Home »
intelijen 2
» intelijen 2
intelijen 2
dasar kebijakan yang tidak bisa diabaikan. Satu lagi, penjinakkan Abu
Bakar Baasyir (ABB) yang saat ini telah diputus bebas oleh MA, tentunya
dengan konsekuensi ABB yang harus menjilati idealismenya dan
kehilangan kehormatan sebagai seorang pejuang Jihad kekerasan.
Meskipun keputusan pembebasan ABB sangat menyakitkan keluarga
korban Bom Bali dan protes Australia, namun sesungguhnya bagi ABB
pembebasannya sama saja dengan bukti kemunafikan dirinya sendiri yang
meninggalkan barisan Jihad.
85
Tulisan ini sebenarnya hanya apresiasi kecil bagi segenap aparat
keamanan khususnya intelijen yang telah memporakporandakan barisan
teroris di negara kita. Semoga Tahun 2006 ini benar-benar ditutup tanpa
adanya ledakan teror, sehingga menjadi catatan sukses sebab jumlah
teror maupun korban relatif lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Sunday, December 24, 2006
86
POSO
Poso di era reformasi yaitu sebuah cerita berlumuran darah yang selalu
membuat pusing siapapun yang menanganinya. Poso di era Orde Baru
hanya sebuah wilayah sunyi dengan penduduk Muslim dan Kristen yang
jarang saling tegur sapa, paling-paling bertemu di pusat keramaian.
lalu di kantung-kantung pegunungan bila terjadi pertemuan sepintas
dalam kendaraan masing-masing hanya berpapasan dan melambaikan
tangan.
Sebuah wilayah sunyi yang menjadi mencekam ketika terjadi rangkaian
kisah banjir darah yang menyisakan dendam entah sampai kapan. Berikut
ini catatan Senopati Wirang yang bersumber pada informasi rekan-rekan
yang akhirnya merambah kelompok yang dituduh radikal oleh
pemerintah.
Pertama, saya mendapatkan klarifikasi bahwa persoalan gerakan radikal
Islam yang selalu dikaitkan dengan Jemaah Islamiyah di Poso tidak
sepenuhnya benar. Telah terjadi proses generalisasi bahwa JI berada di
belakang gejolak Poso yang belum berakhir hingga saat ini. Kelompok JI
yang ada di Poso yaitu JI Akhiirun yang sembarangan merekrut anggota
dan sangat cepat terpancing oleh intimidasi pemerintah RI maupun oleh
elemen intelijen Asing (baca CIA, Mossad dan Australia). Kelompok ini
bahkan sudah disusupi informan/agen asing, misalnya saja saat ini sedang
dilakukan operasi internal untuk mengungkap penghianat dalam tubuh JI
yang diduga sebagai informan-nya Sidney Jones.
87
Sebagai akibat dari tergesa-gesanya pembentukan kelompok wakalah
versi JI Akhiirun maka terciptalah keadaan dimana seolah-olah JI telah
melakukan metamorfosa dan terpecah-pecah menjadi banyak bentuk.
Padahal yang terpcah-pecah hanya JI Akhiirun. Kondisi inilah yang
diyakini Sidney Jones dalam laporannya ICG tentang kelompok lokal JI di
Poso. Sebuah kejanggalan pandangan Sidney Jones yaitu merestui
operasi Polisi di satu sisi dengan membesar-besarkan keberadaan JI di
Poso, namun mengkritik keras insiden 22 Januari 2007 dengan
mempermasalahkan jatuhnya korban. Polisi harus berhati-hati dengan
menguatnya gerakan pendiskreditan terhadap kebijakan tegas Polisi,
salah-salah nanti terpuruk seperti tentara (tentara ).
Kedua, JI Awaalun yang masih solid saat ini sama sekali pasif dan lebih
mengintensifkan peningkatan kapabilitas anggota. Namun tetap
memperhatikan gerak kebijakan pemerintah yang melakukan kebijakan
yang tegas kepada JI Akhiirun. Suatu hal yang melegakan bagi JI
Awaalun yaitu bahwa elemen Ikhwan bekerja dengan begitu baik melalui
jaring yang telah tercipta sedemikian baiknya di negara kita. yaitu
kelompok Ikhwan yang berhasil menciptakan opini publik terjadi
kebijakan keliru berupa operasi represif kepada masyarakat sipil Muslim.
Lebih jauh muncul kembali tuntutan pengejaran terhadap daftar nama
yang disebutkan Fabianus Tibo cs.
Ketiga, proses kebencian terhadap Polisi di sebagian wilayah tidak
terjadi tiba-tiba melainkan telah menjadi bagian dari strategi rakyat
semesta (gerilya ditengah-tengah penduduk). Dalam situasi penuh
88
kecurigaan dan ketegangan, sangat mudah mendorong terjadinya
perlawanan terhadap Polisi sebab memang pendekatan persuasif boleh
dikata gagal. Pertanyaan saya, bagaimana proses pengambilan keputusan
di Kepolisian? siapa yang menginformasikan orang-orang DPO ini ?
Intelijen yang mana? Kalangan JI Awaalun dan JI Akhiirun sangat
meyakini bahwa Polisi dikendalikan oleh Task Force asing, sehingga
terjadi ketidakpercayaan yang meluas. Hal itu juga dikonfirmasi oleh
kelompok Ikhwan yang telah mengetahui langsung peranan Australia dan
AS dalam mengendalikan perang melawan teror di negara kita. Perhatikan
juga peringatan mantan KA BIN Jendral (Purn) AM Hendropriyono
tentang Poso, siapa yang memberitahukan kepada Pak Hendro? Bukankah
itu juga bagian dari cerita panjang tentang terorisme di negara kita.
Keempat, teriakan lantang Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) yang kembali
bergerak menyoroti perlakukan tidak adil kepada umat Islam merupakan
upaya untuk meraih kembali kepercayaan JI Awaalun yang sempat luntur
ketika ABB baru saja dilepaskan. Saat ini ABB sudah bisa memantapkan
posisi sebagai juru bicara pembela serta untuk mempengaruhi opini
publik.
Kelima, hal yang sangat penting dari rangkaian peristiwa Poso yaitu adu
domba pemerintah versus rakyat, dimana apapun yang terjadi negara kita
akan rugi besar. Siapa yang untung? Perhatikan bagaimana konflik
berkepanjangan di Timur Tengah, Afrika, dan ketidakstabilan di Amerika
Latin.
89
Untuk mengakhiri penderitaan rakyat negara kita sebagai akibat dari
gerakan intel asing, Senopati Wirang mengusulkan Operasi Ganyang
Intel Asing beserta antek-anteknya.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Friday, January 26, 2007
90
BOM 1717
Seperti pernah saya sampaikan dalam artikel kedatangan KIDON ke
negara kita, sudah banyak situasi yang mendorong pada keresahan dan
situasi rawan serta pencitraan negatif negara kita Raya. Salah satunya
yaitu yang disebabkan oleh adanya ancaman bom yang disampaikan ke
nomor hotline 1717.
Saran saya, polisi jangan terburu-buru memberikan pernyataan yang
memastikan tentang suatu peristiwa yang membutuhkan penyelidikan
lebih dalam. Tengok saja kasus terbakarnya kapal Garuda G-200. Saya
tahu persis bahwa minimal perlu waktu 3 minggu dari seorang informan
ahli, eh tiba-tiba Mabes polisi mengumumkan tidak ada unsur sabotase.
Lha kotak hitamnya saja belum bisa dibaca, saya tidak
menyalahkan...hanya saja jangan buru-buru. Andaikata respon-respon
formalitas untuk memberikan ketenangan publik memang diperlukan,
jangan terlalu detail namun berikan sebuah kesungguhan untuk melakukan
penyelidikan lanjutan yang serius. Bila polisi tidak mau berada dibawah
Departemen (misalnya Departemen Keamanan Publik), maka tolong
tunjukkan bahwa polisi mampu melakukan reformasi internal yang serius
termasuk pertanggungjawaban anggaran dan penyaluran dana operasinya.
Jangan cuma sebab sudah mengirimkan banyak perwira ke luar negeri
(Jerman, Jepang, AS, dan Australia)terus merasa sudah hebat. Sangat
diperlukan kritik dan pengawasan ketat ke dalam polisi agar sungguh-
sungguh mampu memberikan keamanan kepada publik. Bila ada kekeliruan
segera lakukan perbaikan-perbaikan. Saya kira sudah menjadi kewajiban
91
seluruh elemen bangsa untuk segera merealisasi UU Keamanan Negara
yang dihambat oleh ego sektoral serta sikap menang sendiri tanpa
memikirkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk rakyat.
Kembali pada soal bom 1717, Saya tidak akan mencampuri detail
penyelidikan apakah para tersangka yang sudah diketahui oleh Polisi
sungguh-sungguh secara nyata terbukti mengirimkan pesan ancaman
ini , ataukah ada jawaban lain yang belum dipublikasikan? petani,
mahasiswi, bocah 10 tahun dan tukang cendol???? mereka mengirimkan
pesan tentang ancaman bom.
Sedihnya sebuah indikasi buruknya metode penyelidikan polisi semakin
terbongkar. Ketidakmampuan dan ketidakhati-hatian polisi dalam
memberikan pernyataan publik semakin membingungkan, seolah-olah
setiap peristiwa harus ada jawaban segera....
Pada kasus ancaman bom 1717 misalnya ada dugaan terjadi "pemaksaan"
terhadap Ningsih agar tersangka mengaku. Saya tidak heran sebab saya
juga pernah sekolah interogasi. Cobalah lebih hati-hati dan seksama
dalam melakukan penyelidikan, kasihan rakyat negara kita disuguhi cerita
tolol yang tidak masuk akal. Jangan terlalu nafsu memberikan komentar
kepada pers, namun lakukan pematangan operasi penyelidikan dan berikan
jawaban yang profesional kepada publik. Bila memang belum cukup
informasi, jangan dipaksakan seperti berita-berita infotainment.
92
Saat ini negara kita sangat membutuhkan diperkuatnya sistem teknologi
bagi kegiatan kontra intelijen, selain itu juga diperlukan jumlah personil
yang cukup dan profesional.
Semoga Mimpi Buruk negara kita Raya tetap hanya mimpi dan tidak
meledak lagi, namun siapa yang tahu bila kinerja Polisi demikian?
sudah menyampaikan laporan intelijen.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Tuesday, March 13, 2007
93
Isu dari Abu Dujana
Sebelumnya saya lebih suka menggunakan inisial AD terhadap sosok Abu
Dujana yang misterius. Namun sebab Polisi dan media massa telah
mempopulerkannya secara terus menerus, tidak terlalu penting lagi untuk
menggunakan inisial.
Sehubungan dengan itu, beberapa hari yang lalu seseorang yang mengaku
suruhan Abu Dujana mengirimkan informasi berupa pernyataan tentang
masalah terorisme di negara kita sebagai berikut:
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Menyikapi gerak-gerik yang memojokkan kaum Muslim negara kita dan
pencitraan negatif terhadap Jihadis-Jihadis yang berjuang di jalan
kemuliaan, kami menyatakan bahwa:
Pertama, sudah sangat jelas antara yang haq dan yang bathil di bumi
negara kita. Kami telah menyadari sebuah strategi besar musuh-musuh
Islam untuk mengadu domba kaum Muslim di negara kita dengan
menggunakan isu Islam Teroris dan Islam Moderat.
Kedua, kami telah menandai gerak-gerik asing dalam menunggangi aparat
keamanan negara kita untuk memperbesar kebencian sesama Muslim
melalui operasi-operasi eliminasi para Jihadis tanpa melihat delik
kasusnya secara teliti. Kasus Poso yaitu bukti nyata skenario
penghancuran perjuangan umat Islam yang lalu diberikan label
teroris agar operasi Polisi menjadi sah secara hukum. Dari Poso setelah
94
melakukan intimidasi terhadap saudara-saudara Muslim yang tertangkap,
dikembangkan operasi di tanah Jawa yang merupakan pengungkapan
jaring support persenjataan dan amunisi, namun lalu dipelintir
menjadi operasi menghancurkan jaring Abu Dujana dan Noordin M Top.
Hal itu tidak benar adanya. Informasi mengenai jaring Abu Dujana
maupun Noordin M Top di Sleman Yogyakarta tidak benar. Bahkan
dibesar-besarkan dan dikait-kaitkan. Apa yang diungkap oleh Polisi ada
JI Akhiirun yang telah kami tolak dan tidak lagi berada dibawah
pengawasan kami. Berdasarkan fakta ini, maka Polisi telah melakukan
kebohongan besar demi kepentingan nama baik dan keberhasilan operasi
yang ditunggangi aparat asing.
Ketiga, kami secara intensif telah menandai hampir seluruh aparat asing
yang berusaha mengarahkan operasi Polisi negara kita dengan potret-
potret kegiatan mereka. Sejak dibuatnya pernyataan ini, kami tidak
menanggung keselamatan mereka di seluruh tanah negara kita. Kami
tegaskan bahwa ini yaitu prioritas target terpilih.
Keempat, menyerukan kepada seluruh Jihadis sejati untuk menunggu
waktu yang tepat dengan target yang besar. Saat ini telah banyak
kelompok palsu maupun yang kelompok prematur yang tidak memahami
intisari perjuangan, sehingga tidak menjalankan kegiatan sebagaimana
mestinya.
95
Kelima, tidak ada yang kami takuti selain Allah Yang Maha Kuasa. Semoga
para Jihadis sejati tetap meneguhi Shirathal Mustaqim yang merupakan
jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah.
Allahu Akbar
---------------------------------------------------
Catatan Blog I-I:
Saya cuma menduga-duga bahwa pernyataan diatas yaitu campuran
antara imajinasi dan kenyataan. Bisa jadi tidak ada hubungannya sama
sekali dengan Abu Dujana atau NMT, bisa jadi benar-benar orang
suruhan yang berusaha memanfaatkan yang telah diakses oleh
hampir semua instansi keamanan. Atau mungkin juga karangan belaka
simpatisan kelompok Jihad yang frustasi.
namun ada baiknya saya tampilkan sekedar untuk menjadi bahan
pertimbangan yang nilainya mungkin D3 dan tidak bisa
dipertanggungjawabkan otentikasinya.
Penilaian sesungguhnya terserah kepada anda semua.
Posted by Senopati Wirang /Wednesday, March 28, 2007
96
Antara AD, NMT dan Bang Zul
Organisasi Jemaah Islamiyah sudah berubah, dahulu terstruktur
sekarang terpecah-pecah, besok dalam sistem sel, besoknya lagi
berbentuk apa lagi. Begitulah perkembangan analisa terhadap Jemaah
Islamiyah.
Pimpinannya yaitu Abu Bakar Baasir, eh bukan ABB cuma pimpinan
spiritual, eh pimpinannya Hambali, eh Dr. Azahari eh Abu Dujana eh
bukan, mungkin Noordin M Top tapi katanya dua cuma perekrut, eh dia
ahli bomnya, eh dia tangan kanan Azahari, tunggu dulu....bagaimana
dengan Zulkarnain? Begitulah perdebatan dalam melihat Jemaah
Islamiyah yang khususnya ada di negara kita sejak beberapa tahun
belakangan ini.
Tahukan anda masih ada ratusan orang negara kita di perbatasan Pakistan-
Afghanistan. Jadi teringat dua bulan lalu seorang agen
menyampaikan informasi tentang Mujahid negara kita yang tewas di
Afghanistan, tentu saja hal ini tidak diketahui oleh Departemen Luar
Negeri yang memang kurang peduli dengan WNI di luar negeri.
Kembali pada soal penangkapan AD, hal itu sudah antiklimaks bagi
intelijen...tidak ada yang istimewa. Hanya soal permainan kapan waktu
yang tepat. Sebenarnya bagi rakyat negara kita tidak perlu takut dan
khawatir terhadap Jemaah Islamiyah.
97
Hal yang perlu ditakuti yaitu kehancuran negara kita Raya sebab operasi
adu domba kekuatan di negara kita semakin kentara. Operasi yang
merupakan kelanjutan dari perang melawan teror akan menyentuh akar
persoalan, yaitu penghancuran moral Jihad umat Islam melalui benturan
pemikiran dalam kalangan umat Islam. Sudah banyak aktor yang
dipersiapkan dalam cara pandang liberal. Sementara di pihak lain sudah
ada kelompok Islam Internasional yang secara membabi buta bercita-cita
mendirikan khalifah Islam.
Hal itu dilakukan sebab secara fisik gerakan teroris dianggap sudah
melemah sambil menunggu penguatan dari alumni perang yang akan pulang
menjelang 2009.
Salah besar bila Polisi dan Intelijen sudah merasa puas dengan
penangkapan AD, bahkan bila NMT pun sudah tertangkap. Permainan akan
berlanjut kepada Bang Zul (Zulkarnaen) sebagai the most wanted.
Entah sampai kapan permainan ini berjalan, mungkin sampai People
Republic of China sungguh-sungguh secara nyata berhadapan dengan AS
dalam sebuah perimbangan kekuatan, sayang itu masih lama yaitu sekitar
tahun 2025, itupun kalau negara kita Raya masih ada.
Teror oh Teror...Cobalah untuk lebih cerdas dalam melihat perkembangan
dunia.
