Home »
wirausaha 3
» wirausaha 3
wirausaha 3
perlu dilakukan berbagai upaya secara terus menerus
agar kematangan kepribadian terbentuk dari pengamalanpengalaman baru. Dari semua upaya yang telah dicoba,
dapat ditentukan langkah dan strategi terbaiknya.
Keempat, rekreasi. Di balik kegiatan rutinitas kerja,
sebaiknya ada waktu untuk berekreasi ke tempat-tempat
yang menyenangkan. Rekreasi bisa membuat pikiran
kita segar sekaligus merangsang daya kreatif. Dalam hal
ini, fasilitas perjalanan wisata yang disediakan bagi para
karyawan minimal dilaksanakan dua kali setahun.
Kita dapat berkaca pada semut. Semut tinggal di
mana-mana, di daun, di lubang atau sela-sela tanah, di
bawah pot tanaman bunga, atau di tempat- tempat lain di
sekitar kita. Semut selalu mempunyai ”ide” untuk tinggal
di mana saja. Karena itu, semut selalu hidup safe dan
damai. Jika ada di antara mereka menemukan makanan,
mereka pun saling berbagi dengan yang lain, bahkan
mereka saling memberikan informasi untuk mendapatkan
makanan. Semut mengajar kepada kita bahwa: kita tidak
dapat memegang obor untuk menerangi jalan orang lain
tanpa menerangi jalan kita sendiri. Ini suatu kearifan yang
bersumber dari manajemen semut.
Demikian pula bagi para pengelola usaha, diharapkan
tidak pernah kehabisan akal dan taktik dalam merespon
positif berbagai persoalan, hambatan dan tantangan.
Karena itu, mereka diharapkan hidup tenteram dan damai
serta bekerja sama, saling menghargai, baik antarsesama karyawan maupun dalam lingkungan keluarga dan
masyarakat, apalagi saat-saat menghadapi tantangan
baru dalam situasi krisis. Hal ini membutuhkan strategi
yang tidak melanggar nilai-nilai etika masyarakat serta
berangkat dari prinsip saling menguntungkan, baik kepada
perusahaan, karyawan, maupun para konsumen.
Suatu usaha akan tumbuh dan berkembang jika
ia menjadi bagian dari hobi atau kegemaran. Untuk
menempatkan karyawan ataupun seorang pekerja dalam
jabatan tertentu, akan lebih efektif jika karyawan itu diberi
jabatan yang sesuai dengan kegemaran atau hobinya. Sebab,
jika suatu usaha (bisnis) atau pekerjaan yang diberikan
kepada seseorang kemudian tidak bersentuhan dengan
hobi yang digemari, ia bakal sulit mencintai pekerjaannya.
Meski Anda memiliki hati yang lembut dan suka
merendah, wawasan Anda sebagai pemimpin harus selalu
terdepan dibandingkan yang lain. Artinya, jika karyawan
berpikir lokal, sebaiknya Anda berpikir regional. Jika
karyawan lain berpikir regional, mestinya Anda berpikir
global, atau Anda harus berkeliling ASEAN. Jika karyawan
lain berkeliling ASEAN, sebaiknya Anda harus mengelilingi
dunia. Tapi perlu diingat, jangan pernah berpikir Anda
adalah segala-galanya, yang paling hebat. Berpikirlah
bahwa ilmu pengetahuan yang Anda miliki bersumber dari
Tuhan, yang selanjutnya dianugerahkan kepada Anda dan
diteruskan kepada orang lain. Karena itu, ilmu yang Anda
miliki akan bermanfaat kalau diberikan kepada karyawan,
atau diterapkan bersama-sama demi pengembangan
perusahaan.
Perusahaan bisa berkembang jika diperkaya dengan
gagasan, ide, kemauan, kerja sama, dan modal kerja
yang tersedia. Jangan berpikir Andalah yang memajukan
perusahaan. Tapi, berpikirlah bahwa kemajuan suatu perusahaan karena berkat kerja sama yang baik antarpihak
yang bersangkutan. Lakukan berbagai daya dan upaya
untuk menciptakan sumber daya manusia yang hebat,
berakualitas unggul. Hanya dengan wadah organisasi yang
didirikan dan diikat dengan teamwork yang solid, karyawan
akan merasa menjadi satu bagian dari kesatuan tim yang
memiliki kemampuan dengan memberikan kontribusi
positif bagi eksistensi dan kontinuitas organisasi. Karena
itu, setiap kesuksesan ataupun kegagalan harus disadari
sebagai suatu hasil karya tim, bukan hasil individu.
Untuk menuju tangga tujuan, dibutuhkan kekompakan
tim kerja yang baik. Mula-mula membentuk tim kerja yang
solid, lalu diperlukan profesionalisme dalam menerapkan
sistem kerja yang terkoordinasi, penuh tanggung jawab,
dan disiplin yang tinggi. Untuk mewujudkannya, di
samping sikap kepedulian seluruh anggota karyawan, juga
diperlukan dorongan semangat kerja yang tinggi dengan
memperhatikan aspek penting yang secara langsung
dapat memengaruhi setiap anggota tim lainnya. Misalnya,
kesejahteraan anggota pada masa pensiun, peningkatan
kualitas sumber daya manusia melalui pemberian
pendidikan formal ataupun pendidikan tinggi secara
gratis, penghargaan bagi anggota yang berprestasi dengan
memberikan piagam, hadiah gratis berwisata ke dalam
atau ke luar negeri, dan hadiah gratis melakukan ibadah
umrah atau naik haji.
Dalam menjalin hubungan yang baik dan harmonis
serta saling menguntungkan, baik dengan sesama
pengusaha, pemerintah, karyawan, maupun konsumen
sebagai pemakai, terdapat beberapa faktor lain yang harus
diperhatikan dalam perusahaan. Pertama, sumber daya
manusia yang berkualitas. Karena itu, karyawan yang
bergabung di perusahaan kita wajib mengikuti seleksi yangketat. Hanya yang mampu dan memiliki kualitas excellence
yang bisa diterima. Kemudian, setelah mereka bergabung,
pihak perusahaan tak henti-hentinya mengontrol mutu dan
upgrading keterampilan karyawan dan jabatan yang tepat.
Kedua, ada modal yang memadai. Artinya, modal tidak
mesti berlimpah ruah. Buat apa banyak modal, tapi tidak
mampu dikelola secara efesien dan efektif. Sebaliknya,
tidak mungkin usaha itu ada tanpa memerlukan modal
atau hanya modal dengkul. Minimal harus memiliki
infrastruktur dan penyediaan sarana yang memadai.
Ketiga, nasib. Bagaimana pun hidup manusia
ditentukan oleh Tuhan. Karena itu, kalaupun Anda sudah
berusaha maksimal, yang menentukan hasil akhirnya
adalah Tuhan.
H. Menjadi Pemimpin yang Baik
Dalam dinamika kehidupan manusia sebagai makhluk
sosial muncul beragam pandangan dan pola hidup,
yang meliputi keseluruhan hidup manusia dan dimulai
dari pranata keluarga, pranata sosial, sampai pranata
negara. Dalam dunia usaha, kompleksitas keberagaman
itu memerlukan upaya pengorganisasian. Salah satunya
adalah manajemen. Mengelola sebuah organisasi ibarat
memimpin sebuah perang. Apakah kita akan memutuskan
maju, bertahan, mundur, atau menyerah? Itu menjadi
landasan penting bagi eksistensi pasukan dalam mencapai
tujuan bersama.
Misi yang paling penting untuk dikelola dimulai dari
lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Dalam lingkungan
ini, terdapat beberapa hal yang sangat penting untuk
ditata. Misalnya, komunikasi yang baik antarsemua
anggota keluarga, sehingga segala bentuk permasalahan
dapat diselesaikan demi terciptanya hubungan yangharmonis; inventarisasi keluarga, agar apa yang kita miliki
dapat dimanfaatkan, dipelihara, dan dikembangkan;
pengelolaan keuangan secara dinamis, dengan pengaturan
cash in flow dan cash out flow. Caranya, antara lain, dengan
membuka tabungan rutin untuk biaya hidup sehari-hari
yang dapat diisi setiap bulan dan diambil sesuai dengan
kebutuhan sehari-hari, misalnya dua kali dalam seminggu;
membuka tabungan khusus untuk biaya pajak, pendidikan,
pakaian, rekreasi, wisata ke luar negeri, umrah, ibadah
haji, sumbangan-sumbangan zakat, wakaf, dan biaya tak
terduga; membuka deposito berjangka yang dapat diisi
setiap tiga bulan untuk pengembangan dana, modal usaha,
investasi, dan sebagainya.
Sistem pengelolaan seperti itu sangat sederhana
dan dapat dipergunakan di lingkungan yang terkecil, di
mana pun, dan kapan pun. Sistem itu akan sukses secara
menyakinkan jika semua pihak dalam lingkungan ini
memiliki komitmen dan visi yang sama tentang bagaimana
meningkatkan penghasilan keluarga atau usaha yang
dikelola.
Jika sistem pengelolaannya masih terikat dengan tradisi
konservatif, maka sistem itu akan gagal karena kesuksesan
pengelolaan suatu usaha harus didukung dengan ide-ide
segar, tingkat kreativitas yang tinggi, dan keberanian menghadapi risiko yang tidak terduga. Hal penting lain yang
harus diingat adalah: kesuksesan itu sangat ditentukan oleh
kesolidan teamwork, individu, dan perangkat organisasi
lainnya. Misalnya, dalam lingkungan bisnis, manajer
sebagai eksekutor utama kerja-kerja organisasi dituntut
memiliki hubungan yang sehat dan harmonis dengan
jajarannya, melalui penciptaan suasana kekeluargaan di
dalam organisasi, menumbuhkan semangat kesetaraan
bahwa manajer dan karyawan berada pada ”kapal” yang
sama, senasib dan sepenanggungan.Penulis memiliki pengalaman yang menarik, satu tahun
pertama berdirinya kursus Handayani pada tahun 1982,
tepatnya di Jalan Nuri, Makassar. Saat itu, penulis bekerja
one man power. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari urusan
pimpinan, staf, infrastruktur, tenaga keamanan, sampai office boy. Naluri sebagai leader mengharuskan manajemen
yang qualified diterapkan. Kemudian penulis merekrut
beberapa tenaga kerja segar dengan kualitas prima. Mulamula dibuat pengumuman lowongan kerja dengan sasaran
para siswa SLTA yang akan menyelesaikan studinya. Setelah
melalui tahapan seleksi ketat, akhirnya berhasil direkrut
lima pegawai untuk mengisi pos-pos organisasi. Kelima
orang itu dididik khusus untuk mengelola organisasi
Handayani sekaligus menjadi tenaga pengajar.
