adalah sebagai 
berikut ,
1. Kreasi, terdiri atas; edukasi, inovasi, ekspresi, 
kepercayaan diri, pengalaman dan proyek, proteksi, 
agen talenta.
2. Produksi, terdiri atas; teknologi, jaringan outsourcing 
jasa, skema pembiayaan
3. Distribusi, terdiri dari; Negosiasi Hak Distribusi, 
Internasionalisasi, Infrastruktur
4. Komersialisasi, terdiri dari; Pemasaran, Penjualan, 
Layanan (Services), Promosi
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet 
Indonesia Bersatu II, Mari Elka Pangestu mengatakan, 
pada tahun 2011, sektor ekonomi kreatif merupakan sektor 
keempat terbesar dari 10 sektor ekonomi nasional dalam 
hal penyerapan tenaga kerja setelah sektor pertanian, 
peternakan, kehutanan & perikanan, perdagangan, hotel 
dan restoran, serta sektor jasa. Sektor ekonomi kreatif 
menyerap tenaga kerja melalui terciptanya usaha-usaha 
baru. Subsektor yang menyerap tenaga kerja terbesar 
adalah subsektor fesyen, kuliner dan kerajinan dengan 
pertumbuhan tertinggi di subsektor kerajinan sebesar 1,42 
persen ,
Sejalan dengan meningkatnya kelas menengah, pangsa 
pasar industri kreatif dipastikan semakin besar. Untuk itu, 
diperlukan generasi muda berjiwa wirausaha yang kreatif, 
inovatif, dan berani maju untuk mengembangkan 14 sektor 
industri kreatif ini . 
Inovasi dalam wirausaha membuka peluang 
diversifikasi produk dan pangsa pasar. Lingkungan bisnis 
yang kompetitif dan dinamis menuntut wirausaha untuk 
selalu adaptif dan mencari terobosan terbaru. Karakter 
cepat puas diri akan membawa bisnis menuju kemunduran. 
Maka, inovasi adalah jawaban untuk wirausaha yang 
sukses.
Inovasi sebagai kreativitas yang diterjemahkan menjadi 
sesuatu yang dapat diimplementasikan dan memberikan 
nilai tambah atas sumber daya yang kita miliki. Jadi, untuk 
senantiasa dapat berinovasi, kita memerlukan kecerdasan 
kreatif.
Inovasi merupakan kunci perkembangan ekonomi 
dari perusahaan manapun, wilayah (propinsi) dalam
suatu negara, dan negara itu sendiri. Ketika teknologi 
berubah, produk lama penjualannya menurun dan industri 
lama berkurang jumlahnya. Inovasi merupakan struktur 
pembangun masa depan ekonomi
Bagi wirausahawan, inovasi bersifat untuk 
memanfaatkan perubahan daripada menciptakannya. 
Mencari inovasi dilakukan dengan memanfaatkan 
perubahan pada penemuan yang menyebabkan perubahan. 
Ide inovatif dapat bersumber pada kreativitas eksternal 
dan internal.
Menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan 
ekonomi global, kreativitas tidak hanya penting untuk 
menciptakan keunggulan kompetetif, tapi juga penting bagi 
kesinambungan perusahaan. Artinya, dalam menyiasati 
tantangan global, diperlukan sumber daya manusia 
kreatif dan inovatif sekaligus berjiwa kewirausahaan. 
Wirausahalah yang dapat menciptakan nilai tambah dan 
keunggulan. Nilai tambah itu dihasilkan melalui kreativitas 
dan inovasi.
Kreativitas adalah proses. Kreativitas adalah sikap. 
Maka, naluri kreativitas harus diasah terus dalam kehidupan 
sehari-hari, misalnya saat melihat peluang bisnis, dan dalam 
menghadapi iklim kompetisi. Hal-hal sekecil apapun, 
bagi wirausahawan, layak diperlakukan secara kreatif. 
Kreativitas bagi seorang wirausahawan adalah harga mati. 
Para wirausahawan akan berhasil jika mengembangkan 
proses berpikir kreatif serta melaksanakan hal baru atau 
lama dengan cara baru (inovasi).



Persaingan antar wirausahawan saat ini semakin sengit. 
Tak jarang ditemukan, mereka memperebutkan pangsa 
pasar yang sama. Karena itu, wirausahawan dituntut tahan 
banting, pantang menyerah, dan terus mencari peluang 
baru.
Dengan alasan itulah, sebelum berkecimpung ke dunia 
bisnis, seorang wirausahawan seharusnya mengenali 
potensi diri. Apakah mereka termasuk individu yang berani 
mengambil risiko, tahan banting, kuat dengan tekanan, 
anti stres, atau tidak. 