Salam negara kita Raya
Posted by Senopati Wirang /Saturday, June 16, 2007
98
Dimana Osama Bin Laden?
Berbeda dengan kepura-puraan aparat keamanan negara kita mengenai
posisi gerakan Islam Jihad negara kita, sebab sebenarnya memang tinggal
memilih siapa dan kapan menghancurkannya, maka kebingungan mengenai
dimana gerangan Osama Bin Laden (OBL) justru melanda gerakan Islam
Jihad baik di Afghanistan dan sebagian besar kawasan Timur-Tengah,
Afrika dan Asia Tengah, juga di Asia Tenggara.
Dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini di [deleted]
tepatnya tanggal [deleted] yang dihadiri oleh pimpinan gerakan Jihad
lapis dua terkuak sejumlah poin-poin diskusi yang sangat penting tentang
OBL antara lain sbb:
1. Kemungkinan bahwa OBL sembunyi untuk keamanan
Dari kelompok sel Hamburg yang baru-baru ini mulai terbongkar,
di[peroleh informasi bahwa OBL tetap bersembunyi untuk alasan
keamanan dan sementara sebagai konsolidasi kekuatan. Masih ada
keyakinan yang cukup luas di gerakan baru pemuda Jihad bahwa pesan-
pesan OBL masih bisa efektif melalui media. Namun untuk keamanan
komunikasi, sementara ini "menghilang".
Sebuah do'a dipanjatkan oleh sel Hamburg sbb: "Segala kebaikan
bersamamu Osama, sementara Imam Mekkah, Saleh bin Humaid, sibuk
menerima kedatangan Nancy Pelosi di Dewan Shura Arab Saudi yang
hipokrit, Osama sibuk menyusun siasat menyerang dan membunuh Wakil
Presiden AS, Dick Cheney, pemimpin kampanye crusader terhadap dunia
Islam."
99
3. Kemungkinan OBL sudah tewas
Mayoritas pengikut OBL tidak bisa menerima isu bahwa OBL sudah
tewas. Hal itu semata-mata sebab figur perlawanan OBL terhadap
kesewenangan Barat serta sibolisme dirinya sebagai pahlawan yang
menjadi harapan bagi dunia Islam. Meskipun sudah beredar isu bahwa
OBL yaitu agen utama CIA yang sejak 20 tahun silam sudah disuntikkan
dalam gerakan Jihad, namun masih banyak yang kurang percaya dengan
isu ini . Baru-baru sudah terbit buku yang menyebutkan bahwa OBL
yaitu agen CIA.
Informasi langsung dari Afghanistan menyebutkan bahwa pada 18 Mei
2007 masih ada yang melihat bahwa OBL sedang berjihad di Afghanistan.
Informasi ini diiringi dengan seruan bahwa kemeninggal an yang paling
mulia yaitu melalui jihad di jalan Islam.
2. OBL sedang menyiapkan serangan besar ke Amerika Serikat
Dari [Mofawid al-Awal deleted], diperoleh informasi bahwa OBL sedang
menyiapkan serangan besar ke AS. Menghilangnya OBL bertujuan
membuat frustasi musuh-musuh Islam sebab Jihad Salafi menggunakan
media seperlunya.
Bahkan lapis baru kepemimpinan Jihad Salafi sedang dipersiapkan di
deleted (Yaman)yang akan menjadi test bagi generasi muda untuk
menggagas teknik Jihad yang berbeda, namun dengan hasil yang
maksimal. Dengan demikian masalah menghilangnya OBL (meninggal atau hidup)
tidak menjadi masalah sebab Jihad akan tetap berkobar sampai hari
kiamat.
100
Meski demikian, diyakini oleh kebanyakan pengikut Jihad Salafi termasuk
sekitar 21 orang wakil dari negara kita yang akan menjadi pimpinan baru,
bahwa OBL masih hidup dan akan segera melakukan revitalisasi
organisasi.
4. OBL sebagai agen CIA
Maraknya isu OBL agen CIA telah dihembuskan hampir satu tahun
belakangan di dalam gerakan jihad salafi, namun semua itu ditolak dan
dianggap sebagai fitnah yang keji terhadap OBL. Sangat beruntung OBL
sudah jarang berhubungan dengan media, sehingga isu itu benar-benar
tampak dibuat-buat oleh AS untuk meruntuhkan moral jihad umat Islam.
5. OBL sedang sakit parah
Maraknya pemberitaan sakitnya OBL beberapa waktu silam ada benarnya,
namun hal itu tidak parah. Namun diperbesar bahwa dinyatakan oleh
deleted bahwa OBL sedang sekarat.
6. OBL masuk dalam gerakan jihad sunni di Lebanon
Menurut deleted isu masuknya OBL ke dalam konflik Lebanon terlalu
dibesar-besarkan dan dimanfaatkan oleh Israel dan negara-negara Barat
untuk justifikasi dukungan terhadap pemerintahan yang pro barat.
Bahkan secara keji disebarkan propaganda Barat bahwa radikal syiah dan
jihadi sunni bersatu di Lebanon sebagai gerakan kriminal membunuhi
rakyat dan mengancam tentara PBB.
101
Disamping pembahasan masalah OBL, diperoleh informasi tentang
masalah Jihad di negara kita.
Komentar tentang Jihad di negara kita
Dari UP di deleted diperoleh padangan singkat yang menyebutkan tragedi
di negara kita sebenarnya sudah diwarning sejak lama, sebab aparat
keamanan negara kita yaitu yang paling lengkap memiliki catatan tentang
gerakan Darul Islam, dan kebanyakan tokoh JI ada kaitan dengan
gerakan Darul Islam, jaring pesantren deleted, kekerabatan deleted,
serta alumni Jihad yang kembali ke tanah air negara kita. Pada masa Orde
Baru ada perlindungan dari tentara Hijau yang antara lain tokoh-tokohnya
deleted bahkan saat ini sejumlah tokoh ini masih aktif seperti
deleted.
Masih besarnya harapan kebangkitan Jihad di negara kita didukung oleh
penguatan gerakan intelektual Islam dan 3 organisasi besar yaitu deleted
yang akan memayungi jalan Jihad.
Biarkan Polisi bermain-main dengan daftar buruan, daftar ini
sudah kadaluarsa dan akan segera diisi dengan deleted yang akan
mewujudkan GORO-GORO yang sesungguhnya. Bila Abu Bakar Baasyir
bisa dibebaskan, maka mengapa Abu Dujana tidak. Bukankah fakta
bercampur fitnah yang dikembangkan aparat keamanan bersumber dari
intelijen asing seperti deleted.
Selama pemimpin negara kita masih korup, hipokrit, hedonist, pemeras
rakyat, akan mudah digoyah hanya dengan keteguhan iman para Jihadis
102
yang harus segera berkonsolidasi pada deleted sementara dengan
memanfaatkan fasilitas deleted.
Tantangan terbesar Jihadis negara kita yaitu meyakinkan masyarakat
negara kita bahwa jihad bukanlah tindakan kriminal seperti dinyatakan
oleh Kepolisian. Selain itu, berkembangnya generasi kedua Islam Munafik
yang mendirikan panji-panji Islam Liberal merupakan duri yang
menyakitkan dalam perjuangan jihad.
Sebagian besar generasi pesantren tradisional berada dalam jalan tengah
yang berpotensi untuk tetap istiqomah dalam agama Allah SWT dan tidak
akan sulit untuk berjihad. Sementara sebagian besar umat Islam justru
tenggelam dalam budaya Barat yang dianggap sudah biasa, normal dan
wajar.
Semoga Allah senantiasa melindungi hambanya yang berjalan tegak di
jalan Jihad....Allahu Akbar.
Demikian disarikan dari deleted tanpa mengurangi isi dan makna
pertemuan deleted.
Sekian
Senopati Wirang
Posted by Senopati Wirang /Tuesday, June 19, 2007
103
Dongeng tentang Terorisme di Bumi negara kita
Pendahuluan
Turut menyampaikan selamat atas semakin terungkapnya skenario cerita
terorisme di bumi Nusantara....negara kita Raya.
Intelijen lemah, Polisi kebobolan, tentara melempem, bom meledak di mana-
mana. Kurang lebih begitulah cerita awal terorisme di bumi tercinta ini,
sekitar 6-7 tahun silam.
Pasca reformasi tentara kebingungan bagaimana menghadapi desakan
reformasi militer dibawah kendali pemerintahan sipil. Kebingungan
mempertahankan atau memperbaiki citra sebagai pelanggar HAM dan
pembunuh rakyat sendiri. Gamang...kesal/marah...maju-mundur dalam
melangkah.
Pasca reformasi, elit-elit polisi berhasil melakukan revitalisasi dengan
segala cara termasuk suap miliaran rupiah kepada DPR-RI untuk
memuluskan langkah penguasaan seluruh perikehidupan keamanan
masyarakat melalui Undang-Undang. Super Cop Pro-Justisia.
Pasca reformasi, intelijen melakukan beberapa kali reorganisasi,
membesar-mengecil di masing-masing wilayah. Semua berusaha
mengadaptasikan diri terhadap perkembangan ancaman.
104
Alkisah
Dalam situasi politik-ekonomi yang morat-marit, rusaknya beberapa sendi
koordinasi keamanan nasional mendorong petualang separatisme dan
komunitas Darul Islam menggeliat kembali.
Alih-alih perang melawan teror, CIA mengirimkan ratusan inflitrasi
(inilah yang pernah digembar-gemborkan oleh mantan KSAD Jenderal
Ryamizard Ryacudu juga AC. Manullang, namun pernah dicounter oleh
sebagai upaya mengurangi kecurigaan CIA bahwa Intelijen
negara kita sudah paham sepenuhnya permainan CIA di negara kita) dari
berbagai arah ke nusantara untuk mendukung terciptanya suasana perang
global melawan teror, khususnya untuk membungkus perang pembebasan
Irak 2003 yang akhirnya berpuncak pada penguasaan kekayaan minyak
Irak. Rencana pembebasan Irak telah dilakukan sejak 1990-1991, ketika
Perang Teluk dinyatakan selesai, project the war on teror sudah dimulai.
negara kita menjadi penting sebagai bagian penting dari cerita global,
sebab keterlibatan pejuang negara kita dalam perang Afghanistan sejak
tahun 1980-an khususnya di tahun 1984 cukup signifikan. Dari catatan
ada ribuan pejuang asal negara kita. Meski banyak pejuang
negara kita yang tidak benar-benar terjun dalam peperangan mengusir
Rusia, namun mereka sudah mempelajari banyak hal dari pelatihan perang
dan pengenalan senjata yang sangat baik.
105
Kelemahan utama para pejuang asal negara kita yang terus mengalir dalam
sejumlah konflik di Timur Tengah yaitu pemahaman politik global dan
permainan intelijen internasional yang merancang perencanaan dalam
skala global dengan tujuan yang tidak dipahami oleh kebanyakan Mujahid.
Lalu mengapa baru sekarang menuliskannya, hal ini terkait
dengan babak lanjutan perang melawan teror yang sedang mengalami
metamorfosa. sudah berusaha memberikan peringatan beberapa
kali kepada para Mujahid dan mantan Mujahid untuk melakukan
introspeksi serta pembukaan wawasan yang lebih luas. Namun ternyata
inflitrasi ke dalam organisasi para Mujahid sudah sedemikian dalam yang
lalu melahirkan semacam deklarasi jihad yang dirangkai sedemikian
rupa mencakup kawasan di Asia Tenggara. Tidaklah mengherankan bila
justru para ahli politik internasional asal AS (Think Tank di AS) yang
lalu mengklaim diri sebagai ahli atau pengamat terorisme mampu
melakukan pemetaan gerakan terorisme Asia Tenggara (sebagai front
kedua). Sementara benarkah negara kita menerima begitu saja dan
mencaplok opotuniti memperoleh uang, asistansi dan teknologi.
Jihad di Asia Tenggara terinspirasi oleh kondisi labil beberapa negara
pasca krisis ekonomi. Tadinya ada high expectation bahwa negara kita akan
benar-benar hancur dengan skenario Bosnia melalui perang antar etentara s
dan agama yang pernah dihembuskan puluhan kali di berbagai wilayah
dengan potensi konflik yang tinggi. Permainan bisa berlangsung berkat
operator yang telah masuk ke dalam unit-unit yang diperlukan untuk
106
provokasi. Tubuh tentara sudah cukup kronis dengan infiltrasi, tubuh Polisi
juga, dan yang menyedihkan demikian juga dalam intelijen. Apa yang
pernah dibahas dalam tulisan Cambridge Circus yaitu sungguh-sungguh
serius.
Babak Pertengahan
Setelah stelan gerakan terorisme negara kita melalui labelling Jemaah
Islamiyah semakin mantap dan terus bergulir pasca Bom Bali I. Mulailah
CIA menanam budi dengan berbagai informasi "penting" serta
"kerjasama" yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh kalangan
aparat keamanan negara kita.
Australia bahkan termakan atau membiarkan diri ikut meramaikan sebab
memang sangat medambakan masuk dalam wilayah operasi negara kita
dengan alasan ikut serta dalam permainan global AS. Asutralia dengan
sukarela menggelontorkan dana dan proyek kerjasama dengan hampir
seluruh instansi keamanan di negara kita.
Mulailah satu per satu cerita prestasi penangkapan dan pembunuhan
teroris dilakukan oleh aparat keamanan. Baik Polisi maupun intelijen
melakukan operasi-operasi yang menjanjikan prestasi dan kenaikan
pangkat elit pimpinan yang signifikan. Sementara pelaksana operasi baik
intelijen maupun anggota Densus 88 (prajurit wong cilik) harus
menanggung resiko tinggi dengan imbalan ala kadarnya. Tahukah anda
bahwa kesejahteraan anggota Densus 88 tidak sehebat yang difitnahkan
banyak pihak dengan mega proyeknya. Yang semakin kaya tentu saja
berada di pucuk pimpinan.
107
Sebuah cerita lama sejak masa Orde Baru dimana kekayaan para
Jenderal tentara maupun Polisi begitu luar biasa, kembali berulang. jika
dulu loncatan prestasi memanfaatkan konflik di Aceh, Timor Timur dan
Papua, maka sekarang terorisme yaitu makanan yang sangat empuk.
sebab tinggal mencokok dan memilih waktu yang enak untuk
memperlihatkan prestasinya.
Itulah sebabnya di negara kita hampir sama kondisinya dengan kebanyakan
Failed State, terlalu banyak Jenderal Kancil, yaitu Jenderal culas yang
mencari kekayaan dari eksploitasi kemiskinan rakyat negara kita.
Babak Akhir
Saat ini ketidakpastian masa depan negara kita semakin mengerikan
sebab tidak ada satupun elemen bangsa yang kuat yang mampu mengawal
langkah negara kita Raya menjadi negara berdaulat yang tidak bisa
dilecehkan.
Sebagai contoh; soal DCA RI-Singapura, menarik semua
pandangan positif sebab setelah melakukan konfirmasi dengan berbagai
pihak terkait terungkap jelas bahwa : betapa baiknya DCA disusun, tidak
melibatkan instansi terkait secara terbuka yaitu sebuah kekeliruan.
Intelijen ternyata kembali diabaikan dalam penyusunan DCA, Departemen
Pertahanan hanya diwakili oleh Direktorat Strahan, sementara Angkatan
Laut, Angkatan Udara, intelijen tentara , sekarang bisa menolak kesepakatan
itu sebab tidak tahu menahu. Meskipun Menhan menghimbau kesabaran,
namun Menhan juga sudah tahu bagaimana proses penyusunan DCA
ini .
108
Reformasi Militer mandeg, bila dipaksakan malahan akan berbalik.
Reformasi sistem keamanan nasional menjadi sia-sia tanpa reformasi
militer. Sementara permintaan militer untuk mengurangi Superioritas
polisi ditolak mentah-mentah dengan menenggelamkan konsep polisi di
bawah Departemen. Sebuah Bom Waktu.
Pada saat yang bersamaan, semua aparat keamananan mengalihkan konflik
internal antar instansi ini dalam proyek perang melawan teror.
Lucunya lagi tuan dari perang melawan teror itu yaitu pimpinan di
negara Asing. Saat AD tertangkap maka AD di negeri Kanguru dengan
lantang mengkonfirmasi dengan dasar informasi dari pejabat Polisi
setingkat Menteri, sangat keterlaluan bukan!!! Bagaimana nanti kalau
sudah menjadi Presiden menggantikan [deleted].
sangat marah hari ini, sebab begitu banyak kerusakan dalam
sistem keamanan nasional. Namun juga mendengar kabar baik
bahwa musuh-musuh berpangkat Jenderal akan segera
tersingkir dari permainan dalam waktu dekat.
Kebenaran yaitu tetap kebenaran, walaupun di dunia ini hanya ada
kebernaran relatif, namun jagalah hati dan pikiran intelejen kita untuk
kemakmuran dan keamanan rakyat negara kita.
Salam negara kita Raya
Senopati Wirang
Posted by Senopati Wirang /Saturday, June 16, 2007
109
Skenario Terbaru Terorisme negara kita
Watak hangat-hangat tahi ayam negara kita sangat dipahami oleh
mayoritas pengamat negara kita (negara kitanis). Hal ini tentu saja dipahami
sepenuhnya oleh intelijen asing yang menjadikan negara kita sebagai
tempat bermain yang menyenangkan. Baik dari sisi kerjasama maupun
upaya merubah wajah negara kita semuanya menyenangkan.