Selaku owner/leader, awalnya penulis menggunakan pola
manajemen kepada pegawai dengan filosofi bahwa dunia
usaha berbeda jauh dengan dunia pendidikan. Misalnya,
saat belajar di kelas, Anda membayar biaya pendidikan
dengan harga mahal. Tapi, saat ini perusahaanlah yang
akan membayar Anda. Jika di kelas atau sekolah, apabila
Anda sukses dalam ujian dan dapat mengumpulkan nilai
yang tinggi, berarti Anda berprestasi dengan baik. Tapi
apabila Anda menceburkan diri ke dalam dunia bisnis
setiap hari, Anda akan menghadapi ujian dan tidak hanya
dapat mencapai nilai yang tinggi, tapi bisa sampai ribuan
atau cuma lima puluh saja. Karena itu, dalam dunia bisnis,
jika Anda membuat satu kesalahan, maka tidak begitu saja
akan mendapat nilai nol yang begitu sederhana, tapi akan
memperoleh nilai minus dan tidak ada batas sampai di
mana Anda merosot, dan akhirnya menjadi bahaya bagi
perusahaan.
Penulis berpesan kepada para karyawan baru dan
memberikan pengarahan agar mereka paham bagaimana
sebenarnya wajah dunia bisnis. Penulis selalu menanamkan kepada mereka bahwa yang terpenting bagi mereka
mengenai perusahaan dan tentang diri mereka masing
masing adalah: penulis tidak memberikan gaji tetap karena
ini bukan perusahaan pemerintah. Jadi, dengan sukarela
mereka memilih bekerja, itu berarti Anda harus menggaji
diri sendiri. Karena itu pula, kursus Handayani bak sebuah
alat yang harus mereka manfaatkan sepandai-pandainya.
Misalnya, jika semua gergaji tidak dipergunakan dengan
baik, maka gergaji itu tidak bermanfaat dan akan menjadi
karatan karena cara menggunakannya pun diperlukan
keahlian dan teknik tersendiri. Sebab, kalau tekniknya
salah, pohon yang ditebang bisa menimpa diri sendiri.
Demikian pula perusahaan Handayani adalah ”alat”
yang harus dimanfaatkan untuk mencari keuntungan.
Jadi, bukan perusahaan yang mencari untung, tapi Anda
yang mencari uang, yang akan dikembalikan sebagai gaji
kepada Anda. Jika ingin gaji besar, Anda harus bekerja
keras dan mempergunakan teknik-teknik tersendiri agar
memperoleh keuntungan yang besar.
Karena itu, penulis selalu mewanti-wanti mereka agar
benar-benar memanfaatkan semua potensi yang ada pada
diri mereka dengan baik. Jangan pesimistis, jangan pernah
menyerah, Anda harus maju terus dengan penuh semangat
dan iringan doa.
Dalam institusi bisnis, kepemimpinan sangat penting.
Pemimpinlah yang membuat arah dan kebijakan tentang
bisnis, untuk kemudian diimplementasikan oleh anak
buah. Sebagian besar institusi bisnis yang menjadi besar
dan terus berkembang ditopang oleh gaya kepemimpinan
yang andal dan profesional. Keunggulan wirausaha
yang sukses dibandingkan dengan wirausaha yang gagal
terletak pada dinamika dan efektivitas kepemimpinan.
Pimpinan wirausaha merupakan unsur pokok di dalam
setiap perusahaan.
Kepemimpinan memerlukan serangkaian sifat-sifat,
ciri, atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan
pada setiap situasi. Pemimpin akan berhasil bila memiliki
sifat, ciri, dan perangai ini .
Sifat kepemimpinan harus dikembangkan sendiri
karena sifat ini berbeda-beda setiap orang. Kesadaran
bahwa kita sendiri yang menentukan kadar kemampuan
kepemimpinan kita untuk melakukan perbaikan. Tidak ada
cara terbaik agar menjadi pemimpin. Wirausahawan adalah
individu yang telah mengembangkan gaya kepemimpinan
mereka sendiri.
Perilaku spesifik membedakan pemimpin dengan
yang bukan pemimpin. Perilaku pemimpin menyangkut
dua bidang utama:
1. Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran,
merencanakan, dan mencapai sasaran.
2. Berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina
hubungan manusiawi.
Fungsi pemimpin adalah mengarahkan, membina,
mengatur, dan menunjukkan orang-orang yang dipimpin
supaya mereka senang, sehaluan, terbina, serta menurut
kehendak dan tujuan pemimpin. Kegagalan pemimpin
dalam menjalankan tugasnya menunjukkan kegagalan
pemimpin sendiri. Begitu juga sebaliknya, keberhasilan
seorang pemimpin menunjukkan kesuksesan pemimpin
itu sendiri.
Hanya pemimpin kreatif dan inovatif yang bisa bertahan
dalam persaingan bisnis, terutama di tengah-tengah krisis
multidimensional dan persaingan hebat. Pemimpin yang
kreatif dan inovatif ditandai dengan tingginya kepercayaandiri, jauh dari rasa takut, dan selalu siap mengantisipasi
segala tantangan dalam bisnis, bahkan dalam keadaan
yang tak terduga sekalipun. Selain itu, ketika tak mampu
menyelesaikan suatu masalah dengan strategi tertentu,
ia dapat dengan cerdik menyelesaikan masalah dengan
daya pikir dan kreasi baru. Hal ini menunjukkan bahwa
kreativitas dan inovasi sangat vital dalam bisnis
Mengelola sebuah organisasi ibarat memimpin sebuah
perang. Apakah kita akan memutuskan maju, bertahan,
mundur, atau menyerah? Itu menjadi landasan penting
bagi eksistensi pemimpin dan pasukannya dalam mencapai
tujuan bersama.
Inovasi adalah hal yang tak terelakan dalam dunia
wirausaha. Dengan inovasi, terbuka peluang untuk
diversifikasi produk atau jasa sekaligus memperlebar
pangsa pasar. Apalagi, lingkungan bisnis yang kompetitif
dan dinamis menuntut wirausaha untuk selalu adaptif
dan mencari terobosan terbaru. Karakter cepat puas diri
akan membawa bisnis menuju kemunduran. Maka, inovasi
adalah jawaban untuk wirausaha yang sukses.
merangkum beberapa definisi inovasi,
antara lain:
Inovasi adalah aktivitas imajinatif untuk menghasilkan
produk orsinil sekaligus komersil. (Institute for
Innovation and information productivity)
Inovasi adalah memperkenalkan sesuatu yang baru
(Business Week).
Inovasi berkaitan dengan proses komersialisasi atau
ekstraksi nilai dari ide; hal ini berkebalikan dengan
‘invensi’ di mana tidak langsung berhubungan dengan
komersialisasi
mengidentifikasi lima jenis inovasi , yakni:
1. Produk baru atau perubahan substansial dari produk
sebelumnya.2. Proses baru.
3. Pangsa pasar baru.
4. Sumber daya baru.
5. Perubahan organisasi usaha/industri.
Inovasi bukan hanya sekadar sebuah ide. Meski sumber
ide itu sendiri adalah hal yang penting, namun peran
berpikir kreatif lebih vital dalam pengembangan inovasi
Suryana dan Bayu (2010) menggambarkan inovasi
sebagai kreativitas yang diterjemahkan menjadi sesuatu
yang dapat diimplementasikan dan memberikan nilai
tambah atas sumber daya yang kita miliki. Jadi, untuk
senantiasa dapat berinovasi, kita memerlukan kecerdasan
kreatif. Caranya, dengan berlatih untuk senantiasa
menurunkan gelombang otak sedemikian rupa sehingga
kita dapat mencapai hati nurani kita sebagai sumber
kreativitas dan intuisi bisnis.
Inovasi dapat dikelompokkan menjadi dua kategori:
inkremental atau inovasi berkelanjutan dan inovasi radikal
Titik akhir inovasi berkelanjutan adalah
menngembangkan teknologi yang telah eksis dengan
cara baru. Contohnya iPod yang dikembangkan Apple,
merupakan perbaikan dari pemutar MP3. Inovasi radikal
bermuara pada sesuatu yang benar-benar baru atau
menghapus teknologi sebelumnya. Misalnya, internet dan
pil kontrasepsi.
menyebutkan bahwa inovasi merupakan
terminologi yang lebih dekat ke sisi ekonomi atau sosial
ketimbang teknis. Hal ini mirip dengan pengertian
kewirausahaan seperti yang diungkapkan Say. Lebih lanjut
Drucker mengungkapkan, “Innovation is the specific fuction of entrepreneurship,
whether in an existing business, a public service institution,
or a new venture started by a lone individual. Innovations
is the means by which the entrepreneur either creates new
wealth-producing resources or endows existing resources
with enhanced potential for creating wealth.”