Salah satu potensi diri yang wajib dimiliki setiap 
pengusaha adalah sikap ketahanmalangan/adversitas 
(adversity/sikap tahan banting). Menurut penggagas 
advesitas, Paul Stoltz, sikap ketahanmalangan merupakan 
faktor pembentuk sukses orang-orang besar. Berdasarkan 
penelitian Stoltz, ditemukan fakta bahwa orang hebat dan 
sukses adalah mereka yang tahan terhadap penderitaan, 
berani menghadapi tantangan dan risiko dalam perjalaan 
hidupnya. 
Menurut Stoltz dalam buku Adversity Quotient: Turning 
Obstacles into Opportunities (2000), kehidupan yang dijalani 
manusia dapat dibagi atas tiga kategori, yakni: quitters
(diam dan tidak dinamis), camper (selalu mencoba tetapi mudah menyerah setelah mendapat tantangan), dan climber 
(berani dan bertahan menghadapi tantangan kehidupan). 
Kesuksesan menurut Stoltz ibarat puncak gunug tertinggi 
yang mampu didaki oleh manusia. Orang sukses adalah 
mereka yang mau dan mampu mendaki hingga ke puncak 
gunung. Mereka inilah yang termasuk kategori climber atau 
pendaki.
Karakter camper ciri khasnya adalah ingin sukses 
tapi tidak sampai di puncak gunung. Mereka ingin 
mendaki gunung sebagaimana halnya climber, tetapi 
cepat menyerah ketika mendapatkan tantangan (badai) 
dalam perjalanan mendaki ke puncak bukit. Mereka tidak 
melanjutkan perjalanan dan memilih untuk mendirikan 
tenda/kemah (camp) di tengah perjalanan ini . Mereka 
berharap bahwa tantangan akan berhenti sehingga dapat 
melanjutkan perjalanan. Namun tantangan (badai) ini  
tidak hilang karena merupakan sifat alami ketinggian. 
Mereka selamanya berada di tempat ini , menikmati 
serta berpuas diri sampai di situ, meskipun mereka tidak 
pernah sampai di puncak sukses yang sesungguhnya.
Karakter yang lebih buruk adalah quitters. Mereka 
adalah orang yang menghindari tantangan mendaki 
gunung. Mereka adalah tipe orang yang mencari 
kesenangan dan zona nyaman dalam hidupnya. Tipikal 
wirausahawan bukanlah quitters, melainkan climber. Sifat 
quitters lebih banyak ditemukan pada sosok pekerja, yang 
memang menikmati zona nyamannya sebagai karyawan 
dengan gaji di tangan setiap bulan.
Adversitas, menurut kamus Webster, termasuk 
peristiwa-peristiwa celaka. Jika seseorang berpikir 
adversitas, maka akan memikirkannya mulai dari apa 
yang orang alami, seperti tiba-tiba putus cinta, kesulitan 
keuangan, depresi emosi, dan perkembangan karir yangtidak menyenangkan. Orang tidak tahu bahwa adversitas 
akan datang dan merupakan realitas yang tidak diharapkan.
Ketegaran diri merupakan indikator dari kecerdasan 
adversitas (adversity quotient), terletak pada kerelaan 
menerima segala hal dengan lapang dada (Ronni, 2006). 
Terkait dengan hal ini, William James, bapak psikologi 
terapan, secara filosofis mengungkapkan: “Be willing to have 
it so … be willing to have it so, because acceptance of what has 
happened is the first step in overcoming the consequences of any 
misfortune” (bersedialah menerima apa pun dengan ikhlas, 
karena penerimaan terhadap apa pun yang terjadi adalah 
langkah pertama dalam mengatasi akibat dari segala 
kemalangan) ,
Pernyataan ini  menunjukkan bahwa dalam 
kehidupannya setiap orang senantiasa berhadapan atau 
sekurang-kurangnya berhubungan dengan kemalangan, 
ketidakberuntungan, atau kesulitan, entah dalam ukuran 
kecil maupun besar. Kondisi ini, dalam kenyataannya, 
tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Faktanya, tidak ada 
seorang pun manusia di muka bumi yang terhindar sama 
sekali dari kemalangan atau kesulitan. 