Dalam menghadapi masalah terorisme, sudah mulai tampak tanda-tanda
kembali pada posisi normal, dimana masalah terorisme dianggap hal yang
kurang penting oleh sebagian besar bangsa negara kita. Tidak lebih dari
urusan kriminal sejumlah pelaku yang dicitrakan sebagai kelompok Islam
garis keras. Hal itu tentu sangat mengkhawatirkan bagi pihak yang
berkepentingan mengangkat kembali msalah terorisme sebagai masalah
paling penting di negara ini.
Padahal masalah pembangunan pertanian dan industri serta sejumlah
bencana besar seharusnya menjadi prioritas utama di negara ini.
Akan sia-sia upaya pemeliharaan ancaman teroris di negara kita bila tidak
ada lagi ledakan, dan yang ada hanya kejar-kejaran sperti Tom and Jerry
yang sudah tahu persis dimana, bagaimana dan bilamana dilakukannya.
Terkait dengan adanya rencananya kelanjutan perang melawan teror yang
dimotori AS, maka menghimbau kewaspadaan publik atas
ancaman bom yang mungkin akan terjadi lagi mulai saat ini sampai masa
110
pemilu 2009. Tujuannya jelas untuk membela pandangan bahwa terorisme
masih ada dan sangat berbahaya di negara kita.
sudah hampir putus harapan dengan komunitas intelijen nasional
dan khususnya Kepolisian yang sangat main-main dengan upaya penuntasan
gerakan teroris. Semua senang bila ada dana segar untuk kegiatan,
sementara sasaran pelaku teror sudah ada di tangan. Namun ada
secercah cahaya sebab berhasil mendeteksi sejumlah jaring
intelijen yang cukup baik dan bekerja secara ideal dalam mengungkap
keseluruhan skenario terorisme di negara kita.
Satu hal yang perlu diperhatikan oleh Tim Kontra Teroris negara kita
yaitu bahwa akan terus ada kejutan di luar daftar yang sudah dimiliki.
Kejutan itu mau tidak mau akan berbentuk ledakan. Ini bisa terjadi
sebab musuh sesungguhnya bukanlah sesama bangsa negara kita yang
terpengaruhi untuk melakukan tindakan teror, melainkan the puppet
master yang bergerak di belakangnya.
Akar Terorisme di negara kita yaitu masuknya agen-agen yang memusuhi
Islam serta mengarahkan para alumni Mujahid untuk melakukan tindakan
teror. Mengapa sangat yakin, hal ini tampak dari fakta bahwa
para Mujahid asal negara kita pada umumnya yaitu orang-orang
sederhana yang ingin mengabdikan hidupnya untuk tegaknya agama Islam.
Sangat tidak benar, bahwa Mujahid negara kita yaitu orang miskin dan
berpendidikan rendah. Hal ini yaitu propaganda musuh Islam yang
sengaja masuk dalam bentuk informasi menyesatkan. Lihat sendiri
bagaimana kondisi pejuang asal negara kita di sebagian wilayah Timur
111
Tengah, mereka yaitu orang-orang yang tidak mabuk harta seperti
kebanyakan pemimpin di negeri ini.
Sekali lagi, kelemahan mereka justru pada lemahnya kewaspadaan bahwa
mereka diperalat oleh agen-agen penyusup untuk merubah sikap tegas
dalam memegang ajaran Islam menjadi gerakan teroris. Alasan berupa
teror satu-satunya jalan sebab jalan lain sudah tertutup oleh
kapitalisme global yaitu rayuan yang cukup berhasil. Apalagi bila
dihadapkan dengan fakta betapa kuatnya AS dan sekutunya, dan tragedi
WTC yaitu pemicu untuk aktifnya hampir seluruh sel di dunia. Padahal
sel-sel ini sudah dalam genggaman intelijen, termasuk di negara kita.
yaitu soal pilihan untuk segera menghancurkan atau menjadikannya
mainan.
Dari berbagai arah CIA membidik serta menghangatkan suasana perang
melawan teror di negara kita. Itulah mengapa BIN pernah memberikan
peringatan kepada CIA bahwa BIN tahu gerakan mereka melalui salah
satu agennya, lihat Sidney Jones. Lihat juga Why Sidney Jones. Hal ini
menjadi semakin menarik bila kita berkunjung ke indymedia.
Namun lalu terjadi kesepahaman dengan rejim SBY untuk
memerangi terorisme dari berbagai arahnya.
Saran dari Blog I-I, selidiki akar terorisme dengan pengungkapan seluruh
jaringnya termasuk infiltran yang mendorong alumni Mujahidin untuk
melakukan tindakan teror.
112
Hal yang sangat ditakuti yaitu jika seluruh elemen Islam garis keras
maupun moderat semua sadar dengan permainan intelijen ini, sehingga
terbuka dialog yang lebih baik. Namun saat ini sudah ada upaya
pembentukan konflik antara Islam berorientasi internasional dengan
Islam asli negara kita (NU & Muhammadiyah), sehingga Islam di negara kita
tidak akan pernah kuat. Hal cukup menarik yaitu semakin kuatnya
pengaruh propaganda liberalisme Islam yang sesungguhnya memiliki dasar
sederhana nasionalisasi sekulerisme, namun semakin kebabalasan dengan
menyentuh berbagai aspek kehidupan beragama yang membuat marah
kelompok Islam tradisional maupun internasional.
Semoga tidak adalagi ledakan, yang sesungguhnya rencananya tidak
bergantung pada ditangkapnya AD, NMT atau siapapun, sebab dengan
mudah akan ada pemimpin baru yang sudah disusupi oleh infiltran, contoh
faktual yaitu Umar Farouq.
Kepada segenap komunitas pejuang Jihad yang meyakini perang yaitu
kewajiban, mohon direnungi baik-baik.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Saturday, June 16, 2007
113
Tidak semua JI Teroris?
Lambat sekali Sidney Jones baru mengeluarkan oret-oretan logika
tentang anggota-anggota Jamaah Islamiyah (JI).
Sebuah logika lama yang dipertegas untuk mewarnai perdebatan pasca
penangkapan Abu Dujana dkk di negara kita. Logika ini akan
menjelaskan mengapa begitu banyak elemen Islam yang memberikan
dukungan kepada kelompok yang dianggap teroris oleh aparat keamanan
negara kita. Sebuah logika yang telah lama menjadi acuan analis intelijen
sipil negara kita.
Bagi Senopati Wirang, artikel Sidney kali ini merupakan yang terbaik
yang pernah dia buat, sebab obyektifitasnya cukup bisa
dipertanggungjawabkan. Mungkin Sidney sudah mulai insyaf serta mulai
bosan dan justru merasa ikut memikul tanggung jawab untuk memecahkan
persoalan terorisme yang disebabkan oleh kelompok kecil yang berfaham
radikal yang memilih jalur kekerasan. Bila semakin banyak analis obyektif
dalam menuliskan analisanya, maka secara bertahap persoalan radikal
agama dan teroris di negara kita akan bisa diatasi tanpa melahirkan
masalah baru.
Silahkan dibaca dalam bahasa aslinya............
114
"Not All JI Are Terrorists"
Sidney Jones dalam The Advertiser (Australia)
30 June 2007
For most in Australia, the name Jemaah Islamiah will be forever linked
to the horrors of the first Bali bomb in which 88 Australians died. But
to brand all JI members as evil incarnate is to suggest that the only real
counter-terrorism option is to cast the net as wide as possible and lock
up all suspects for ever. That's what might be called the ``Guantanamo
option'' – and it won't work.
Why? Because people have joined JI for different reasons, and some
can
be dissuaded from using violence; because the biggest threat of more
attacks may come from outside JI; because prisons can be a
radicalising element; and because negara kita is a democracy where less
corruption and more justice may be as effective a means of fighting
terror as police and spy satellites.
JI is a dangerous organisation because it promotes an ideology that
condones violence against Islam's enemies in the struggle to establish
Islamic law. Towards that end it seeks to amass weapons and give
members military training to prepare for the coming battle. But many
members do not support indiscriminate violence against civilians and
reject the notion that al-Qaida-style attacks on negara kitan soil are
an appropriate response to the deaths of Muslims in Afghanistan, Iraq
and elsewhere.
115
Many would have opposed the first Bali bombings if they had known
about the plans: not even every member of the JI central command was
in on the secret. The next three major bombings – the Marriott Hotel,
the Australian Embassy and Bali II – were effectively the work of a
splinter group led by Noordin Mohamed Top. If Noordin and his
opponents are lumped together as equally bad, the opportunity to use
the influence of the less extreme against the more extreme is lost.
Not everyone is equally committed to the cause, but any hope of
rehabilitation is undermined from the outset if anyone accused of
terrorism is considered beyond redemption. In late March, 16 convicted
terrorists – not JI – were moved from Ambon to Bali because local
authorities found that some ordinary criminals had been recruited into
jihadist ranks.
Of those moved, perhaps four were doing the recruiting. The others
included young Ambonese who indeed had been involved in attacks but
who would benefit more from structured vocational training programs
than from being thrown together with hardcore ideologues who could
make them far more radical than they are now. Some young men were
caught up in operations reluctantly but felt it was a betrayal of
their friends to pull out; others joined because they were persuaded
it was a way of showing solidarity with persecuted Muslims around the
world. Many of these men need to be seen not as steelyeyed killers but
as individuals who could use some guidance.
116
At the same time, the ideology that teaches hatred of the U.S. and its
allies is not going to go away any time soon. It is true that U.S.
policies, from Iraq to various aspects of the war on terror to
one-sided support of Israel, help keep it alive, but very few of the
millions exposed to jihadism on the internet or through religious
study sessions become terrorists.
In negara kita, the factors used to explain terrorism elsewhere don't
apply: the country is not under occupation and it doesn't suppress
Islamic political parties. Those who join JI and other organisations
are not a persecuted minority or alienated immigrant group.
In Ambon and Poso, two areas where bitter Christian-Muslim fighting
took place in the years following Suharto's resignation, unresolved
grievances kept young men engaged in jihadi violence long after the
sectarian strife had ended.
Address those grievances, and the ideology's attraction diminishes.
That's not the case in Java, where a network of JI schools (some 20
out of a total of 30,000 schools, so the Islamic school system is not
the problem) continues to produce a new generation of potential
recruits, and where the increasing reluctance of JI leaders to
sanction attacks is pushing some hotheads into the arms of more
radical groups.
But even there, one recent graduate confessed he had no skills, and
the only thing he was trained to do was teach in another JI school. It
might be worthwhile to engage the local business community to set up
onthe- job training programs to offer alternative prospects.
117
Some say the problem in negara kita is democracy and that there was no
terrorism under Suharto. But virtually all the men who later became JI
leaders first joined a banned group called Darul Islam in the late
1970s and early 1980s as a protest against Suharto and went to
Afghanistan to get the wherewithal to fight him.
Authoritarianism produced JI, not democracy. Now the task is to reduce
corruption and make the Government more responsive. Those who see
victory in the recent arrests of two top JI leaders should remember
that in the early 1980s, virtually the entire leadership of Darul
Islam was arrested.
It did not kill the organisation. Instead, in 1993, it produced JI.
Sidney JONES
Posted by Senopati Wirang /Friday, July 13, 2007
118
DIBALIK PERISTIWA
(CERITA negara kita)
119
Krisis Intelijen
Awal tahun 1997 bukan hanya sudah dibayangi persoalan-persoalan
ekonomi tahun 1996, melainkan juga krisis percaya diri kalangan intelijen.
Setelah gagal meyakinkan mantan Presiden Suharto untuk mundur dengan
"mulus" gara-gara ulah Golkar dan keluarga Cendana, analis intelijen dari
yang terendah sampai level menengah harus menelan pil pahit teguran
keras pimpinan intelijen dari berbagai angkatan. Tentu saja banyak juga
analis intelijen yang telah membusuk akibat represi dan sifat tercela cari
muka kepada pimpinan. Ada juga analis intelijen yang memang takut
dengan situasi yang serba menekan.
Akibatnya.......obyektifitas analisa intelijen terberangus oleh kekuatan
politik elit yang walaupun secara nyata di massa akar rumput sudah
goyah.
Posted by Senopati Wirang /Wednesday, February 19, 1997
120
P a n i k
Gejala-gejala kepanikan massa sepanjang tahun 1997 sebenarnya telah
terdeteksi oleh intelijen. Ketidakpuasan dan menguatnya konsolidasi
gerakan reformasi dianggap sepi oleh eksekutif.
Ketika terjadi perpecahan elit politik, kepanikan mulai menjalar secara
perlahan. Hal ini bukan sebab bayang-bayang kejatuhan ekonomi
melainkan sebab ketakutan terjadinya gerakan mahasiswa yang didukung
tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat.
Sungguh tidak ada yang rahasia bagi kalangan intelijen. Konsolidasi
gerakan anti Suharto semakin kuat sejak pertengahan tahun 1997. Lagi-
lagi, pimpinan intelijen yang ingin mendinginkan suasana hati presiden
menganggap semua gejala itu masih bisa diatasi. .....musuh
dari professionalisme dan obyektifitasmu sebenarnya yaitu pimpinanmu
sendiri.
Posted by Senopati Wirang /Friday, August 15, 1997
121
Ibu Pertiwi Hamil Tua
Meskipun istilah ibu pertiwi hamil tua merupakan peringatan keras bagi
mantan presiden Suharto, masih saja ada keyakinan konsolidasi elit
politik khususnya Golkar dengan dukungan Tentara akan mampu mencegah
lahirnya gerakan perlawanan nasional terhadap pemerintah.
Kesombongan analis intelijen tentara yang meremehkan kekuatan sosial
sebagai unsur penting dalam perubahan konstelasi politik telah
membutatulikan sejumlah elit politik dengan keyakinan semunya.
Semuanya sudah terlambat.......
Posted by Senopati Wirang /Wednesday, March 04, 1998
122
Hari-hari Penentuan
Menyaksikan demonstrasi bagaikan gelombang yang mendatangi tak ada
hentinya. Dukungan dana yang kuat dari sejumlah pengusaha, gairah
aktivis mahasiswa, penyusunan konsep perjuangan para tokoh oposisi,
serta situasi ekonomi nasional yang terpuruk menjadi poros perubahan
yang tidak terelakkan.
Ibu pertiwi pecah ketuban, lahirlah reformasi. Masih ada dua pilihan
pembunuhan massal ala Tiananmen atau mengundurkan diri dengan
komitmen pemerintah selanjutnya.
Lagi-lagi intelijen menjadi sasaran telor busuk sebab dianggap gagal
memprediksikan perubahan yang sebenarnya telah tercatat dalam
matriks analisa yang dibuang ditempat sampah pada tahun 1996-1997.
Mencegah pembunuhan massal melalui penggalangan tokoh dan
penyadaran terhadap elit militer yang haus kekuasaaan pun digiatkan
sebagai bagian dari penyelamatan ibu pertiwi.
Akhir kata....selamat datang reformasi. Analis intelijen boleh tersenyum
dalam kepahitan.
Posted by Senopati Wirang /Sunday, May 24, 1998
123
Antara Megawati, Habibie dan Gus Dur
Banyak analis dan praktisi politik menganggap penyelesaian deadlock
pemilihan presiden pasca pemilu 1999 yaitu berkat langkah cemerlang
poros tengah yang digagas Amien Rais Cs. Dalam sejarah itu, Gus Dur
ketiban rezeki menjadi pilihan yang bisa menurunkan ketegangan antara
kelompok Megawati dan kelompok Habibie.
Sesungguhnyalah intelijen berada dibalik sejarah itu. Dengan analisa dan
prediksi situasi politiknya, intelijen mengarahkan perputaran roda politik
pada posisi yang mengamankan rakyat dan mencegah meluasnya konflik
horisontal. Meski pimpinan intelijen berharap dapat mendukung
terpilihnya kembali Habibie, namun Habibie sebagai seorang demokrat
tulen sudah lebih dahulu menerima masukan intelijen berupa ilustrasi
konflik domestik yang terjadi bila beliau "dipaksakan" terpilih kembali.
Gus Dur yang lalu terpilih jadi presiden rupanya mengetahui
permainan dunia intelijen, dia serta merta menunjukkan
ketidakpercayaannya pada dunia intelijen. Inilah sebabnya BAKIN waktu
itu nyaris dibubarkan. Pertama sebab pimpinannya bukan orangnya Gus
Dur dan Gus Dur hanya berhasil menaruh orangnya pada posisi kedua di
BAKIN.
Meski Gus Dur berusaha membangun jaring intelijennya sendiri, tapi apa
dayanya kekuatan baru yang prematur dan oportunistik. Sangatlah mudah
untuk menggoyang kekuasaan Gus Dur dengan segala kelemahannya.
124
Meski Gus Dur juga akhirnya minta dukungan dunia intelijen, terlambat
sudah sebab Gus Dur tidak pernah punya rasa hormat pada dunia
intelijen.
Pada saatnya nanti Megawati akan tampil dengan dukungan intelijen dan
tentara yang solid.