Penjelasan ini menunjukkan pengertian bahwa
inovasi adalah fungsi khusus dari kewirausahan, baik itu
dalam bisnis yang telah ada, institusi pelayanan publik,
atau usaha yang baru dimulai individu seorang diri. Inovasi
juga berarti pengusaha yang menciptakan kekayaan baru,
yaitu menghasilkan sumber daya atau memberikan sumber
daya yang telah ada dengan meningkatkan potensi untuk
menciptakan kekayaan.
mendefinisikan inovasi sebagai sesuatu
yang berkenaan dengan barang, jasa, atau ide yang
dirasakan baru oleh seseorang. Meskipun ide ini telah
lama eksis tetapi ini dapat dikatakan suatu inovasi bagi
orang yang baru melihat atau merasakannya. Lebih lanjut
menurut Kottler, perusahaan dapat melakuka inovasi
berupa:
1. Inovasi produk (barang, jasa, ide, tempat).
2. Inovasi manajemen (proses kerja, proses produksi,
keuangan, pemasaran).
inovasi berkelanjutan risikonya
lebih kecil serta mudah diprediksi. Bahkan, lebih cepat
menemukan selera pasar. Namun, inovasi berkelanjutan
harus diselingi dengan inovasi radikal untuk menghambat
kejenuhan serta berkurangnya keuntungan.
bahwa dalam melakukan
inovasi perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai
berikut:1. Sesuatu yang dilakukan
a. Menganalisis peluang
b. Apa yang harus dilakukan untuk memuaskan
peluang
c. Sederhana dan terarah
d. Dimulai dari yang kecil
e. Kepemimpinan
2. Sesuatu yang tidak dilakukan
a. Mencoba untuk menjadi yang pandai
b. Mencoba ingin mengerjakan sesuatu yang banyak
c. Mencoba inovasi untuk masa yang akan dating
3. Kondisi
a. Memerlukan ilmu pengetahuan
b. Membangun keunggulan sendiri
c. Inovasi adalah efek dari ekonomi masyarakat
Hisrich, Peters & Shepherd (2008) menyebutkan bahwa
inovasi merupakan kunci perkembangan ekonomi dari
perusahaan manapun, wilayah (propinsi) dalam suatu
negara, dan negara itu sendiri. Ketika teknologi berubah,
produk lama penjualannya menurun dan industri lama
berkurang jumlahnya. Inovasi merupakan struktur
pembangun masa depan ekonomi. Thomas Edison juga mengatakan bahwa
pikiran yang inovatif terdiri atas 1 persen inovasi dan 99
persen kerja keras.
Dari hasil pembuatan skala perilaku inovatif yang
dilakukan dengan menggunakan analisis faktor, Kleysen
dan menemukan lima dimensi untuk
mengukur perilaku inovatif, yaitu:
1. Eksplorasi peluang (opportunity exploration). Berdasarkan
penelusuran pada beberapa literatur, eksplorasi peluang
mencakup menaruh perhatian pada sumber peluang, mencari peluang untuk inovasi, mengenali peluang,
dan mengumpulkan informasi tentang peluang.
2. Generativitas (generativity). Generativitas berhubungan
dengan perilaku yang diarahkan untuk menghasilkan
perubahan yang menguntungkan untuk tujuan
pertumbuhan organisasi, orang, produk, proses,
dan jasa. Generativitas meliputi tiga perilaku pokok,
yaitu: menghasilkan ide atau solusi untuk peluang,
menghasilkan representasi atau kategori peluang, dan
menghasilkan aosiasi dan kombinasi ide dan informasi.
3. Investigasi informatif (informative investigation).
Dimensi ini berhubungan dengan memberikan
bentuk dan mengeluarkan ide, solusi dan opini serta
mencobanya melalui investigasi. Perilaku umum yang
ditunjukkan meliputi memformulasikan ide dan solusi,
memperagakan ide dan solusi, mengevaluasi ide dan
solusi.
4. Memperjuangkan (championing). Memperjuangkan
meliputi perilaku sosial politik yang melibatkan proses
inovasi dan penting untuk merealisasikan solusi, ide
dan inovasi potensial. Perilaku umum yang ditunjukkan
yaitu memobilisasi sumber daya, membujuk dan
memengaruhi, mendorong dan bernegoisiasi,
menantang dan mengambil risiko.
5. Aplikasi (application). Perilaku yang ditunjukkan
dalam dimensi ini adalah mengimplementasikan,
memodifikasi, dan membiasakan.
Membicarakan inovasi dalam wirausaha tentu tidak
terlepas dari sumber-sumber inovasi itu sendiri. Drucker
(1986) membagi sumber inovasi menjadi tujuh jenis, yakni:
1. Hal yang tidak diperkirakan (the unexpected), yakni
sukses yang tidak diperkirakan atau kegagalan yang
tidak diperkirakan.
2. Keganjilan/ketidaksesuaian (the incongruity), ada
perbedaan antara realitas yang sebenarnya dengan
kenyataan yang diasumsikan.
3. Proses kebutuhan (process need).
4. Perubahan struktur pasar dan struktur industri.
5. Demografi, yakni perubahan dalam besaran populasi,
struktur usia, komposisi tenaga kerja, tingkat
pendidikan,
6. Perubahan persepsi, suasana hati
7. Pengetahuan baru, ilmiah atau tidak.
Bagi wirausahawan, inovasi bersifat memanfaatkan
perubahan daripada menciptakannya. Mencari inovasi
dapat dilakukan dengan memanfaatkan perubahan
pada penemuan yang menyebabkan perubahan. Ide
inovatif dapat bersumber pada kreativitas eksternal dan
internal. Kreativitas eksternal dapat dirangsang dengan
memanfaatkan secara sistematis rasa keingintahuan tentang
perkembangan, ide, dan kekuatan baru yang sedang
berlangsung di sekitar . Lebih lanjut
menurut Suryana & Bayu (2010), inovasi merupakan alat
spesifik kewirausahaan serta tindakan yang memberikan
sumber daya dan kemampuan baru untuk menciptakan
kesejahteraan.
Kuratko (dalam Frederick, Kuratko & Hodgetts, 2006)
membagi sumber inovasi menjadi delapan jenis, yakni:
1. Tren
Menandakan pergeseran dalam paradigma terkini (atau
pemikiran terkini) dari mayoritas penduduk. Mengamati
tren dengan saksama akan membuat wirausaha mampu
untuk mengenali peluang potensial. Tren harus diamati dalam masayarakat, pemerintahan, ekonomi dan
teknologi.
2. Peristiwa tak terduga
Bisa berupa keberhasilan atau kegagalan yang karena
tidak direncanakan sering terbukti menjadi sumber
inovasi besar yang mengejutkan. Peristiwa teror 11
September 2001 misalnya, memicu aliran deras solusi
inovatif terhadap tantangan baru yang muncul mengenai
keamanan dalam negeri AS.
3. Kesenjangan
Terjadi saat sebuah jurang perbedaan ditemui antara
kenyataan dan harapan.
4. Kebutuhan proses
Kebutuhan ini ada saat sebuah jawaban terhadap sebuah
kebutuhan tertentu diperlukan. Wirausahawan harus
menemukan sebuah solusi inovatif atau “pereda sakit”.
Perubahan pasar dan industri
Pergeseran terus menerus dalam pasar disebabkan oleh
perkembangan seperti sikap konsumen, perkembangan
dalam teknologi dan pertumbuhan industri. Industri dan
pasar selalu mengalami perubahan dalam hal struktur,
desain, atau definisi.
1. Perubahan kependudukan.
Berasal dari perubahan tren dalam masyarakat, usia,
pendidikan, pekerjaan, lokasi geografis dan faktor lain
yang sejenis. Pergeseran demografis penting dan sering
memberikan peluang berbisnis yang belum terpikirkan
sebelumnya. Misalnya, saat jumlah penduduk usia lanjut
meningkat di suatu wilayah karena makin banyaknya
pensiunan, pengembangan lahan, industri perawatan
kesehatan dan rekreasi menjadi bidang-bidang bisnis
yang menguntungkan.2. Perubahan persepsi
Merupakan perubahan yang terjadi dalam interpretasi
fakta dan konsep masyarakat mengenai suatu isu.
Perubahan ini tak berwujud tetapi sangat bermakna.
Persepsi bisa menimbulkan pergeseran besar dalam ide
yang ingin diwujudkan dengan sukses.
3. Konsep berdasarkan pengetahuan
Merupakan pondasi penciptaan atau pengembangan
dari sesuatu yang baru sama. Penemuan baru biasanya
berdasarkan pada pengetahuan. Penemuan juga
merupakan sebuah produk pemikiran baru, metode
baru dan pengetahuan baru. Inovasi seperti ini sering
membutuhkan periode waktu yang lama antara waktu
memulai dan implementasi di pasar karena harus diuji
dan dimodifikasi agar lebih sempurna.
sumber peluang inovasi juga
dapat berasal dari:
1. Penelitian dan pengembangan
Perusahaan-perusahaan yang telah maju atau besar
umumnya mempunyai satu divisi khusus untuk
melakukan penelitian dan pengembangan ini merupakan
suatu inovasi yang sistematis dengan menggunakan
metode-metode ilmiah. Perusahaan ini berprinsip harus
melakukan inovasi terus menerus bagi kelangsungan
hidupnya.
2. Keberhasilan atau kegagalan.
Keberhasilan/kegagalan baik dari perusahaan sendiri
maupun dari perusahaan lain dapat dijadikan sumber
ide bagi suatu inovasi. Keberhasilan peluncuran suatu
produk merupakan ide untuk melakukan inovasi bagi
produk yang lainnya. Produk inovasi ini dapat
sama tetapi dengan perbedaan spesifikasinya.
3. Penolakan pelanggan
Pelanggan yang menolak sebuah produk atau jasa karena satu alas an, bisa menjadi sumber peluang inovasi untuk
mengembangkan produk atau jasa yang lebih baru.
4. Kebutuhan, keinginan, dan daya beli masyarakat.
Inovasi dapat bersumber dari memperhatikan
kebutuhan, keinginan, dan daya beli masyarakat.
Misalnya, semua masyarakat mempunyai kebutuhan
akan perumahan. Namun keinginan dari individu
masyarakat ini berbeda beda sesuai dengan selera
dan keadaan ekonomi mereka.
5. Persaingan.
Persaingan adalah sumber inovasi yang sangat besar
andilnya dalam peluncuran produk-produk baru.
Persaingan membuat perusahaan akan terdorong untuk
melakukan inovasi.
6. Perubahan demografi.
Perubahan demografi dapat merupakan sumber inovasi
untuk menyesuaikan produk-produk yang ada atau
membuat produksi yang sama sekali baru. Perubahan
demografi meliputi; usia, seks, jumlah keluarga,
siklus kehidupan keluarga, pendapatan, kedudukan,
pendidikan, agama, ras, kebangsaan
7. Perubahan selera.
Konsumen dapat diasumsikan mudah tertarik dengan
sesuatu yang baru atau berbeda dari apa yang biasa
dilihatnya sehri-hari. Konsumen mempunyai keinginan
untuk tampil beda dengan yang lainnya sesuai
dengan seleranya masing-masing. Perubahan harus
cermat memperhatikan selera para konsumen dan
perubahannya untuk segera melakukan inovasi bagi
produknya.
8. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
Munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru untuk
memudahkan memproduksi suatu barang atau jasa
dapat merupakan sumber inovasi.Kotak 4
Inovasi Kecil Tapi Berkelanjutan
Setiap inovator selalu berharap untuk menghasilkan
inovasi yang akan menjadi serangkaian terobosan
yang mengagumkan. Namun, menurut Rosabeth Moss
Kanter, dalam kondisi perekonomian global yang belum
sepenuhnya pulih, inovasi seringkali berisiko tinggi bagi
perusahaan apalagi startup yang masih labil dan belum lagi
harus mempertimbangkan para konsumen yang tak terlalu
menyukai perubahan.
Karena itu, daripada harus bermimpi menelurkan
inovasi besar yang akan dicatat dalam sejarah, pusatkan
tenaga dan pikiran Anda untuk melakukan upaya inovasi
dalam skala yang lebih masuk akal. Demikian saran Kanter.
Caranya dengan fokus untuk mengerjakan hal-hal ‘kecil’
tetapi memiliki dampak dan manfaat yang tidak kecil bagi
perbaikan kehidupan.
Carilah perbaikan dan penyempurnaan yang bisa
diterapkan dalam setiap produk dan layanan yang Anda
tawarkan kepada masyarakat luas. Gunakan berbagai
eksperimen kecil dan sederhana tetapi efektif dan tak
banyak memakan biaya bagi perusahaan dengan tujuan
untuk menguji animo konsumen terhadap ide baru yang
Anda benamkan dalam produk dan layanan baru.
Carilah inovasi yang dengan mudah bisa disesuaikan
penerapannya oleh konsumen dan jangan sampai inovasi
ini memberatkan investasi. Inovasi ini memiliki
peluang untuk digemari dan konsumen.
Dalam wirausaha, inovasi dan kreativitas adalah dua
hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat anak
panah, yang bisa melesat menghasilkan bisnis yang terus
berkembang dan menguntungkan.
Menghadapi persaingan yang semakin kompleks
dan ekonomi global, Zimmerer menyebut kreativitas tidak hanya penting untuk
menciptakan keunggulan kompetitif, tapi juga penting bagi
kesinambungan perusahaan. Artinya, dalam menyiasati
tantangan global, diperlukan sumber daya manusia
kreatif dan inovatif sekaligus berjiwa kewirausahaan.
Wirausahalah yang dapat menciptakan nilai tambah dan
keunggulan. Nilai tambah itu dihasilkan melalui kreativitas
dan inovasi. kunci utama seseorang yang
memutuskan menjadi wirausahawan adalah berpikir
kreatif. Tanpa kreativitas, mimpi seorang wirausahawan
hanyalah angan-angan saja.
Beberapa tahun terakhir, riset mengenai kreativitas
dalam bisnis meningkat pesat. Menurut Richard Florida
(dalam Frederick, Kuratko & Hodgetss, 2006), kreativitas
manusia merupakan faktor utama ekonomi dan
kemasyarakatan. Kita sekarang bahkan memiliki ekonomi
berlandaskan kreativitas manusia dan tak pelak lagi, kata
Florida, kreativitas adalah sumber keuntungan kompetitif.
terdapat dua aspek kreativitas yaitu proses dan manusia.
Proses berorientasi pada tujuan, dirancang untuk
mengatasi masalah. Manusia merupakan sumber daya
yang menentukan penyelesaian masalah.
McPherson seperti dikutip Hubeis menyatakan bahwa kreativitas adalah
kemampuan menghubungkan dan merangkai ulangpengetahuan di dalam pikiran manusia yang membiarkan
dirinya untuk berpikir secara lebih bebas dalam
membangkitkan hal-hal baru, atau menghasilkan gagasan
yang mengejutkan pihak lain dalam menghasilkan hal
yang bermanfaat.
Definisi yang lebih spesifik dikemukakan oleh Evans
Menurut Evans, kreativitas
adalah keterampilan untuk menentukan pertalian baru,
melihat subjek dari perspektif baru dan membentuk
kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah
tercetak dalam pikiran dan juga merupakan pembangkit
ide baru.
Dari dua pengertian ini dapat dikatakan
bahwa kreativitas merupakan sekumpulan ide, berupa
pengetahuan atau pengalaman yang berada dalam pikiran
manusia yang kemudian digabungkan menjadi hal yang
sifatnya kreatif yang berguna pada dirinya sendiri ataupun
orang lain atau organisasi dalam situasi dan kondisi yang
tidak menentua.
Dalam pandangan Hubeis kreativitas adalah pertimbangan subjektif dan
berkonteks khusus mengenai segala sesuatu yang baru
serta merupakan hasil perilaku secara individu maupun
kolektif.
Definisi-definisi di atas membawa kita pada
pemahaman bahwa kreativitas pada hakikatnya adalah:
1. Dimiliki oleh setiap orang (baik pada tingkat kemampuan
yang kecil maupun besar)
2. Memerlukan pencapaian dari suatu prespektif yang
baru. Paling tidak baru untuk orang ini .
3. Persperktif yang baru ini, dicapai dengan membawa
bersama pengalaman yang tidak berhubungan
sebelumnya.
4. Kreativitas mendambakan sesuatu yang lebih berkualitas.
5. Seseorang harus mendekati lingkungannya dengan cara
yang holistic.
6. Orang yang kreatif harus berfantasi, bermain, dan
berpikir.
7. Orang yang kreatif bersikap spontan, fleksibel, dan
terbuka terhadap pengalaman.
8. Spontanitas dari manusia adalah sumber dari kreativitas.
Orang kreatif mudah dikenali. Terdapat beberapa
atribut khas yang melekat pada orang kreatif yaitu:
1. Memiliki nilai intelektual dan artistik.
2. Minat pada kompleksitas.
3. Peduli pada pekerjaan dan pencapaian.
4. Tekun.
5. Berpikir mandiri.
6. Toleransi terhadap keraguan.
7. Otonom.
8. Percaya diri.
9. Siap mengambil risiko.
Di sisi lain, Raudsepp juga memberi
ciri khas orang kreatif sebagai berikut:
1. Sensitif terhadap permasalahan.
2. Lancar – kemampuan untuk men-generik ide-ide yang
banyak.
3. Fleksibel.
4. Keaslian.
5. Responsif terhadap perasaan.
6. Terbuka terhadap fenomena yang belum jelas.
7. Motivasi.
8. Bebas dari rasa takut gagal.
9. Berpikir dalam imajinasi.
10. Selektif.Bagi wirausahawan, kreativitas adalah proses.
Kreativitas adalah sikap. Maka, naluri kreativitas harus
diasah terus dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat
melihat peluang bisnis, dan dalam menghadapi iklim
kompetisi. Hal-hal sekecil apapun, bagi wirausahawan,
layak diperlakukan secara kreatif.
mengidentifikasi
empat fase proses kerja kreatif. Keempat fase ini
adalah:
1. Latar belakang atau akumulasi pengetahuan.
Penciptaan atau kreasi yang sukses biasanya didahului
oleh penyelidikan dan pengumpulan informasi. Hal
ini dapat dilakukan dengan banyak membaca,
mengikuti seminar atau workshop, serta menyerap
informasi umum terkait masalah yang sedang dikaji.
2. Proses inkubasi pemikiran.
Individu kreatif akan membiarkan isi kepalanya
dipenuhi informasi. Proses inkubasi biasanya terjadi saat
mereka tidak sedang beraktivitas yang terkait dengan
masalah yang tengah ditangani. Bisa saja proses inkubasi
ini berlangsung saat tidur. Maka, sediakanlah
waktu luang untuk aktivitas ringan, olahraga, dan
lainnya, agar proses inkubasi berlangsung.
3. Pengalaman dengan ide
Merupakan fase paling menarik dari proses kreatif.
Fase ini terjadi saat idea tau solusi yang sedang dicari
berhasil ditemukan. Banyak ahli yang menyebut proses
ini sebagai faktor eureka.
4. Evaluasi dan implementasi
Adalah langkah yang paling sulit dalam ikhtiar kreatif
karena membutuhkan kedisiplinan dan ketekunan.
Wirausaha yang sukses dapat mengidentifikasi ide
yang dapat dijalankan sekaligus punya keterampilan mengimplementasikannya. Hal yang paling pentig
adalah, mereka tidak akan menyerah jika menemui
halangan. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa
kesuksesan sebuah kreativitas didahului oleh banyak
kegagalan. Sebab, pada hakikatnya ide terbaik memang
muncul dari proses uji coba.
Bagi wirausahawan, berpikir kreatif dapat membantu
memecahkan masalah sekaligus menemukan solusi. Ada
beberapa manfaat berpikir kreatif , antara
lain:
1. Menemukan gagasan, ide, peluang, dan inspirasi baru.
2. Mengubah masalah atau kesulitan dan kegagalan
menjadi pemikiran cemerlang untuk langkah
selanjutnya.
3. Menemukan solusi yang inovatif.
4. Menemukan kejadian yang belum pernah dialami atau
yang pernah dialami sehingga menjadi penemuan baru.
5. Menemukan teknologi baru.
6. Mengubah keterbatasan menjadi kekuatan atau
keunggulan.
Agar wirausawahan dapat mengembangkan pola pikir
kreatif, memberi
beberapa solusi, di antaraya:
1. Berpikir lateral
Berpikir lateral dikembangkan oleh Edward de Bono.
Makna berpikir lateral adalah berpikir yang berlawanan
dengan pola kebiasaan dan bukannya bergerak searah
dengan pola ini . Menurut de Bono, hakikat
berpikir lateral adalah keluar dari penjara ide-ide lama.
Meski begitu, berpikir lateral tidak dimaksudkan untuk
melawan pemikiran vertikal, namun keduanya saling
melengkapi.2. Berpikir out of the box
Maksudnya, berpikir di luar pola kebiasaan, dengan
meninggalkan zona nyaman. Berpikir out of the
box diperlukan oleh wirausahawan agar dapat
memenangkan kompetisi sekaligus bertahan di tengan
persaingan yang makin ketat.