Pengalaman mengajarkan bahwa kehidupan dan karir 
kepemimpinan seseorang tidak terlepas dari kekecewaan, 
frustrasi, hambatan dan krisis. Semua itu muncul dalam 
berbagai bentuk: kematian, sakit, kerugian keuangan, 
perceraian, pegawai yang marah, konflik antarpribadi, 
tantangan etika, dan kecemburuan. Semua peristiwa yang 
bisa menghambat jalan pemimpin menuju sukses. Tidak 
seorangpun diselamatkan. Seperti kematian dan beban, 
adversitas selalu ada ,
Adversitas bukan hanya ditakdirkan, tetapi dalam 
lingkungan usaha yang kacau dan bergolak sekarang 
ini, adversitas tampaknya lebih sering muncul daripada sebelumnya. Pengelompokan adversitas pimpinan dapat 
dilihat dari: nasib malang, uji coba, dan adversitas itu sendiri . Oleh karena itu, terkait dengan 
kemalangan, kesulitan, kesengsaraan, atau tantangan 
ini , Csikzentmihaly menulis, “Dari semua sifat yang 
bisa kita pelajari, tidak ada watak yang lebih bermanfaat, 
lebih penting dari kelangsungan hidup, dan lebih besar 
kemungkinannya untuk memperbaiki mutu kehidupan, 
daripada kemampuan untuk mengubah kesulitan menjadi 
tantangan yang menyenangkan .” Hal ini 
mengisyaratkan bahwa kesulitan memang telah menjadi 
bagian dari kehidupan umat manusia dan karena itu harus 
dihadapi dan dijadikan tantangan. 
Kemalangan, kesulitan atau kesengsaraan tidak cukup 
hanya dicita-citakan untuk diantisipasi, tetapi lebih dari 
itu perlu untuk segera diatasi dengan cepat. Cara untuk 
mengatasi itu misalnya dapat bersandar dari kondisi yang 
faktual bahwa dalam realitasnya ada seseorang mengeluh 
dan meratap, tetapi ada yang tidak; ada yang tegang 
dan gelisah, tetapi ada juga yang memiliki kedamaian 
yang terpancar dari dalam; ada pula orang akan mencari 
lebih banyak uang, lebih banyak wibawa, lebih banyak 
kesenangan dan lebih banyak hiburan, tetapi ada pula 
yang cukup puas dengan kehidupannya . Maknanya adalah bahwa kemalangan, 
kesulitan atau kesengsaraan dapat diringankan dengan 
pemahaman mendalam tentang berbagai fenomena hidup, 
dengan argumen empirik bahwa kondisi yang tidak 
membahagiakan itu telah terbukti menerpa setiap manusia 
dan karena itu perlu ditanggapi biasa saja, tidak berlebihan, 
sehingga tidak betul-betul dirasakan sebagai kemalangan, 
kesulitan, atau kesengsaraan yang benar-benar sangat 
menghimpit.Untuk bisa sampai pada tataran itu tentu dibutuhkan 
keberanian, yaitu keberanian untuk melihat dan 
memandang kemalangan, kesulitan atau kesenggsaraan 
secara realistis, sebagai bagian dari kehidupan manusia yang 
tak terpisahkan namun perlu dipecahkan. Sebagaimana 
kemalangan, kesulitan atau kesengsaraan yang seolah￾olah given, keberanian juga merupakan anugerah yang 
memberi seseorang kemampuan menghadapi bahaya 
tanpa harus diliputi dengan ketakutan. Keberanian bukan 
bersifat mutlak. Keberanian tergantung pada situasi dan 
orang. Keberanian muncul dalam berbagai cara. Apa yang 
menuntut keberanian dari seseorang tampaknya mudah bagi 
orang lain. Keberanian tidak selalu menyangkut tindakan 
heroik kesatria di medan tempur. Keberanian juga menjadi 
tindakan orang biasa dalam mencari kehidupan lebih baik 
. Keberanian bukan merupakan 
pengalaman emosi murni – apa yang sering disebut guts oleh 
banyak orang. Keberanian memiliki komponen rasional. 
Ini bukan hanya merupakan sesuatu yang dilakukan 
tanpa berpikir. Keberanian menuntut pembuatan suatu 
pilihan dengan adanya adversitas ,
Dengan demikian, keberanian merupakan kondisi pikiran. 