Posted by Senopati Wirang /Sunday, November 07, 1999
125
Megawati Naik Tahta
Seperti pernah saya tuliskan pada tahun 1999, sikap gegabah dan arogan
dari seorang Gus Dur pada dunia intelijen telah membuatnya terantuk
kasus demi kasus yang akan membuatnya jatuh tersungkur dari kursi
kekuasaan.
Lemahnya kemampuan administratif, kurangnya pengalaman dalam
mengorganisir dengan baik, serta banyaknya orang-orang yang
menyesatkan di sekeliling Gus Dur telah membuat Gus Dur membuta-tuli
atas suara intelijen.
Tak ada pilihan lain, selain membiarkan roda sejarah berputar sekali lagi
untuk mengganti pimpinan negara secara tidak hormat diturunkan dengan
mekanisme pertarungan kekuatan politik di level elit politik.
Ma'af beribu ma'af untuk Gus Dur yang harus menelan pil pahit
kenyataan politik.
Megawati dengan segudang pendukung yang ahli strategi dan intelijen
dengan mudah melenggang ke Istana. Salah seorang tokoh intel yang
lalu menjadi kepala BIN yaitu otak keberhasilan Megawati
menjadi presiden.
Posted by Senopati Wirang /Saturday, December 22, 2001
126
Megawati Turun Tahta
Kekuatan dukungan intelijen formal sipil maupun tentara tak mampu
mengupayakan terpilihnya Megawati pada pemilu 2004 sebab faktor-
faktor sbb:
1. Faktor suami presiden yang tidak terma'afkan oleh opini publik.
2. Kekeliruan strategi intelijen yang cenderung meniru cara Orde Baru
yang sudah usang
3. Perpecahan intelijen antara pro-presiden dan sikap netral profesional
(mayoritas).
4. Citra Megawati sebagai pemimpin (di tingkat partai sekarang semakin
buruk).
5. Munculnya calon pemimpin alternatif yang lebih populer di mata rakyat.
6. Demokrasi membuka peluang yang sama pada seluruh kandidat.
7. Minimalnya rekayasa politik seperti pada era Orde Baru.
8. Politik uang tidak lagi efektif untuk pemilihan langsung + potensi
terbongkar oleh pengawas.
9. Pendidikan politik langsung kepada rakyat tidak lagi bisa membodohi
rakyat.
Posted by Senopati Wirang /Sunday, August 22, 2004
127
All the President's Men
Para pembaca tentunya pernah mendengar kisah All the President's Men
atau bahkan sudah menonton filmnya. Yup...benar itu cerita tentang
orang-orangnya presiden. Dalam film klasik yang dibintangi Hoffman dan
Redford ini kita bisa memperhatikan sebuah gambaran yang
lumayan realistis tentang bagaimana sebuah kebocoran terjadi dari
lingkaran presiden ke tangan wartawan detektif handal Bob Woodward
and Carl Bernstein yang akhirnya "memaksa" Nixon mengudurkan diri dari
Gedung Putih sebab skandal yang lalu terkenal dengan sebutan
Watergate sebab kejadiannya di Hotel Watergate di Washington D.C.
Pembukaan tulisan kali ini dengan ilustrasi sebuah skandal di Amerika
hanyalah sebuah trik untuk menarik minat baca saudara-saudara.
yaitu perhatian saya terarah pada lingkaran presiden SBY yang lama-
kelamaan mulai memperlihatkan gelagat ketidakprofesionalan dan kembali
pada pola-pola pengabdian pada kekuasaan dan upaya-upaya mencari
"kekayaan".
Saya sangat paham bahwa SBY sebagai presiden sedang belajar sambil
melaksanakan fungsinya sebagai pimpinan negara. Sementara orang-orang
disekelilingnya juga tahu betul bahwa SBY belum paham keseluruhan pola
kerja dalam lingkungan kerjanya. Sehingga tidaklah mengherankan bila
bermunculan kebijakan yang tidak jelas landasan strategisnya.
128
Beberapa catatan penting buat SBY:
1. Kebijakan impor beras yang meggunakan alasan untuk menjaga
stock tidak didukung oleh data statistik yang meyakinkan, eh
malahan dibalik menjadi data statistik dibuat untuk mendukung
kebijakan impor beras ini . Sayangnya DPR tidak
melanjutkan proses penyelidikan hingga tuntas.
2. Kebijakan untuk ikut menyelesaikan masalah Semenanjung Korea
Utara tidak memeiliki agenda yang jelas selain demi
memperpanjang masa tugas seorang diplomat senior NS agar
punya pekerjaan setelah pensiun dari jabatan terakhir sebagai
Dubes.
3. Penunjukkan Duta Keliling Timur Tengah kepada salah seorang
tokoh parpol sangatlah tidak efektif sebab unsur politisnya
begitu kuat.
4. Kebijakan kenaikan harga minyak terlalu memperkuat konsep
kaum ekonom liberal negara kita yang kurang memperhatikan
dampak panjang berupa akumulasi penurunan perekonomian
rakyat kecil. Ingat negara kita tidak memiliki basis industri dasar
yang kuat yang khas dan mampu bersaing dalam pasar global,
salah-salah kita akan sudah dan akan dijajah terus melalui model
penguasaan sumber kekayaan alam, saham industri strategis,
serta sektor jasa.
5. Semua paham bila SBY dekat dengan Amerika Serikat, tapi saya
mohon agar SBY menjaga jarak dengan Amerika dalam rangka
129
independensi. Hal ini bisa dimulai dengan mengurangi mengambil
posisi berdekatan dengan presiden Bush dalam agenda acara
foto bersama pimpinan negara dalam acara apapun.
6. Kunjungan ke Myanmar guna membicarakan masalah demokrasi
tampak seperti suruhan Amerika dan Eropa barat untuk menekan
junta militer Myanmar, mudah-mudahan ini bukan saran dari
informan CIA di lingkungan istana. Atau juga bukan saran Menlu
yang sangat jelas binaan Amerika.
7. Masalah "melindungi" tersangka koruptor di KPU, juga
menunjukkan masih kuatnya aspek perkoncoan.
8. Dugaan suap di lingkaran Istana sebaiknya segera diselidiki.
9. Menjelang pemilu 2009 jangan buat center-center yang
memanfaatkan kekuasaan, apalagi ada sejumlah tokoh pendukung
anda (tim sukses) yang belum mendapat "jatah" dan sudah
dijanjikan untuk memimpin lembaga yang aneh-aneh ini .
Sekian sekilas dugaan yang belum tentu benar tentang orang-orang
disekeliling Presiden.
Posted by Senopati Wirang /Tuesday, February 28, 2006
130
Catatan Akhir Tahun Pemerintahan SBY-JK
hanya akan menyoroti hal-hal yang sangat penting yang terkait
dengan kinerja pemerintahan SBY-JK, sebagai berikut:
1. Masalah pembangunan ekonomi yang ala kadarnya sangat
memperihatinkan sebab tidak tampak strategi yang bisa membuat
perekonomian negara kita kembali bergairah. Kesempatan
memperlihatkan kesungguhan kebijakan negara kita yang pro
pembangunan ekonomi tidak terlihat dalam pertemuan APEC di
Vietnam. Bagaikan monyet ditulup, negara kita terbengong-bengong
melihat kesuksesan kebijakan Vietnam yang sangat menarik
perhatian negara-negara seperti AS, Jepang, Korea Selatan,
Australia, dll. Pembangunan yang terlihat hanya pada sektor
perdagangan dan peningkatan konsumsi masyarakat semakin
memperjelas jurang ekonomi antara si kaya dan si miskin. Sementara
industri nasional negara kita bagaikan sekaratul maut menuju jurang
kehancuran. Dengan mengandalkan ekspor energi ke negara yang haus
energi seperti China, Jepang dan AS tidak akan bertahan lama, lagi
pula nilai pertambahan ekonomisnya sangat terbatas. Sungguh
setelah bertahun-tahun merdeka, sangat memalukan hanya
mengandalkan pada eksploitasi kekayaan alam semata. Kebijakan gas
nasional yang lebih tunduk pada kesepakatan ekspor ke Jepang dan
China telah membuat industri dalam negeri yang membutuhkan
pasokan gas mengalami kesulitan yang luar biasa. Bila memang sangat
yakin pada prinsip ekonomi liberal, seharusnya telah diketahui resiko
hancurnya industri dalam negeri dan peningkatan jumlah
131
pengangguran sebagai dampak tidak ketidakmampuan bersaing. Jika
cepat sadar dan memang memikirkan nasib rakyat, seyogyanya
peranan pemerintah ditingkatkan dalam mendorong pembangunan
yang lebih terarah. Beberapa peraturan yang mendesak untuk segera
diselesaikan misalnya peraturan tentang investasi, ketenagakerjaan,
dan perpajakan. Meskipun indikator ekonomi makro negara kita
menunjukkan perbaikan misalnya nilai rupiah dan angka inflasi, namun
apalah artinya jika sektor riil tetap terseok-seok dalam kelumpuhan.
Bahkan jumlah angka kemiskinan dan pengangguran tetap tinggi
(persisnya tidak saya catat...tapi bisa dilihat dari angka-angka di
BPS). Sektor perbankan yang miskin kredit dengan posisi lending
yang sangat memprihatinkan, hebatnya perbankan nasional tidak mau
rugi dengan memanfaatkan jalur Sertifikat BI. Industri pertanian
dan manufaktur yang menyerap tenaga kerja bagaikan pesakitan
sebab belum ada terobosan yang mampu merangsang perubahan.
2. Penanganan bencana alam yang datang bertubi-tubi berjalan lambat
dan sangat tidak profesional. Bisa dipahami bahwa bencana datang
tidak diundang dan terjadi begitu cepat sehingga korban kemeninggal an
dan materi tidak terhindarkan. Satu-satunya unit pemerintah yang
tampak efisien yaitu Badan Sar Nasional yang saat inipun terlihat
kedodoran sebab sumber daya yang terbatas. Sementara itu,
pembentukan komisi dll hanya menjadi pemborosan yang luar biasa.
Alangkah baiknya jika Badan Sar Nasional diperkuat dengan
kebijakan dan dukungan pemerintah dengan pembentukan unit-unit
reaksi untuk mengatasi bencana.
132
3. Masalah kepemimpinan SBY dan JK yang sangat memperihatinkan.
SBY yang sok kalem dan berwibawa dikhawatirkan berhati pengecut
dan selalu cari aman, sedangkan JK yang sok profesional
dikhawatirkan penuh tipu muslihat dan agenda kepentingan kelompok.
Mudah-mudahan saya keliru, namun saya yakin 100% rakyat
negara kita sudah melihat dan memahami maksud saya. jika pada
tahun 2007 tidak terjadi perubahan sikap yang lebih memihak pada
rakyat dan demi kepentingan bangsa, maka saya tidak bisa
menghindari ajakan gerakan anti pemerintah yang akan semakin
menguat seiring dengan sikap yang tidak pro-rakyat dari
pemerintahan SBY-JK. Sebagai tambahan, ketidakkompakan anggota
kabinet menjadi nilai negatif yang besar.
4. Masalah politik dan keamanan bisa jadi cukup stabil dan tampak
konsolidasi demokrasi dan keberhasilan pilkada Aceh menjadi
catatan prestasi. Namun, potensi demokrasi ini belum menghasilkan
sistem yang pro-rakyat dan mampu memajukan kesejahteraan bangsa
negara kita. namun malahan menjadi dunia busuk politisi yang
mengubah arah demokrasi bukan untuk rakyat melainkan untuk
kekuatan kelompok.
5. Masalah korupsi saat ini kembali seperti kucing-kucingan. Mulai dari
dasar hukumnya sampai proses peradilan, terjadi perdebatan yang
semakin mempersulit pembersihan Republik negara kita dari koruptor-
koruptor perampok kekayaan bangsa negara kita. Sekedar contoh kecil
misalnya pernyataan JK yang menganggap upaya pemberantasan
korupsi mulai terasa menghambat pembangunan.
133
6. Masalah Politik Luar Negeri, sungguh konyol dan sangat minus Politik
Luar Negeri negara kita saat ini. Selain selalu mengikuti saran agen-
agen CIA seperti HW (ralat HW hanya diduga sebagai agent yang
ter- influence dan secara tidak sadar terpengaruh oleh AS) dan DPJ
(agent aktif yang sukarela dan telah memiliki pola pikir AS),
negara kita juga terjebak dalam Politk Luar Negeri Pahlawan
Kesiangan. Dalam kasus Nuklir Korea Utara, jelas peranan NS bisa
dinilai nol besar apalagi. Dalam kasus-kasus di Timur Tengah, utusan
khusus tidak melakukan apa-apa. negara kita juga sangat sulit
bergerak diantara kepentingan Arab Saudi dan Iran. Selain itu,
gebrakan tolol ikut serta dalam masalah Irak jelas merupakan dikte
Amerika Serikat yang diamini oleh korps Deplu. Juga desakan
peranan negara kita dalam urusan dalam negeri Myanmar akan semakin
menyulitkan negara kita di masa mendatang, ah singkatnya negara kita
bukan lagi negara yang bebas dan aktif. Lebih tepat bila dinilai
negara kita sebagai cecunguk AS yang aktif menjilati pantat AS.
Mohon maaf atas kekasaran artikel saya kali ini, saya sangat sedih dan
kesal dengan ketiadaan pemimpin yang peduli terhadap tangisan rakyat
miskin negara kita. Mohon koreksinya atas kekeliruan yang mungkin ada
dalam tulisan saya ini.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Sunday, December 24, 2006
134
Pilkada Aceh
Selamat kepada siapapun yang akan menjadi pimpinan Aceh pasca Pemilu
11 Desember 2006. Hasil perhitungan sementara menunjukkan keunggulan
pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar kandidat independen yang
sangat dihargai oleh masyarakat Aceh berkat peranannya dalam proses
damai. lalu suasana pilkada menjadi sangat sejuk sebab hal itu
direspon dengan sebuah sikap politik yang elegan dan tepat oleh
Pemerintahan SBY.
negara kita yang demokratis telah menghasilkan pimpinan yang berwatak
demokratis pula. Dengan asumsi yang sama, pimpinan Aceh yang terpilih
nantinya juga diharapkan memiliki watak demokratis dan bisa
membuktikan kepercayaan publik Aceh dengan kebijakan dan
implementasi yang tepat dalam pembangunan Aceh.
Sekali lagi terbukti bahwa dalam soal pemilihan pimpinan eksekutif,
popularitas seorang calon lebih dominan ketimbang mesin partai politik.
Ah...lagi-lagi saya menulis hal-hal yang klise. Baiklah untuk sisi kritisnya
saya akan menyampaikan beberapa potensi konflik yang disebabkan oleh
belum mantapnya watak demokratis dari sejumlah unsur di negara kita.
Pertama, ada sebagian kalangan tentara yang masih ragu dengan
kesungguhan GAM dalam mengintegrasikan diri ke dalam pangkuan NKRI.
jika kelompok ini terus memprovokasi dalam tubuh pemerintahan
135
SBY, tidak tertutup kemungkinan kecurigaan terhadap GAM tetap
terpelihara. Saya sangat berharap kelompok ini keliru, dan hanya GAM
yang rela berkorban dalam membangun Aceh demi rakyat Aceh saja yang
bisa membuktikan kekeliruan kelompok ini.
Kedua, ada kelompok reformis tentara dan sipil yang meyakini itikad baik
GAM dan berhasil meyakinkan pimpinan negara negara kita untuk melihat
Pilkada Aceh secara obyektif dengan menerima fakta di lapangan.
Ketiga, ada kelompok GAM yang meragukan dedikasi kandidat dari GAM
terkait dengan platform perjuangan dalam rangka membangun Aceh yang
maju, dan hal ini bisa menjadi persoalan internal GAM.
Keempat, ada kelompok GAM yang telah bersinergi dengan rakyat Aceh
yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat Aceh secara sungguh-
sungguh dan secara serius lebih memperhatikan kepentingan rakyat Aceh
dari pada kepentingan kelompok.
Kelima, rakyat Aceh telah memperlihatkan sebuah pilihan yang sangat
penting bagi masa depan Aceh dan kredibilitas pemimpin yang nanti
terpilih merupakan sebuah titik kritis masa depan Aceh. Artinya,
siapapun yang resmi menjadi pemimpin Aceh akan memikul harapan rakyat
Aceh tentang sebuah pembangunan ekonomi dan sosial. Sehingga
persoalan-persoalan yang bersifat politis tidak lagi penting, apalagi yang
bisa memicu konflik. Dengan demikian, unsur pimpinan eksekutif Aceh
bersama kalangan legislatif dengan dukungan dari pemerintah pusat
136
Jakarta akan lebih berkonsentrasi untuk membangun Aceh yang damai
dan sejahtera.
Salah satu kunci masa depan Aceh yang cerah yaitu pemerintah pusat
Jakarta harus tegas menolak provokasi dari sekelompok kalangan
strategis yang masih menganggap GAM sebagai ancaman. Sementara dari
pihak GAM, dengan pembubaran GAM dan pembentukan partai lokal harus
membawa misi untuk kesejahteraan rakyat Aceh dan bukan membawa
misi yang bisa mengundang konflik melalui ide-ide kemerdekaan.