3. Memandang hubungan antar elemen.
Untuk meningkatkan kreativitas, wirausaha harus
memandang hubungan antara elemen dan individu
dengan berbeda. Kemampuan ini dapat dikembangkan
dengan cara memandang benda dan manusia sebagai
hubungan yang saling melengkapi dengan benda dan
manusia lainnya. Hubungan ini akan memicu
pada pandangan baru yang bermuara pada ide, produk,
dan jasa baru.
Ada anggapan bahwa kreativitas sifatnya genetik dan
hanya milik orang tertentu. Pandangan seperti itu jelas
keliru. Sebab, pemikiran kreatif bisa dikembangkan dan
dipelajari oleh setiap orang. merangkumnya
sebagai berikut:
1. Mulai berimajinasi dan terus berimajinasi. Caranya:
a. Menggambarkan pemikiran kita tentang suatu
kejadian yang unik, menarik, dan aneh.
b. Membayangkan benda atau produk lalu membuat
prototipe-nya.
2. Berpikir berbeda dengan orang lain atau berlawanan.
3. Belajar berpikir optimis, bukan pesimis dalam
menghadapi masalah yang belum terjawab.
4. Selalu membuat konsep, misalnya dengan:
a. Sketsa perencanaan dan ide.
b. Corat-coret dalam setiap pemikiran.
c. Menguraikan kejadian sebuah pengalaman.
d. Menggambarkan apa yang baru saja terjadi.e. Membuat perincian dari berbagai sisi.
5. Berpikir, melihat, dan memvisualisasikan hal dari
segala aspek.
6. Berpikir lebih detail.
7. Melihat produk, gambar, atau hal lebih lama untuk
menemukan perbedaan.
8. Mengamati perubahan yang terjadi.
9. Menggabungkan pemikiran yang terdiri atas
pengetahuan, pengalaman, dan informasi yang baru,
atau kejadian yang dialami.
10. Selalu berpikir bahwa barang, produk, atau hal yang kita
lihat belum sempurna dan masih bisa disempurnakan.
Kreativitas bagi seorang wirausahawan adalah harga
mati. Para wirausahawan akan berhasil jika mengembangkan
proses berpikir kreatif serta melaksanakan hal baru atau
lama dengan cara baru (inovasi).
Beberapa tahun terakhir, muncul genre baru
wirausaha yang bermodalkan ide, inovasi, dan kreativitas.
Wirausaha jenis ini menghasilkan produk berupa barang
yang diproduksi massal, namun juga tak sedikit yang
menghasilkan jasa. Wirausaha (industri) kreatif kini telah
menjadi andalan mahasiswa dan anak muda yang berpikiran
maju, tak hanya mengandalkan diri untuk menjadi pekerja.
Pemerintah pun membuka peluang wirausaha kreatif,
bahkan mewadahinya dalam kementerian tersendiri, yakni
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
memberi alasan munculnya wirausaha
kreatif. Menurutnya, untuk unggul dalam persaingan, bisnis
tidak lagi mengandalkan teknologi saja, tetapi melibatkan
faktor lain yang menjadi kunci sukses dalam memulai bisnis
dan dapat dijadikan peluang, yakni kemampuan berpikir
kreatif serta pemikiran untuk menciptakan produk atau
jasa yang kreatif agar bisnis baru bisa berkembang.
pebisnis yang kreatif
dibutuhkan untuk menjadi rekan dan penunjang kesuksesan
perusahaan besar. Maka, munculnya pengusaha muda
yang kreatif akan menciptakan model entrepreneur gaya
baru, creativepreneur. Mereka adalah wirausahawan yang
menciptakan kreasi tiada henti sebagai inti bisnisnya.
Di Indonesia, industri (wirausaha) kreatif
didefinisikan sebagai industri
yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan
serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan
serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan
mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu
ini .
Tidak seperti industri pada umumnya, industri kreatif
merupakan kelompok industri yang terdiri atas berbagai
jenis industri dan memiliki keterkaitan dalam proses
pengeksploitasian ide atau kekayaan intelektual menjadi
nilai ekonomi tinggi yang dapat menciptakan kesejahteraan
dan lapangan pekerjaan. Inggris yang merupakan pelopor
industri kreatif mengelompokkan 13 sektor usaha kreatif,
yakni periklanan, arsitektur, seni dan barang antik,
kerajinan, desain, fesyen, film dan video, piranti lunak
interaktif (games), musik, seni pertunjukkan, penerbitan,
komputer dan piranti lunak, televisi, serta radio.
Indonesia mengelompokkan industri kreatifnya ke
dalam 14 kelompok yakni:
1. Arsitektur.
2. Desain.
3. Fesyen.
4. Film, video, dan fotografi.
5. Kerajinan.
6. Komputer dan piranti lunak.7. Musik.
8. Barang seni.
9. Penerbitan dan percetakan.
10. Periklanan.
11. Permainan interaktif.
12. Riset dan pengembangan.
13. Seni pertunjukkan.
14. Televisi dan radio.
Di dalam industri kreatif, kreativitas memegang
peranan sentral sebagai sumber daya utama. Industri
kreatif lebih banyak membutuhkan sumber daya kreatif
yang berasal dari kreativitas manusia daripada sumber
daya fisik. Namun demikian, sumber daya fisik tetap
diperlukan terutama dalam peranannya sebagai media
kreatif. Apalagi, industri kreatif mengutamakan desain
dalam penciptaan produk. Industri kreatif membutuhkan
kreativitas individu sebagai input utama dalam proses
penciptaan nilai.
Hal yang penting diketahui dalam industri kreatif
adalah rantai penciptaan, karena pemahaman atas rantai
penciptaan ini berguna untuk menentukan strategi
pengembangan. Urutan pengembangannya adalah sebagai
berikut ,
1. Kreasi, terdiri atas; edukasi, inovasi, ekspresi,
kepercayaan diri, pengalaman dan proyek, proteksi,
agen talenta.
2. Produksi, terdiri atas; teknologi, jaringan outsourcing
jasa, skema pembiayaan
3. Distribusi, terdiri dari; Negosiasi Hak Distribusi,
Internasionalisasi, Infrastruktur
4. Komersialisasi, terdiri dari; Pemasaran, Penjualan,
Layanan (Services), Promosi
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet
Indonesia Bersatu II, Mari Elka Pangestu mengatakan,
pada tahun 2011, sektor ekonomi kreatif merupakan sektor
keempat terbesar dari 10 sektor ekonomi nasional dalam
hal penyerapan tenaga kerja setelah sektor pertanian,
peternakan, kehutanan & perikanan, perdagangan, hotel
dan restoran, serta sektor jasa. Sektor ekonomi kreatif
menyerap tenaga kerja melalui terciptanya usaha-usaha
baru. Subsektor yang menyerap tenaga kerja terbesar
adalah subsektor fesyen, kuliner dan kerajinan dengan
pertumbuhan tertinggi di subsektor kerajinan sebesar 1,42
persen ,
Sejalan dengan meningkatnya kelas menengah, pangsa
pasar industri kreatif dipastikan semakin besar. Untuk itu,
diperlukan generasi muda berjiwa wirausaha yang kreatif,
inovatif, dan berani maju untuk mengembangkan 14 sektor
industri kreatif ini .
Inovasi dalam wirausaha membuka peluang
diversifikasi produk dan pangsa pasar. Lingkungan bisnis
yang kompetitif dan dinamis menuntut wirausaha untuk
selalu adaptif dan mencari terobosan terbaru. Karakter
cepat puas diri akan membawa bisnis menuju kemunduran.
Maka, inovasi adalah jawaban untuk wirausaha yang
sukses.
Inovasi sebagai kreativitas yang diterjemahkan menjadi
sesuatu yang dapat diimplementasikan dan memberikan
nilai tambah atas sumber daya yang kita miliki. Jadi, untuk
senantiasa dapat berinovasi, kita memerlukan kecerdasan
kreatif.
Inovasi merupakan kunci perkembangan ekonomi
dari perusahaan manapun, wilayah (propinsi) dalam
suatu negara, dan negara itu sendiri. Ketika teknologi
berubah, produk lama penjualannya menurun dan industri
lama berkurang jumlahnya. Inovasi merupakan struktur
pembangun masa depan ekonomi
Bagi wirausahawan, inovasi bersifat untuk
memanfaatkan perubahan daripada menciptakannya.
Mencari inovasi dilakukan dengan memanfaatkan
perubahan pada penemuan yang menyebabkan perubahan.
Ide inovatif dapat bersumber pada kreativitas eksternal
dan internal.
Menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan
ekonomi global, kreativitas tidak hanya penting untuk
menciptakan keunggulan kompetetif, tapi juga penting bagi
kesinambungan perusahaan. Artinya, dalam menyiasati
tantangan global, diperlukan sumber daya manusia
kreatif dan inovatif sekaligus berjiwa kewirausahaan.
Wirausahalah yang dapat menciptakan nilai tambah dan
keunggulan. Nilai tambah itu dihasilkan melalui kreativitas
dan inovasi.
Kreativitas adalah proses. Kreativitas adalah sikap.
Maka, naluri kreativitas harus diasah terus dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya saat melihat peluang bisnis, dan dalam
menghadapi iklim kompetisi. Hal-hal sekecil apapun,
bagi wirausahawan, layak diperlakukan secara kreatif.
Kreativitas bagi seorang wirausahawan adalah harga mati.
Para wirausahawan akan berhasil jika mengembangkan
proses berpikir kreatif serta melaksanakan hal baru atau
lama dengan cara baru (inovasi).
Persaingan antar wirausahawan saat ini semakin sengit.
Tak jarang ditemukan, mereka memperebutkan pangsa
pasar yang sama. Karena itu, wirausahawan dituntut tahan
banting, pantang menyerah, dan terus mencari peluang
baru.
Dengan alasan itulah, sebelum berkecimpung ke dunia
bisnis, seorang wirausahawan seharusnya mengenali
potensi diri. Apakah mereka termasuk individu yang berani
mengambil risiko, tahan banting, kuat dengan tekanan,
anti stres, atau tidak.