Ini berkaitan dengan bagaimana manusia mengalami 
situasi terentu dan bagaimana harus menghadapi rasa 
takut. Membiarkan diri didominasi oleh rasa takut akan 
meninggalkan sedikit pilihan kecuali tenggelam. Terlalu 
yakin bahwa orang bisa menangani sesuatu bisa mengarah 
pada kenekadan dan kekerasan. Tetapi mengenali rasa 
takut, terlalu yakin bisa menangani situasi, dan mengambil 
inisiatif meskipun ada rasa takut, merupakan tindakan 
yang berani ,
Semua tindakan keberanian dikaitkan dengan kesulitan 
dan kesengsaraan. Tantangan keras selalu merupakan konteks yang memengaruhi saat-saat berani. Jika semua itu 
mudah, tidak memerlukan keberanian. Tampak jelas bahwa 
tantangan, kesengsaraan, kesulitan atau bahaya membuka 
agenda bagi keberanian, menyelamatkan sesuatu. Ini 
semua bersifat relatif ,
Adversitas berkaitan dengan keberanian untuk 
menghadapi kesulitan, kemalangan, kesengsaraan dan 
tantangan. Oleh sebab itu adversitas menjadi perjuangan 
di dua tingkatan: pribadi (intern) dan umum (ekstern). 
Penyelesaian krisis atau peristiwa adversitas menuntut 
kedua tingkatan itu dikelola serentak. Misalnya para 
pemimpin menjadi sosok umum. Meskipun ada perjuangan 
pribadinya, kalangan usaha harus terus maju. Dunia nyata 
memiliki tuntutan yang tidak bisa diabaikan. Namun, 
tingkat intern atau pribadi merupakan pusat untuk 
menaklukkan semua adversitas. Inilah di mana masalah 
itu dirasakan oleh emosi dan bergeser serta berubah secara 
mental 

Setiap orang memiliki adversitas dengan kadar yang 
berbeda-beda. Kadar ini  dapat dinamakan kecerdasan 
adversitas. Kecerdasan adversitas (Adversity Quotient
– AQ) memasukkan dua komponen penting dari setiap 
konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan penerapannya di 
dunia nyata. Hasil riset selama 19 tahun dan penerapannya 
selama 10 tahun merupakan terobosan penting dalam 
pemahaman tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai 
kesuksesan. Suksesnya pekerjaan dan hidup ditentukan 
oleh AQ, karena:
1. AQ memberi tahu seberapa jauh individu mampu 
bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk 
mengatasinya. 
2. AQ meramalkan apa yang mampu mengatasi kesulitan 
dan siapa yang akan hancur.
3. AQ meramalkan siapa yang akan melampaui harapan￾harapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa 
yang akan gagal.
4. AQ meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa 
yang akan bertahan ,
AQ mempunyai tiga bentuk. Pertama, AQ adalah suatu 
kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan 
meningkatkan semua segi kesuksesan. AQ berlandaskan 
pada riset yang berbobot dan penting, yang menawarkan 
gabungan pengetahuan yang praktis dan baru, yang 
merumuskan kembali apa yang diperlukan untuk mencapai 
kesuksesan. Kedua, AQ adalah ukuran untuk mengetahui 
respons terhadap kesulitan. Selama ini pola-pola bawah 
sadar ini sebetulnya sudah dimiliki individu. Sekarang 
untuk pertama kalinya, pola-pola ini  dapat diukur, 
dipahami dan diubah. Ketiga, AQ adalah serangkaian 
peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki 
respons terhadap kesulitan, yang berakibat memperbaiki 
efektivitas pribadi dan profesional secara keseluruhan .
AQ mulai dengan individu, tetapi melampaui batas 
individu. AQ dapat meramalkan (Stoltz, 2000):
• Kinerja • Kesehatan emosional.
• Motivasi • Kesehatan jasmani
• Kreativitas • Daya tahan
• Produktivitas • Perbaikan sedikit demi sedikit
• Pengatahuan • Tingkah lauk
• Energi • Umur panjang
• Penghargaan • Respons terhadap perubahan
• Kebahagiaan, vitalitas, 
dan kegembiraan
Dengan kondisi seperti itu AQ mendasari semua 
segi kesuksesan. Orang-orang yang memiliki AQ lebih 
tinggi menikmati serangkaian manfaat, termasuk kinerja, 
produktivitas, kreativitas, kesehatan, ketekunan, daya 
tahan, dan vitalitas yang lebih besar daripada mereka yang 
rendah AQ-nya ,
Untuk melihat kadar AQ seseorang, antara lain dapat 
dilihat dari tiga tipe individu, yakni: quiters, campers, dan 
climbers. Tipe quiters tercermin dari individu-individu 
yang memilih keluar, menghindari kewajiban, mundur 
dan berhenti. Quiters adalah orang-orang yang berhenti; 
menghentikan pendakian, menolak kesempatan yang 
diberikan, mengabaikan, menutupi, atau meninggalkan 
dorongan inti yang manusiawi untuk mendaki, dan dengan 
demikian juga meninggalkan banyak hal yang ditawarkan 
oleh kehidupan. Campers atau orang-orang yang berkemah, 
pergi tak seberapa jauh, mudah bosan, mengakhiri 
pendakiannya dan mencari tempat datar yang rata dan 
nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak 
bersahabat, memilih menghabiskan sisa-sisa hidup dengan 
duduk di situ. Berbeda dengan Quitters, Campers sekurag￾kurangnya telah menanggapi tantangan pendakian, telah 
mencapai tingkat tertentu. Perjalanannya mungkin memang 
mudah, atau mungkin telah mengorbankan banyak hal 
dan telah bekerja dengan rajin untuk sampai ke tempat 
dimana kemudian berhenti. Pendakian yang tidak selesai 
itu oleh sementara orang dianggap sebagai ”kesuksesan”. 