Munculnya kembali ide kemerdekaan di bumi Aceh hanya akan
memberikan amunisi kepada kelompok strategis yang saya sebutkan di
atas. Semoga pimpinan Aceh benar-benar bijak dan memahami jeritan
rakyat Aceh yang sudah lelah dengan konflik.
negara kita Raya.....Aceh Sejahtera
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Thursday, December 14, 2006
137
Klarifikasi Soal HW dan DPJ
Saya sangat berterima kasih atas respon rekan-rekan mengenai
kontroversi 2 figur nasional berinisial HW dan DPJ yang sangat
berpengaruh dalam politik luar negeri negara kita (lihat catatan-akhir-
tahun-pemerintahan-sby). Sayangnya sebagian besar respon ini
disampaikan dalam bentuk e-mail yang secara khusus diminta untuk tidak
dipublish.
Sayapun sadar akan potensi terpelesetnya sebuah tulisan menjadi fitnah
atau pencemaran nama baik seseorang. Oleh sebab itu, saya akan
memberikan klarifikasi sebagai berikut:
1. Menjadi agen asing, apakah itu CIA atau lembaga intelijen asing lainnya
tidak berarti secara aktif menjadi agen operasional. Dalam kaitan ini,
saya mengkritik keras sikap dan pandangan HW yang cenderung pro AS.
Disadari ataupun tidak, potensi untuk menggiring kebijakan luar negeri
negara kita yang pro AS ini bisa menjerumuskan negara kita ke dalam
situasi yang sulit. Perlu saya ralat secara sadar bahwa HW hanya
terpengaruh secara halus untuk mengarahkan kebijakan LN negara kita
menjadi pro AS, dengan demikian tidak secara aktif menjadi antek CIA.
Saya mohon maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang terlalu
menyederhanakan. Semoga bila saudara HW mengetahui tulisan ini bisa
memaafkan saya dan juga sebagai masukkan untuk introspeksi.
2. Berbeda dengan saudara HW, maka pada kasus DPJ saya justru
menerima banyak informasi yang semakin memperkuat dugaan bahwa
138
saudara DPJ memang antek AS. Bahkan pertikaian antara saudara DPJ
dengan sejumlah pimpinan intelijen dan Deplu (termasuk HW) sudah
sedemikian parahnya. Khusus terhadap intelijen negara sampai-sampai
DPJ berani melecehkan dengan usulan merombak lembaga intelijen
termasuk unsur pimpinannya, alasannya yaitu sebab diperlukan lembaga
intelijen baru yang profesional. Hal ini tidak berarti saya membela
lembaga intelijen, melainkan hanya menyoroti sisi kepantasan saja. Salah
satu indikasi kuat yang saya terima dari unsur pimpinan Deplu yaitu
bahwa AS beserta misi diplomasi dan agenda tersembunyinya
"melangkahi" Deplu dan langsung meluncur ke Istana dengan membawa
sejumlah kesepakatan yang sangat penting.
Mengenai mengapa tidak ada atau belum ada tindakan aparat keamanan,
hal ini memerlukan pengumpulan hard fact yang bisa dipertanggung
jawabkan sebab berhadapan dengan figur yang penting dan memiliki
power yang lumayan kuat. Saya kira sejumlah bahan yang sudah
terkumpul sudah bisa digunakan untuk memberikan peringatan. sebab
jika pihak-pihak yang saya sebutkan ini segera sadar, maka bisa
jadi akan tetap diperkenankan untuk mengabdikan keahliannya di negara
ini, tentu saja semua itu dalam pengawasan yang seksama. Sekali lagi
bukan maksud saya untuk menyebarkan fitnah belaka, saya hanya
menginformasikan dan mohon maaf bila ada kekeliruan, mohon koreksi
rekan-rekan Blog I-I.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Tuesday, January 02, 2007
139
Demokrasi dan Ekonomi
Hari ini 26 Februari 2007, saya tergoda untuk memberikan pujian atas
editorial Media negara kita yang secara cerdas mengangkat tema ekonomi
vs demokrasi yang dikemas dalam judul Kemakmuran Ekonomi Mengawal
Demokrasi. Ada baiknya rekan-rekan mencermeninggal editorial
singkat ini secara bijaksana dan ikut serta memikirkan solusi yang
baik dalam menyikapi derap langkah pembangunan negara kita yang rawan
ATHG khususnya yang dipicu oleh persoalan ekonomi.
Berikut ini catatan penting yang saya sarikan dan saya tambah dengan
intelijen sbb:
Pertama yaitu benar bahwa DEMOKRASI negara kita masih belum
berada pada zona aman. Bahkan, demokrasi yang tergolong terbesar di
dunia itu masih berada pada zona risiko tinggi. Salah satunya dilihat dari
sudut pandang ekonomi seperti diungkapkan dalam ilustrasi pemikiran
ilmiah yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Boediono dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar pada Fakultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (24/2).
Kedua Perhitungan Boediono bahwa dengan pertumbuhan ekonomi 7%
setahun, dan laju pertumbuhan penduduk 1,2% setahun, sehingga
penghasilan per kapita tumbuh sekitar 5,8% setahun, diperlukan sembilan
tahun lagi bagi negara kita untuk bisa mencapai zona aman demokrasi
yaitu sah-sah saja. Padahal, pertumbuhan ekonomi negara kita pada 2006
masih sekitar 5,5%. Adapun target pertumbuhan ekonomi tahun ini
antara 5,7%-6,3%. Jadi, pertumbuhan ekonomi 7% setahun cukup tinggi
sekalipun bukan mimpi. Catatan Blog I-I, asumsi ekonomi ini
140
cenderung mengabaikan fakta psiko-sosiologis masyarakat, dimana pada
satu sisi ada semacam kelembaman karakter orang negara kita yang suka
mengulangi kesalahan di masa lalu dan "nrimo". lalu di sisi lain ada
watak kemarahan tiba-tiba (amook massa) yang disebabkan oleh
meledaknya ketidakberdayaan menjadi kebencian pada "apapun" yang
mapan. Artinya kerawanan bisa meledak sewaktu-waktu, pasca bencana
tsunami di Aceh, gempa di Yogya, lapindo di Sidoarjo, banjir di Jakarta,
bencana kecelakaan transportasi di darat, laut dan udara,
melakukan observasi langsung dimana sumpah tangisan keluarga korban
dalam nuansa kebencian yang mendalam atas ketidakadilan pemilik modal
dan pemerintah sangat kuat. Hal itu bukan saja disebabkan oleh fakta
kurangnya perhatian, namun juga soal tanggung jawab yang tidak jelas di
pundak siapa.
Ketiga, jalan panjang yang harus ditempuh bangsa ini untuk mengamankan
demokrasi dari sudut pertumbuhan ekonomi jelas sangat mendewakan
kemakmuran ala ekonomi liberal, dimana asumsi bahwa perut kenyang dan
kemapanan akan mendorong peningkatan pendidikan serta kedewasaan
demokrasi yang pada akhirnya membawa pada kehidupan berbangsa dan
bernegara yang damai (baca: acuh tak acuh pada masalah politik). Padahal
masalah kultur/budaya politik juga tidak kalah pentingnya dalam merusak
tatanan demokrasi. jika dalam 9 tahun dengan pertumbuhan ekonomi
7%, negara kita bisa masuk zona aman, maka apa jaminannya pertumbuhan
ini bisa berkeadilan sosial, sebab semua tahu pertumbuhan tahun
2006 yang 5,5% tidak mencerminkan pemulihan ekonomi negara kita
secara global. Ada elemen konsumsi (orang berduit) yang besar di sana,
serta belum ada tanda-tanda kebangkitan industri nasional, bahkan
141
investasi infrastruktur-pun kurang laku. Artinya belum ada pondasi
ekonomi yang meyakinkan bagi terjaminya pertumbuhan 7% secara
berkelanjutan.
Keempat Sangat membanggakan??? hanya sebab dalam tempo cepat,
sangat cepat, negara yang puluhan tahun dipimpin dengan otoriter ini
berubah menjadi salah satu negara demokratis terbesar di dunia
bersama India dan Amerika Serikat. Bahkan, negara kita merupakan
negara demokratis terbesar di dunia dengan penduduk mayoritas muslim
yang juga terbanyak di jagat. Catatan: Janganlah terlalu besar kepala
kita ketika dipandang sebagai negara demokratis sebab potensi konflik
dari pembukaan hampir seluruh keran kebebasan (liberalisme) telah
melahirkan monster baru. Monster baru yang bernama kekuatan
kelompok berduit yang mampu mengarahkan kemana demokrasi akan
bergulir.
Kelima Andaikata variabel kemakmuran ekonomi secara linear langsung
mempengaruhi demokrasi, maka bagaimana Boediono akan menjawab
demokrasi di Iran dengan kemandirian ekonominya. Bagaimana pula
Boediono bisa menjawab fenomena demokrasi di beberapa negara
Amerika Latin yang memberikan jawaban untuk kembali pada sosialisme
yang tidak serta merta memuja kemakmuran ekonomi. Adapun mengenai
kebenaran dalil bahwa krisis ekonomi yang berat hampir pasti akan
menjatuhkan rezim politik yang ada merupakan dalil yang terlalu umum.
Mengapa tidak diperjelas apakah krisis ini memang bagian dari
krisis dunia, disengaja oleh pihak asing, ataukah akibat kesalahan
manajemen ekonomi nasional (kebijakan), atau sebab kebusukan
penguasa dan pemilik modal yang serakah.
142
Keenam Agak aneh bila tiba-tiba kita berpikir Demokrasi negara kita yang
sedang mekar itu dapat punah sebab krisis ekonomi kembali datang
menghajar bangsa ini (cenderung provokatif menakut-nakuti). Agak aneh
juga bila lalu kita mengambil kesimpulan euforia demokrasi dengan
seluruh eksesnya yang menghambat pertumbuhan ekonomi harus segera
diakhiri (istilah euforia demokrasi merupakan serangan langsung ke
jantung demokrasi). Demokrasi bukan soal hambat-menghambat, namun
soal sikap mental dan sistem yang disepakati bersama oleh seluruh
elemen bangsa. Demokrasi juga soal kesepakatan aturan main yang
transparan. jika lalu secara eksplisit Boediono menekankan
pentingnya bangsa ini mengambil posisi strategis mengenai imbangan
antara teknokrasi dan demokrasi saya setuju. namun kalo hal itu
dimaksudkan untuk melemahkan posisi kritis anti liberalisme ekonomi
negara kita saya sangat tidak setuju.
Ketujuh Lukisan pemikiran Boediono jelas tendensius, apalagi pemikiran
ini merupakan pidato ilmiah Boediono sebagai guru besar UGM.
Saya jadi terkenang Prof. Mubyarto dengan ekonomi kerakyatannya yang
banyak dicemooh oleh kaum liberal negara kita (sebab dianggap tidak
rasional secara ekonomi). Tentu saja pemikrian-pemikiran kritis harus
diarahkan kepada pemikiran yang membenturkan kemakmuran ekonomi
dengan demokrasi. Dalam mencari imbangan antara teknokrasi dan
demokrasi memang tidak mudah bukan sebab masalah demokrasinya,
namun sebab kepentingan politik "kelompok" yang mengganggu kebijakan
ekonomi nasional yang terpadu dan berkelanjutan. lalu hal itulah
yang menyebabkan distorsi terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Mengenai rasionalitas kebijakan ekonomi, Boediono seharusnya paham
143
bahwa rasionalitas perhitungan ekonomi pembangunan hanya dipahami
oleh para ekonom, sedangkan rakyat hanya paham masalah-masalah
praktis yang langsung terkait dengan kehidupan sehari-hari. Ketika
terjadi kenaikan harga beras misalnya, apakah Boediono bisa menjelaskan
kepada rakyat yang berpenghasilan dibawah 1$US bahwa hal ini
sebagai akibat dari kebijakan ekonomi yang tidak rasional atau yang
rasional. lalu masalah privatisasi berbagai sektor yang menguasai
hajat hidup orang banyak apakah ketika kemahalan yang harus dibayar
juga merupakan hal yang rasional. Apakah mekanisme subsidi dan proteksi
sudah sedemikian haramnya sehingga menjadi kebijakan gila dalam
ekonomi pembangunan.
Kedelapan Himbauan Harian Media negara kita yang menggarisbawahi dua
hal besar yaitu, di satu pihak presiden sebagai kepala eksekutif berani
mengambil langkah-langkah teknokrasi di bidang ekonomi, dan di lain
pihak, DPR lebih rendah hati untuk menghornati kebijakan teknokratis
yang diambil kabinet harus digarisbawahi lagi. Bagi Blog I-I, faktor
terpenting dari persoalan ini yaitu pada wujud nyata kebijakan
teknokratis yang dimaksud. Keberanian mengambil kebijakan teknokratis
bukan berarti kebal kritik pedas, dan sebaliknya kerendah-hatian DPR
untuk menghornati kebijakan teknokratis harus dilandasi oleh keyakinan
dan kecerdasan ekonomi (Intelijen Ekonomi) bagi kemakmuran bangsa
negara kita.
Kesembilan telah merenungkan ajakan Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian Boediono bahwa kebijakan ekonomi, sampai batas
tertentu, perlu diinsulasikan dari hiruk-pikuk politik sehari-hari. Tanpa
mengesampingkan fakta besarnya kepentingan sempit dan jangka pendek
144
yang membonceng kebijakan ekonomi, hanya memberi catatan
bahwa insulasi kebijakan ekonomi tidak berarti kebal kritik dan secara
semena-mena diterapkan. Perlu dipahami bahwa stakeholder
pembangunan ekonomi bukan hanya eksekutif dan legislatif, namun ada
unsur gerakan masyarakat seperti pelaku bisnis, lsm, buruh, tani, dan
seluruh komponen yang menggerakan perekonomian nasional. Tentu saja
hal itu tidak berarti seluruh komponen terlibat dalam kebijakan ekonomi.
Mekanisme keseimbangan, transparansi, serta tujuan kebijakan ekonomi
yang jelas harus mendahului proses insulasi, selain itu perlu juga dilihat
bagaimana dampaknya bagi bagi para stakeholder.
Kesepuluh atau yang terakhir yaitu kita patut berterima kasih kepada
Boediono yang telah mengingatkan anak bangsa ini bahwa demokrasi
memerlukan tingkat kemakmuran ekonomi sebagai syarat wajib yang bila
tidak dipenuhi akan memukul mundur demokrasi. Namun ada yang aneh
pada bagian akhir editorial yakni ilustrasi bahwa seorang seperti Hitler
bisa lahir, yaitu ia dipilih secara demokratis, namun dari sana lalu
membunuh demokrasi. Apa hubungannya ajakan Boediono dengan lahirnya
seorang Hitler ?
Sekian
-------------------------
Catatan: Saya hampir kirimkan artikel di atas kepada Redaksi Media negara kita,
namun saya urungkan sebab saya masih menunggu dokumen paparan Boediono dari
rekan di UGM. jika ada rekan yang merasa hal ini perlu diketahui Redaksi
Media negara kita, silahkan saja dikonfrontasikan
Posted by Senopati Wirang /Monday, February 26, 2007
145
GSM oh GSM Masih Berbendera Merah Putih kah?
Setelah sedikit saya edit beberapa bagian yang rawan bisa membongkar
identitas Cah Bodho sebagai penulis artikel ini, saya yakin betul bahwa
catatan Cah Bodho cukup penting untuk diketahui rekan-rekan Blog I-I.
Silahkan membaca.....
---------------------------------------------------------------------------------
GSM… OH GSM… MASIH BERBENDERA MERAH PUTIH KAH ?
Perkembangan dunia telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini sudah
mencapai tahap yang mengagumkan. Pada September 2006 data
menunjukan bahwa pengguna Ponsel di Rekiblik Ndonez ini sudah
mencapai angka yang cukup fantastis. Pengguna Ponsel di Ndonez untuk
sekarang ini mencapai lebih dari 38 juta pelanggan atau sekitar 17,28 %
dari keseluruhan jumlah penduduk Ndonez. Jumlah ini yaitu jumlah
mereka yang hanya menggunakan operator yang menyediakan layanan
berbasis teknologi GSM (Global Satellite Mobile) belum ditambah lagi
mereka yang menggunakan operator yang menyediakan layanan berbasis
teknologi CDMA (Code Digital Multiple Access).
Tanpa ampun trend menggunakan Ponsel ini sudah merambah ke semua
lapisan masyarakat dari semua golongan baik itu di daerah pedesaan
maupun di kota-kota besar. Ponsel sudah menjadi semacam instrumen
untuk menaikan status sosial dari seorang individu, bahkan banyak yang
146
menjadikannya sebagai life style dengan alasan kebutuhan akan
komunikasi dan informasi yang cepat. Tentunya hal ini yaitu sesuatu
yang positif dan bisa dipahami di satu sisi, namun jika tidak diawasi
dengan semestinya oleh pemerintah sebagai regulator sistem
telekomunikasi di Rekiblik Ndonez ini, maka perkembangan dunia
telekomunikasi ini akan menjadi boomerang yang memungkinkan
terbukanya celah dalam sistem pertahanan dan keamanan negara. sebab
itu ijinkan saya berbagi pengalaman dengan Bung Seno.
Beberapa waktu yang lalu Densus 88 Antiteror polisi melakukan
penggerebekan di daerah Wonosobo, Jawa Tengah yang menewaskan
Jabir yang konon yaitu murid terakhir Sang Empu perakitan bom yaitu
Alm. Dr. Azahari. Seorang informan yang berdinas di Densus 88
bercerita tentang kronologi terjadinya penggerebekan di Wonosobo.