Salah satu potensi diri yang wajib dimiliki setiap
pengusaha adalah sikap ketahanmalangan/adversitas
(adversity/sikap tahan banting). Menurut penggagas
advesitas, Paul Stoltz, sikap ketahanmalangan merupakan
faktor pembentuk sukses orang-orang besar. Berdasarkan
penelitian Stoltz, ditemukan fakta bahwa orang hebat dan
sukses adalah mereka yang tahan terhadap penderitaan,
berani menghadapi tantangan dan risiko dalam perjalaan
hidupnya.
Menurut Stoltz dalam buku Adversity Quotient: Turning
Obstacles into Opportunities (2000), kehidupan yang dijalani
manusia dapat dibagi atas tiga kategori, yakni: quitters
(diam dan tidak dinamis), camper (selalu mencoba tetapi mudah menyerah setelah mendapat tantangan), dan climber
(berani dan bertahan menghadapi tantangan kehidupan).
Kesuksesan menurut Stoltz ibarat puncak gunug tertinggi
yang mampu didaki oleh manusia. Orang sukses adalah
mereka yang mau dan mampu mendaki hingga ke puncak
gunung. Mereka inilah yang termasuk kategori climber atau
pendaki.
Karakter camper ciri khasnya adalah ingin sukses
tapi tidak sampai di puncak gunung. Mereka ingin
mendaki gunung sebagaimana halnya climber, tetapi
cepat menyerah ketika mendapatkan tantangan (badai)
dalam perjalanan mendaki ke puncak bukit. Mereka tidak
melanjutkan perjalanan dan memilih untuk mendirikan
tenda/kemah (camp) di tengah perjalanan ini . Mereka
berharap bahwa tantangan akan berhenti sehingga dapat
melanjutkan perjalanan. Namun tantangan (badai) ini
tidak hilang karena merupakan sifat alami ketinggian.
Mereka selamanya berada di tempat ini , menikmati
serta berpuas diri sampai di situ, meskipun mereka tidak
pernah sampai di puncak sukses yang sesungguhnya.
Karakter yang lebih buruk adalah quitters. Mereka
adalah orang yang menghindari tantangan mendaki
gunung. Mereka adalah tipe orang yang mencari
kesenangan dan zona nyaman dalam hidupnya. Tipikal
wirausahawan bukanlah quitters, melainkan climber. Sifat
quitters lebih banyak ditemukan pada sosok pekerja, yang
memang menikmati zona nyamannya sebagai karyawan
dengan gaji di tangan setiap bulan.
Adversitas, menurut kamus Webster, termasuk
peristiwa-peristiwa celaka. Jika seseorang berpikir
adversitas, maka akan memikirkannya mulai dari apa
yang orang alami, seperti tiba-tiba putus cinta, kesulitan
keuangan, depresi emosi, dan perkembangan karir yangtidak menyenangkan. Orang tidak tahu bahwa adversitas
akan datang dan merupakan realitas yang tidak diharapkan.
Ketegaran diri merupakan indikator dari kecerdasan
adversitas (adversity quotient), terletak pada kerelaan
menerima segala hal dengan lapang dada (Ronni, 2006).
Terkait dengan hal ini, William James, bapak psikologi
terapan, secara filosofis mengungkapkan: “Be willing to have
it so … be willing to have it so, because acceptance of what has
happened is the first step in overcoming the consequences of any
misfortune” (bersedialah menerima apa pun dengan ikhlas,
karena penerimaan terhadap apa pun yang terjadi adalah
langkah pertama dalam mengatasi akibat dari segala
kemalangan) ,
Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam
kehidupannya setiap orang senantiasa berhadapan atau
sekurang-kurangnya berhubungan dengan kemalangan,
ketidakberuntungan, atau kesulitan, entah dalam ukuran
kecil maupun besar. Kondisi ini, dalam kenyataannya,
tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Faktanya, tidak ada
seorang pun manusia di muka bumi yang terhindar sama
sekali dari kemalangan atau kesulitan.
Pengalaman mengajarkan bahwa kehidupan dan karir
kepemimpinan seseorang tidak terlepas dari kekecewaan,
frustrasi, hambatan dan krisis. Semua itu muncul dalam
berbagai bentuk: kematian, sakit, kerugian keuangan,
perceraian, pegawai yang marah, konflik antarpribadi,
tantangan etika, dan kecemburuan. Semua peristiwa yang
bisa menghambat jalan pemimpin menuju sukses. Tidak
seorangpun diselamatkan. Seperti kematian dan beban,
adversitas selalu ada ,
Adversitas bukan hanya ditakdirkan, tetapi dalam
lingkungan usaha yang kacau dan bergolak sekarang
ini, adversitas tampaknya lebih sering muncul daripada sebelumnya. Pengelompokan adversitas pimpinan dapat
dilihat dari: nasib malang, uji coba, dan adversitas itu sendiri . Oleh karena itu, terkait dengan
kemalangan, kesulitan, kesengsaraan, atau tantangan
ini , Csikzentmihaly menulis, “Dari semua sifat yang
bisa kita pelajari, tidak ada watak yang lebih bermanfaat,
lebih penting dari kelangsungan hidup, dan lebih besar
kemungkinannya untuk memperbaiki mutu kehidupan,
daripada kemampuan untuk mengubah kesulitan menjadi
tantangan yang menyenangkan .” Hal ini
mengisyaratkan bahwa kesulitan memang telah menjadi
bagian dari kehidupan umat manusia dan karena itu harus
dihadapi dan dijadikan tantangan.
Kemalangan, kesulitan atau kesengsaraan tidak cukup
hanya dicita-citakan untuk diantisipasi, tetapi lebih dari
itu perlu untuk segera diatasi dengan cepat. Cara untuk
mengatasi itu misalnya dapat bersandar dari kondisi yang
faktual bahwa dalam realitasnya ada seseorang mengeluh
dan meratap, tetapi ada yang tidak; ada yang tegang
dan gelisah, tetapi ada juga yang memiliki kedamaian
yang terpancar dari dalam; ada pula orang akan mencari
lebih banyak uang, lebih banyak wibawa, lebih banyak
kesenangan dan lebih banyak hiburan, tetapi ada pula
yang cukup puas dengan kehidupannya . Maknanya adalah bahwa kemalangan,
kesulitan atau kesengsaraan dapat diringankan dengan
pemahaman mendalam tentang berbagai fenomena hidup,
dengan argumen empirik bahwa kondisi yang tidak
membahagiakan itu telah terbukti menerpa setiap manusia
dan karena itu perlu ditanggapi biasa saja, tidak berlebihan,
sehingga tidak betul-betul dirasakan sebagai kemalangan,
kesulitan, atau kesengsaraan yang benar-benar sangat
menghimpit.Untuk bisa sampai pada tataran itu tentu dibutuhkan
keberanian, yaitu keberanian untuk melihat dan
memandang kemalangan, kesulitan atau kesenggsaraan
secara realistis, sebagai bagian dari kehidupan manusia yang
tak terpisahkan namun perlu dipecahkan. Sebagaimana
kemalangan, kesulitan atau kesengsaraan yang seolaholah given, keberanian juga merupakan anugerah yang
memberi seseorang kemampuan menghadapi bahaya
tanpa harus diliputi dengan ketakutan. Keberanian bukan
bersifat mutlak. Keberanian tergantung pada situasi dan
orang. Keberanian muncul dalam berbagai cara. Apa yang
menuntut keberanian dari seseorang tampaknya mudah bagi
orang lain. Keberanian tidak selalu menyangkut tindakan
heroik kesatria di medan tempur. Keberanian juga menjadi
tindakan orang biasa dalam mencari kehidupan lebih baik
. Keberanian bukan merupakan
pengalaman emosi murni – apa yang sering disebut guts oleh
banyak orang. Keberanian memiliki komponen rasional.
Ini bukan hanya merupakan sesuatu yang dilakukan
tanpa berpikir. Keberanian menuntut pembuatan suatu
pilihan dengan adanya adversitas ,
Dengan demikian, keberanian merupakan kondisi pikiran.
Ini berkaitan dengan bagaimana manusia mengalami
situasi terentu dan bagaimana harus menghadapi rasa
takut. Membiarkan diri didominasi oleh rasa takut akan
meninggalkan sedikit pilihan kecuali tenggelam. Terlalu
yakin bahwa orang bisa menangani sesuatu bisa mengarah
pada kenekadan dan kekerasan. Tetapi mengenali rasa
takut, terlalu yakin bisa menangani situasi, dan mengambil
inisiatif meskipun ada rasa takut, merupakan tindakan
yang berani ,
Semua tindakan keberanian dikaitkan dengan kesulitan
dan kesengsaraan. Tantangan keras selalu merupakan konteks yang memengaruhi saat-saat berani. Jika semua itu
mudah, tidak memerlukan keberanian. Tampak jelas bahwa
tantangan, kesengsaraan, kesulitan atau bahaya membuka
agenda bagi keberanian, menyelamatkan sesuatu. Ini
semua bersifat relatif ,
Adversitas berkaitan dengan keberanian untuk
menghadapi kesulitan, kemalangan, kesengsaraan dan
tantangan. Oleh sebab itu adversitas menjadi perjuangan
di dua tingkatan: pribadi (intern) dan umum (ekstern).
Penyelesaian krisis atau peristiwa adversitas menuntut
kedua tingkatan itu dikelola serentak. Misalnya para
pemimpin menjadi sosok umum. Meskipun ada perjuangan
pribadinya, kalangan usaha harus terus maju. Dunia nyata
memiliki tuntutan yang tidak bisa diabaikan. Namun,
tingkat intern atau pribadi merupakan pusat untuk
menaklukkan semua adversitas. Inilah di mana masalah
itu dirasakan oleh emosi dan bergeser serta berubah secara
mental
Setiap orang memiliki adversitas dengan kadar yang
berbeda-beda. Kadar ini dapat dinamakan kecerdasan
adversitas. Kecerdasan adversitas (Adversity Quotient
– AQ) memasukkan dua komponen penting dari setiap
konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan penerapannya di
dunia nyata. Hasil riset selama 19 tahun dan penerapannya
selama 10 tahun merupakan terobosan penting dalam
pemahaman tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai
kesuksesan. Suksesnya pekerjaan dan hidup ditentukan
oleh AQ, karena:
1. AQ memberi tahu seberapa jauh individu mampu
bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk
mengatasinya.