Ini merupakan pandangan keliru yang sudah lazim bagi 
orang yang menganggap kesuksesan sebagai tujuan yang 
harus dicapai, jika dibandingkan dengan perjalanannya. 
Namun demikian, meskipun Campers telah berhasil 
mencapai tempat perkemahan, mereka tidak mungkin 
mempertahankan keberhasilan itu tanpa melanjutkan pendakiannya. Karena, yang dimaksud dengan pendakian 
adalah pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada 
diri seseorang . Climbers, atau si pendaki, 
adalah untuk orang yang seumur hidup membaktikan 
dirinya pada pendakian. Tanpa menghiraukan latar 
belakang, keuntungan atau kerugian, nasib buruk atau 
nasib baik, terus mendaki. Climbers adalah pemikir yang 
selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan 
tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat 
fisik atau mental, atau hambatan lainnya menghalangi 
pendakiannya ,
Quitters menjalani kehidupan yang tidak terlalu 
menyenangkan. Quitters meninggalkan impian-impiannya 
dan memilih jalan yang dianggap lebih datar dan lebih 
mudah. Ironisnya, seiring dengan berlalunya waktu, 
Quitters mengalami penderitaan yang jauh lebih pedih 
daripada yang ingin dielakkan dengan memilih untuk 
tidak mendaki. Saat yang paling memilukan dan me￾nyedihkan adalah sewaktu Quitters menoleh ke belakang 
dan melihat bahwa kehidupan yang telah dijalani ternyata 
tidak menyenangkan. Inilah nasib Quitter, orang yang 
berhenti. Quitters sering menjadi sinis, murung, dan mati 
perasaannya. Menjadi pemarah dan frustrasi, menyalahkan 
semua orang di sekelilingnya, dan membenci orang-orang 
yang terus mendaki. Quitters juga sering menjadi pecandu, 
entah itu pecandu alkohol, narkoba, atau acara-acara 
televisi yang tidak bermutu. Quitters mencari pelarian 
untuk menenangkan hati dan pikiran (Stoltz, 2000).
Seperti Quitters, Campers juga menjalani kehidupan 
yang tidak lengkap. Perbedaannya terletak pada 
tingkatnya. Karena lelah mendaki, campers mungkin 
merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa 
yang sudah ada, dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi.
Campers biasanya merasa tidak ada salahnya berhenti 
mendaki supaya bisa menikmati hasil jerih payahnya, atau 
tepatnya, menikmati pemandangan dan kenyamanan yang 
sudah diperoleh selama pendakian yang belum selesai itu. 