Densus 88 berhasil melacak Jabir dari nomor Ponselnya dengan
menggunakan GSM Interceptor buatan Israel yang berharga 4 milyar
rupiah tiap unitnya. Alat ini yaitu sebuah kotak kecil yang bisa
dibuka mirip Laptop. Ukurannya sedikit lebih besar dari Laptop standar,
warnanya abu-abu kehitaman. Melihat alat itu, otak saya mencoba
mengingat-ingat sebab saya pernah melihat alat ini sebelumnya.
Saya ingat peralatan milik Hulubalang Mossad yang sudah dimodifikasi.
Ada semacam antena yang menyembul dan bisa ditarik dari dalamnya.
Untuk hal ini saya tidak begitu kaget sebab pada beberapa jenis Laptop
juga terpasang CDMA Modem yang antenanya bisa ditarik cuma tidak
sebesar itu. Perbedaan yang mencolok yaitu adanya dua kotak lain
berwarna hitam dengan instrumentasi yang tidak begitu jelas yang
147
terhubung dengan alat itu. Instrumen ini juga memiliki layar tersendiri
tapi saya tidak bisa membaca apa itu sebab ketika saya melihatnya alat
ini dalam kondisi meninggal .
Ternyata alat mirip laptop itu bukan sembarang Laptop, Mossad
menyebutnya the smart eagle yang mana “Berita berbasis GSM milik
Mossad”. “Pencerahan” dari kalangan Densus 88 tentang fungsi
sesungguhnya alat itu membuka korelasi keyakinan Mossad menguasai
komunikasi GSM di negara kita.
Saya terngiang dengan kalimat “Asal masih GSM !” Hal inilah yang
lalu mendorong saya mengambil inisiatif lebih lanjut untuk
menganalisis menggunakan pendekatan Potential Risk Assessment (PRA)
dalam perspektif pertahanan. Bagaimana mungkin mereka mampu
mengakses semua teknologi komunikasi yang berbasis GSM di Rekiblik
Ndonez ? Kalaupun mereka memiliki peralatan yang canggih tetap saja
tidak semudah itu mengakses ke perusahaan-perusahaan yang memiliki
portofolio internasional.
Dalam teknologi telekomunikasi nirkabel, setiap modulasi yang terkirim
dalam pelayanan kepada para pelanggannya pasti dalam keadaan
encrypted dengan kode binary yang memang diciptakan khas, tidak
mengikuti aturan umum sehingga tidak mudah dipecahkan. Kebetulan saya
sedikit banyak belajar tentang ini, jadi saya tahu teknik enskripsi.
Jangankan untuk intercepting apalagi penyadapan, untuk mengakses
server induknya saja pasti sudah sangat kesulitan. Kecuali ada yang
“bermain” di balik itu semua, dengan memberikan key code binary untuk
148
decryption sehingga memudahkan langkah decoding setiap modulasi. Saya
mencoba melakukan deep study tentang dunia telekomunikasi di Rekiblik
Ndonez ini khususnya operator seluler yang menggunakan teknologi
berbasis GSM. Hasilnya cukup memuaskan saya, hipotesa saya terbukti.
Di Rekiblik Ndonez ini ada 3 operator seluler besar yang menggunakan
teknologi berbasis GSM yaitu PT. Telekomunikasi negara kita Seluler Tbk.
(Telkomsel), PT. negara kitan Satellite Corporation Tbk. (Indosat), dan PT.
Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL). Kalau dilihat sekilas memang tidak
ada yang salah dengan ketiga perusahaan itu. namun ketika diselidiki
lebih jauh Corporate Insight nya, maka akan ditemukan potensi
terbukanya masalah national security ini. Berikut ini yaitu data Biro
Transaksi dan Lembaga Efek dari Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (BAPEPAM) per Oktober 2006 tentang komposisi
pemegang saham dari 3 perusahaan telekomunikasi ini :
1. PT. Telekomunikasi negara kita Seluler Tbk. (Telkomsel)
Singapore Telecom + publik asing : 37,86 %
Pemerintah Ndonez + publik Ndonez : 62,14 %
2. PT. negara kitan Satellite Corporation Tbk. (Indosat)
Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. + publik asing : 86,62 %
Pemerintah Ndonez + publik Ndonez : 13, 38 %
149
3. PT. Excelcomindo Pratama Tbk. (Pro XL)
Telekom Malaysia Berhad + publik asing : 85,07 %
Telekomindo Primabhakti + publik Ndonez : 14,93 %
Lihat saja angka-angka ini . Wajar logikanya kalau saya
mengatakan bahwa telekomunikasi di Rekiblik Ndonez sudah tidak
“berbendera Merah Putih” lagi. Kalau boleh diambil rata-ratanya,
maka kepemilikan asing akan saham perusahaan-perusahaan
telekomunikasi di Ndonez mencapai angka 69,85 %. Kepemilikan
saham yang hampir mencapai 70 % inilah celah keamanan yang tidak
diperhatikan oleh aparat-aparat yang berkepentingan dalam hal ini,
termasuk Seno Raya di dalamnya.
Saya mencoba menyelidiki tentang perusahaan-perusahaan asing ini.
Tentunya dimulai dari kepemilikan atas saham perusahaan-
perusahaan ini . Saya meminta bantuan seorang teman di
Singapore untuk melacak kepemilikan saham dari Singapore Telecom
Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. Hasilnya cukup
lumayan untuk membuat saya curiga. Setengah dari saham
perusahaan-perusahaan ini memang dimiliki oleh pemerintah
Singapore, namun sebagian kecil yaitu sekitar 20 % lebih dimiliki
oleh seorang Spekulan Valas Yahudi yang pernah mengacak-acak
konstelasi perekonomian Asia Tenggara pada dekade 90-an. Dia
yaitu George Soros. Sekalipun tidak secara langsung, namun salah
satu anak perusahaan dari Soros Corporation Holding Co. memiliki
150
saham kedua perusahaan ini. Meskipun kepemilikan saham atas kedua
perusahaan ini cukup kecil dibanding pemerintah Singapore, namun
munculnya nama ini dalam deretan para pemegang saham Singapore
Telekom Inc. dan Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. cukup
menimbulkan kecurigaan dalam benak saya terhadap setiap policy
kedua perusahaan ini di Rekiblik Ndonez.
Kalau diselidiki lebih dalam lagi, maka komposisi saham yang
sedemikian besar dari kedua perusahaan Singapore ini atas
perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Rekiblik Ndonez akan
memberikan berbagai macam konsekuensi tersendiri di dalam
manajemen perusahaan ini . Pihak pemilik saham yang lebih
banyak akan menaruh orang-orangnya di dalam manajemen inti
dengan porsi yang lebih banyak pula dalam perusahaan ini .
Analoginya mirip partai politik yang memenangkan suara terbanyak
sehingga memiliki banyak wakil di parlemen, demikian pula pemegang
saham dan Dewan Komisaris di dalam sebuah perusahaan.
Orang-orang yang ditaruh di dalam manajemen inti sebuah
perusahaan ini tentunya memiliki pengaruh besar dalam setiap policy
dan keputusan-keputusan yang diambil perusahaan. Ekses negatif
lainnya yaitu , orang-orang yang duduk di manajemen inti inilah yang
memegang banyak rahasia perusahaan termasuk sistem keamanannya.
Saya memiliki segepok arsip-arsip tentang orang-orang di manajemen
inti ketiga perusahaan ini. Data saya lumayan lengkap tentang
“Biography of the Board of Commissioners”, “Biography of the Audit
151
Committee” dan “Biography of the Board of Directors” jangan tanya
dari mana saya mendapatkannya, sebab setidaknya saya
menghabiskan waktu 5 bulan untuk mengumpulkannya.
Terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini tentang latar belakang
mereka satu persatu. Setidaknya ada beberapa orang dari mereka
yang berasal dari Singapore yang bisa saya sebut di sini seperti
Peter Seah Lim Huat, Lee Theng Kiat, Sio Tat Hiang, Sum Soon
Lim, Lim Ah Doo, Ng Eng Ho, Joseph Chan Lam Seng, Raymond
Tan Kim Meng, dan Wong Heang Tuck. Setelah saya selidiki latar
belakangnya dengan seksama, pada intinya yaitu , ada beberapa dari
mereka di masa lalu yang memang pernah memiliki hubungan dengan
beberapa Non Government Organization (NGO) yang berasal dari
Israel yang bermarkas di Singapore seperti Shimon Perez
Foundation, Shekel Ha-Nissi Foundation, dll.
Salah satunya bahkan mengambil Master of Technology dari
University of Tel Aviv dan menuliskan “Be shema Elah ha rahman
rahamin melek Yom Habbin, be shema Elah mubarekha ha shamayin
mim alama we ad alama hasyim be orach misor !” dalam pembukaan
Tesisnya (saya punya salinan Tesisnya). Kalimat ini merupakan
kalimat salam pembukaan dari agama Yahudi (Judaism). Dari closed
source yang saya dapatkan, mengkonfirmasikan kebenaran hal
ini . Ada kemungkinan mereka bukan hanya seorang
businessman saja, bisa jadi Mossad Agent atau sekurang-kurangnya
orang-orang binaan yang dimanfaatkan, sebab harus diingat bahwa
Singapore yaitu sahabat karib Israel di Asia Tenggara. Tidak salah
152
rasanya kalau saya menilai dari sinilah sumber kebocoran
enskripsi telekomunikasi Rekiblik Ndonez.
Saya mencoba menarik benang merah yang merangkum semuanya.
“Asal masih GSM, berita itu milik kami !” Saat ini saya tidak lagi
terheran-heran kalau para Hulubalang Mossad mampu dengan mudah
menyadap banyak informasi, ataupun pembicaraan-pembicaraan
penting yang dilakukan melalui Ponsel berbasis teknologi GSM (saya
tidak tahu bagaimana dengan nasib CDMA). Tapi saya ingin
menekankan bahwa, bahkan orang paling bodoh di negeri ini pun akan
tahu masa depan negeri ini kalau 17,28 % warga negaranya dimata-
matai secara sistemeninggal s dan terorganisir oleh negara lain yang
memang menghendaki kehancurannya. Anda tahu yang saya maksud.
Saya menghimbau pada pemerintah dan semua komunitas intelijen
yang ada, seriuslah dalam mengemban tugas negara. Kalau orang
segoblok saya dengan ketrampilan, tenaga, dana, fasilitas, dan waktu
yang terbatas saja masih bisa mendeteksi sampai sejauh ini meskipun
tidak detail, apalagi kalian yang dibekali dengan pendidikan,
pelatihan, dana, dan fasilitas yang memadai, harusnya bisa jauh lebih
dalam dari ini semua. Kami sebagai warga negara ingin melihat
hasilnya.
“Asal masih GSM, berita itu milik kami !” saya berharap
statement mereka akan berubah menjadi “Kalau sudah GSM,
berita itu bukan milik kami !”
153
Saya tunggu ulasannya Bung Seno. Sekali lagi, saya cuma Cah Bodho
yang nekad nulis dan nekad “nginteli” intel-intel.
----------------------------------------------------------------------------
Catatan Senopati
Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Cah Bodho yang saya
kagumi, begitu lama saya harus melakukan sejumlah crosscheck atas
artikel anda yang sangat berharga ini. Dengan sangat terpaksa, saya
"buang" bagian yang bisa digunakan untuk melacak anda. Penilaian
saya, Cah Bodho telah mengakses sekitar 20% informasi tertutup,
yang merupakan prestasi yang saya kira sulit untuk dicapai oleh Intel
Polisi, Intel tentara , bahkan Intel BIN sekalipun.
Saya juga termasuk yang pesimis sebab saya hanya pensiunan yang
sama nekadnya dengan Cah Bodho. Andaikata kita bersama
mampu membangun pesimisitas mimpi menjadi gelora semangat
Republik negara kita Raya, mungkin kenekadan ini akan menghasilkan
gelombang perubahan mental dan cara berpikir aparatur negara,
khususnya intelijen untuk menepati janji lahir bathin menjaga NKRI.
Pertanyaan saya berikutnya yaitu , apakah negara kitan Intelligence
Communities mengetahui berbagai ancaman sejauh penyelidikan Cah
Bodho ataupun Blog I-I. lalu yang lebih terpenting lagi yaitu
sekuat apa integritas Intelijen negara kita dalam menyikapi berbagai
ancaman, jangan-jangan Intelijen negara kita tidak mengerti metode
154
Potential Risk Assessment (PRA) ataupun metode Threat
Assessment (TA).
Setidaknya Cah Bodho telah berbuat sesuatu bagi NKRI, yaitu berupa
peringatan nyata tentang potensi resiko bagi NKRI yang harus ditebus
dari kebodohan kebijakan negara yang carut marut dan tidak
terkoordinasi antar bidang-bidang pembangunan.
sudah putus asa dengan jalur-jalur resmi organisasi intelijen
negara kita yang telah menjadi lucu sebab banyaknya kelompok-kelompok
circus cambridge yang akan soroti pada tulisan berikutnya.
menantikan partisipasi aktif dari rekan-rekan seperti
Cah Bodho.
Pesan Senopati untuk Cah Bodho, tetaplah waspada dan berlaku wajar
dalam setiap proses penyelidikan.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Tuesday, February 27, 2007
155
Mimpi Buruk negara kita Raya
Artikel ini sangat serius dan mohon untuk diresapi baik-baik oleh seluruh
Senopati-Senopati muda rekan dan siapapun yang masih punya
nurani untuk rakyat negara kita . Sebenarnya agak ngeri untuk
mengungkapkan sepak terjang pihak-pihak yang ingin menghancurkan
negara kita Raya. Hal ini bukan disebabkan oleh resiko yang akan
ditanggung Blog I-I, namun lebih pada resiko pecahnya peristiwa goro-
goro yang sesungguhnya. Hal itu bisa terjadi sebagai akibat tidak
langsung dari upaya didukung oleh sejumlah Senopati muda
membeberkan proses kehancuran negara kita Raya yang disebabkan
lemahnya dukungan pemerintah kepada kegiatan Intelijen. Kemandulan
unit Kontra Intelijen, minimnya alokasi dana yang tepat serta semakin
buruknya kapabilitas analis intelijen telah menyebabkan pihak-pihak yang
ingin memberi "kerusakan serius" pada negara kita Raya bisa leluasa
bergerak.
Satu tim bayonet sudah datang di bumi pertiwi beberapa waktu silam,
tepatnya tanggal 3 Maret 2007 dari Singapura. Tahukah anda apa
bayonet itu? dalam bahasa Ibrani bayonet yaitu Kidon. Tim ini jauh
lebih saya takuti dibandingkan tim apapun di negara kita. Bila Senopati Wirang
diciduk dan diamankan oleh aparat pemerintah RI, Senopati masih punya
bargaining yang besar, itupun kalau tidak terjadi kecerobohan aksi
tembak-menembak seperti pada kasus Poso.
namun bila harus berbicara tentang Kidon, itu sama saja dengan bunuh
diri...iya benar bunuh diri. Kidon yang merupakan unit di dalam Mossad
156
dan bekerja secara efisien untuk membunuh, sabotase, dan kerusakan
serius lainnya sudah mendarat di bumi tercinta Nusantara. Tim yang baru
datang ini melengkapi unit khusus Mossad yang sudah beroperasi
di Republik negara kita sekitar 7 bulan sebelum peristiwa 9/11. Seperti
pernah saya ungkapkan pada tulisan tentang Intelijen Asing bahwa agen
Mossad sangat minimalis dalam melakukan aksinya, yaitu 2-3 orang. Maka
dalam kasus pengiriman Kidon kali ini terpantau ada sekitar 12 orang
yang ada saat masuk negara kita terpecah menjadi tiga kelompok, Jakarta,
Surabaya, dan Denpasar, masing-masing beranggotakan 4 orang.
Spesialisasi keahlian Kidon yaitu menggunakan senjata, menyamar dan
operasi yang dalam bahasa Ibrani disebut Paylut Hablanit Oyenet (PHO)
atau operasi sabotase tingkat tinggi. Ketika sejumlah kasus kecelakaan di
laut dan udara terjadi, sudah menerima isu-isu unsur sabotase,
namun saya menolaknya sebab informasi yang masuk miskin hard fact.
Lebih mirip teori konspirasi dan pencarian kambing hitam yang kurang
meyakinkan. Bahkan ada pihak yang menyatakan bahwa kasus
tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara bukan hal yang tanpa pesan bagi
Blog I-I, sebuah pesan pembunuhan bagi Senopati-Senopati "Liar"
negara kita yang mengganggu kepentingan Israel. lalu dilanjutkan
dengan kasus kapal levina yang meskipun merupakan bahasa latin
kebetulan juga merupakan kode Levi-Ina (kode bagi sleeping agent
Mossad untuk bangun). Apakah saya akhirnya jadi percaya atau tetap
tidak percaya dengan teori konspirasi? ataukah biarkan saja catatan-
catatan kebetulan itu berlalu dan dianggap sebagai kecelakaan biasa.