2. AQ meramalkan apa yang mampu mengatasi kesulitan
dan siapa yang akan hancur.
3. AQ meramalkan siapa yang akan melampaui harapanharapan atas kinerja dan potensi mereka serta siapa
yang akan gagal.
4. AQ meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa
yang akan bertahan ,
AQ mempunyai tiga bentuk. Pertama, AQ adalah suatu
kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan
meningkatkan semua segi kesuksesan. AQ berlandaskan
pada riset yang berbobot dan penting, yang menawarkan
gabungan pengetahuan yang praktis dan baru, yang
merumuskan kembali apa yang diperlukan untuk mencapai
kesuksesan. Kedua, AQ adalah ukuran untuk mengetahui
respons terhadap kesulitan. Selama ini pola-pola bawah
sadar ini sebetulnya sudah dimiliki individu. Sekarang
untuk pertama kalinya, pola-pola ini dapat diukur,
dipahami dan diubah. Ketiga, AQ adalah serangkaian
peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki
respons terhadap kesulitan, yang berakibat memperbaiki
efektivitas pribadi dan profesional secara keseluruhan .
AQ mulai dengan individu, tetapi melampaui batas
individu. AQ dapat meramalkan (Stoltz, 2000):
• Kinerja • Kesehatan emosional.
• Motivasi • Kesehatan jasmani
• Kreativitas • Daya tahan
• Produktivitas • Perbaikan sedikit demi sedikit
• Pengatahuan • Tingkah lauk
• Energi • Umur panjang
• Penghargaan • Respons terhadap perubahan
• Kebahagiaan, vitalitas,
dan kegembiraan
Dengan kondisi seperti itu AQ mendasari semua
segi kesuksesan. Orang-orang yang memiliki AQ lebih
tinggi menikmati serangkaian manfaat, termasuk kinerja,
produktivitas, kreativitas, kesehatan, ketekunan, daya
tahan, dan vitalitas yang lebih besar daripada mereka yang
rendah AQ-nya ,
Untuk melihat kadar AQ seseorang, antara lain dapat
dilihat dari tiga tipe individu, yakni: quiters, campers, dan
climbers. Tipe quiters tercermin dari individu-individu
yang memilih keluar, menghindari kewajiban, mundur
dan berhenti. Quiters adalah orang-orang yang berhenti;
menghentikan pendakian, menolak kesempatan yang
diberikan, mengabaikan, menutupi, atau meninggalkan
dorongan inti yang manusiawi untuk mendaki, dan dengan
demikian juga meninggalkan banyak hal yang ditawarkan
oleh kehidupan. Campers atau orang-orang yang berkemah,
pergi tak seberapa jauh, mudah bosan, mengakhiri
pendakiannya dan mencari tempat datar yang rata dan
nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak
bersahabat, memilih menghabiskan sisa-sisa hidup dengan
duduk di situ. Berbeda dengan Quitters, Campers sekuragkurangnya telah menanggapi tantangan pendakian, telah
mencapai tingkat tertentu. Perjalanannya mungkin memang
mudah, atau mungkin telah mengorbankan banyak hal
dan telah bekerja dengan rajin untuk sampai ke tempat
dimana kemudian berhenti. Pendakian yang tidak selesai
itu oleh sementara orang dianggap sebagai ”kesuksesan”.
Ini merupakan pandangan keliru yang sudah lazim bagi
orang yang menganggap kesuksesan sebagai tujuan yang
harus dicapai, jika dibandingkan dengan perjalanannya.
Namun demikian, meskipun Campers telah berhasil
mencapai tempat perkemahan, mereka tidak mungkin
mempertahankan keberhasilan itu tanpa melanjutkan pendakiannya. Karena, yang dimaksud dengan pendakian
adalah pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada
diri seseorang . Climbers, atau si pendaki,
adalah untuk orang yang seumur hidup membaktikan
dirinya pada pendakian. Tanpa menghiraukan latar
belakang, keuntungan atau kerugian, nasib buruk atau
nasib baik, terus mendaki. Climbers adalah pemikir yang
selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan
tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat
fisik atau mental, atau hambatan lainnya menghalangi
pendakiannya ,
Quitters menjalani kehidupan yang tidak terlalu
menyenangkan. Quitters meninggalkan impian-impiannya
dan memilih jalan yang dianggap lebih datar dan lebih
mudah. Ironisnya, seiring dengan berlalunya waktu,
Quitters mengalami penderitaan yang jauh lebih pedih
daripada yang ingin dielakkan dengan memilih untuk
tidak mendaki. Saat yang paling memilukan dan menyedihkan adalah sewaktu Quitters menoleh ke belakang
dan melihat bahwa kehidupan yang telah dijalani ternyata
tidak menyenangkan. Inilah nasib Quitter, orang yang
berhenti. Quitters sering menjadi sinis, murung, dan mati
perasaannya. Menjadi pemarah dan frustrasi, menyalahkan
semua orang di sekelilingnya, dan membenci orang-orang
yang terus mendaki. Quitters juga sering menjadi pecandu,
entah itu pecandu alkohol, narkoba, atau acara-acara
televisi yang tidak bermutu. Quitters mencari pelarian
untuk menenangkan hati dan pikiran (Stoltz, 2000).
Seperti Quitters, Campers juga menjalani kehidupan
yang tidak lengkap. Perbedaannya terletak pada
tingkatnya. Karena lelah mendaki, campers mungkin
merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa
yang sudah ada, dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi.
Campers biasanya merasa tidak ada salahnya berhenti
mendaki supaya bisa menikmati hasil jerih payahnya, atau
tepatnya, menikmati pemandangan dan kenyamanan yang
sudah diperoleh selama pendakian yang belum selesai itu.
Sambil memasang tenda, campers memfokuskan energinya
pada kegiatan mengisi tenda dengan barang-barang yang
sedapat mungkin membuatnya nyaman. Ini berarti campers
melepaskan kesempatan untuk maju, yang sebenarnya
dapat dicapai jika energi dan sumber dayanya diarahkan
dengan semestinya ,
Campers menciptakan semacam ”penjara yang nyaman”
—sebuah tempat yang terlalu enak untuk ditinggalkan. Di
sini kehidupan memang bukan segala-galanya, sekadar
cukup baik. Campers memiliki pekerjaan yang bagus dan
gaji serta tunjangan-tunjangan yang sangat layak. Namun,
masa-masa yang penuh gairah, masa belajar dan tumbuh,
dan energi kreatifnya telah lama hilang. Hidup tampaknya
mudah sekali; tahu apa yang akan terjadi, dan masa-masa
penuh kecemasan telah lama berlalu — selain kesadaran
yang mulai menggerogoti batin, kesadaran bahwa banyak
mimpi berlalu tanpa pernah terwujud, dan perubahan
terus-menerus mengancam tempat perkemahan. Para
camper adalah satisficer (dari kata satisfied = puas dan suffice
= mencukupi). Puas dengan mencukupkan diri, dan tidak
mau mengembangkan diri. Campers berhasil mencukupi
kebutuhan dasarnya, yaitu makanan, air, rasa aman,
tempat berteduh, bahkan rasa memiliki, yang berarti telah
melewati kaki gunung. Namun, dengan berkemah, campers
mengorbankan bagian puncak, aktualisasi diri. Akibatnya,
campers menjadi sangat termotivasi oleh kenyamanan dan
rasa takut. Takut kehilangan tempat berpijak, dan mencari
rasa aman dari perkemahan yang kecil dan nyaman Climbers menjalani bidupnya secara lengkap. Untuk
semua hal yang dikerjakan, benar-benar dipahami
tujuannya dan bisa dirasakan gairahnya. Climbers
mengetahui bagaimana perasaan gembira yang
sesungguhnya, dan mengenalinya sebagai anugerah dan
imbalan atas pendakian yang telah dilakukan. Karena tahu
bahwa mencapai puncak itu tidak mudah, maka climbers
tidak pernah melupakan ”kekuatan” dari perjalanan yang
pernah ditempuhnya. Climbers tahu bahwa banyak imbalan
datang dalam bentuk manfaat-manfaat jangka panjang, dan
langkah-langkah kecil sekarang ini akan membawanya pada
kemajuan-kcmajuan lebih lanjut di kemudian hari. Climbers
selalu menyambut tantangan-tantangan yang disodorkan
kepadanya (Stoltz, 2000). Climbers sering merasa sangat
yakin pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Keyakinan ini membuatnya bertahan manakala gunung
terasa menakutkan dan sulit ditaklukkan, serta setiap
harapan untuk maju mendapat tantangan hebat. Climbers
yakin bahwa segala hal bisa dan akan terlaksana, meskipun
orang lain bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa
jalannya tidak mungkin ditempuh. Climbers sangat gigih,
ulet dan tabah. Terus bekerja keras pada waktu mendaki.
Saat batu besar menghadang di jalan atau menemui jalan
buntu, akan mencari jalan lain. Saat merasa lelah dan
kaki sudah tidak dapat diayunkan lagi, akan melakukan
intropeksi diri dan terus bertahan. Kata berhenti tidak
terdapat dalam kamus para Climber. Climber memiliki
kematangan dan kebijaksanaan untuk memahami bahwa
kadang-kadang dirinya perlu mundur sejenak supaya
dapat bergerak maju lagi. Mundur adalah bagian alamiah
dari pendakian. Hasilnya, climbers menempuh kesulitankesulitan hidup dengan keberanian dan disiplin sejati .Salah satu instrumen yang dapat digunakan dalam
mengukur adversitas adalah Adversity Response Profile
(ARP). ARP telah dicoba oleh lebih dari 7.500 orang dari
seluruh dunia dengan berbagai macam karier, usia, ras,
dan kebudayaan. Analisis formal terhadap hasil-hasilnya
mengungkapkan bahwa instrumennya merupakan tolok
ukur yang valid untuk mengukur bagaimana orang
merespons kesulitan dan merupakan peramal kesuksesan
yang ampuh. Penelitian-penelitian di berbagai perusahaan,
sekolah, dan dengan atlet-atlet memperlihatkan bahwa
ARP merupakan peramal kinerja yang efektif dan berperan
dalam serangkaian kesuksesan lainnya. ARP juga memiliki
validitas yang hebat. Dengan kata lain, hasilnya masuk
akal, tanpa mempedulikan latar belakang seseorang ,
Melalui tes ulangan dan tes lanjutan, ARP juga telah
terbukti sangat andal. Kaum profesional, para mahasiswa,
eksekutif, dan atlet-atlet yang melakukan tesnya lebih dari
satu kali selama beberapa bulan, tanpa ikut serta dalam
program pelatihan AQ, menunjukkan hasil yang sangat
konsisten. Sedangkan individu-individu yang mengikuti
program ini memperlihatkan perbaikan-perbaikan
yang nyata dalam respons-responsnya terhadap kesulitan.