Sambil memasang tenda, campers memfokuskan energinya 
pada kegiatan mengisi tenda dengan barang-barang yang 
sedapat mungkin membuatnya nyaman. Ini berarti campers
melepaskan kesempatan untuk maju, yang sebenarnya 
dapat dicapai jika energi dan sumber dayanya diarahkan 
dengan semestinya ,
Campers menciptakan semacam ”penjara yang nyaman” 
—sebuah tempat yang terlalu enak untuk ditinggalkan. Di 
sini kehidupan memang bukan segala-galanya, sekadar 
cukup baik. Campers memiliki pekerjaan yang bagus dan 
gaji serta tunjangan-tunjangan yang sangat layak. Namun, 
masa-masa yang penuh gairah, masa belajar dan tumbuh, 
dan energi kreatifnya telah lama hilang. Hidup tampaknya 
mudah sekali; tahu apa yang akan terjadi, dan masa-masa 
penuh kecemasan telah lama berlalu — selain kesadaran 
yang mulai menggerogoti batin, kesadaran bahwa banyak 
mimpi berlalu tanpa pernah terwujud, dan perubahan 
terus-menerus mengancam tempat perkemahan. Para 
camper adalah satisficer (dari kata satisfied = puas dan suffice 
= mencukupi). Puas dengan mencukupkan diri, dan tidak 
mau mengembangkan diri. Campers berhasil mencukupi 
kebutuhan dasarnya, yaitu makanan, air, rasa aman, 
tempat berteduh, bahkan rasa memiliki, yang berarti telah 
melewati kaki gunung. Namun, dengan berkemah, campers
mengorbankan bagian puncak, aktualisasi diri. Akibatnya, 
campers menjadi sangat termotivasi oleh kenyamanan dan 
rasa takut. Takut kehilangan tempat berpijak, dan mencari 
rasa aman dari perkemahan yang kecil dan nyaman Climbers menjalani bidupnya secara lengkap. Untuk 
semua hal yang dikerjakan, benar-benar dipahami 
tujuannya dan bisa dirasakan gairahnya. Climbers
mengetahui bagaimana perasaan gembira yang 
sesungguhnya, dan mengenalinya sebagai anugerah dan 
imbalan atas pendakian yang telah dilakukan. Karena tahu 
bahwa mencapai puncak itu tidak mudah, maka climbers 
tidak pernah melupakan ”kekuatan” dari perjalanan yang 
pernah ditempuhnya. Climbers tahu bahwa banyak imbalan 
datang dalam bentuk manfaat-manfaat jangka panjang, dan 
langkah-langkah kecil sekarang ini akan membawanya pada 
kemajuan-kcmajuan lebih lanjut di kemudian hari. Climbers 
selalu menyambut tantangan-tantangan yang disodorkan 
kepadanya (Stoltz, 2000). Climbers sering merasa sangat 
yakin pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. 
Keyakinan ini membuatnya bertahan manakala gunung 
terasa menakutkan dan sulit ditaklukkan, serta setiap 
harapan untuk maju mendapat tantangan hebat. Climbers 
yakin bahwa segala hal bisa dan akan terlaksana, meskipun 
orang lain bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa 
jalannya tidak mungkin ditempuh. Climbers sangat gigih, 
ulet dan tabah. Terus bekerja keras pada waktu mendaki. 
Saat batu besar menghadang di jalan atau menemui jalan 
buntu, akan mencari jalan lain. Saat merasa lelah dan 
kaki sudah tidak dapat diayunkan lagi, akan melakukan 
intropeksi diri dan terus bertahan. Kata berhenti tidak 
terdapat dalam kamus para Climber. Climber memiliki 
kematangan dan kebijaksanaan untuk memahami bahwa 
kadang-kadang dirinya perlu mundur sejenak supaya 
dapat bergerak maju lagi. Mundur adalah bagian alamiah 
dari pendakian. Hasilnya, climbers menempuh kesulitan￾kesulitan hidup dengan keberanian dan disiplin sejati .Salah satu instrumen yang dapat digunakan dalam 
mengukur adversitas adalah Adversity Response Profile
(ARP). ARP telah dicoba oleh lebih dari 7.500 orang dari 
seluruh dunia dengan berbagai macam karier, usia, ras, 
dan kebudayaan. Analisis formal terhadap hasil-hasilnya 
mengungkapkan bahwa instrumennya merupakan tolok 
ukur yang valid untuk mengukur bagaimana orang 
merespons kesulitan dan merupakan peramal kesuksesan 
yang ampuh. Penelitian-penelitian di berbagai perusahaan, 
sekolah, dan dengan atlet-atlet memperlihatkan bahwa 
ARP merupakan peramal kinerja yang efektif dan berperan 
dalam serangkaian kesuksesan lainnya. ARP juga memiliki 
validitas yang hebat. Dengan kata lain, hasilnya masuk 
akal, tanpa mempedulikan latar belakang seseorang ,
Melalui tes ulangan dan tes lanjutan, ARP juga telah 
terbukti sangat andal. Kaum profesional, para mahasiswa, 
eksekutif, dan atlet-atlet yang melakukan tesnya lebih dari 
satu kali selama beberapa bulan, tanpa ikut serta dalam 
program pelatihan AQ, menunjukkan hasil yang sangat 
konsisten. Sedangkan individu-individu yang mengikuti 
program ini  memperlihatkan perbaikan-perbaikan 
yang nyata dalam respons-responsnya terhadap kesulitan. 