157
Bagaimana pula dengan Adam Air dan Garuda negara kita? saya tidak tahu
harus bagaimana menyampaikannya...Saya sangat berharap ada
transparansi dari hasil penyelidikan lapangan tentang apa penyebab
utama terjadinya kecelakaan yang mengerikan ini . Sekecil apapun
kecurigaan yang ada harus di teliti secara serius untuk melihat adanya
kemungkinan sabotase. Andai saja aparat keamanan dan intelijen
negara kita bisa memiliki tempat kumpul bersama dan mendapat akses luas
atas seluruh barang bukti, maka mekanisme keamanan nasional akan
semakin solid. Beberapa rekan bahkan pernah memancing agar
membahas kasus meledaknya Adam Air di udara. tetap
tidak akan membahas sesuatu tanpa adanya bukti-bukti, walau dugaan
sangat kuat tapi sulit untuk dikemukakan tanpa dukungan fakta.
Sesungguhnyalah keberadaan Kidon yang membuat harus
mengeluarkan nilai ancaman yang tinggi kepada negara kita Raya.
Senopati-Senopati Liar yang dimaksud dalam tulisan yaitu
mereka yang selalu mengganggu kepentingan Israel. yaitu bukan
kebetulan bila ketua PP Muhammadiyah Dien Syamsudin juga berada di
dalam Pesawat Garuda yang naas terbakar. Ada indikasi bahwa tim Kidon
yang dikirim bukan hanya ahli dalam soal pembunuhan dan sabotase
kecelakaan, namun juga dalam permainan opini publik, dalam sebuah
rangkaian cerita propaganda hitam yang secara jitu akan membidik
negara kita Raya menjadi pesakitan kembali. Saya tidak menakut-nakuti
Senopati-Senopati pembela negara kita Raya, sebab saya juga akan
menjadi target terdepan dengan membocorkan kedatangan mereka pada
158
3 Maret yang lalu itu. Mohon tingkat pengamanan transportasi menjadi
perhatian, baik darat, laut maupun udara.
Juga bukan kebetulan bila hubungan RI-Australia yang buruk sangat
diharapkan oleh Mossad agar negara kita sibuk dengan urusan negara
tetangga. Bukan hanya Australia, namun juga dengan Singapura dan
Malaysia yang selalu di adu domba dengan tema kepentingan nasional.
Malaysia yang sangat ingin menjadi pemimpin dunia Malays beserta
kelompok etentara knya sangat mudah didorong untuk bersikap arogan
terhadap negara kita. Sementara Singapura juga demikian, dengan
kepentingan-kepentingan yang didorong oleh sejumlah operator Mossad
menjadi seolah-olah "potensi musuh berbahaya" bagi negara kita.
Juga bukan kebetulan jika telah terjadi proses kristalisasi yang
berupaya memecah belah persatuan tentara melalui gerakan cabut mandat
kepada SBY baru-baru ini. Kekecewaan yang besar dari sekelompok elit
militer terhadap SBY bukanlah hal yang ringan, kelompok ini sudah
bersatu dengan kelompok militer yang terpojok oleh kasus-kasus HAM,
mereka juga punya senjata dan kemampuan mobilisasi massa yang baik.
Belum lagi adanya indikasi paramiliter swasta yang sedang berproses
menjadi profesional dengan dukungan dari jaring jual-beli senjatanya.
jika semua berproses, dan lalu SBY juga berproses didorong
untuk memuaskan kelompok HAM dengan "prestasi" penyelesaian masalah
maka...saya tidak tahu harus memberikan gambaran seperti apa di tahun
2007-2008-2009 ini. Serangan dari berbagai arah yang mengupayakan
proses penghilangan legitimasi SBY terus berproses bagaikan air yang
mengalir mencari celah-celah. Mulai dari dasar hukum (UUD 45 dll),
159
kristalisasi ketidakpuasan rakyat, bahkan sampai isu-isu pribadi SBY dan
aspek magis politik juga menjadi alternatif serangan.
Coba kita melongok ke luar. Sebuah informasi yang cukup solid (A2)
misalnya menyebutkan bahwa SBY telah sangat mengecewakan Mossad
(Israel) sebab kedekatannya dengan kelompok Ikhwanul Muslimin dan
Iran. bahkan ketika SBY didaulat sebagai pemimpin dunia Islam oleh DR.
Yusuf Qardhawi, hal itu sudah cukup untuk meningkatkan ancaman
kepada negara kita. Hal itu diperparah dengan konsistensi politik luar
negeri negara kita yang mengecam masalah penggalian di sekitar Mesjid Al
Asqha. Mungkin si plontos ydde yang bolak-balik ke Seno Raya bisa
berpura-pura kooperatif, tapi sungguh mereka tidak akan henti-hentinya
mengupayakan kerusakan yang serius bagi negara kita Raya. Si plontos
ydde juga akan menyangkal kehadiran Kidon di negara kita, atau malahan
akan segera terbang ke Singapura begitu tahu membongkar
kedatangan Kidon, untuk menghindari pertanyaan. Mengapa tidak
melaporkan kepada pihak yang berwenang agar digelar sebuah operasi
besar untuk mengungkap jaring Mossad di negara kita? mohon maaf, Blog
I-I kurang percaya kepada aparat sebab tidak merasakan
adanya ketulusan dari dalam organisasi keamanan maupun intelijen. Blog
I-I malahan sudah dituduh macam-macam, dan maka dari itu hanya ini
yang bisa lakukan agar ada kewaspadaan nasional. Bukankah
negara kita juga menganut prinsip hankamrata atau pertahanan keamanan
rakyat semesta, biarlah kewaspadaan itu meluas melalui media ini dan
terus disebarluaskan agar rakyat semesta waspada bila ada upaya
penyusupan oleh agen-agen asing. Saya masih percaya intelijen PBNU dan
Muhammadiyah juga terus bekerja, belum lagi elemen intelijen Mujahidin
160
yang sudah mulai paham peta terorisme internasional. Saya juga
berharap bahwa moderasi Islam di negara kita bisa dipahami oleh
kelompok non Muslim sebagai langkah menuju kesepahaman tentang
negara kita Raya. Sehingga tidak akan terjadi kesalahpahaman pada
tingkatan manapun ketika kita membahas ancaman asing. Saya yakin
bahwa apapun keyakinan kita, hanya mereka yang tidak punya hati nurani
yang rela mengorbankan negara kita Raya.
Saya tahu resiko terbesar mengungkapkan Kidon yaitu tidak ada ampun.
namun dengan keyakinan bahwa kekuatan berita akan
meningkatkan kewaspadaan aparat keamanan dan intelijen, maka gerak
Kidon tidak akan leluasa di negara kita. Meskipun Kidon lalu
direstrukturisasi menjadi Komemiute, namun istilah itu masih aktif.
Mohon maaf, saya tidak berani mengungkap lebih detail tentang Tim
Kidon yang baru masuk. Saya juga tidak berani mengungkap sel yang
sudah ada di negara kita, meski sudah ada masukan tentang orang
negara kita keturunan Arab yang telah dibina di luar negeri. Keterbatasan
hard fact dan demi keselamatan rekan-rekan yang terus
memantau kegiatan mereka menjadi alasan yang saya kira bisa
dibenarkan.
Sekian
Catatan :
Mohon koreksi dan cek ricek kepada siapapun yang berkepentingan untuk
negara kita Raya. Meski banyak yang berdo'a kecelakaan garuda yaitu
161
yang terakhir, tugas intelijen dan aparat keamanan yaitu memastikan
proses mempertinggi kewaspadaan aspek keselamatan transportasi.
Ancaman serius bagi negara kita Raya yaitu masih di sektor transportasi,
bom, kerusuhan sosial, dan menguatnya konsolidasi separatisme papua,
serta pembunuhan kepada target terpilih (yang anti Israel, mohon
tingkatkan kewaspadaan dalam perjalanan; transportasi, makanan-
minuman, dan segala sesuatu yang berpotensi menciptakan suasana
kemeninggal an yang wajar), sebagai tambahan juga akan berkembang
propaganda hitam yang memanaskan (mengadu domba) perjalanan bangsa
negara kita menjelang pemilu 2009.
Saya berdo'a semoga saya salah dalam menilai potensi ancaman, dan
rakyat negara kita tidak semakin menderita.
Posted by Senopati Wirang /Wednesday, March 07, 2007
162
Negeri Ken Arok
Sebenarnya saya agak malas membahas pertanyaan saudara xdidix
(silahkan cek di shoutbox atau tanya pada rekan yang anda
kenal)tentang sebuah link yang isinya caci maki terhadap salah satu
agama. Saya sengaja tidak buatkan linknya dalam sebab itu
sama saja saya mempromosikan/menyebarluaskan salah satu propaganda
adu-domba menghancurkan negara kita Raya.
Tahukah rekan-rekan bahwa orang-orang asing terus berusaha memahami
karakter bangsa negara kita dengan berbagai penelitian ilmiah. Tentu tidak
semua unsur asing wajib dimusuhi, banyak juga orang asing yang sungguh-
sungguh peduli. Misalnya saja analisa tentang Negeri Ken Arok ini
terilhami oleh seorang rekan diskusi asal Inggris yang menilai bangsa
negara kita mudah sekali dipancing untuk saling membenci. lalu
mudah sekali menciptakan label dan stigma antar kelompok yang merusak
harmoni sosial. Sebuah karakter konfliktis yang mampu menggusur citra
bangsa yang cinta damai. Dalam ilmu sejarah kita mengenal Clifford
Geertz dan Snouck Hugronye, dalam ilmu sosial politik kita belajar dari
William Liddle, Harold Crouch, Ben Anderson, Daniel S. lev, dll sejumlah
nama besar lainnya. Mereka semua memberi sumbangan yang sangat
besar dalam memahami diri kita sebagai bangsa negara kita. Kita juga
sudah sewajibnya memahami karakter dan potensi diri kita sebagai
bangsa, kita harus kembali membuka lembaran intelektual Prof.
Koentjaraningrat, pemikiran prof. Selo Soemarjan dll, bahkan di tanah
Jawa kita mengenal hasil karya sastra yang seharusnya menjadi renungan
163
yang serius. Bukan hanya kisah kejayaan Majapahit, Sriwijaya, Samudra
Pasai, Kerajaan Kutai, Kerajaan Goa, Kerajaan Bali, dll. namun juga kisah-
kisah tragis kehancurannya. Sejarah berpotensi untuk berulang...maka
kita harus mencegah terulangnya kisah-kisah tragedi ini .
Kembali pada pertanyaan xdidix.....
Kembali pada pertanyaan xdidix, perlu diketahui bahwa intelijen asing
juga melakukan penelitian karakter bangsa negara kita, tujuannya jelas
yaitu untuk memudahkan setiap operasi menghancurkan negara kita Raya.
Salah satu karakter yang kuat yaitu apa yang sebut Negeri Ken Arok.
Hal ini jauh lebih parah dari acara Republik Mimpi dan Kerajaan Mimpi di
salah satu TV Swasta. sebab fakta mudahnya menciptakan konflik di
Negeri Ken Arok sangat dipahami oleh pihak-pihak yang ingin
menghancurkan negara kita Raya.
Kutukan Mpu Gandring masih ada sampai sekarang.
Misalnya saja, ada pihak yang menghembuskan isu bahwa yaitu
kelompok sakit hati. namun saya jadi tersenyum, silahkan dibaca apakah
ada sebuah refleksi sakit yang lahir dari artikel-artikel Blog I-I.
Link yang diberikan saudara xdidix jelas sebuah propaganda negatif yang
mencakup teknik perang urat syaraf untuk memperbesar kebencian
terhadap Islam sekaligus mendorong agar kelompok Islam radikal tetap
hidup. Islamphobia pertama kali dikembangkan di Eropa sejak
berakhirnya perang dingin. Hal itu disebabkan oleh sebab Islam satu-
164
satunya ideologi yang utuh dan berpotensi mampu melawan dominasi
pemikiran liberal (yang sebenarnya tidak identik dengan Kristen).
Maraknya aksi-aksi teror semakin memberikan ruang yang luas bagi
berkembangnya Islamphobia. segala carapun di tempuh, salah satunya
yaitu propaganda melalui media internet.
Mengapa mengingatkan bahwa kita hidup di negeri Ken Arok? hal
ini sebab provokasi dan hasutan untuk saling membenci sangat terbuka
di sini. Perhatikan bagaimana dalam link dari xdidix ini tampak
mencoba mendorong timbulnya kecurigaan bahwa forum website ini
diciptakan oleh kelompok Kristen. Kristen radikalkah? Saya melihatnya
tidak lebih sebagai propaganda jahat yang secara langsung di tujukan
kepada dunia Islam sekaligus menimbulkan saling tidak percaya dalam
masyarakat negara kita. Sesungguhnyalah forum-forum semacam itu sudah
ada secara internal dalam kelompokl-kelompok tertentu, masih ingat
kasus Theo Syafei bukan? sementara dalam dunia Islam negara kita masih
ingat kelompok yang menghalalkan darah non muslim bukan? Mereka
semua tidak lagi memiliki nurani dan tanggung jawab kepada bangsa dan
negara.
Bahwa ada kelompok-kelompok elit tertentu di negeri ini yang bekerja
untuk kepentingan asing yaitu benar. Tujuannya menciptakan keabadian
Negeri Konflik Ken Arok.
Sebagai perbandingan, perhatikan bagaimana konflik Islam-Buddha di
Thailand dan Myanmar. lalu juga konflik Islam-Hindu di India-
165
Pakistan. Tahukah rekan-rekan bahwa konflik ini sebenarnya tidak
berakar di masalah agama, namun lebih pada masalah sosial-ekonomi dan
eksistensi etentara sitas?
Saya yakin bahwa saudara-saudara yang beragama Islam tidak mudah
terprovokokasi oleh ajakan untuk membenci non-muslim. Sebaliknya
saudara-saudara yang beragama Kristen dan Katholik tidak akan mudah
percaya begitu saja menerima hasutan Islamphobia dari negeri-negeri
Barat. Begitu juga dengan saudara-saudara dari agama Hindu dan Buddha
serta keyakinan lainnya yang begitu banyak ragamnya di Nusantara ini.
Kita hidup di tanah yang satu negara kita
Kita berbeda dalam persatuan negara kita
Kita bahu-membahu mengubur negeri konflik Ken Arok
Kita belajar dari sejarah kehancuran Ken Arok
Singkirkan duri kebencian demi negara kita Raya
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Tuesday, March 13, 2007
166
Pernyataan Sikap Soal Reshuffle Kabinet 7
Mei 2007
Setelah pelantikan dan polemik yang mereda, izinkan
menyampaikan kepada semua rekan-rekan bahwa peristiwa reshuffle
kabinet yang kemarin yaitu hal yang sangat biasa. Berbagai pendekatan
dan analisa bisa dilakukan untuk mendukung ataupun menyesalkan
reshuffle ini , tergantung pada kepentingan politik siapa kita
berbicara. Kebebasan dan demokrasi membuat banyak pihak berani
berkomentar, baik yang omong kosong, yang penuh tekanan, yang penuh
intrik, yang sekedar pelepas kekesalan, yang bermaksud baik, yang
bermaksud buruk, dst...dst.
Meskipun pernah "diajak" memikirkan oleh seorang rekan dengan
mendiskusikan seluruh daftar calon yang ada pada Presiden (yang
lalu mengkerucut menjadi sekitar belasan nominasi), namun
tidak meyakini bahwa pergantian figur akan mampu memperbaiki secara
maksimal sejumlah kerusakan dan kelambatan pembangunan negara kita
Raya. Sehingga hanya memberikan catatan-catatan ringan yang
lalu menjadi bahan rekan untuk menghadap presiden
sebelum reshuffle. Sebuah catatan penting yang mungkin tidak akan
berani disampaikan kepada SBY yaitu bahwa yakin SBY bukan
seorang peragu ataupun lemah dan tidak tegas. SBY yaitu seorang
Jenderal yang pandai dan tegas serta keras dan memiliki strategi yang
sangat jelas di mata Blog I-I.
167
Saya paham bila banyak rekan yang sangat kesal kepada Adipati
SBY, namun kuranglah bijaksana bila kekesalan komunitas intelijen
menjadi bahan provokasi yang akan semakin merusak suasana politik
nasional. Meskipun komunitas intelijen analis dalam dan luar negeri di
kantor pusat hampir seluruhnya menderita akibat minimnya
kesejahteraan mereka, namun janganlah hal itu menjadi alasan untuk
mengurangi loyalitas intelijen. Jalan intelijen yaitu loyalitas sampai meninggal
demi NKRI. Ancaman kepada Adipati berkorelasi langsung dengan
eksistensi dan stabilitas NKRI. Betapapun pandangan negatif kepada
Adipati SBY, perlu dipahami bahwa usaha-usaha perbaikan terus
dilakukan.
Perhatikan bahwa Adipati ternyata berusaha memberi ruang gerak yang
sangat luas kepada seluruh anggota kabinet, hal ini merupakan bagian dari
pembelajaran demokrasi. Namun banyak pejabat yang melihatnya sebagai
lemahnya kontrol, dan diperparah oleh soal posisi dukungan parti dsb.
sangat kritis dan keras terhadap kinerja Tim Ekonomi, namun
sejujurnya belum melihat kandidat yang memiliki kapasitas yang
melebihi Tim Ekonomi yang ada, khususnya dari sisi manajemen. Kritik
mencakup kurang kreatifnya terobosan pemulihan ekonomi yang
langsung menyentuh sektor riil.
yaitu komunitas intelijen tanpa tuan, Komunitas Intelijen
negara kita memiliki tuan Presiden. Mohon pengertian bila
berbeda pandangan dan lancang memberikan catatan kepada publik.