C. Peran Adversitas dalam Wirausaha
Dengan memiliki adversitas yang baik, seseorang akan
dapat belajar tentang: (1) menciptakan paradigma baru
yang akan menggeser pertemuan negatif atau kerugian ke
dalam peluang-peluang pembelajaran, (2) meningkatkan
manajemen diri, menghentikan sikap menyalahkan dan
mengurangi sabotase emosional, (3) menyentuh definisi
awal reaksi ketidakefektivan terhadap persoalan-persoalan
dan tantangan, (4) mengurangi stress dan miskomunikasi, (5) meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan,
(6) meningkatkan pengertian dan komunikasi di dalam tim
atau perusahaan, dan (7) meningkatkan sikap kompetitif,
kreativitas dan kemampuan belajar ,
Konsep kewirausahaan sangat erat dengan AQ.
Di dalam konsep kewirausahaan, seorang wirausaha
harus memiliki sikap mental positif, memiliki motivasi
berprestasi yang tinggi dan tidak mudah menyerah dalam
menjalankan bisnisnya
Dalam konsep kewirausahaan juga dijelaskan
bahwa terdapat perbedaan antara seorang pedagang
dan wirausaha. Seorang pedagang adalah orang yang
melakukan kegiatan bisnisnya secara rutin, tetapi terdapat
kecenderungan tidak mengembangkan usahanya.
Di sisi lain, salah satu syarat untuk menjadi seorang
wirausaha adalah berupaya semaksimal mungkin
untuk mengembangkan usahanya agar lebih maju dari
sebelumnya. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan
adversity quotient, khususnya yang membahas mengenai
tiga tipe orang yang melakukan pendakian. Pendakian
yang dilakukan oleh ketiga tipe orang ini adalah
upaya untuk mencapai kesuksesan dalam bidang yang
dikerjakan. Jika konsep ini diterapkan dalam bisnis, maka
seseorang yang ingin sukses dalam bisnisnya adalah orang
yang selalu mendaki agar dapat terus mencapai puncak
(kesuksesan), tetapi jika orang ini mudah menyerah
dengan tantangan yang dihadapi atau sudah merasa cukup
puas dengan kondisinya sekarang maka ia tidak akan
dapat terus meraih kesuksesan, dan tidak dapat dikatakan
sebagai seorang wirasaha yang sukses. Setiap orang di
dalam melakukan kegiatan bisnisnya pasti memiliki
masalah dalam pengembanganya, namun yang berbeda untuk meraih kesuksesan dalam bisnis adalah daya juang
yang dimiliki oleh orang ini (Lisan & Ida, 2011).
Karakter wirausaha sukses sejalan dengan adversitas.
Mereka yang memiliki sikap adversitas tinggi, cenderung
memilih menjadi climber, dan meninggalkan posisi zona
nyaman, zona yang membuat usaha tidak berkembang dan
jalan di tempat.
Kasmir (2011) menyebut beberapa ciri wirausahawan
sukses (berhasil), antara lain: (1) memiliki visi dan tujuan
yang jelas, (2) inisiatif dan selalu proaktif, (3) berorientasi
pada prestasi, (4) berani mengambil risiko, (5) kerja keras,
(6) tanggung jawab atas segala aktivitas, (7) komitmen, dan
(8) menjaga hubungan baik dengan barbagai pihak. Ciriciri ini tentunya bersesuaian dengan sikap adversitas,
yakni sikap wirausahawan yang selalu ingin meraih hasil
puncak.
AQ merupakan modal bagi seorang wirausaha yang
ingin sukses. Sebab, wirausahawan adalah orang yang
selalu ingin mengembangkan usaha, dan dalam fase
pengembangan ini , sudah barang tentu terdapat
tantangan dan hambatan. Maka, jika wirausahwan
tidak memiliki AQ, maka jangan harap ia bisa terus
bertahan di tengah iklim bisnis yang kompetitif, apalagi
mengembangkan usaha ini .
Kotak 5
Kolonel Sanders dan Pelajaran tentang Kegagalan
Siapa yang tak kenal dengan ikon kolonel tua di
produk makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC)?
Ya, Kolonel Sanders. Ikon ini bagaikan magnet, yang
siap menarik setiap orang untuk mampi ke gerai waralaba
KFC kapan saja.Konsep waralaba KFC memang sukses besar. Tapi, hal
itu dilakukan Kolonel Sanders tidak sekali jalan. Ia butuh
waktu lama meyakinkan resep andalannya ke restoranrestoran di Amerika Serikat, hingga akhirnya bisa diterima
masyarakat.
Kolonel Sanders adalah tipikal wirausahawan tahan
banting. Betapa tidak. Dia memulai usaha pada di usia 66
tahun, pensiunan angkatan darat dari negara adidaya, hanya
memiliki uang dari tunjangan hari tuanya yang semakin
menipis. Sanders memiliki keahlian dalam memasak, dia
tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran
di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008, menerima
resepnya ini . Impian Sanders hanya sederhana, yakni
bagaimana memiliki uang yang layak untuk hidup di hari
tuanya.
Perjalanan hidup Sanders memang berliku. Pada umur
7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat
memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan
pertamanya di pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan.
Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan ia
meninggalkan rumah tempat tinggalnya dekat Henryville,
Ind., untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah
Greenwood, Ind. Dia berganti-ganti pekerjaan selama
beberapa tahun, pertama sebagai tukang parkir pada usia
15 tahun di New Albany, Ind., dan kemudian pada usia
16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di
Kuba.
Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran,
belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam
pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban,
dan operator bengkel. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai
memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di
bengkelnya di Corbin. Ia belum punya restoran pada saat itu, tetapi ia menyajikan makanannya pada meja makannya
di ruang makan di bengkelnya.
Semakin banyak orang yang datang ke tempatnya
untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat
penginapan dan restoran yang kapasitasnya 142 orang.
Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang
dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini.
Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel
meyakinkan dirinya untuk membuka usaha waralaba
yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi
Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran
lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran
dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia
menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran
dari setiap ayam yang laku terjual. Pada tahun 1964,
Kolonel Sanders mempunyai lebih dari 600 outlet waralaba
untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada.
Pada tahun itu, ia menjual bunga dari pembayarannya
untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada
sejumlah grup investor termasuk John Y. Brown Jr., yang
kemudian menjadi Gubernur Kentucky dari tahun 1980
sampai 1984. Kolonel mengingatkan untuk menjadikan
terbuka perusahaannya bagi publik. Pada tahun 1976,
sebuan survey independen memberi peringkat kedua
dunia sebagai selebriti yang terkenal di dunia.
Salah satu potensi diri yang wajib dimiliki setiap
pengusaha adalah sikap ketahanmalangan/adversitas
(adversity/sikap tahan banting). Menurut penggagas
advesitas, Paul Stoltz, sikap ketahanmalangan merupakan
faktor pembentuk sukses orang-orang besar.
Kehidupan yang dijalani manusia dapat dibagi atas
tiga kategori, yakni: quitters (diam dan tidak dinamis),
camper (selalu mencoba tetapi mudah menyerah setelah
mendapat tantangan), dan climber (berani dan bertahan
menghadapi tantangan kehidupan). Kesuksesan, menurut
Stoltz, ibarat puncak gunung tertinggi yang mampu didaki
oleh manusia. Orang sukses adalah mereka yang mau dan
mampu mendaki hingga ke puncak gunung. Mereka inilah
yang termasuk kategori climber atau pendaki.
Ketegaran diri merupakan indikator dari kecerdasan
adversitas (adversity quotient), terletak pada kerelaan
menerima segala hal dengan lapang dada. Hal ini karena
dalam kehidupannya setiap orang senantiasa berhadapan
atau sekurang-kurangnya berhubungan dengan
kemalangan, ketidakberuntungan, atau kesulitan, entah
dalam ukuran kecil maupun besar. Kondisi ini, dalam
kenyataannya, tidak dapat dihindari oleh siapa pun.
Faktanya, tidak ada seorang pun manusia di muka bumi
yang terhindar sama sekali dari kemalangan atau kesulitan.
Setiap orang memiliki adversitas dengan kadar
yang berbeda-beda. Kadar ini dapat dinamakan
kecerdasan adversitas. Kecerdasan adversitas (Adversity
Quotient – AQ) memasukkan dua komponen penting dari
setiap konsep praktis, yaitu teori ilmiah dan penerapannya
di dunia nyata.
AQ mendasari semua segi kesuksesan. Orang-orang
yang memiliki AQ lebih tinggi menikmati serangkaian
manfaat termasuk kinerja, produktivitas, kreativitas,
kesehatan, ketekunan, daya tahan, dan vitalitas yang lebih
besar daripada mereka yang rendah AQ-nya
Konsep kewirausahaan sangat erat kaitannya dengan
AQ. Di dalam konsep kewirausahaan, seorang wirausaha
harus memilki sikap mental positif, memiliki motivasi berprestasi yang tinggi dan tidak mudah menyerah dalam
menjalankan bisnisnya.
Related Posts:
wirausaha 3 menghadapi risiko kegagalan, namun perlu dilakukan berbagai upaya secara terus menerus agar kematangan k… Read More