C. Peran Adversitas dalam Wirausaha
Dengan memiliki adversitas yang baik, seseorang akan 
dapat belajar tentang: (1) menciptakan paradigma baru 
yang akan menggeser pertemuan negatif atau kerugian ke 
dalam peluang-peluang pembelajaran, (2) meningkatkan 
manajemen diri, menghentikan sikap menyalahkan dan 
mengurangi sabotase emosional, (3) menyentuh definisi 
awal reaksi ketidakefektivan terhadap persoalan-persoalan 
dan tantangan, (4) mengurangi stress dan miskomunikasi, (5) meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan, 
(6) meningkatkan pengertian dan komunikasi di dalam tim 
atau perusahaan, dan (7) meningkatkan sikap kompetitif, 
kreativitas dan kemampuan belajar ,
Konsep kewirausahaan sangat erat dengan AQ. 
Di dalam konsep kewirausahaan, seorang wirausaha 
harus memiliki sikap mental positif, memiliki motivasi 
berprestasi yang tinggi dan tidak mudah menyerah dalam 
menjalankan bisnisnya 
Dalam konsep kewirausahaan juga dijelaskan 
bahwa terdapat perbedaan antara seorang pedagang 
dan wirausaha. Seorang pedagang adalah orang yang 
melakukan kegiatan bisnisnya secara rutin, tetapi terdapat 
kecenderungan tidak mengembangkan usahanya.
Di sisi lain, salah satu syarat untuk menjadi seorang 
wirausaha adalah berupaya semaksimal mungkin 
untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju dari 
sebelumnya. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan 
adversity quotient, khususnya yang membahas mengenai 
tiga tipe orang yang melakukan pendakian. Pendakian 
yang dilakukan oleh ketiga tipe orang ini  adalah 
upaya untuk mencapai kesuksesan dalam bidang yang 
dikerjakan. Jika konsep ini diterapkan dalam bisnis, maka 
seseorang yang ingin sukses dalam bisnisnya adalah orang 
yang selalu mendaki agar dapat terus mencapai puncak 
(kesuksesan), tetapi jika orang ini  mudah menyerah 
dengan tantangan yang dihadapi atau sudah merasa cukup 
puas dengan kondisinya sekarang maka ia tidak akan 
dapat terus meraih kesuksesan, dan tidak dapat dikatakan 
sebagai seorang wirasaha yang sukses. Setiap orang di 
dalam melakukan kegiatan bisnisnya pasti memiliki 
masalah dalam pengembanganya, namun yang berbeda untuk meraih kesuksesan dalam bisnis adalah daya juang 
yang dimiliki oleh orang ini  (Lisan & Ida, 2011).
Karakter wirausaha sukses sejalan dengan adversitas. 
Mereka yang memiliki sikap adversitas tinggi, cenderung 
memilih menjadi climber, dan meninggalkan posisi zona 
nyaman, zona yang membuat usaha tidak berkembang dan 
jalan di tempat. 
Kasmir (2011) menyebut beberapa ciri wirausahawan 
sukses (berhasil), antara lain: (1) memiliki visi dan tujuan 
yang jelas, (2) inisiatif dan selalu proaktif, (3) berorientasi 
pada prestasi, (4) berani mengambil risiko, (5) kerja keras, 
(6) tanggung jawab atas segala aktivitas, (7) komitmen, dan 
(8) menjaga hubungan baik dengan barbagai pihak. Ciri￾ciri ini  tentunya bersesuaian dengan sikap adversitas, 
yakni sikap wirausahawan yang selalu ingin meraih hasil 
puncak.
AQ merupakan modal bagi seorang wirausaha yang 
ingin sukses. Sebab, wirausahawan adalah orang yang 
selalu ingin mengembangkan usaha, dan dalam fase 
pengembangan ini , sudah barang tentu terdapat 
tantangan dan hambatan. Maka, jika wirausahwan 
tidak memiliki AQ, maka jangan harap ia bisa terus 
bertahan di tengah iklim bisnis yang kompetitif, apalagi 
mengembangkan usaha ini .
Kotak 5
Kolonel Sanders dan Pelajaran tentang Kegagalan
Siapa yang tak kenal dengan ikon kolonel tua di 
produk makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC)? 
Ya, Kolonel Sanders. Ikon ini  bagaikan magnet, yang 
siap menarik setiap orang untuk mampi ke gerai waralaba 
KFC kapan saja.Konsep waralaba KFC memang sukses besar. Tapi, hal 
itu dilakukan Kolonel Sanders tidak sekali jalan. Ia butuh 
waktu lama meyakinkan resep andalannya ke restoran￾restoran di Amerika Serikat, hingga akhirnya bisa diterima 
masyarakat. 
Kolonel Sanders adalah tipikal wirausahawan tahan 
banting. Betapa tidak. Dia memulai usaha pada di usia 66 
tahun, pensiunan angkatan darat dari negara adidaya, hanya 
memiliki uang dari tunjangan hari tuanya yang semakin 
menipis. Sanders memiliki keahlian dalam memasak, dia 
tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran 
di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008, menerima 
resepnya ini . Impian Sanders hanya sederhana, yakni 
bagaimana memiliki uang yang layak untuk hidup di hari 
tuanya.