168
Catatan ini agak membela Adipati sebagai konsekuensi logis dan
obyektifitas dari sisi prioritas. Yaitu bahwa yang terbaik bagi negara kita
Raya saat ini yaitu membiarkan Adipati menjalankan sisa waktu
pemerintahaannya dengan ketegasan yang berlandaskan kepada niat baik.
menjamin bahwa rakyat teramat sangat merindukan
kepemimpinan Adipati SBY yang sesuai dengan karakteristik seorang
Jenderal Rakyat yang sesungguhnya.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Wednesday, May 09, 2007
169
Ambon Manise RMS Pahite
Intelijen kecolongan, lemah, loyo, gagal, harus dievaluasi, harus
bertanggung jawab, dst...dst...dst. ...begitulah pandangan
sejumlah pengamat yang tiba-tiba menjadi ahli.
Begitulah jadinya bila terjadi sesuatu yang "luar biasa" yang terkait
dengan peranan intelijen untuk memberikan peringatan dini atas potensi
terjadinya peristiwa yang mengancam NKRI.
Peristiwa "luar biasa" yang dimaksud di atas yaitu sbb:
Pada 29 Juni 2007 dalam peringatan Hari Keluarga Nasional ke-14 di
lapangan Merdeka Ambon, Jalan Pattimura, Ambon, terjadi sebuah
peristiwa langka pertunjukkan tarian perang (cakalele) dan pengibaran
bendera Republik Maluku Selatan (RMS) oleh sekitar puluhan, eh
tepatnya 40-an, eh cuma 30-an, eh lolos 2 jadi 28, eh daftar namanya
cuma ada 27 orang (Yoyo Teterissa koordinator, Nus Malawauw, Seli
Malawauw, Johni Sinay, Sias Sinay, Yakobis Sinay, Melki Sinay, Johni
Riry, Merky Riry, Curlis Riry, Mercy Riry, Stevi Saiya, Merky Saiya, Piter
Saiya, Bobi Saiya, Ruben Saiya, Johanis Saiya, Frejohn Saiya, Johni
Saiya, Yoyo Saiya, Elfana Saiya, Marten Saiya, Abraham Saiya, Tete
Akihary, Leko Mendrik, Samuel Hendrik, Ferdinand Rajawaru, Piter
Yohanis, lalu ditambah raja beta (kepala desa) Hutumuri jadi 28
lagi.
tentara sangat hati-hati merespon peristiwa di atas, polisi menganggap itu
bukan kecolongan, BIN masih diam seribu bahasa. Apa sesungguhnya yang
170
terjadi...???
Isu yang berkembang di lapangan mengabarkan bahwa deteksi dini sudah
dilakukan, namun level ancaman yang ada dinilai masih bisa diatasi. Bahwa
intelijen sudah tahu ada sesuatu yang janggal sekitar dua hari sebelum
acara ada benarnya, namun perkara bahwa akhirnya terjadi sesuatu yang
"luar biasa" menjadi urusan siapa? Katanya intelijen cuma menyampaikan
informasi...
TIDAK ADA YANG LUAR BIASA DALAM INSIDEN LAPANGAN
MERDEKA AMBON. Inilah catatan penting Blog I-I.
Mengapa demikian? sebab modusnya bukan semata-mata soal
menunjukkan kepada dunia bahwa RMS masih ada, namun lebih kepada
memancing reaksi keras pemerintah serta mempekeruh suasana politik
nasional dan lokal.
Permainan cantik Polisi dalam mengusir dan mengamankan para pelaku
tampaknya tidak bisa berlanjut di ruang interogasi...sayang sungguh
sayang. Media massa sudah memberikan gambaran babak-belurnya
sejumlah pelaku.
Sayang tidak sempat menyampaikan kepada SBY bahwa reaksi
terbaik atas insiden Lapangan Merdeka Ambon yaitu anggap saja
sebagai riak kecil kekecewaan sekelompok kecil saudara kita di Ambon.
Tidak perlu takut ataupun merasa kewibawaan menurun, mereka yang
berdemonstrasi itu masih dalam status hukum warga negara negara kita,
maka sayangilah secara bijaksana dengan memberikan pembinaan. Bisa
jadi hal ini merupakan isyarat bahwa masih ada potensi persoalan yang
belum tuntas.
171
lalu tugaskan intelijen dan aparat keamanan yang prfesional untuk
investigasi mencari akar persoalan, bukan mencari kesalahan semata.
Demikianlah konsep penanganan yang lebih baik serta tidak menciderai
kewibawaan.
Kewibawaan bukan berasal dari penghormatan semata, namun lahir dari
perilaku dan kebijakan yang sungguh-sungguh memperhatikan jeritan
rakyat. Perhatikan bagaimana ketika anda (SBY) berkunjung ke Lapindo,
bukankah anda tidak menyentuh keseluruhan persoalan, sehingga masih
ada kelompok yang berdemonstrasi dan tangisan anda menjadi semu
sebab lawan-lawan anda segera melakukan politisasi.
Catatan Intelijen Blog I-I
1. Insiden Lapangan Merdeka Ambon yaitu hal biasa dan tidak
menciderai kewibawaan Presiden. Langkah kongkrit yang perlu
ditempuh yaitu langkah persuasif mencari akar persoalan yang
masih menjadi landasan gerakan RMS. Hindari sikap represif,
apalagi penyiksaan.
2. Pihak-pihak yang berteriak lantang bahwa kewibawaan Presiden
jatuh akibat insiden Lapangan Merdeka Ambon yaitu mereka
yang merasa "pintar" serta berparadigma sistem kerajaan ala
Orde Baru yang bersifat menghancurkan setiap elemen
masyarakat yang bersebrangan dengan pemerintah negara kita
Raya. Secara khusus menyatakan kekecewaan yang
sangat mendalam kepada tokoh-tokoh pimpinan PDI-P yang
secara serempak mengeluarkan pernyataan yang mirip-mirip,
172
seolah-olah SBY kehilangan martabat dengan kasus kecil
ini . Cobalah lebih elegan dalam berpolitik, rakyat tidak
lagi bodoh.
3. juga sangat kecewa dengan respon SBY selaku Presiden
yang sangat mudah ditebak dan memang sudah diperkirakan oleh
aktor intelektual insiden Lapangan Merdeka. Cobalah untuk lebih
rileks (tidak tegang), sabar (tidak grusa-grusu), serta bijaksana
(taktis dan diplomeninggal s) dalam memberikan respon yang kelihatan
publik. Sementara itu perhatikan keseluruhan peristiwa itu
secara utuh dalam rangkaian kegiatan yang hanya bisa dirancang
secara khusus. Niscaya hanya dengan memejamkan mata, anda
bisa melihat siapa musuh sesungguhnya. Jangan pula cepat
termakan oleh apa-apa yang terlihat di depan mata. (Mohon
maaf, tidak bisa menuliskan fakta-fakta secara lebih
jelas lagi sebab hanya akan mempercepat pecahnya konflik yang
lebih besar).
4. Intelijen negara kita telah melakukan tugasnya sebatas wewenang
yang diberikan oleh hukum. Tuntutan macam-macam berupa
mundurnya pimpinan baik dari kalangan tentara , Polisi, maupun BIN
yang bertanggung jawab di wilayah Ambon yaitu bumbu
penyedap politik nasional. Silahkan dipertimbangkan secara
matang dan tidak emosional serta hanya mengikuti desakan
kelompok tertentu belaka. Pihak-pihak yang secara langsung
mengeluarkan tuduhan diharapkan bisa berkata berdasarkan
fakta dan bukan cuma asal menuntut profesionalitas kinerja
173
intelijen. Meskipun demikian, tidak menolak perlunya
evaluasi terhadap intelijen.
5. Telah beredar berbagai macam analisa dari pengamat maupun
politisi yang membuat citra intelijen sedemikian buruknya,
namun kita bisa membaca secara hati-hati mana yang obyektif
dan mana yang cuma memanaskan suasana.
6. memantau secara khusus peristiwa ini, sehingga bisa
menuliskan catatan ini. Terima kasih kepada pihak-pihak yang
segera mengirimkan berita lengkap kepada Blog I-I.
-------------------
Catatan tambahan:
Sampai malam ini, isu peranan CIA dan MI6 dalam insiden Lapangan
Merdeka Ambon terlihat masih prematur. Namun kemungkinan ini tidak
diboleh ditutup, hal ini bisa menjadi tugas khusus kontra spionase
Intelijen negara kita. Bisa dimulai misalnya dengan mencermeninggal pola-pola
hubungan tokoh RMS dengan CIA yang telah terkumpul dengan baik.
Pihak-pihak yang merasa keheranan bagaimana mungkin terjadi
sekelompok penari cakalele yang tidak ada dalam daftar acara bisa masuk
ke lapangan sebaiknya tidak perlu terlalu heran. Apakah 1000 dollar
cukup untuk membuka jalur, jangankan CIA...juga sanggup untuk
melakukan hal-hal ringan semacam itu. Kita masih di negara kita kan?
begitu seloroh kebanyakan agen CIA yang mulai over confident.
Sekian
Posted by Senopati Wirang /Friday, June 29, 2007
174
Koalisi Kuning-Merah
Namanya juga politik taktis menuju kekuasaan, lagi-lagi tidak ada yang
aneh atau bersifat khusus. Apalagi dipertajam dengan isu pro-
konservatif dan pro-reformasi.
Ujungnya cuma kekuasaan saja. secara perlahan mencatat
penurunan kualitas politik negara kita dengan bergesernya demokrasi ke
arah penguasaan sistem demokrasi oleh elit. Sebut saja istilahnya
Demokrasi Elitis.
memberikan peringatan dini hancurnya demokrasi bila kondisi
taktis menuju kekuasaan tidak segera diatasi oleh gerakan pemantapan
hukum dan penyadaran politik masyarakat yang mensyaratkan perbaikan
kesejahteraan dan tingkat pendidikan. Demokrasi hanya menjadi mainan
pemilik modal dan elit politik...bila begini terus tidak ada jaminan
terselenggaranya mekanisme kontrol apapun di negeri ini.
2009 oh 2009...
Posted by Senopati Wirang /Friday, June 29, 2007
175
Merah Putih negara kita Raya
Berada ditengah-tengah gegap gempita gelora Bung Karno membuat saya
meneteskan air mata. Sekian lama setelah reformasi, tidak pernah saya
mengalami keadaan bersama semangat kenegara kitaan yang begitu kuat
bersama puluhan ribu pendukung Tim sepakbola negara kita. Meskipun
negara kita kalah 1-2 dari Saudi Arabia, namun kekalahan itu tidak
mengendorkan rasa semangat ketika melangkah meninggalkan gelora Bung
Karno. Kekalahan itu terjadi setelah sebuah perjuangan panjang selama
90an menit, pada detik-detik akhir...kita harus melihat bahwa
keberuntungan belum berpihak kepada lawan. Tak ayal rasa kesal sebab
kalah dari penonton tidak meluap menjadi kemarahan, malahan lahir
simpati sebab perjuangan Tim negara kita boleh dikata pantas untuk
dipuji apapun hasilnya.
[D E L E T E D] atas permintaan agen P5, dengan argumentasi dukungan
data "tidak akurat" dan "tidak dapat dipertanggungjawabkan". Model
artikel seperti ini kurang tepat di Blog I-I, sebab tidak berlandaskan
pada hard fact. Meskipun demikian agen P5 memberikan apresiasi yang
baik dari sisi vision dimana hal yang serupa telah menjadi pembahasan di
dunia spiritual. Esensi semangat negara kita Raya juga harus dibangun di
kalangan yang menggeluti dunia spiritual.
Salam Merah Putih
Posted by Senopati Wirang /Sunday, July 15, 2007
176
Rethinking 04
Ungkapan-ungkapan Tsar sangat menarik untuk segera direspon. sebab
hal itu mengingatkan pendidikan intelijen oleh Pusintelstrat, dibandingkan
dengan pendidikan Investigasi Polisi, dan pendidikan intelijen oleh
Counterpart Bakin dahulu.
Perbedaan nyata kerjaan intelijen dengan Polisi yaitu dalam soal
pengungkapan sebuah delik hukum, intelijen mengutamakan pencegahan
atas terwujudnya ancaman terhadap negara (membuka tabir masa depan).
Sementara Polisi berjaga-jaga (keamanan di saat sekarang) dan
mengungkap kejadian kejahatan (yang telah terjadi). Saat ini Polisi sudah
merambah wilayah intelijen dengan membangun unit intelijen sendiri,
namun polanya masih dalam upaya pengungkapan kasus pro-justisia.
Jadi pikirkan kembali sebelum menuduh bahwa terjadi kelinglungan dalam
menjadi bekas-bekas langkah di hamparan pasir. Bagi intelijen tidak ada
yang membingungkan, semuanya begitu jelas meskipun buktinya tidak
cukup diajukan ke depan hukum. Sementara bagi Polisi, meskipun juga
sudah jelas, namun semua bukti awal di atas pasir tidak akan secara
gegabah dibahas kepada media massa, sebab itu merupakan bahan
penyelidikan yang sangat vital. Dengan demikian, dunia kepolisian dan
intelijen negara kita terus bekerja tanpa harus melaporkan setiap detail
perkembangan kepada publik, kalo dilaporkan tentu malahan akan kontra-
produktif.
177
Intelijen juga mengupayakan minimalisir korban serta pencegahan aksi
susulan, sementara Polisi berkonsentrasi pada pengungkapan misteri
kejahatan dengan penangkapan dan pengungkapan jaringnya. Dengan
demikian, siapa yang linglung.
Bahwa ada dugaan permainan intelijen asing juga sudah diketahui secara
jelas oleh segenap aparatur keamanan negara kita, namun tidak semua level
mengetahuinya. Sehingga bila anda bertanya kepada bagian humas,
meskipun bintangya ada 10 sekalipun kata-katanya tidak akan bisa
mencerminkan 100% kenyataan, sebab kenyataan itu hanya bisa
dipertaruhkan di depan pengadilan resmi (meja hijau) ataupun pengadilan
tidak resmi (eliminasi).
Semoga bermanfaat
Posted by Senopati Wirang /Friday, July 13, 2007
178
Sedikit lagi tentang Cakalele RMS
Seperti biasa investigasi laporan Tempo memang bisa dianggap salah satu
yang terbaik di negeri ini, obyektif...berimbang...komprehensif. Dalam
laporan Tempo edisi Edisi. 20/XXXIIIIII/ 09 - 15 Juli 2007. (Bukan
promosi gratis buat Tempo)
Sebagai sebuah model penyusunan laporan, bolehlah menjadi pelajaran
bagi rekan-rekan yang malas mengumpulkan bahan keterangan
dan menulis catatan detail. Setelah itu baru melakukan analisa terhadap
detail bermakna, dimana dalam kasus Cakalele yang dilaporkan Tempo
ini perhatikan bagaimana informasi yang disampaikan oleh Presiden
RMS Alexander H. Manuputty yang mengklaim aksi anggotanya itu telah
lama direncanakan. Katanya, "Itu hak politik rakyat Maluku." Meskipun
RMS sudah bermetamorfosis menjadi [deleted]di tengah-tengah
masyarakat Maluku, namun hakikatnya masih sama. Betapapun kecilnya,
hal ini harus segera diatasi sebab pengaruh Langley bisa
memperbesarnya seperti dalam kasus Aceh, Timor-Timur dan Papua.
Walaupun masalah RMS hanya sebuah persoalan minor bagi AS, namun
cukup mengganggu bagi negara kita.
Sebuah klaim yang mandul namun menjadi berbahaya serta perlu dicatat
secara seksama. Dalam hal ini, peranan Langley yang telah lama
memelihara Alex sebagai kuda hitam untuk mengalihkan perhatian
pemerintah negara kita memang cukup lihai. 4 tahun lalu, operasi
mengamankan agen Alex oleh CIA dilakukan berdasarkan argumentasi
179
bahwa Alex akan dibunuh yang mana bisa melemahkan pembelaan politik
RMS di fora internasional.
Khusus mengenai kasus Cakalele, oposisi terhadap pemerintahan SBY
dalam kasus separatisme bukan hanya yang berada dan berasal dari luar
seperti Alex dan pengendalinya di AS, melainkan juga lahirnya sekitar 3
oposisi internal SBY yang harus diawasi secara serius.
Pertama yaitu kelompok militer yang anti SBY, hal ini sudah diketahui
intelijen namun belum sepenuhnya terkendali.
Kedua yaitu kelompok militer mengambang yang kebanyakan merupakan
perwira aktif yang sewaktu-waktu siap membelot terhadap SBY dengan
melakukan sabotase. Betapapun ditutup-tutupi oleh petinggi tentara , dalam
kasus Cakalele, menyarankan langkah tegas berupa hukuman atas
tindakan tidak loyal ini .
K
Related Posts:
intelijen 2 2000 yang menyebabkan kemeninggal an 19 orang, merupakan dasar-dasar kebijakan yang tidak bisa diabaikan. Satu lag… Read More