Perjalanan hidup Sanders memang berliku. Pada umur 
7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat 
memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan 
pertamanya di pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. 
Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan ia 
meninggalkan rumah tempat tinggalnya dekat Henryville, 
Ind., untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah 
Greenwood, Ind. Dia berganti-ganti pekerjaan selama 
beberapa tahun, pertama sebagai tukang parkir pada usia 
15 tahun di New Albany, Ind., dan kemudian pada usia 
16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di 
Kuba. 
Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, 
belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam 
pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, 
dan operator bengkel. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai 
memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di 
bengkelnya di Corbin. Ia belum punya restoran pada saat itu, tetapi ia menyajikan makanannya pada meja makannya 
di ruang makan di bengkelnya.
Semakin banyak orang yang datang ke tempatnya 
untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat 
penginapan dan restoran yang kapasitasnya 142 orang. 
Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang 
dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini. 
Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel 
meyakinkan dirinya untuk membuka usaha waralaba 
yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi 
Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran 
lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran 
dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia 
menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran 
dari setiap ayam yang laku terjual. Pada tahun 1964, 
Kolonel Sanders mempunyai lebih dari 600 outlet waralaba 
untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. 
Pada tahun itu, ia menjual bunga dari pembayarannya 
untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada 
sejumlah grup investor termasuk John Y. Brown Jr., yang 
kemudian menjadi Gubernur Kentucky dari tahun 1980 
sampai 1984. Kolonel mengingatkan untuk menjadikan 
terbuka perusahaannya bagi publik. Pada tahun 1976, 
sebuan survey independen memberi peringkat kedua 
dunia sebagai selebriti yang terkenal di dunia.
Salah satu potensi diri yang wajib dimiliki setiap 
pengusaha adalah sikap ketahanmalangan/adversitas 
(adversity/sikap tahan banting). Menurut penggagas 
advesitas, Paul Stoltz, sikap ketahanmalangan merupakan 
faktor pembentuk sukses orang-orang besar.
Kehidupan yang dijalani manusia dapat dibagi atas 
tiga kategori, yakni: quitters (diam dan tidak dinamis), 
camper (selalu mencoba tetapi mudah menyerah setelah 
mendapat tantangan), dan climber (berani dan bertahan 
menghadapi tantangan kehidupan). Kesuksesan, menurut 
Stoltz, ibarat puncak gunung tertinggi yang mampu didaki 
oleh manusia. Orang sukses adalah mereka yang mau dan 
mampu mendaki hingga ke puncak gunung. Mereka inilah 
yang termasuk kategori climber atau pendaki.
Ketegaran diri merupakan indikator dari kecerdasan 
adversitas (adversity quotient), terletak pada kerelaan 
menerima segala hal dengan lapang dada. Hal ini karena 
dalam kehidupannya setiap orang senantiasa berhadapan 
atau sekurang-kurangnya berhubungan dengan 
kemalangan, ketidakberuntungan, atau kesulitan, entah 
dalam ukuran kecil maupun besar. Kondisi ini, dalam 
kenyataannya, tidak dapat dihindari oleh siapa pun. 
Faktanya, tidak ada seorang pun manusia di muka bumi 
yang terhindar sama sekali dari kemalangan atau kesulitan. 
Setiap orang memiliki adversitas dengan kadar 
yang berbeda-beda. Kadar ini  dapat dinamakan 
kecerdasan adversitas. Kecerdasan adversitas (Adversity 
Quotient – AQ) memasukkan dua komponen penting dari 
setiap konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan penerapannya 
di dunia nyata.
AQ mendasari semua segi kesuksesan. Orang-orang 
yang memiliki AQ lebih tinggi menikmati serangkaian 
manfaat termasuk kinerja, produktivitas, kreativitas, 
kesehatan, ketekunan, daya tahan, dan vitalitas yang lebih 
besar daripada mereka yang rendah AQ-nya
Konsep kewirausahaan sangat erat kaitannya dengan 
AQ. Di dalam konsep kewirausahaan, seorang wirausaha 
harus memilki sikap mental positif, memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dan tidak mudah menyerah dalam 
menjalankan bisnisnya.

Related Posts:

  • wirausaha 3 menghadapi risiko kegagalan, namun perlu dilakukan berbagai upaya secara terus menerus agar kematangan k… Read More